
Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Putus cinta dengan kekasih memang hal yang berat. Apalagi jika sudah terlanjur sayang atau terlanjur pacaran kelewat batas, pasti rasanya sangat sakit dan tidak ingin putus. Begitulah perasaan Indi saat ini, setelah putus dari Anand.
Rasa sedih, kecewa dan kesal menjadi satu. Sedih dan kecewa karena Anand meninggalkannya begitu saja setelah apa yang meraka lalui selama ini. Kesal karena perlakuan Nyonya Gita yang sangat merendahkannya. Memang awalnya Indi tertarik pada Anand karena selain tampan dia juga kaya, namun seiring berjalannya hubungan mereka yang sudah setahun lebih, Indi merasa dia mulai mencintai Anand meskipun Indi juga memiliki kekasih yang lain.
Terlintas di pikiran Indi untuk segera membalas dendam. Dendamnya pada Nyonya Gita dan Anand sangat mendalam hingga menguras energi dan pikiran. Hati dan pikirannya bergejolak tidak mampu lagi memendam amarah.
Masih membekas di hati, pikiran dan pelupuk mata Indi bagaimana Nyonya Gita memecatnya secara tidak hormat. Terngiang kembali kata-kata Nyonya Gita yang begitu menusuk hingga ke ulu hati dan meninggalkan rasa malu yang tidak mungkin bisa diobati.
Flash back on.
"Dasar cewek matre tidak tahu diri! Mulai hari ini kamu dipecat!" Sarkas Nyonya Gita yang ditujukan pada Indi.
"Apa maksudnya anda, nyonya?" Indi kaget.
"Kenapa tiba-tiba saya dipecat? Saya tidak merasa membuat kesalahan dalam bekerja." Bantah Indi.
"Jangan dekati Anand lagi! Atau aku akan mendatangi orang tuamu dan mengatakan pada semua tetangga-tetangga desa-mu tentang kelakuanmu yang seperti pel*c*r menggoda anakku." Membentak dan mengancam.
Indi tertegun. "What? Apa mungkin nyonya Gita sudah tahu hubunganku dengan Anand?" Batin Indi.
"Saya tidak menggodanya, kami saling mencintai." Sanggah Indi.
"Harusnya kamu sadar! Kamu hanyalah pelarian sekaligus mainan bagi Anand." Ucap Nyonya Gita penuh penekanan.
"Jangan pernah bermimpi menjadi menantu keluarga Cakra Wangsa! Aku tidak akan pernah mengijinkan Anand menikah dengan wanita seperti kamu." Menunjuk Indi tepat di depan wajahnya.
__ADS_1
"Oohhh… Salah, salah... Kamu 'lah yang mulai lebih dulu menganggap hubunganmu dengan Anand hanyalah permainan. Bukankah kamu masih punya kekasih yang lain!" Sindir Nyonya Gita.
"Sudah berapa pria yang bermain di bawah rok-mu itu? Pasti sudah tidak terhitung jumlahnya. Kamu lupa menghitungnya ya?" Nyonya Gita tertawa sinis, benar-benar ciri khas orang kaya yang sombong yang belum kena azab.
"Anda tidak perlu repot-repot memecat saya, nyonya! Saya akan mengundurkan diri." Indi mempertahankan harga dirinya.
"Ha… ha… ha… Lucu sekali…" Tawa yang penuh hinaan.
"Tenang saja! Meskipun dipecat kamu akan tetap dapat pesangon." Seolah tidak habis kata untuk menghina.
"Bukankah kamu harus meninggalkan Anand ATM berjalan-mu!"
"Pasti nanti kamu butuh duit juga." Nyonya Gita melemparkan uang pesangon yang cukup banyak tepat di dada Indi.
Karyawan lain yang melihat dan mendengar kejadian itu tidak berani mendekat dan hanya melihat dari kejauhan. Mereka yang selama ini diam dan menutupi hubungan Indi dan Anand, sekarang bersorak-sorai di dalam hati. Mereka memang kesal terhadap Indi yang kadang semena-mena pada temannya karena dia pacarnya Anand. Mereka pun tahu kalau Indi ternyata berselingkuh di belakang Anand. Kini mereka tertawa bahagia mendengar Indi dipecat.
"Ingatlah, nyonya!"
"Anda akan menyesal karena telah mempermalukan saya!" Ancam Indi.
"Kamu masih tidak tahu diri dan berani mengancamku?" Nyonya Gita berkacak pinggang sambil menunjuk-nunjuk Indi.
"Kamu hanya karyawan di salah satu tokoku! Kamu tidak ada artinya dibandingkan dengan keluarga Cakra Wangsa!" Menggoyangkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
"Apa kamu pikir Anand akan membelamu dan memilihmu?"
"Jangan mimpi di siang hari! Anand pasti dan akan selalu menuruti apa yang mamanya katakan."
"Cepat kemas barang-barangmu dan segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihatmu!" Bentak Nyonya Gita.
Nyonya Gita benar-benar melampiaskan amarahnya pada Indi pagi itu, setalah semalam dia menerima amarah dari suami dan anaknya. Dia tidak mengingat bahwa kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa menjadi sumbu masalah dan sewaktu-waktu akan tersulut dan membakar semuanya. Nyonya Gita tidak belajar dari masalah yang pernah muncul karena kearogansiannya pada Tara waktu itu. Kalau bukan karena Tara, mungkin saat ini Nyonya Gita juga masih tidak tahu menahu tentang hubungan Anand dan Indi.
Indi berlalu pergi dengan menyimpan amarah dan dendam. Dia membawa uang yang diberikan Nyonya Gita. Meskipun dilempar, Indi tetap menggambil uang itu dan tidak mau rugi, mengingat setelah ini dia harus mencari kerja lagi.
__ADS_1
"Aku harus segera menemui mas Anand dan minta kejelasan darinya." Batin Indi.
Niat buruk dan kelakuan buruk terkadang karmanya dibayar instan di dunia. Seperti niat Indi yang awalnya hanya ingin memanfaatkan kekayaan Anand dan malah berselingkuh, pada akhirnya Anand meninggalkannya juga di saat dia mulai mencinta.
Flash back off.
...…...
Sore itu saat Nyonya Gita hendak pergi ke acara arisan sosialita. Acara arisan kebetulan diadakan di beda kecamatan. Jalan untuk menuju ke tempat arisan melewati beberapa kawasan pertanian dan perkebunan yang cukup sepi, hanya sedikit kendaraan yang melewati jalan itu. Apalagi kondisi gerimis mengundang dan mungkin saja hujan deras akan segera turun mengguyur bumi.
Sebelumnya Nyonya Gita datang ke kediaman Aryan Cakra Wangsa dan berniat mengajak Tara menantunya untuk ikut acara arisan dengan teman-teman sosialitanya. Sudah barang tentu Nyonya Gita ingin pamer Tara Maheswari telah menjadi menantunya.
Keberuntungan masih berpihak pada Tara, Aryan tidak mengijinkan Nyonya Gita mengajak Tara ikut arisan dengan teman-teman sosialitanya yang begitu sombong dengan kekayaan. Tara bernafas lega saat Aryan dengan sigap melarang mamanya mengajak Tara ikut arisan. Padahal sebelumnya Tara sudah bingung dan sungkan, sempat terpikir untuk menerima ajakan mama mertuanya itu.
"Buuum… Buuum… Buuum…"
Suara ban mobil yang pecah berdentum keras.
"Ngiiiiiiiiikkkkkkkkk… Ngiiiiiiiiikkkkkkkkk… Ngiiiiiiiiikkkkkkkkk…"
Suara velg ban beradu dengan aspal bercampur dengan suara rem yang memekakkan telinga.
"Sreeeeeekkkkkk… Sreeeeeekkkkkk… Sreeeeeekkkkkk…"
Body mobil samping kiri membentur dan bergesekan dengan pembatas jalan. Penumpang yang duduk di samping kiri kemungkinan akan mengalami luka-luka.
"Braaaaaaaaakkkkkkkkk…"
Mobil menabrak pembatas jalan, merangsek masuk ke dalam area perkebunan lalu menabrak pohon dengan keras.
Malang memang tidak dapat ditolak, di tengah guyuran hujan di sore itu mobil yang Nyonya Gita tumpangi mengalami kecelakaan yang cukup fatal. Sungguh beruntung Tara yang tidak jadi ikut arisan dengan mama mertuanya itu, mungkin saja Aryan sudah merasakan hal negatif hingga dia tidak mengijinkan Tara ikut.
Ada dua orang yang melihat kejadian kecelakaan itu. Bukannya menolong, mereka justru sembunyi dan pergi secara diam-diam. Tidak ada saksi mata kecelakaan itu karena kondisi jalan yang sedang sepi. Lima menit setelah kecelakaan, lewat sebuah mobil, ternyata mobil itu milik teman Nyonya Gita yang akan ikut arisan juga. Nyonya Parwati sang pemilik mobil tahu betul mobil yang menabrak pohon itu adalah mobil Nyonya Gita. Dengan panik Nyonya Parwati segera menelepon dan mengabari Tuan Indra.
__ADS_1
.................
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.