Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_pernikahan di penjara


__ADS_3

Hendra akhirnya luluh dan mau menikahi Mela, meski dia harus rela memberikan semua hartanya atas nama wanita itu.


bukan karena paksaan tapi karena dia merasa Mela bisa di percaya untuk mengelola semua harta yang dia miliki.


hari ini semua keluarga dari Mela datang ke penjara, mereka dapat izin khusus untuk melakukan pernikahan secara tertutup.


ustadz Ahmad dan Dila juga datang, karena ustadz Ahmad mendapatkan permintaan khusus dari Mela.


sedang Dila juga ingin ikut karena ingin mengunjungi Arif dan istrinya, serta keponakan barunya yang sedang lucu-lucunya.


Dila duduk bersama Vivi, sedang Fatin duduk tenang di tengah sambil makan buah jeruk.


"kamu akan baik-baik saja, bukankah kamu masih merasakan takut bertemu mas Hendra?" tanya Vivi.


"tenang aku baik-baik saja, karena aku punya obatnya sekarang, ada putri cantik di sampingku dan juga suami yang begitu mencintai ku," jawab Dila.


Vivi pun memberikan jempolnya, dan tak lama Hendra datang dengan tangan di borgol.


tapi saat Dila menoleh, dia kaget melihat tatapan tajam dari Hendra. seakan ingin membunuhnya.


tatapan itu adalah tatapan saat Hendra marah dan pasti berakhir dengan sebuah tamparan keras atau bahkan pukulan Padanya.


Dila menyentuh dadanya, jantungnya berdebar karena perasaan terancam, suasana yang awalnya sangat menyenangkan.


tiba-tiba terasa begitu mencekam baginya, "uh... mbak aku pamit keluar ya, tiba-tiba aku butuh udara segar, ayo sayang kita ke luar."


"tunggu aku ikut dengan mu," kata Vivi yang tak ingin membiarkan Dila sendiri.


Keduanya pun duduk bersama di kursi tunggu di depan aula, Fatin masih sibuk dengan jeruk yang di pegang Dila.


Vivi tau jika saat ini Dila merasa ada sesuatu dan menyembunyikannya, "jika kamu ingin cerita, silahkan aku akan dengarkan?" tanya Vivi khawatir.


"aku baik-baik saja mbak, aku hanya tiba-tiba merasa tak nyaman karena kehamilan ku memang seperti ini," jawab Dila.


sedang di depan penghulu dan ayah dari Mela, Hendra yang tadi masuk sempat kaget melihat ustadz Ahmad yang duduk sebagai saksi.


hingga tanpa sadar dia mencari sosok Dila, dan terkejut saat pandangan keduanya bertemu.


Hendra bahkan melotot karena kaget, kini pernikahan akan segera di lakukan.


Hendra menjabat tangan ayah Mela dan kemudian mengucapkan ijab qobul dengan lantang.


mereka pun sah sebagai suami istri, ustadz Ahmad yang memimpin doa, dan setelah selesai dia mencari Dila yang tak nampak dari tadi.


sedang Bu Eka sangat senang dan berjanji akan menjaga menantunya itu, terlebih ada bayi yang akan lahir juga.

__ADS_1


Mela juga berjanji akan mengabdi untuk membahagiakan orang tua dan mertuanya.


terlebih Bu Eka sudah membeli rumah di sekitar rumah orang tua mela, dan mereka akan tinggal di sana sambil menunggu masa hukuman dari Hendra selesai.


ustadz Ahmad menemukan sang istri sedang tertawa di luar bersama Vivi dan juga Fatin.


bahkan mereka sedang berbincang dengan beberapa sipir yang menjaga di sana.


"kamu disini sayang, aku mencari mu kemana-mana, sepertinya ada yang sangat menarik, boleh tau apa itu?" tanya ustadz Ahmad


"ini loh Abi, pak petugas sedang menceritakan kisah kancil dan petani tapi dengan menirukannya, dan itu membuat Fatin tertawa begitupun kami," jawab Dila jujur.


ustadz Ahmad pun menyentuh kepala Dila, istrinya pun sadar dan langsung mengambil tangan ustadz Ahmad dan menciumnya.


"maaf ya Abi ..."


"ya sudah pak, kami masuk dulu, pamit ustadz Ahmad mengendong Fatin


"oh ya pak tolong bagikan semua makanan yang tadi datang untuk para tahanan juga, karena mereka bisa merasakan kebahagiaan keluarga kami," kata Vivi.


"baik mbak terima kasih," jawab petugas lapas yang memang masih muda dan tampan.


Dila tau suaminya sedang ngambek dan cemburu, padahal dia dan Vivi hanya mencari udara segar saja.


ustadz Ahmad mengandeng tangan Dila dan mengajaknya mengucapkan selamat pada kedua pengantin.


setelah itu dia berjalan ke depan mantan mertuanya, saat di depan Bu Eka, Dila pun berpelukan dengan wanita sepuh itu.


"maafkan Dila jika pernah melakukan kesalahan saat jadi menantu ibu," bisik Dila sedih.


"bukan kamu nak, tapi seharusnya ibu yang meminta maaf karena semua kesalahan masa lalu yang menyakitimu," terang Bu Eka.


keduanya pun turun dan mengambil makanan, Dila makan di piring yang sama dengan suaminya.


setelah itu keduanya berpamitan pulang karena Lela terus menelponnya dari tadi.


mereka pun berpamitan pulang setelah acara utama selesai, ustadz Ahmad memberikan air zam-zam dan juga resep yang pernah di berikan oleh dokter dulu pada Dila.


"apa ini ustadz?" tanya Hendra.


"itu resep obat yang dulu kamu minum tanpa sadar, dan sekarang Dila ingin kamu menjalani hidupmu dengan baik, berobatlah dan perbaiki diri, dan semoga menjadi keluarga yang samawa," kata ustadz Ahmad sebelum kemudian pergi.


kini ustadz Ahmad berangkat ke rumah mertuanya, dan saat sampai ternyata rumah itu makin besar.


dan besok adalah acara haul dari ayah Dila yang pertama, itulah kenapa mereka memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


sesampainya di rumah, begitu banyak perubahan di rumah yang dulu sangat sederhana.


"Dila!!" panggil Lela yang langsung memeluk adik iparnya itu.


"pelan-pelan sayang ku, bagaimana jahitan mu, kenapa begitu aktif sih bun," kata Dila khawatir.


"sudah kering, bocah nya juga sudah Lina bulan ini, dan gadis cantik bunda, ayo masuk Fatin, kita lihat adik Rafka," ajak Lela.


"apa aku tak kelihatan dek?" tanya ustadz Ahmad bingung.


"sudah Abi, dia memang seperti itu, ayo masuk," ajak Dila.


mereka berdua pun masuk dan menyapa Arif yang baru datang dari sawah.


tak lama Zainal juga datang dengan Putranya dan Bu Wati, "wah dari mana ini mas ganteng dan ibu," kata Dila memeluk Zainal.


"dari pasar dan tempat catering untuk membayar semua tagihan, agar besok tak keteteran dek, kalian baru datang?" tanya Zainal.


"iya mas, tadi kami ke nikahan dulu, baru kesini karena mbak Lela terus menelpon," kata ustadz Ahmad.


"pernikahan Hendra dan korbannya bukan, kamu baik-baik saja Dila," tanya Arif khawatir.


"Alhamdulillah baik mas, tolong jangan berlebih-lebihan begitu, aku sudah bahagia sekarang," terang Dila yang tak suka.


"sudah-sudah kok malah mengatakan hal seperti itu, nduk ayo tolong ibu ke dapur sebentar, dan kalian bertiga sekarang atur untuk acara besok, jangan sampai ada masalah," terang Bu Wati.


"siap ibu, kami disini pasti beres," jawab ketiganya.


dan memang benar, ustadz Ahmad memberikan saran untuk acara besok, terlebih undangan besok begitu banyak.


sekitar seratus lima puluh orang, itu terdiri dari tetangga dan juga saudara serta teman-teman keluarga pak Yono.


acara berjalan lancar, tanpa ada gangguan dari siapapun, keesokan harinya ustadz Ahmad sedang berjalan pagi bersama Dila untuk menikmati suasana desa itu.


mereka pun membeli sarapan pagi untuk semua orang karena Dila yang sudah ngidam nasi itu dari semalam.


sesampainya di rumah mereka pun memakannya bersama, karena siang nanti ustadz Ahmad harus pulang kembali ke pondok bersama keluarganya.


di rumah baru, Mela sudah selesai mask untuk mertuanya, meski Bu Eka melarang tapi menantunya itu begitu keras kepala.


"istirahat nak, kamu sedang hamil nanti kamu kelelahan," tegur Bu Eka pelan.


"tidak apa-apa ibu, aku gak saja karena jika aku hanya duduk,kata dokter itu tak baik untuk kandungan ku karena nanti bisa berpengaruh saat lahiran," jawab Mela


Bu Eka pun mengusap kepala menantunya itu, terlebih Mela yang masih sangat muda tapi harus menjalani semua hal besar ini sendiri

__ADS_1


tapi Bu Eka berjanji tidak akan membuat menantunya itu sedih dan merasa sedih.


__ADS_2