
Seberapa pun reader, like dan favoritnya, author akan tetap selalu update sampai kelar halu/khayalan di kepala author ๐ธ
Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... Biar lebih semangat nulisnya. ๐๐ผ๐๐ผ๐๐ผ
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Pagi itu setelah pertempuran singkat di dalam bath up dan di bawah shower. Tara sedang mengancingkan kemeja Aryan.
"Sayang, sepertinya aku malas ke kantor." Ucap Aryan.
Tara hanya mendongak memandangi wajah Aryan, menatap mata biru Aryan yang membuatnya terlihat tampan dan semakin mempesona karena sedang tersenyum manis.
"Sepertinya benar kata papa, aku harus memperpanjang bulan madu kita." Tersenyum menggoda sambil mengedipkan mata.
"What?" Tara kaget.
"Apa kamu tidak suka, sayang?" Aryan kecewa.
"Aku kan nggak bilang kalau aku nggak suka." Balas Tara.
"Tadi sepertinya kamu nggak suka gitu." Lirih Aryan.
"Siapa yang nggak suka? Aku hanya kaget aja."
"Aku sih seneng-seneng aja dimanjain terus sama kamu, mas." Tara sudah selesai memasangkan dasi.
Aryan memeluk Tara. "Okay, kalau gitu segera mungkin akan aku luangkan waktu, aku akan membereskan beberapa pekerjaan dulu."
"Mas, nanti bajumu kusut loh! Kan mau ke kantor." Tara mengingatkan.
"Kalau kusut tinggal ganti lagi. Atau aku tidak usah ke kantor aja. Seharian di rumah sama kamu sudah termasuk bulan madu lagi kan?"
Tara memukul pundak Aryan. "Semalam sudah, baru aja selesai 30 menit yang lalu, masih kurang mas?"
"Kamu membuatku kecanduan, sayang." Mengecup kening Tara.
"Bagaimana kalau aku ikut ke kantor kamu aja, mas?" Usul Tara.
"Emang kamu mau? Nanti di sana banyak yang gangguin, minta tanda tangan, cek proposal, cek laporan. Nanti kamu bosan di sana." Jelas Aryan.
"Kalau bosan kan ada kamu, mas. Kamu nggak bolehin aku ke sana jangan-jangan karena sekretaris atau asisten kamu cewek seksi ya, mas?" Tara manyun.
Aryan sekilas menci*m bibir Tara. "Ayo ikut aku ke kantor kalau kamu nggak sibuk dengan pekerjaanmu sendiri."
"Okay, aku akan bersiap." Tara semangat.
"Mas, nanti sebelum ke kantor beli bubur ayam dulu ya?"
"Sepertinya bi Narti udah masak, sayang."
"Biarin, aku mau sarapan bubur ayam. Mas Aryan nggak mau?" Tanda-tanda mulai ngambek karena hal kecil.
"Mau, tapi bukannya kamu nggak suka bubur ayam ya?"
"Ih... Mas kok jadi ribet sih, katanya mas Aryan juga mau makan bubur ayam, kenapa mesti protes lagi?"
"Okay, my princess, as you wish." Janji Aryan.
Mobil telah siap, sang sopir pun telah siap. Aryan sedikit sungkan bilang ke Bi Narti kalau mereka tidak sarapan di rumah.
"Ayo berangkat, mas." Ajak Tara penuh semangat.
__ADS_1
"Ayok... " Menggandeng Tara.
Mobil berhenti di tukang bubur ayam yang letaknya kira-kira 2 km dari rumah mereka. Maklum kawasan elite tidak ada abang-abang yang berjualan menggunakan gerobak.
"Sayang, kamu yakin mau beli bubur ayam di sini?" Tanya Aryan ragu.
"Iya, mas. Apa kamu nggak mau karena yang jual cuma pakai gerobak di pinggir jalan?" Tampang Tara mulai tidak enak karena badmood.
"Sayang, kenapa kamu sensitif banget sih? Aku kan cuma tanya, memastikan kamu mau bubur ayam apa nggak?" Jawab Aryan sabar.
"Pak, tolong turun belikan bubur ayam 3 porsi ya?" Perintah Aryan pada sopirnya, sambil memberikan uang pada sang sopir.
"No...! Aku maunya mas Aryan yang turun beli bubur ayam, mau aku fotoin juga."
"Caption-nya Aryan Cakra Wangsa beli bubur di pinggir jalan demi sang istri tercinta." Tara tertawa cekikikan.
"Okay, aku yang turun."
"Yang penting nanti malam harus dikasih jatah double." Bisik Aryan di telinga Tara.
"Aaawww..." Aryan teriak karena Tara mencubitnya.
"Sayang, kenapa seneng nyubit sih? Ntar kalau jadi biru-biru gimana? Sakit nih!" Aryan merajuk.
"Ih... Mas manja nih... Cepet beliin!" Tara mengelus lengan Aryan yang tadi dia cubit.
Akhirnya Aryan pun membeli 3 bungkus bubur ayam, 2 untuk dia dan Tara, yang 1 tentu untuk pak sopir. Mereka berniat untuk makan di kantor saja.
Sesampainya di kantor, para karyawan Aryan jadi heboh karena baru kali ini Aryan membawa Tara ke kantornya.
"Cantik banget ya mbak Tara. Ehhh... Bu Tara." Ucap salah satu resepsionis depan.
"Sssttt... Jangan berisik." Ucap karyawati yang sedang bersama sang resepsionis.
"Selamat pagi, pak, bu." Sapa sang resepsionis dan karyawati tadi berbarengan.
Tara berbisik pada Aryan. "Mas, kenapa nggak jawab kalau disapa?"
"Kan sudah kamu jawab, tadi aku juga sudah menganggukkan kepala." Kilah Aryan.
"Maaf bu, kalau saya lancang. Pak Aryan memang seperti itu pada karyawati. Beliau tidak suka basa-basi atau mengumbar senyum." Jawab seorang laki-laki yang merupakan asisten Aryan.
"Bukannya mas Aryan terkenal ramah ya?" Tara bingung.
"Mungkin itu khusus untuk ibu Tara saja." Ucap Rony asisten Aryan.
"Ck... Diam 'lah! Jangan buka kartu!" Titah Aryan.
Mereka telah sampai di ruangan Aryan. Ruang kerja yang tertata rapi dengan tembok warna putih dan furnitur warna hitam. Warna yang khas untuk ruang kerja pria.
(Anggap saja 6 foto di belakang kursi itu foto-fotonya Tara ya. Foto saat Tara SMP, SMA, kuliah, wisuda dan lukisan yang besar adalah lukisan Aryan dan Tara saat menikah.)
Aryan duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya dan segera membuka bubur ayam yang tadi dia beli.
"Mas, dari mana kamu dapat foto-foto jaman aku sekolah? Bahkan ada foto SMP." Tanya Tara penasaran.
"Tentu dengan berbagai cara. Aku kan sudah pernah bilang kalau aku mengawasi kamu. Kamu sudah aku taken sejak SMP, sejak pertemuan pertama kita." Aryan tersenyum membayangkan pertemuan pertama mereka.
"Kamu curang, mas. Padahal aku bingung dan berharap bertemu denganmu lagi. Tapi aku tidak tahu kamu dari mana datangnya."
"Ku pikir itu juga cuma cinta monyet sih." Lanjut Tara.
"Kok cinta monyet sih? Aku kan bukan monyet, sayang...!" Aryan tidak terima disebut cinta monyet.
__ADS_1
"Maksudnya bukan mencintai monyet, mas. Maksudnya cinta yang belum stabil, kaya cuma kagum aja."
"Ya, kali... Aku cinta sama monyet. Tapi kalau monyetnya seganteng mas Aryan sih, aku nggak nolak." Canda Tara.
"Sayaang..." Suara Aryan meninggi karena gemas.
"Iya, mas ganteng ku. ini di kantor loh bukan di rumah! Nanti kalau karyawan mas Aryan dengar gimana?"
"Habisnya kamu bikin gemes! Sini duduk!" Tangannya menepuk sofa di sampingnya.
Tara pun duduk di samping Aryan. "Mas, aku maunya disuapin sama kamu ya..." Rengek Tara sambil memegangi lengan Aryan.
"Okay..." Dengan sigap Aryan langsung menyuapi Tara.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!" Perintah Aryan.
"Ini pak, minumnya." Seorang OB membawakan air putih, kopi dan teh.
"Kenapa banyak banget minumnya?" Tanya Tara.
Sang OB hendak menjawab namun segera dia urungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Tara. Dia tidak berani menatap ke arah Tara terlalu lama karena takut dengan tatapan Aryan yang tajam.
"Itu kopi buat aku, teh sama air putih buat kamu, sayang." Ucap Aryan lembut.
"Wah, pak Aryan lembut sekali sama istrinya." Batin sang OB.
Tanpa menunggu lama sang OB pamit undur diri karena merasa menganggu kemesraan sang bos.
"Mas, 1 suapan untuk aku, 2 suapan untuk kamu." Titah Tara.
"Nanti kalau aku jadi gemuk terus nggak sixpack lagi gimana?" Sanggah Aryan.
"Jadi mas Aryan lebih suka aku yang gendut?" Tara cemberut.
"Ya ampun, kenapa Tara jadi sensitif gini?" Batin Aryan.
"Ya udah, kalau aku gemuk kamu temenin mas nge-gym ya?"
"Tiap malam mas Aryan kan sudah nge-gym." Ucap Tara dengan ekspresi datar.
"Ha... Ha... Ha... Udah ya yang debat! Aak...!" Aryan menyuruh Tara membuka mulutnya.
"Mas, coba cek sosial media kamu!"
"Memangnya ada apa, sayang?"
"Udah lihat aja dulu..." Perintah Tara.
(Anggap aja itu mas Aryan yang lagi nungguin bubur ayam ya.)
Caption. "Mas ganteng ku, bersyukur jadi istrinya๐๐๐."
Aryan memberikan komentar. "Love you my princess, aku pun bersyukur menjadi suamimu๐๐๐."
Akhirnya Aryan menuruti semua permintaan Tara. Aryan justru bahagia karena Tara bertingkah manja padanya. Pagi ini Aryan full senyum.
Tara senang sekali, karena dia tahu tidak semua pria akan berlaku manis di sosial media seperti suaminya. Alih-alih berlaku manis, kadang ada pria yang malu dengan postingan-postingan istrinya dan menganggapnya terlalu lebay.
................
Ikuti terus ceritanya ya ๐๐ผ๐๐ผ
__ADS_1
Yuk ditunggu jempolnya๐๐ผ, komentarnya dan dukungannyaโค. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.