
Aliya merasa begitu bahagia mendapatkan teman untuk bermain, bahkan gadis itu bisa tertawa dengan lebar.
Mahi dan orang tua Fatin baru selesai melakukan pemeriksaan, dia tersenyum melihat Fatin yang dekat dengan seorang gadis kecil.
"Abi dan umi ke ruangan Mahi dulu ya, Mahi ingin menemui istri saya dulu," pamit Mahi pada kedua mertuanya.
"iya nak," jawab keduanya.
"assalamualaikum Aliya, wah ... lagi main apa ini?" sapa Mahi dengan senyumnya.
"waalaikum salam dokter ganteng, Aliya punya temen kakak cantik ini, dia begitu pintar," kata Aliya begitu bahagianya.
"Alhamdulillah kalau begitu, tapi Aliya gak boleh hilang seperti ini, kasihan dong kakak-kakak perawatnya mencari Aliya," kata Mahi.
"maaf dokter, tapi Aliya kesepian, jadi Aliya cari dokter," jawab gadis kecil itu.
"sudahlah mas, tolong jangan seperti ini, lagi pula Aliya gadis baik kok," jawab Fatin.
"baiklah sekarang Aliya harus kembali ke kamar inap ya, perawat Dita tolong antar Aliya ya," perintah Mahi.
"baik dokter, ayo manis, kita kembali ya," kata perawat muda itu.
__ADS_1
Mahi merangkul pinggang Fatin, sedang Fatin kaget merasakan suaminya yang begitu dekat.
jantung Fatin berdegup kencang karena Mahi selalu berbuat baik pada dirinya.
"mas, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Fatin melihat suaminya.
"apa itu sayang?" tanya Mahi penasaran.
"Aliya sebenarnya sakit apa sih mas, kok sepertinya sangat berat dan harus tinggal di rumah sakit selama ini," tanya Fatin.
"dia terkena kanker darah stadium dua, tapi karena usianya yang masih kecil, jadi pengobatannya harus intens, dan sekarang kami sedang berusaha untuk mencari pendonor sum-sum tulang belakang untuk menyelamatkan Aliya," jawab Mahi.
"tapi kondisi mu sedang tak sehat dek," jawab Mahi yang tak mau Fatin kesakitan.
"mas ... boleh ya, please..." mohon Fatin.
Mahi pun tak bisa menolak, tapi dia tak ingin mengiyakan, "maaf ..." jawab Mahi.
Fatin pun nampak sedih, tapi dia tak bisa menyalahkan suaminya itu karena ini adalah hal yang menyangkut nyawa.
Fatin sadar jika Mahi menolak karena khawatir padanya, jadi sekarang Fatin harus sehat.
__ADS_1
Mahi mengajak istrinya masuk kedalam ruangannya, Husain dan kedua orang tua mereka pulang terlebih dahulu.
sedang Fatin ingin menemani Mahi lebih lama lagi, jadi dia memilih membaca buku saat Mahi visit memeriksa beberapa pasiennya.
perawat Aline masuk dengan membawa makanan untuk Mahi, dia lupa jika ada Fatin di ruangan itu.
perawat Aline menaruh makanan di meja sambil tersenyum membayangkan wajah Mahi yang akan bahagia mendapatkan makanan kesukaannya.
Fatin yang melihat pun, hanya mengawasi gerak-gerik perawat yang menjadi asisten suaminya itu.
"mbak Aline sebaiknya coba siapkan kopi pahit, mas Mahi pasti akan sangat menyukainya," kata Fatin yang sedang melihat wanita itu.
"hah... nyonya, masih disini, wah maaf saya tidak tau, dan saya cuma beli satu makanan untuk dokter Mahi," jawab perawat Aline panik.
"tidak masalah mbak, kami suami istri jadi bisa berbagi segalanya, bukan hanya sekedar nasi, tentu mbak tau kan," jawab Fatin tersenyum pada perawat Aline.
"iya nyonya, kalau begitu saya permisi mau ke tempat pasien yang lain," kata perawat Aline yang buru-buru pergi.
terlebih Fatin terlihat kurang nyaman, sedang di ruangan Adila, wanita itu sedang berusaha untuk bisa bangun agar bisa bertemu Mahi.
pria yang sekarang jadi incarannya, tapi dia tak tahu jika Mahi sudah menikah, dan istrinya juga bukan wanita sembarangan.
__ADS_1