
Mahi sedang tidur karena begitu mengantuk, Fatin pun mencium kening suaminya saat akan pergi mengajar ke sekolah.
dia pun berjalan bersama beberapa santriwati pondok, karena letak sekolah memang tak jauh.
tapi dia kaget saat ada Haris yang sedang menunggunya sambil menyandarkan tubuhnya ke mobil.
pria itu langsung mendekat kearah Fatin yang sedang berjalan, bahkan Fatin kaget saat Haris langsung menarik tangannya.
"lepaskan!!" berontak Fatin.
"tolong, ada pri jahat, tolong," teriak santriwati yang membantu Fatin melepaskan diri dari Haris.
tapi pria itu mendorong empat santriwati itu hingga tersungkur, tapi seseorang menepuk bahunya.
"jangan berani menyentuh istriku," kata Mahi yang ternyata segera terbangun saat Fatin mencium keningnya.
"ha-ha-ha-ha kau mau apa? toh dia tetap mencintai ku meski telah menikah dengn ku," kata Haris yang menertawakan Mahi.
karena marah dan melihat air mata istrinya, Mahi langsung menghadiahi Haris dengan bogem mentah.
Haris tersungkur, dia tak mengira jika meski terlihat lebih kecil sedikit darinya, tapi kekuatan dari Mahi begitu besar.
"sudah ku katakan, jangan menyentuh istriku!!" teriak Mahi.
Haris pun mengusap sudut bibirnya, ternyata ada darah, "brengsek!" maki Haris.
Fatin yang berlindung di balik tubuh Mahi, perlahan di dorong mundur perlahan oleh Mahi.
"mas..."
"tidak dek, percaya padaku," kata Mahi yang meminta keempat santriwati itu menjaga Fatin.
"brengsek ya, kamu mau mati ayo kita lakukan, aku sudah tak sabar," kata Haris.
Haris milik memukul Mahi, tapi dengan cepat Mahi menendang perut Haris kemudian menendang wajah pria itu hingga terpental.
"dasar anak narapidana!!" kata Haris tak suka.
__ADS_1
Mahi hanya tersenyum, Haris kembali bangkit dan mengambil balok kayu yang ada di sekitar sana.
Fatin pun ketakutan melihat Haris, tapi Mahi dengan cepat menghindari pukulan dari Haris dan memelintir tangan pria itu hingga hampir patah.
kini harus berlutut di depan Mahi, "kamu kira aku akan terpancing amarah saat mengatakan hal itu, kamu salah besar, aku memang ank mantan narapidana, kau lupa jika ayah ku sangat pintar dalam bertarung, jadi tak mungkin dia membiarkan putranya tumbuh manja,"kata Mahi yang siap ingin mematahkan tangan dari Haris.
"argh... sakit!!!"
Fatin pun baru melihat sisi suaminya yang begitu kasar dan suka bertarung seperti ini.
rombongan satpam pun datang dan mengamankan Haris, "kalian kemana saja, kenapa sampai pria ini ingin melukai istriku, kerja kalian bagaimana!" bentak Mahi.
"maafkan kami pak dokter, kami sedang membantu di lapangan utama, biar kami bawa ke pengurus yayasan," kata pra satpam.
"bawa ke kantor polisi, dan aku akan membuat laporan untuk pria ini karena berani mencoba melakukan pelecehan pada istriku!" marah Mahi.
para satpam itu pun ketakutan, pasalnya Mahi selama ini terkenal begitu baik, tapi sekarang pria itu marah.
"sudah pak,bawa ke tempat om Yusuf dan abi, biarkan mereka yang putuskan," perintah Fatin.
"tapi dek-"
Haris menertawakan Mahi, pria itu menatap Mahi jijik, "dia masih mencintaiku, lihat itu,bahkan dia tak tega melihat aku di bawa ke kantor polisi," bisik Haris.
Mahi yang marah, pun langsung mencekik harus, "kalau begitu aku akan membunuh mu!!"
melihat hal itu, para satpam pun melerai keduanya, "mas Mahi tenangkan dirimu..." suara Fatin yang tak bisa menyadarkan suaminya itu, Mahi pun di tarik menjauh, sedang Haris sudah hampir mati di tangan Mahi.
Haris langsung di bawa ke kantor yayasan, sedang Mahi menghempaskan tangan kedua satpam yang melerainya.
"lepaskan!!"
para satpam pun sedikit mundur karena kekuatan Mahi yang besar, dan pria itu benar-benar kasar.
"mas Mahi," panggil Fatin yang merasa takut dan sedih.
"menjauhlah dariku sekarang, atau aku bisa lepas kendali dan melukaimu," kata Mahi dengan dingin dan langsung meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Mahi langsung mengambil jaket miliknya dan juga dompetnya. dia pun pergi meninggalkan rumah ustadz Ahmad karena merasa butuh ketenangan untuk sendiri.
Fatin yang ingin menahannya pun tak bisa berbuat banyak, dia begitu sedih melihat Mahi yang seperti itu.
sedang di kantor, ustadz Ahmad dan ustadz Yusuf kaget melihat Haris yang datang dengan di tahan dia satpam.
bahkan wajah pria itu sudah babak belur, ada beberapa luka yang berdarah, "ada apa ini?" tanya ustadz Ahmad.
"ini pak ustadz, tadi mas Haris datang dan mencoba melecehkan Neng Fatin, dan pak dokter yang membuat mas Haris seperti ini, karena kami tadi sibuk membantu di lapangan utama, hingga tak mencegah mas Haris masuk seperti perintah anda," jawab satpam yang memegangi Haris.
"lepaskan dia, kalian bisa kembali berjaga," kata ustadz Ahmad.
ustadz Yusuf membantu Haris untuk duduk, tak di duga Husain datang dengan marah dan langsung memberikan pukulan di wajah Haris.
"kenapa kamu datang lagi, kamu ingin menghancurkan neng lagi huh, dasar pria busuk, bajingan, kenapa kamu seperti hantu yang terus berkeliaran, aku diam bukan karena aku takut, dasar pria brengsek," kata Husain yang sudah di hadang oleh ustadz Yusuf.
"tenang Husain, ingat ini kantor yayasan," tegur ustadz Ahmad
"tapi dia sudah membuat neng Fatin menangis, apa Abi bisa memaafkan pria seperti dia, aku ingin sekali merobek mulutnya itu," kata Husain dengan suara meninggi.
"Husain sadar nak, kamu sedang meninggikan suara pada Abi mu sendiri," tegur ustadz Yusuf.
Husain pun tenang karena dia sadar telah terbawa emosi, "maafkan Husain Abi, Husain lepas kendali karena melihat neng Fatin yang kembali menangis lagi,"
ustadz Yusuf pun mengajak Husain duduk di kursi milik ustadz Ahmad,sedang pria itu membantu Haris.
"obati luka mu, dan mulai besok kamu di larang kesini, jika kamu berani datang kesini, aku sendiri yang akan menjebloskan mu ke penjara," kata ustadz Ahmad memberikan kotak obat.
"tapi ustadz, anda tau jika Fatin mencintai saya, dia pasti terluka dengan pernikahan ini, lagi pula Islam tak melarang untuk seorang pria memiliki istri lebih dari satu," bantah Haris.
"meski begitu aku tak akan rela putri kesayangan ku menjadi yang kedua, jadi ini peringatan pertama dan terakhirku, kamu tak boleh menginjakkan kaki mu disini lagi," kata ustadz Ahmad.
"kalau begitu, kita lihat sejauh mana Fatin bisa bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini, terlebih Mahi yang masih Muda dia juga akan bisa dengan istri yang bahkan tak bisa di sentuhnya, dan jika Fatin bercerai dengan suaminya, ustadz sendiri yang akan mengemis di kakiku untuk meminta aku menikahi putrimu itu," kata Haris yang kemudian pergi begitu saja.
ustadz Ahmad pun memegangi dadanya, dia tak mengira sudah membesarkan monster, entah apa yang bisa mengubah Haris hingga seperti ini.
"Abi minum obat dulu," panik Husain melihat ustadz Ahmad.
__ADS_1
Yusuf pun merasa kasihan dengan kakaknya itu, di usianya dia harus menghadapi semua masalah keluarganya.