
Rizal pun ingin mengambil putrinya yang tertidur karena kasihan dengan Husna, tapi gadis kecil itu merengek.
"sudah om, biar sana saya saja, kasihan jika tidurnya tak nyenyak baby-nya," kata Husna.
"aduh Husna jangan panggil om dong, panggil mas saja, oh ya dia yang menyelamatkan mu dan neng mu loh," kata Mahi.
"benarkah, terima kasih dokter," kata Husna.
"itu sudah tugas ku, dan maaf aku melihat mu dalam keadaan memakai pakaian tidur," kata dokter Rizal.
"ya itu ulah pria busuk itu, tapi sudahlah dokter Rizal, semua sudah berlalu, biarkan baby Syafa bersama Husna, kalian lanjutkan saja mainnya, kapan lagi bisa sebebas ini kan," kata Fatin lembut.
"ya kamu benar sayang, sudahlah dokter Rizal kenari kita lanjutkan permainan truth or dare kali ini," kata Mahi.
Fatin meminta Husna menemani baby Syafa, sedang dia menyiapkan meja makan.
pukul setengah dua belas siang, "sayang ajak semuanya makan siang," kata Fatin.
"iya sayang, tapi kami sholat dulu saja di masjid, lagi pula mereka bertiga siapa tau ketemu jodoh," kata Mahi tertawa.
"ya mana bisa toh mas, orang tempat sholat terpisah loh yang santri laki-laki dan santri wanita," jawab Fatin mengeleng pelan.
"iya aku lupa, kalau begitu kita temui seseorang yang biasanya jadi nak comblang, kalian mau, lumayan loh," kata Mahi.
"sudah sana pergi sholat mas, kok malah bahas begituan," kata Fatin.
Mahi hanya tertawa saja,mereka pun segera berangkat ke masjid, tak sengaja Mahi melihat sosok Anisa.
"Tante," panggil Mahi pada wanita itu.
"Tante-tante kapan aku nikah dengan om mu," jawab Anisa tertawa.
"ya Allah salah lagi, terus di panggil bude juga salah, terus minta di panggil apa, ustadzah yang cantik jelita, istri ustadz Ilham yang cantik," kata Mahi kesal sendiri.
"ada apa toh Nang, kamu tak biasa menyapa Tante loh," kata Anisa tertawa.
__ADS_1
"ini loh Tante, teman-teman dokter ku pada jonblo, tolong Carikan jodoh dong," kata Mahi jujur.
dokter Rizal menggeplak kepala Mahi yang ngomong asal jeplak saja, terlebih mereka juga masih punya harga diri.
"sakit woy..."
"maaf ya Tante, jodoh untuk keduanya saja, saya tak usah," jawab dokter Rizal.
"kenapa?"
"karena jarang ada wanita yang bisa menerima putri dari istri pertama," jawab Rizal.
"tapi tak semua wanita yang seperti itu, ada yang begitu menyayangi putri sambungnya di banding anak kandungnya, contoh saja Fatin dan uminya," kata Anisa.
"suap Tante, jika sudah ada nanti tolong kabari ya," kata Mahi.
mereka pun berpisah dan kembali menuju ke masjid untuk ikut sholat berjamaah.
masjid di tengah yayasan itu sangat besar dan berdiri atas empat lantai demi menampung semua santri.
setelah itu mereka pun kembali ke rumah dan makan, Fatin pun memilih bersama dengan Husna.
mereka masih membicarakan beberapa persoalan yang menjadi masalah di yayasan.
seperti kepemimpinan yang akan di lanjutkan oleh siapa, karena ustadz Ahmad ingin mengundurkan diri dan menikmati kehidupan hari tua dengan tenang.
"menurut neng, siapa ya yang kira-kira akan menjadi penerus Abi, pasalnya kedua rencana Abi yang ingin menjadikan mas Haris dan mas Abdul sudah gagal di awal, dan suami neng seorang dokter, jadi pilihan terakhir tinggal mas Hasan dan mas Husain," kata Husna terlihat bengong.
"sudahlah dek, siapapun yang nanti di pilih Abi, pasti sudah melalui pertimbangan yang matang, tak mungkin Abi mencari pengganti asal-asalan terutama untuk yayasan yang sudah menjadi kebanggaan keluarga ini selama puluhan tahun ini," kata Fatin yang menghela nafas.
pasalnya dua adiknya juga tak berminat mengantikan sosok sang Abi, terlebih tanggung jawabnya terlalu besar.
apalagi harus mengemban nama yayasan yang terlanjur besar, dan identik dengan sosok ustadz Sulaiman Ahmad.
Fatin pun membereskan meja makan bersama Husna, tak lama baby Syafa bangun.
__ADS_1
Husna memberanikan diri bertanya pada dokter Rizal, "maaf dokter, baby Syafa apa sudah bisa makan nasi? dan kalau makan siang biasanya apa?"
"apa saja boleh, asal baby-nya mau, karena Syafa sangat sulit untuk di suapi," jawab Rizal yang selama ini dapat laporan dari orang tuanya.
"baiklah, biar saya coba," jawab Husna.
Fatin membantu, tapi Husna yang nampak begitu sabar, gadis yang kemarin punya pemikiran gila, sekarang perlahan mulai berubah.
terlihat jika Husna begitu telaten menyuapi Syafa,tanpa sadar perbuatan kecil itu mengetuk hati dari dokter Rizal.
sore hari mereka pamit dan tak lupa Fatin memberikan kue dan puding yang sempat di buatnya.
setelah itu Mahi dan Fatin pun membereskan rumah dan mandi, karena malam itu mereka ada acara di rumah pak kades.
tak terasa, waktu keberangkatan umroh kedua orang tua mereka tiba, setelah mengantar ke bandara.
Fatin dan Mahi pun kembali ke rumah,. karena dia sengaja mengambil shift malam.
Fatin sudah bersama suaminya selama sebulan dari kejadian buruk itu, mereka kini terus berusaha agar segera mendapatkan momongan.
mereka juga menitipkan doa, pada kedua orang tua mereka agar mendoakan, biar cepat bisa memberikan momongan.
malam hari Mahi akan berangkat kerja, tapi ini shift malam pertama setelah Fatin kembali,meski awalnya berat.
tapi ini sudah kuwajiban dari Mahi, tapi setidaknya dia merasa tenang karena Hasan dan Husna tidur di rumahnya untuk menemani Fatin.
tanpa di ketahui oleh keduanya, Husna makin dekat dengan dokter Rizal.
terutama untuk urusan baby Syafa, mereka sering pergi bersama, meski begitu Husna tidak melupakan janjinya.
Fatin merasa jika akhir-akhir ini tubuhnya merasa sedikit mudah lelah, terlebih kegiatannya yang memang begitu banyak.
tapi beruntung dia di bantu oleh seseorang yang di percaya Mahi untuk membantu pekerjaan rumah dari Fatin.
saat makan siang bersama Mahi, Fatin tiba-tiba berada mual, dan akhirnya malah muntah.
__ADS_1
Mahi kaget melihat hal itu. pasalnya Fatin sudah lama tak mengalami penyakit maaf yang dia derita dari muda dulu.