
Belajar giat bukan untuk dapat peringkat
Harus kompeten demi lulus langsung kerja
Reader, tolong berikan author semangat
Tambahkan favorit, vote, jempol, hadiah dan komentarnya
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Meskipun Tara sudah sempat memutuskan untuk tidak melepas keduanya, tetap saja keadaan ini membuatnya galau lagi. Tara bimbang akankah dia sanggup menjalani dua cinta sekaligus.
Ting...
Pesan masuk dari Gala dan membuat Tara semakin galau.
"Marhami sa chaand hai tu. Diljala sa main andhera. Ek dooje ke liye hain. Jo meri manzilon ko jaati hai. Tere naam ki koi sadak hai na? Jo mere dil ko dil banaati hai. Tere naam ki koi dhadak hai na?"
Terjemahan. "Kau adalah rembulan yang menenangkan. Aku kegelapan yang membakar hati. Kita tercipta satu sama lain. Ada suatu jalan yang menuju ke arahku. Sebuah jalan dengan namamu, bukankah begitu? Ada sebuah debaran di dalam hatiku. Detak jantung menyebut namamu, bukankah begitu?"
"Aankhon ko, teri aadat hai. Tu dikhe na toh, inhe shiqaayat hai. Bin chhuey chhu liye hain. Tune mujhko diye hain pyaar ke ye taraane, jaaniya. Sau aasmaano ko, aur do jahaano ko. Chhod ke aayi tere paas. Kya yahi pyaar ka hai ehsaas?"
Terjemahan. "Mataku terbiasa memandangmu. Jika mereka tidak melihatmu ia mulai mengeluh. Bahkan tanpa bersentuhan kau tlah menyentuhku. Kau tlah memberiku melodi cinta, kekasihku. Seratus langit dan dua dunia. Aku tlah meninggalkan yang lain dan datang kepadamu. Apakah ini merupakan perasaan cinta?"
"Mengapa mereka puitis semua. Aku bisa mabuk cinta dua kali kalau begini." Gumam Tara.
"Aaaaaaaa.........." Tara berguling-guling di kasurnya.
"Galaaaaa..." Tara membalas pesan Gala.
"Iya, sayang." Balas Gala.
"Kenapa kamu jadi puitis banget? Hatiku nggak kuat." Tara selalu terus terang pada Gala.
"Aku tahu, pasti sekarang kamu ingin aku datang, memelukmu dan membisikkan puisi ini di telinga mu." Gala benar-benar memancing Tara.
__ADS_1
"Aku tahu kamu memang bucin." Tara mengirim pesan sambil bergumam sendiri.
"Iya, aku telah menjadi budak cintamu. Sejak lama selalu mengikutimu. Namun selalu putus asa takut jika cintaku hanya bertepuk sebelah tangan."
"Tapi sekarang kamu jadi selir kesayanganku." Tara membubuhkan emotion cium dan love.
"Selamat tidur ratu, semoga mimpi indah bertemu dengan selir kesayanganmu." Gala pun membubuhkan emotion cium dan love.
Malam ini Gala dan Tara tidur dengan nyenyak. Namun Aryan tetap terjaga karena masih memikirkan nasib cintanya yang belum jelas. Tara terlalu kejam karena tidak membalas pesan Aryan. Tara masih kesal dengan perlakuan dari Nyonya Gita, mamanya Aryan.
.........
Lembayung senja terlihat indah hari ini. Sinar kuning keemasan terpancar dari ufuk barat membawa ketentraman. Namun tidak bagi kediaman Maheswari, kedatangan keluarga Cakra Wangsa mengusik ketentraman dengan menguak kebenaran yang menyulut perdebatan.
Wajah Anand terlihat gelisah karena dirinya sumber dari masalah hari ini. Mau tidak mau kali ini Anand harus menundukkan diri dan mengakui kesalahan, permintaan maaf akan sulit terucap dari mulutnya. Kenyataan yang terpampang jelas membuat dia menyadari bahwa Tara tak akan pernah memilihnya. Tanpa sadar dia merasakan patah hati dan sesak di dada, mungkin itu perasaan cintanya pada Tara yang tak pernah dia sadari.
Anand pov: Aku bingung bagaimana aku harus bersikap pada Tara. Aku sungguh tidak menyangka bahwa dia akan tahu semua rahasiaku. Bahkan dia sudah tahu sejak lama tentang hubunganku dengan Indi. Aku begitu bodoh telah menyangka orang lain tidak akan tahu apa yang aku perbuat dengan Indi. Tuan Yoga Maheswari pasti akan membenciku. Hatiku gelisah menyadari bahwa tidak mungkin bagiku mendapatkan Tara. Entah ini rasa cinta atau rasa kecewa karena aku kalah dari Aryan.
Semua terdiam mendengar penuturan Anand dan Nyonya Gita. Mereka berdua tidak berani berbohong karena Tuan Indra telah memberikan ancaman. Tuan Indra tidak segan akan menyuruh mereka tinggal jauh dari kota ini, jika saja mereka masih terus berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan mereka.
"Maafkan aku, Tara." Aryan tertunduk dan tidak berani menatap Tara maupun Tuan Yoga.
"Hebat sekali anak dan istrimu, Indra!" Sinis Tuan Yoga.
"Aku membesarkan Tara bukan untuk kalian jadikan burung dalam sangkar dan bisa kalian hina semau kalian."
"Mungkin sebaiknya kita akhiri perjodohan ini. Tenang saja, aku akan bersikap profesional. Akan aku pastikan ini semua tidak mempengaruhi kerjasama bisnis kita." Tuan Yoga tersenyum sinis pada Nyonya Gita. Tuan Yoga tahu benar apa yang ditakutkan oleh Nyonya Gita. Apalagi kalau bukan karena bisnis dan kekayaan.
Aryan memberanikan diri berlutut di depan Tuan Yoga. "Om, yang bersalah adalah Anand dan mama. Saya mohon jangan batalkan perjodohan ini. Saya mencintai Tara, Om."
Aryan menunggu reaksi Tuan Yoga, namun beliau hanya diam saja. "Om, saya sudah mempersiapkan lamaran untuk Tara, sebelum semua kebenaran ini terungkap dan merusak rencana saya."
"Berani sekali kamu mempersiapkan lamaran, belum tentu Tara setuju. Aku tidak mau kelak putriku satu-satunya harus mendapat hinaan dari ibu mertua atau saudara iparnya." Tuan Yoga masih menjawab dengan sinis.
"Hari ini saya berlutut dihadapan, om. Saya mohon jangan batalkan perjodohan ini. Saya mempersiapkan lamaran atas persetujuan Tara. Saya berjuang untuk mandiri tanpa papa, semuanya saya lakukan untuk Tara, om. Saya janji akan membahagiakan Tara, saya juga sudah sediakan rumah baru untuk Tara. Saya akan pastikan mama dan Anand tidak akan pernah mengusik Tara, om." Aryan memohon.
"Tuan Yoga, tolong maafkan saya. Ini semua salah saya yang egois. Kalau misalkan ada hukuman, hukum saja saya tapi jangan menghukum Aryan." Nyonya Gita memohon pada Tuan Yoga.
Anand tidak mampu berlutut seperti Aryan. Ego dan kesombongannya tidak mengijinkan itu semua, meskipun dari lubuk hati yang paling dalam terbersit keinginan untuk memohon maaf dan memperbaiki semuanya. Anand juga ingin diberi kesempatan mencintai Tara.
__ADS_1
"Om, saya yang bersalah. Meskipun saya tidak pantas untuk memohon atau meminta apapun dari, om, tapi saya tetap akan memohon. Jangan batalkan perjodohan ini, saya tidak mau kesalahan saya menyakiti hati Aryan dan Tara. Saya tahu mereka saling menyukai." Anand memohon pada Tuan Yoga.
"Tara, apa benar yang dikatakan Aryan tadi?" Tuan Yoga mencari kebenaran.
"Benar, pa. Sudah sejak satu bulan lalu mas Aryan menyiapkan lamaran." Jawab Tara.
"Apa kamu menyetujuinya dan akan menerimanya setelah apa yang telah terjadi?" Tuan Yoga tidak yakin.
"Tara sudah suka dengan mas Aryan sejak pertama bertemu, pa. Ini semua bukan salah mas Aryan. Mana mungkin mas Aryan akan menyakiti Tara." Ucap Tara yakin.
Sejenak Tara merasa gamang. Tara benar-benar merasa dirinya serakah karena mencintai dua pria sekaligus. Tara terpikir bagaimana reaksi Gala jika mendengar atau tahu apa yang barusan dia ucapkan.
"Apa kamu yakin tidak ingin membatalkan perjodohan ini?" Nyonya Lita ikut bicara karena menyadari bahwa Tara sebenarnya juga mencintai Gala.
"Tara memang menyukai mas Aryan, ma." Ucap Tara.
Ucapan Tara bagaikan air hujan yang menyirami hati Aryan yang terbakar kegelisahan sejak kemarin. Aryan sedikit merasa lega karena Tara memberinya pembelaan. Namun keputusan akhir tetaplah di tangan Tuan Yoga Maheswari.
"Aku serahkan semuanya pada Tara karena dia yang akan menjalani perjodohan dan pernikahan ini. Bagaimana Tara?" Tuan Yoga memberikan keputusannya.
"Baik, pa. Tara akan menyelesaikan masalah ini berdua dengan mas Aryan."
Deg...
Hati Aryan kembali kalut. Rasa takut menyergap, takut jika Tara membatalkan perjodohan ini.
"Terima kasih, om, sudah memeberikan saya kesempatan." Ucap Aryan.
"Berdirilah! Aku tahu kesungguhanmu. Aku juga sudah tahu semua tentang calon-calon mantuku. Aku hanya menunggu Tara mengambil keputusannya sendiri." Ucap Tuan Yoga.
"Terima kasih, Yoga." Tuan Indra mendekat dan memeluk Tuan Yoga."
................
Apakah Tara akan melanjutkan perjodohan ini atau memilih Gala saja?
Ikuti terus ceritanya ya 👍
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.
__ADS_1