
pukul sembilan malam, Mahi sudah menyelesaikan jam kerjanya, dan bersiap untuk pulang ke rumah.
tapi baru juga sampai di lobi, dia sudah bertemu dengan Bu Fatma, "nak Mahi," panggil wanita itu.
"damn it," gumam Mahi kesal.
"iya Bu, ada apa? jika tak ada yang penting saya permisi, karena ada keluarga yang menunggu saya," jawab Mahi yang berusaha keras untuk tersenyum.
"ini nak Mahi, bisakah besok belikan kue kesukaan dari Adila, karena tadi dia sudah sadar, dan kamu kan dokter, jadi pasti tau apa yang boleh atau tidak," kata Bu Fatma yang terus membujuk.
"baiklah Bu, kalau begitu saya pulang terlebih dahulu ya, permisi," kata Mahi bergegas pergi.
telebih mobil online juga sudah datang, Mahi pun buru-buru masuk agar segera bisa pulang.
sesampainya di kawasan yayasan,karena mobil itu di larang masuk.
terpaksa Mahi berjalan kaki menuju ke rumah, sesampainya di rumah ternyata sangat ramai.
"assalamualaikum..." sapa Mahi dengan kondisi yang sangat lesu.
"waalaikum salam, mas Mahi sudah pulang," kata Husain yang menyambutnya.
"ada apa, kenapa semuanya terlihat begitu khawatir?" tanya Mahi.
"mas,neng Fatin tadi pingsan, dan sekarang masih di periksa dokter," jawab Husain
"apa, kenapa tak menelpon ku," kata Mahi yang bergegas masuk tapi tubuhnya terhuyung hingga hampir tersungkur.
"mas Mahi," kaget Hasan yang menahannya.
"dokter Mahi?" kata dokter Iwan.
"bagaimana keadaan istriku dokter?" tanya Mahi yang langsung berdiri.
"tidak apa-apa, hanya saja karena tidak makan, asam lambungnya tinggi, tapi saya sudah memberikan obat, tolong jaga istri mu ya dokter, dan selamat atas pernikahan kalian," kata dokter Iwan.
"terima kasih dokter," jawab Mahi.
Hasan mengantarkan dokter sepuh itu ke depan, sedang Mahi buru-buru masuk kedalam kamar.
"maafkan aku ..."
__ADS_1
Fatin membuka matanya, dan melihat Mahi yang menangis di sampingnya, "mas..."
Mahi pun reflek langsung memeluk Fatin, Dila menyuruh Husain keluar karena tak pantas putranya itu melihat urusan rumah tangga kakaknya.
Fatin pun menangis sambil merasakan tubuh suaminya yang juga terisak.
"maafkan aku mas, bukan aku masih mencintai mas Haris, aku hanya tak ingin kalian terus menyimpan dendam satu sama lain terus menerus," kata Fatin menjelaskan.
"maafkan aku juga dek, seharusnya aku tak membentak mu, tapi setiap mendengar ucapan pria itu, aku mendidih,aku pasti emosi ku akan lepas kendali," kata Mahi.
akhirnya Mahi tidur di samping Fatin, bahkan Fatin berbantal tangan mahi, Mahi terus memeluk istrinya itu.
Fatin merasa begitu tenang, terlebih aroma maskulin suaminya begitu memenangkan untuknya.
Mahi pun mengusap pipi Fatin dengan lembut dan mencium kening istrinya itu, "mau ku buatkan sesuatu dek?"
"apapun, asal mas yang menyuapiku," jawab Fatin.
"aku juga mau loh, kalau makan dari tangan mu," bisik Mahi yang tersenyum manis.
Fatin pun menyentuh wajah Mahi, "teruslah seperti ini di depan ku saja, karena aku akan cemburu jika mas tersenyum pada orang lain seperti ini,"
"tidak mas, ini bukan mimpi," jawab Fatin yang menyembunyikan wajahnya di dada Mahi.
Mahi bangun dan memilih ke dapur untuk membuatkan sesuatu untuk keduanya makan, tak lupa dia juga membuatkan susu.
"apa perlu bantuan nak?" tanya Dila.
"tidak perlu umi, saya hanya membuatkan nadi sama omelette keinginan dari dek Fatin saja," jawab Mahi.
"baiklah, kalau butuh sesuatu kamu bisa saja mengetuk atau membangunkan ku ya, karena biasanya Fatin akan sedikit merepotkan saat sakit," kata Dila.
"baik umi, kalau begitu saya permisi," jawab Mahi yang segera masuk kedalam kamarnya lagi.
Fatin sudah berganti baju dengan baju tidur panjang, dan membiarkan rambutnya tergerai.
sesaat Mahi terdiam melihat itu, pasalnya ini pertama kali Mahi melihat Fatin yang nampak begitu cantik saat mengerti rambut hitam panjangnya.
"mas, duduk sini kenapa bengong," panggil Fatin.
Mahi pun duduk berhadapan dengan Fatin, celananya terasa sesak dan buru-buru dia mengambil bantal kecil untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
__ADS_1
"baiklah sekarang istriku yang cantik ini, makan dulu..." kata Mahi menyuapi Fatin.
Fatin pun melakukan hal yang sama, bahkan mereka berbagi sendok dan minuman bersama.
setelah selesai, Mahi segera membawanya keluar, dan bergegas untuk mandi.
Fatin heran melihat Mahi yang buru-buru mandi, tapi dia merasa begitu mengantuk karena pengaruh obat yang di minumnya.
Fatin pun tertidur, sedang di kamar mandi, Mahi menguyur tubuhnya dengan air dingin, "hei junior tenanglah, karena tak mudah kamu menemukan jodoh ku, jadi jangan mengacau, atau kita dalam masalah besar," gumam Mahi memarahi adik kecilnya sendiri.
tapi bukan tenang malah semakin menunjukkan kekuatannya, "damn it," kesal Mahi.
setelah setengah jam di kamar mandi, dia keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
terlebih dia tadi lupa tak membawa baju ganti, Fatin terbangun dan melihat punggung dan suaminya yang sedang di depan lemari.
awalnya dia ingin pipis tapi akhirnya dia pun memutuskan untuk pura-pura tidur.
"ya Allah... kenapa mas Mahi ..." batin Fatin yang sedikit ketakutan.
dia berusaha menutup matanya agar Mahi tak curiga, sedang Mahi pun merebahkan dirinya di samping Fatin.
Fatin pun membuka mata dan melihat suaminya yang tidur dengan mengenakan celana pendek dan kaos singlet.
dia pun buru-buru ke kamar mandi, karena sudah tak tahan lagi. Mahi yang merasakan pergerakan di ranjang pun melihat Fatin masuk ke kamar mandi.
"apa ada yang salah," kata mahi yang bangun dari tidurnya.
dia pun menunggu istrinya di depan kamar mandi, setelah Fatin keluar dia kaget melihat Mahi.
"mas.."
"apa perut mu tak enak dek, apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Mahi khawatir.
"tidak perlu mas, aku hanya kebelet pipis saja, sekarang ayo tidur," ajak Fatin.
nahi langsung mengendong Fatin, awalnya Fatin ingin berontak, tapi dia Haris mulai terbiasa jika tidak mungkin dia akan berdosa karena terus menghindari suaminya.
keduanya pun tidur dengan berhadapan, perlahan Mahi sudah mendengkur halus.
selamat tidur mas, mimpi indah..."
__ADS_1