Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_sudah jangan sedih


__ADS_3

setelah pemakaman Bu Wati, semua keluarga berkumpul, mereka tak mengira jika Bu Wati akan pergi secepat ini.


Dila dan Arif juga sudah ikhlas, karena keduanya tak ingin sang ibu terus merasakan sakit yang di idapnya.


ya beberapa bulan lalu, Bu Wati menang di diagnosa memiliki penyakit gagal ginjal.


beliau juga sering tak mau melakukan pengobatan, Fatin juga tak mengira jika neneknya itu bisa pergi secepat ini.


padahal kemarin Bu Wati masih nampak bahagia di saat pernikahan dirinya dan Mahi.


"sudah sayang, berhenti menangis, diakan ruang saja ya," bisik Mahi pada istrinya itu.


"baiklah mas, tapi aku tak menyangka jika eyang pergi secepat ini," jawab Fatin.


Mahi pun merangkul istrinya itu, semua juga masih nampak tak percaya.


Hendra juga memberikan kekuatan pada Arif, terlebih selama ini pria itu yang menjaga Bu Wati.


akhirnya semua pun pulang karena sudah siang, sore nanti akan di adakan pengajian di rumah Arif.


siang itu akhirnya, Fatin ketiduran karena merasa begitu lelah, Mahi tersenyum dan membawanya ke rumah samping.


Mahi melihat sprei yang terkena bisa darah, dia hanya tersenyum-senyum. sendiri.


pasalnya dia sudah seutuhnya menjadi suami dari Fatin, gadis yang dia cintai dari kecil.


"aku masih tak menyangka jika kamu benar-benar menjadi istriku, terima kasih atas segalanya,bahkan kamu sudah bisa menerima diriku," gumamnya.


tak butuh waktu lama, akhirnya dia juga ikut tertidur karena kelelahan, sedang Hendra juga tak mengira semua ini.


tadi dia bisa membantu turun ke liang lahat untuk menerima jenazah dari mantan ibu mertuanya.


terlebih Arif dan Rizal yang memang tak sanggup melakukannya, bahkan Hendra bersama Hasan dan ustadz Ahmad.


"ada apa ayah, kok melamun gitu, apa ada sesuatu yang menganggu?"


"tidak bunda, kamu buat apa hari ini? kok tumben nih kopi ada temennya?" tanya Hendra melihat nampan yang di bawa istrinya itu.


"sebenarnya ini tadi itu mau tak bikin jadi pisang boleh, oh gak keburu karena tadi kita melayat, ya jadi gini deh," jawab Mela.

__ADS_1


"gak papa loh, meski jadi pisang selimut gini enak kok," jawab Hendra tersenyum.


sedang di rumah Arif, Hasan membeli kue di beberapa toko roti untuk di berikan pada para ibu yang mengaji nanti sore.


sedang para bapak akan mendapatkan beberapa bingkisan mie, ya di desa Arif, setiap ada yang meninggal dunia pasti ada dua kali tahlilan.


sore para ibu-ibu, dan malam para bapak-bapak, kadang setiap malam Jum'at para keluarga akan mengaji sampai seratus hari.


ustadz Ahmad pun mencoba menenangkan Dila, dia tau jika istrinya itu sangat terpukul.


"sudah ya umi, ini sudah tenang di surga bersama bapak, sekarang tugas kita tinggal mendoakan mereka," kata ustadz Ahmad


"tapi kenapa Abi, dulu bapak meninggal dunia setelah menikahkan aku, karena beliau sangat khawatir tentang pendamping hidup ku, sekarang ibu meninggal dunia setelah melihat Fatin bahagia, dan beliau sempat bilang jika semua keluarga sudah bahagia," lirih Dila.


"mungkin hanya kebetulan, terlebih ibu memang begitu menyayangi Fatin, umi lihat tadi, ibu meninggal dunia dalam keadaan tersenyum cantik, jago umi tak boleh sedih ya," mohon ustadz Ahmad.


"iya Abi," jawab Dila yang kemudian memeluk tubuh ustadz Ahmad.


acara pengajian berjalan dengan lancar selama di desa, begitupun di yayasan yang di pimpin oleh ustadz Yusuf.


bahkan pria itu juga melakukan sholat ghaib untuk Bu Wati, setelah tujuh harian, di rumah calon keluarga istri Yusuf mengadakan acara ruwatan.


di mulai dari acara wanakipan, dan juga sedekah empat puluh anak yatim dan janda.


besok mereka akan kembali ke desa tempat tinggal Dila untuk melakukan acara pernikahan


Fatin dan Mahi terpaksa tidak bisa datang karena larangan dari kakek calon bibik mereka.


terlebih mereka berdua juga baru menikah belum selapan, sedang hadiah untuk Yusuf akan di titipkan pada Hendra dan Mela.


bahkan Rosita sudah di jemput Hasan terlebih dahulu untuk di jadikan pagar ayu.


Fatin mengantar mereka pergi, setelah itu Mahi memeluknya dengan erat, "karena sekarang kita cuma berdua, kamu mau gak coba bsjubyang kemarin aku tunjukkan,"


"mas yakin, ini masih siang, kalau ada orang datang bagaimana?" jawab Fatin takut.


"tidak masalah, biar aku yang membukakan pintunya, mau ya sayang," mohon Mahi.


"baiklah, tapi tutup dan kunci pintunya dengan rapat," jawab Fatin yang tak bisa menolak Mahi.

__ADS_1


Hendra dan Mela sampai di tempat pesta, terlihat rombongan dari besan mereka juga belum datang.


Mela menyapa Rosita yang sudah kembali berdandan sebagai pagar ayu, dan Hasan sebagai pagar bagus.


"ini kenapa kalian kok terus jadi satu pasangan gini ya, jangan-jangan jodoh lagi," kata Mela tertawa.


"aduh bunda, omongan adalah doa loh, oh ya kalian sudah tau acara mulai pukul berapa?" tanya Hendra.


"sepertinya sebentar lagi ayah, dan untuk jawaban bunda, ya gak mungkin kita nikah, orang udah keduluan sama mas Mahi dan mbak Fatin," Jawab Rosita.


"ya sudah maaf ya nak, sekarang sudah mulai tugas kalian, bunda dan ayah mau ke tempat mbak Khusna dulu untuk menyampaikan hadiah ini," pamit mela.


"Monggo silahkan bunda," jawab Hasan sopan.


"sayang ya aku tak memiliki keponakan perempuan, jika tidak pasti tak jadikan nanti kamu Hasan," jawab mrla masih tersenyum.


"heleh... bunda modus Mulu, udah ayo masuk," ajak Hendra yang kesal melihat istrinya terus melihat kearah Hasan.


pukul setengah sepuluh acara di mulai,karena pukul tujuh pagi akad nikah sudah di laksanakan.


rombongan tak sebanyak saat pernikahan Fatin karena hanya beberapa keluarga inti.


tapi tetap saja hantaran pernikahan yang di bawa sangat banyak, terlebih ini semua ustadz Yusuf yang menyiapkan.


sedang di sebuah tempat, ada Husna dan Abdul yang sedang memilih beberapa tempat untuk di jadikan prewedding.


pasalnya dia sudah berjanji. jika Husna melakukan ujian dengan baik, dia akan mewujudkan keinginan guna untuk melakukan prewedding.


mereka memilih beberapa situs candi sebagai latar foto prewedding mereka, bahkan foto itu tak ada kata pelukan atau bergandeng tangan.


hanya sesi foto berdua yang terlihat romantis, setelah berfoto-foto. Abdul mengajak Husna untuk ke suatu tempat.


"kita mau kemana mas?" tanya Husna yang tak pernah melihat daerah itu.


"kita akan melihat sebuah tanah, yang insyaallah akan jadi rumah Kuta di masa depan," jawab Abdul.


"tapi bukankah mas membeli rumah di sekitar yayasan,"


"iya, tapi ini seperti rumah utama, jika ada keluarga ku yang datang, mereka akan menginap disini," jawab Abdul tersenyum.

__ADS_1


ya Abdul memang bukan pria dari kita itu, dia hanya seorang murid yang mengemban ilmu dan beruntung juga dapat memiliki jodoh di sana.


Abdul dan ustadz Ilyas adalah dua pria keturunan dari suku Banjar, Kalimantan jadilah mereka yang tak bisa melupakan asal mereka.


__ADS_2