Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_perasaan terpendam.


__ADS_3

Dila masih berada di rumah sakit, dia terus berada di samping Fatin, perlahan bayi itu mulai membaik, kondisinya mulai pulih karena perhatian dari Dila.


ustadz Ahmad selalu datang setelah mengisi ceramah, dia tak bisa membatalkan semua kontrak karena ini menyangkut umat.


sore ini, hari ketiga Fatin di rawat, dan infus juga sudah di cabut dari kaki bayi mungil itu.


"bagaimana, apa putri Abi dan ibu Dila siap pulang?" tanya ustadz Ahmad.


Dila pun merasa asing dengan panggilan ustadz Ahmad, tapi dia tetap bersikap normal.


"Alhamdulillah baik Abi, sekarang ayo kita pulang, dan Fatin putri cantik dan pintar ibu, Fatin mu di gendong siapa Abi atau ibu?" tanya Dila yang menjauh.


Dila memberikan kode pada ustadz Ahmad, dan beruntung Fatin kecil mau ikut di gendongan sang Abi.


"biar saya yang bawa mobil ustadz, sekarang mari kita pulang," kata Dila lembut.


"kamu bawa tas yang kecil, bir ini saya yang bawa," kata ustadz Ahmad yang mengambil tas dari tangan Dila.


sesaat ustadz Ahmad merasa begitu hangat di hatinya saat tak sengaja menyentuh tangan Dila.


"baiklah ustadz, mari..."


kini Keduanya pun berjalan di koridor karena semua urusan administrasi sudah selesai.


Dila membuka bagasi mobilnya yang di bawa ustadz Ahmad, meski mobil keluaran lama.


mobil itu tetap sangat membantu saat di butuhkan, Dila kini yang menyetir mobil sampai di yayasan.


semua orang sudah menunggu Fatin dan Dila, tapi saat melihat Dila keluar dari kursi pengemudi.


umi Chasanah dan Anisa tertawa, pasalnya ustadz Ahmad benar-benar bisa berubah saat bersama Dila dan Fatin.


ketiganya datang dan para penghuni yayasan memanjatkan doa untuk kesembuhan dan keselamatan dari Fatin.

__ADS_1


umi pun berpelukan dengan Dila, dan dia benar-benar memiliki putri lagi setelah putrinya Khadijah meninggal dunia.


"sekarang Dila tinggal bersama umi ya, agar lebih mudah mengurus Fatin, dan lagi ustadz Ahmad juga bisa dengan mudah mengawasi putrinya," kata wanita sepuh itu.


"inggeh umi," jawab Dila.


Dila tak keberatan sekarang jadi jajaran pengurus di yayasan, terlebih orang tuanya juga merestui hal itu.


terlebih mereka tak ingin memaksakan kehendak lagi pada putri mereka.


Dila membereskan kamarnya, dan tak di duga ustadz Ahmad mengetuk pelan kamar Dila.


"assalamualaikum... Dila apa kamu sibuk?" tanya ustadz Ahmad lirih.


"waalaikum salam ustadz, iya ada apa? saya sedang tak sibuk kebetulan juga sudah selesai?" jawab Dila.


"bisakah mengajari ku membuat susu, sepertinya kemarin Fatin alergi karena aku yang terlalu sembrono," kata pria itu sambil memandang ke arah lain.


pasalnya Dila lupa sedang tak memakai cadarnya. Dila yang sadar pun bergegas mengambil benda itu dan memakainya.


ustadz Ahmad hanya tersenyum, "tidak apa-apa Dila, jika itu yang terbaik untuk Fatin,"


"terima kasih ustadz, tapi anda juga harus menjaga tubuh anda, karena jika anda sakit pasti Fatin juga akan sedih," kata Dila yang melihat tubuh ustadz Ahmad makin kurus.


"ah iya kamu benar, setelah Fatin kamu tinggalkan kemarin, dia sering menagis malam, dan itu membuatku tak bisa tidur, dan lagi semua kegiatan yayasan juga, kadang aku juga merasa lelah dan butuh seseorang untuk mendengar keluh kesah ku," kata ustadz Ahmad.


"ada Allah SWT ustadz, dan jika butuh teman bicara anda bisa membaginya bersama saya, insyaallah saya akan menjadi pendengar yang baik," jawab Dila.


"iya terima kasih," jawab ustadz Ahmad.


keduanya sampai di dapur, mereka langsung mulai belajar membuat susu.


mulai dari suhu air hingga takaran susu formula itu, ustadz Ahmad tak mengira Dila begitu cekatan.

__ADS_1


"oh ya ustadz, sekarang Fatin bersama siapa?" tanya Dila yang baru sadar jika Fatin sendirian.


"dia bersama neneknya," jawab ustadz Ahmad sekilas.


"Alhamdulillah susu Fatin jadi, sekarang aku tak akan salah lagi, terim kasih Dila, kalau begitu saya ke kamar dulu ya," pamit ustadz Ahmad.


"tunggu sebentar, ini untuk ustadz anda juga butuh nutrisi, dan tolong jaga kesehatan Anda, terima kasih atas kesempatan yang telah anda berikan terhadap saya," kata Dila memberikan segelas susu hangat pada ustadz Ahmad.


kemudian ia pun segera pamit dan kembali ke kamarnya, sedang ustadz Ahmad hany diam memandangi susu di tangannya.


"kenapa kamu begitu baik, aku jadi semakin menaruh hati padamu, tapi aku tau jika kamu masih mencintainya, jadi aku sadar diri," batin ustadz Ahmad.


Bayu kini membuat rencana untuk bisa kabur, begitupun dengan Farid yang ingin kembali ke yayasan tempat Dila menyembuhkan diri.


dia tak bisa menundanya, jika tidak Anna akan terus terluka dengan pria busuk seperti Bayu.


"aku akan menyeret dirimu jika perlu, karena aku tak ingin melihat wanita yang ku sukai terluka," gumam Farid marah.


pria itu bahkan memilih tinggal di sebuah homestay yang dekat dari yayasan.


Farid harus mengumpulkan tenaganya karena bisa di pastikan dia akan menjadi musuh oleh semua orang yayasan besok.


dila terbangun pukul tiga pagi, dia pun sholat malam, setelah itu dia menuju ke area dapur yayasan untuk membantu memasak.


"hari ini menunya apa?" tanya Dila yang melihat sudah ada Anisa.


"sepertinya sayur SOP, request dari ustadz Ahmad," jawab Anisa.


"baiklah aku bantu buat begedel kentang ya," jawab Dila yang langsung dengan semangat mulai mengupas kentang.


anisa pun meminta beberapa pengurus untuk belanja kebutuhan masak makan siang dan makan malam.


sekarang yayasan juga di huni oleh beberapa murid sekolah yang ingin mondok, tapi terkendala biaya.

__ADS_1


jadilah yayasan milik ustadz Ahmad sekarang sangat maju dan lebih besar lagi.


__ADS_2