
Fatin sudah menyiapkan bekal untuk suaminya meski hanya cemilan ringan, tapi setidaknya bisa mengganjal perut Mahi.
dia masih libur dan juga sudah mengajukan pengunduran diri sebagai asisten dosen.
dia harus fokus skripsi dan segera lulus agar bisa fokus pada Mahi suaminya.
"sedang buat apa dek?" tanya Mahi yang sudah siap berangkat ke rumah sakit.
pasalnya pagi ini Mahi ada jadwal di puskesmas baru setelah itu ke rumah sakit.
"buat cemilan untuk mas, aku tak tau kesukaan mas apa, jadi aku buat yang selaku di buatin bunda saat aku dan adik-adikku main ke rumah mas, dulu," jawab Fatin memberikan tas bekal pada Mahi.
"aku yakin rasanya pasti enak," puji Mahi yang minum kopi.
"di coba dulu saja, mas nanti sore sepertinya aku dan Abi akan pergi kontrol, apa mas ada waktu?" tanya Fatin yang kini duduk di sebelah Mahi.
"tentu, aku sudah meminta Aline menyiapkan jam khusus untuk Abi," jawab Mahi.
Mahi pun akan segera berangkat, Fatin memberikan kunci mobilnya pada Mahi.
dua juga mencium tangan Mahi sebelum suaminya itu pergi, Mahi bukan tak punya mobil.
pasalnya mobilnya sedang di bengkel karena baru saja di tabrakan ke sebuah tembok oleh Rosita.
Mahi juga tak lupa membeli pesanan dari ibu Fatma, Mahi sampai di puskesmas.
dia langsung menerima pasien, sedang Fatin di rumah sedang bertukar pesan dengan dosen Lilik.
pasalnya dia sudah tak bisa jadi asisten dosen lagi, meski awalnya wanita itu berat tapi ini semua di lakukan karena Fatin sudah menikah.
"neng, ini tugas dari murid-murid mu, oh ya mau beli sesuatu gak?" kata Husain yang datang membawa tumpukan kertas
"boleh dong, aku sedang ingin makan telur gulung dan Sempol dong dek," kata Fatin.
"oke aku beli di depan, neng gak penasaran bagaimana mantan mas Mahi, setahuku dia dulu sangat cantik, itulah kenapa membuatnya jadi rebutan oleh pria-pria kaya," kata Husain.
"sudah jangan membicarakan orang yang sedang sakit, sudah berangkat beli sana," kata Fatin.
tapi dia juga kepikiran, bagaimana pun suaminya pernah menjalin hubungan dengan wanita itu.
__ADS_1
tapi Fatin harus percaya dengan suaminya, "tidak boleh, aku sudah memberikan kepercayaan padanya, aku percaya pada mas Mahi," lirih Fatin.
akhirnya Husain datang membawa makanan pesanan dari Fatin, keduanya pun mulai memeriksa tugas sambil makan cemilan.
siang hari, Mahi sudah sampai di rumah sakit, dan dia segera ke ruangannya.
pasalnya dia hari ini hanya menerima pasien yang sudah membuat janji temu terlebih dahulu.
"dokter, beberapa pasien susah datang," kata perawat Aline.
"suruh masuk, dan tolong minta Dita mengantar ini ke ruangan Melawai satu,atas nama pasien Adila yang termasuk korban kecelakaan," pesan Mahi memberikan bungkusan kue brownis itu.
"baik dokter," jawab perawat Aline.
perawat Dita bergegas ke ruangan rawat inap untuk memberikan kue dari dokter Mahi.
saat ingin masuk perawat Dita mengetuk pintu, baru dia masuk dan tersenyum ramah.
"iya suster ada apa?" tanya Adila yang sudah bangun dan sedang membaca buku.
"selamat siang Bu, ini saya ingin mengantarkan kue dari dokter Mahi, katanya semoga lekas sembuh," kata perawat Dita dengan sopan.
"Mahi... dia dokter disini?" kaget Adila tak percaya.
Adila pun merasa begitu senang, pasalnya dia tak mengira jika Mahi begitu perhatian padanya.
"apa dia tak bisa melupakan aku, Kren semua bilang jika Mahi tak pernah terlihat mengandeng seorang gadis setelah putus dariku, ternyata pria itu juga bertekuk lutut padaku," gumamnya dengan senang.
orang tua Adila baru saja datang setelah sarapan, keduanya heran meliht Adila yng terus tersenyum senang sendiri.
"ada apa nak?" tanya keduanya.
"lihat Bu, pak, Mahi ternyata msih menyukai ku, bahkan dia ingat brownis kukus yang seperti apa yang aku sukai, berarti aku bisa bersamanya lagi, lagi pula sekarang aku sudah sendiri bukan," kata Adila dengan semangat.
"ya, dan asl kmu tau, sekarang orang tua Mahi juga makin kaya, bahkan usaha mereka di bidang waralaba makin menjamur," kata Bu Fatma semangat.
"seharusnya dulu aku sabar saja ya bu, buat apa punya suami kata suka main perempuan, dan sekarang aku jadi janda muda begini," kata Adila.
"hak papa nak, yang terpenting, kamu janda super kaya, semua harta sudah di alihkan atas namamu, jadi sekarang kamu benar-benar kaya," jawab pak Doni.
__ADS_1
Adila pun mengangguk, pasalnya dua yang berhasil membuat suaminya itu mau memindahkan asetnya saat Adila mengancam ingin bercerai.
saat sudah kosong, Arkan melihat isi kotak bekal itu, ternyata berisikan puding jeruk, ada pisang goreng kipas tepung panir, dan juga ada buah potong.
"wah ini cemilan sehat sekali," gumam mahi tersenyum geli.
pasalnya Fatin taunya memang keluarga Hendra selalu makan makanan sehat, padahal mahi penyuka gorengan.
setelah selesai makan, dan sudah terisi lagi tenaganya, ternyata ustadz Ahmad, Dil dan Fatin datang bersama dengan Husain sebagai supir.
mereka pun langsung di arahkan ke ruangan dokter Mahi. "assalamualaikum... apa kami menganggu dokter?" kata ustadz Ahmad.
Mahi langsung mencium tangan kedua orang tuannya itu, sedang Fatin memeluk Mahi sebentar, sedang Mahi bertos ria dengan adik iparnya Husain.
"waalaikum salam Abi, umi, mari silahkan duduk, saya baru selesai makan cemilan karena lapar, bagaimana siap melakukan cek up, semua sudah di siapkan," kata Mahi.
"bismillah nak, Abi siap demi sehat dan umur panjang, untuk melihat calon cucu Abi," kata ustadz Ahmad.
"Abi ..."
"aduh kena kode keras yang sudah kepingin cucu," kata Husain yang langsung dapat cubitan dari Fatin.
Husain mengusap lengannya, pasalnya cubitan dari Fatin sangat panas dan sakit.
Mahi mengarahkan mertuanya untuk melakukan cek berdua, Mahi begitu sabar dan sopan pada pasien.
terlebih mereka adalah mertuanya, Dila yang bosan pun keluar dan memilih duduk di koridor.
ada seorang gadis kecil yang menghampirinya, dia mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"halo cantik, siapa namanya?" tanya Fatin dengan lembut.
"Aliya, kakak sedih, mau Akira temani, Aliya sendirian di rumah sakit ini gak punya teman," kata bocah kecil itu..
"loh orang tua Aliya kemana? kok biarin Aliya sendirian?"
"orang tua Aliya cari uang buat Aliya, katanya agar Akita bisa sembuh," jawab gadis kecil itu.
"baiklah, sekarang kakak temani Aliya ya, mau main apa?" tanya Fatin yang memang menyukai anak-anak.
__ADS_1
"kita main monopoli ya, Aliya suka saat bisa beli hotel, rumah dan mobil, karena itu cita-cita Aliya untuk papa dan mama," jawab gadis kecil itu.
Fatin mengangguk sedih,gadis sekecil itu sakit parah hingga kepalanya plontos tak memiliki rambut sehelai pun.