Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_tumben sayang?


__ADS_3

Mahi baru saja selesai visit ke beberapa pasien, saat masuk dia melihat Fatin yang duduk di kursi miliknya.


bukannya marah, Mahi malah tersenyum dan menghampiri istrinya, Fatin pun memutar kursi itu agar Mahi bisa leluasa mendekat.


"ibu dokter, tolong periksa jantung saya, kenapa jantung saya terus berdegup kencang saat seperti ini," kata Mahi mendekat ke wajah Fatin.


bahkan Mahi mengarahkan tangan Fatin ke dadanya, keduanya sangat dekat.


Mahi tergoda oleh bibir indah istrinya, tanpa sadar Mahi mengecup bibir Fatin.


Fatin pun melotot, tapi perlahan dia memejamkan matanya, Mahi merangkul pinggang Fatin dan membawanya berdiri.


setelah itu dia menjatuhkan tubuhnya ke kursi, dan memangku Fatin, Fatin mendorong pelan bahu suaminya.


"hentikan... ini rumah sakit," lirih Fatin malu dan menyembunyikan wajahnya.


"kemajuan mu pesat sekali sayang, jika tidak bisa melakukan itu, tolong jangan di paksakan ya, karena aku tak mau kamu sakit," kata Mahi melihat wajah istrinya yang malu.


"jika aku tak mau, aku sudah melawan dan berontak," jawab Fatin.


mendengar itu, Mahi seperti mendapatkan durian runtuh, setidaknya kini dia semakin dekat istrinya itu.


"oh ya mas, tadi perawat Aline membelikan mas nasi, itu di meja," tunjuk Fatin sambil memainkan jarinya di dada Mahi


"berhentilah sayang, atau urusannya bisa gawat, tapi kenapa cuma satu padahal kamu di sini?" bisik Mahi.


"tadi katanya dia lupa dan tak tau, ya maklum lah mas dia sangat sibuk, bagaimana jika kita berbagi? apa mas gak keberatan?" tanya Fatin yang merangkul Mahi.


"tentu sayang," jawab Mahi.


tapi baru juga membuka kotak nasi itu, Fatin langsung berlari ke toilet dan memuntahkan semua isi perutnya.


Mahi langsung membawa makanan itu keluar, kebetulan ada cleaning servis yang lewat.


"mas tolong ambil ini, kamu bisa memakannya atau jika tidak mau kamu bisa membuangnya," kata Mahi dengan panik.


"terima kasih dokter," jawab cleaning servis itu.


saat membukanya ternyata itu adalah nasi bebek goreng, pria itu pun membawanya ke area khusus.


perawat Aline yang sadar sudah keliru membawa makanan pun panik, karena miliknya tertukar dengan milik Mahi.


pria itu tak pernah menyukai bebek, tapi dia malah melakukan kesalahan besar


Mahi menghampiri istrinya yang sudah lemas di kamar mandi, Mahi pun langsung mengendong Fatin dan menidurkannya di sofa.


"kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Mahi khawatir


"tidak mas, aku hanya mual mencium aroma dan bentuk lauknya tadi," jawab Fatin jujur.


perawat Aline mengetuk pintu dan langsung masuk, dia kaget melihat Fatin yang tidur dengan bantal paha dokter Mahi

__ADS_1


"ada apa perawat Aline?"


"ini dokter, saya ternyata salah kasih nasi, bolehkah saya tukar?" tanya perawat Aline yang menundukkan pandangannya.


"kamu makan saja, kamu tau karena kesalahan mu istriku bisa Sakur, lain kali jangan di ulangi, sudah istirahatlah," kata Mahi.


"baiklah dokter," jawab perawat Aline yang heran.


pasalnya Mahi tak suka bebek, tapi kenapa Fatin yang sakit, dia pun merasa sedih mendengar ucapan dingin dari dokter Mahi.


pukul tujuh malam, akhirnya jam kerja dokter Mahi selesai, Fatin pun mengandeng tangan dokter Mahi saat pulang.


"tolong bawakan," kata Mahi mengulurkan jad putih miliknya.


"eh kenapa mas?" bingung Fatin yang mengambil jas itu.


Mahi langsung merangkul pundak istrinya dan berjalan bersama, "agar bisa merangkul istri cantik ku," bisik Mahi.


"mas malu.... kita masih di rumah sakit," jawab Fatin yang menyembunyikan wajahnya pakai jas putih suaminya.


"kenapa malu, kita ini suami istri loh," jawab Mahi cuek.


mereka pun berada di lantai bawah,"Mahi..." panggil Adila.


tapi karena Mahi dan Fatin tertawa bersama, jadi panggilan wanita itu tak terdengar.


terlebih bagi Mahi, saat bersama Fatin istrinya, tak ada yang bisa mengacaukan pikirannya dari istrinya itu.


pria itu membukakan pintu untuk Fatin, "terima kasih mas,"


"dek mau beli bakmi gak?" tanya Mahi


"aku lebih suka mie ayam, tapi boleh deh," jawab Fatin.


mobil mewah itu pun berhenti di sebuah warung yang cukup sederhana.


bahkan terbilang sepi, "ini warungnya mas, tapi kok sepi ya?" tanya Fatin pada suaminya.


"biasa dek, salah saing sama tempat yang estetik, maklum penjualnya habis libur lama karena baru terkena musibah, ini mie langganan mas, ayo masuk," ajak Mahi.


"baiklah mas," jawab Fatin.


benar saja, batu juga masuk penjual mie itu nampak mengaji sambil menunggu pembeli, "Mbah tumbas, mie ayam dua sama bakmie spesial satu,", pesan Mahi.


"Monggo mas silahkan," kata bapak-bapak itu.


"maaf Mbah, boleh saya rekam, sepertinya menarik," izin Fatin.


"Monggo mbak," jawab penjual itu.


Fatin pun meminta suaminya menjadi kameramen dadakan, "apa pencahayaannya tepat mas?"

__ADS_1


"oke, kamu nampak cantik," jawab Mahi.


"halo semuanya, saya lagi makan di tempat makan mie spesial Mbah makmur, letaknya di jalan Urip Sumoharjo, nomor xxx, jika mau makan mie enak bisa ke sini. ah mas tolong rekam Mbahnya saat meracik mie dong," kata Fatin memberi isyarat.


"Mbah ini harganya berapa kalau boleh tau?" tanya Mahi.


"cuma dua belas ribu, dan yang spesial lima belas ribu dokter," jawab si penjual.


"jadi kalian semua jangan lupa ya, dan jika tadi mendengar suara pria, kebetulan itu suami saya, jadi silahkan mampir...." kata Fatin mengakhiri video itu.


"terus mau di posting di mana?"


"di Instagram dan juga Facebook, itu akan sangat menarik karena aku juga akan mempostingnya di grup WhatsApp anak-anak fakultas," jawab Fatin.


Mahi pun mengacak istrinya gemas. akhirnya pesanan mereka pun sampai.


ternyata yang di maksud dengan spesial itu ada baksonya. tapi fatin yang tak seberapa suka, jadilah tak keberatan jika tidak di beri.


tapi Mahi menyuapi Fatin dengan satu buah bakso, "bagaimana rasanya sayang?"


"mmm.... enak," jawab Fatin dengan menggoyangkan kepalanya.


Mahi selalu tertawa melihat tingkah istrinya itu, pasalnya Fatin akan terus bergerak jika makan makanan enak.


setelah selesai mereka pun pulang, tak lupa membungkus cukup banyak mie ayam dan pentol karena Fatin menyukainya.


sesampainya di rumah, ternyata semua sedang kumpul, begitupun ustadz Yusuf yang juga ada.


"assalamualaikum...." sapa Fatin yang membawa jas putih suaminya dan juga tas kerja Mahi.


"waalaikum salam, kenapa kamu jadi bawa tas suamimu? mana dia kenapa menyuruh istrinya-"


ustadz Yusuf berhenti bicara saat melihat sosok Mahi datang membawa dua bungkus kresek merah besar.


"assalamualaikum.... mohon bantu dong, ada yang mau mie ayam," kata Mahi tersenyum.


Hasan dan Husain bergegas membantu, ternyata mereka yang sedang bicara gara-gara video Fatin.


dapat rezeki nomplok dengan bawaan dari Mahi, "wah kebetulan tadi ngiler gara-gara neng Fatin, sekarang malah dapat beneran," kata Husna senang.


"wah Husain jaga adik perempuan satu itu, dia bisa makan tiga mangkok nanti," panik Hasan.


"iya juga ya, heh... berhenti Husna, kamu selalu kebablasan kalau makan mie ayam," kata Husain.


"ya... itu kalau mie-nya enak kalau gak satu aja sudah bikin mau muntah tau," kesal Husna.


tapi Fatin tertawa melihat ketiga adiknya, "sudah biarkan saja, meskipun begitu dia tak akan gemuk,"


"baiklah, tapi jatah uang saku Minggu depan kami potong tiga puluh persen perorang, bagaimana?" tanya Hasan memberikan penawaran


"deal, kalau aku cuma makan lebih dari tiga mangkok ya, kalau dua gak ya," jawab Husna.

__ADS_1


"setuju," jawab Fatin.


ustadz Yusuf geleng-geleng melihat Husna yang memang kalau makan dalam porsi besar.


__ADS_2