Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 49_Tuan dan Nyonya Cakra Wangsa


__ADS_3

Memasak telur tentunya pakai wajan


Jangan lupa wajannya yang anti karat


Wahai reader berikanlah author dukungan


Agar menghalu dan menulisnya lebih semangat


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


.........


Jam 4 sore Aryan sudah sampai di kediamannya, rumahnya bersama Tara. Aryan tahu betul tidak baik membiarkan istri tinggal di rumah mertua, apalagi dengan keberadaan Anand di sana. Terbukti dengan kejadian kemarin dimana Anand tidak terkendali. Keputusan Aryan sangat tepat untuk memiliki rumah sendiri setelah menikah. Tidak terbayang bagaimana jika dia tetap tinggal di kediaman Cakra Wangsa, Tara pasti tidak aman di sana.


"Mas Aryan pulang lebih awal?" Tara menyambut kedatangan Aryan, tidak lupa Tara mencium tangan Aryan.


"Mas ganteng ku, ini pipinya kenapa lebam begini?" Tara menyentuh pipi Aryan yang lebam.


"Aw... Agak sakit, sayang. Jangan disentuh!" Ucap Aryan manja.


"Mas Aryan habis berantem sama siapa?" Tanya Tara menyelidik.


"Tadi nggak sengaja jatuh." Bohong Aryan.


Tara tersenyum. "Mas, kamu ini tidak bisa bohong padaku. Kamu habis berkelahi kan?"


"Apa kamu mau menginterogasi aku di sini?" Mereka berdua masih di depan pintu.


"Aku sih maunya diinterogasi di ranjang." Aryan tersenyum menggoda.


"Mas... Mas... Ini masih sore. Jangan genit! Jawab dulu pertanyaanku!"


Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan Tara pun membantu Aryan melepaskan jas dan sepatunya.


"Mas Aryan habis berkelahi dengan mas Anand 'kan? Apa rasa kesalku sudah kamu balaskan, mas?" Tebak Tara.


"Aku sudah memberinya pelajaran, mungkin dia tidak akan berani keluar untuk beberapa hari." Papar Aryan.


Tara duduk di samping Aryan lalu memeluknya dari samping dan mencium pipi Aryan dengan lembut.

__ADS_1


"Ternyata suamiku yang ganteng ini juga jago berkelahi ya? Sepertinya aku sudah tidak butuh bodyguard lagi." Puji Tara.


"Aku tidak setiap saat di sampingmu, kamu tetap butuh bodyguard, sayang."


"Tapi jangan mencintai bodyguardmu sendiri!" Teringat Gala.


"Suamiku se-perfect ini, mana mungkin ada waktu untuk mencintai orang lain."


Tara mengambil kompres untuk mengompres lebam di pipi Aryan yang makin terlihat. Sengaja banget Aryan pura-pura sakit dan bermanja-manja pada Tara. Yang satu berbohong masih sakit, yang satu percaya begitu saja, begitulah romantisme harus dibangun bersama.


Tara meniup pipi Aryan, sontak menimbulkan sensasi yang membuat detak jantung mengalir dengan cepat. Aryan yang gerah membuka kancing bajunya memberi akses jemari Tara untuk menjelajah. Tara memang suka sekali menjelajahi dada bidang dan perut sixpack milik Aryan. Tara tahu betul cara mengalihkan kecemburuan Aryan.


"Sayang, tadi ada yang bilang kalau ini masih sore jadi tidak boleh genit."


"Aku berubah pikiran, mas." Suara Tara semakin membuat nafas Aryan memburu.


"Aku tidak bisa melewatkan anugrah indah ini. Apa mas Aryan keberatan?" Bisik Tara di telinga Aryan.


"Kamu hanya mengalihkan kecemburuanku pada bodyguard mu itu."


"Aku kan sudah menjelaskannya sebelum menikah, mas. Aku sudah memilihmu, kita sudah menikah, aku tidak terlalu dekat lagi dengannya."


"Aku bukan ingin mengalihkan pembicaraan. Aku hanya ingin membahagiakan kamu saja." Jelas Tara.


"Tentu, mas ganteng ku."


Aryan dan Tara lanjut olahraga sore yang menyenangkan. Tara memang tahu cara merubah mood suaminya itu.


(Lanjutkan sendiri ya reader ☺🙏🏼)


.........


Malam yang cerah bertabur bintang di langit tak mampu menghibur hati Tuan Indra yang sedang mengkhawatirkan kedua putranya. Masa kecil Anand dan Aryan sangat menyenangkan, begitu membahagiakan memiliki anak kembar. Kini dia harus dihadapkan dengan keadaan yang membuatnya dilemma. Kasih sayang dan perhatian yang tidak diberikan dengan adil membuat perpecahan antar saudara.


Terbenam dalam lamunan, Tuan Indra tidak sadar secangkir kopi di depannya sudah mulai mendingin.


"Pa, kopi mu sudah dingin, tumben sekali papa melamun." Tegur Nyonya Gita.


"Anand dimana, ma? Sudah dua hari aku tidak melihatnya, bahkan di kantor juga tidak bertemu." Tanya Tuan Indra.


"Anak muda jangan ditanya dong, pa!"

__ADS_1


"Kalau tidak di kantor pusat mungkin dia keliling ngecek cabang atau ada urusan dengan client di luar." Memberi alibi.


"Apa mama tahu? Sikap mama yang selalu menutupi kesalahan Anand justru akan membuat dia tidak menyadari kesalahannya. Dia bukan anak kecil lagi yang setiap saat bersembunyi di ketiak mamanya."


"Apa maksudmu, pa? Menutupi kesalahan apa?"


"Harusnya mama menasehati Anand, menegur Anand jika dia salah. Tugas kita sebagai orang tua untuk mengarahkan anak kita, bukan malah menutupi atau membiarkan anak kita terus berbuat salah." Tuan Indra menasehati.


"Maksud papa apa? Papa mau menyalahkan mama?" Mulai playing victim.


"Apa kamu tidak bisa bersabar sedikit saja? Dan dengarkan kata-kataku!" Tuan Indra mencoba bersabar.


"Apa papa juga bisa sabar dan mendengarkan pendapat mama?" Balik menyerang.


"Jika kamu benar aku akan mendengarkan, tapi jika kamu salah sebagai suami aku berkewajiban mengingatkanmu. Apa kamu sudah tidak menganggap dan tidak mau menghargai aku sebagai suamimu?" Ucap Tuan Indra lembut.


"Aku tidak ingin berkata kasar, mengancam ataupun memarahi mu. Aku hanya ingin kamu mendengarkan aku dan menurut dengan apa yang dikatakan suamimu ini."


Nyonya Gita hanya diam dan mendengarkan ucapan Tuan Indra. Bagaimanapun juga Tuan Indra adalah suaminya, meskipun kadang mereka bertengkar dan kurang harmonis, namun Nyonya Gita takut akan kekuasaan Tuan Indra.


"Aku harap kamu tidak menekan Aryan dan terus menyalahkan Aryan karena aku memilihnya menjadi calon CEO Cakra Wangsa Group."


"Harusnya kamu tahu kemampuan kedua anak kita. Ini semua demi masa depan Cakra Wangsa Group. Aku pun yakin jika Aryan menjadi CEO dia tidak akan melupakan Anand."


"Aryan rela memberikan bagiannya untuk Anand. Harta kekayaan bisa dia berikan untuk saudaranya, namun tidak dengan cinta dan istrinya. Tidak seharusnya Anand mengusik istri dari saudaranya sendiri."


"Mama sebagai wanita dan seorang istri harusnya paham bahwa perbuatan Anand itu salah. Jika aku diam bukan berarti aku tidak tahu apa yang Anand dan mama lakukan."


"Aku juga salah karena membiarkan Anand terus-terusan kamu manjakan. Harusnya aku mendidik Anand dengan keras sama seperti aku mendidik Aryan."


"Mungkin saat ini sudah terlambat, namun itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Aku ingin mengajari Anand menjadi pebisnis dan pemimpin yang baik."


"Jadi, papa harap mama tidak lagi menutup-nutupi kesalahan Anand atau mencoba untuk selalu membantu dan memanjakannya."


"Cobalah untuk melihat ketulusan Aryan. Jangan selalu menyalahkan Aryan karena semua keberhasilannya. Aryan juga mencintaimu, jika dia tidak mencintai mamanya pasti dia akan mengatakan padaku atas semua hal yang kamu lakukan."


"Cintailah Aryan sama seperti kamu mencintai Anand, aku juga akan mendidik dan memperhatikan Anand sama seperti aku mendidik dan memperhatikan Aryan. Mereka berdua anak kita bersama." Panjang lebar Tuan Indra memberikan nasihat dan solusi.


Nyonya Gita hanya diam dan berusaha mencerna apa yang suaminya katakan. Butuh waktu untuk menyadari kesalahan, butuh waktu untuk keikhlasan hati untuk membagi cinta dan perhatian dengan adil. Hati manusia memang kadang lemah dan susah untuk berbuat adil jika dibutakan cinta.


.................

__ADS_1


Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.


__ADS_2