Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_Dila melahirkan


__ADS_3

tak terasa sekarang kandungan Dila sudah masuk sembilan bulan, dia sudah sedikit kesulitan untuk bergerak.


terlebih Fatin juga sedang sangat aktif, tapi beruntung ustadz Ahmad susah tak mengambil ceramah di luar desa.


setidaknya dia ada yang membantu menjaga Fatin, seperti hari ini ustadz Ahmad tak ada kegiatan dan sedang menemani dia dan Fatin di rumah.


"Abi nanti acaranya jam empat sore kan, Abi mau pakai baju apa? biar umi setrika sebentar biar rapi," kata Dila yang menaruh cemilan dan kopi di meja.


"tidak perlu umi sayang, nanti biar aku pakai setrika uap saja, kamu nanti capek kalau harus pakai setrika manual," jawab ustadz Ahmad.


"tidak separah itu kok Abi, sudah aku ambil baju yang seragam yang sama dengan semua orang ya," kata Dila tersenyum melihat suaminya yang hanya bisa geleng-geleng saja melihat istrinya yang sudah hamil tua, tapi tak bisa duduk diam saja.


Dila sibuk menyetrika di kamar khusus, saat tiba-tiba perutnya merasa sakit.


tapi kemudian hilang, dia pun hanya mengelus perutnya pelan, "anak ganteng, tolong jangan buat umi mu ini khawatir ya, karena beberapa hari ini kamu terus melakukan kontraksi palsu," gumam Dila


dia melanjutkan pekerjaannya, setelah selesai, dia juga mengawasi semua orang yang sibuk di dapur yayasan.


bagaimana pun nanti akan datang ratusan orang jamaah atau bahkan biasanya hampir menyentuh angka seribu.


Arumi fokus membantu dalam membungkus nasi, dan lucunya dia sambil mengendong putranya di belakang.


"ya Allah Novan begitu tenang ya," kata Dila mencubit pipi tembem bocah itu


"iya umi, karena tau jika bundanya sibuk, lihat bahkan Aisyah saja tidur di gendongan ibunya juga," kata Arumi menunjukkan Anisa dan putrinya.


"aduh aku jadi tidak enak nih, karena kalian jadi ikut begitu sibuk. bahkan sampai rela seperti ini," kata Dila.


"tidak apa-apa, demi acara ini sukses, oh ya kamu istirahat saja, takutnya nanti lahiran di sini lagi," kata Arumi menggoda Dila


"tapi- ugh..." kata Dila yang langsung merasakan kontraksi rahim yang sangat intens.


"aduh ..." kata Dila yang terjatuh di lantai sambil memegang perutnya.


"ada apa Dila!" panik semua orang.


"sepertinya dia mau keluar," jawab Dila yang tak bisa menahannya lagi.


"cepat siapkan mobil dan panggil ustadz Ahmad," perintah Anisa


ustadz Ahmad datang dan langsung mengendong istrinya, tapi Dila terus berteriak kesakitan.


"kita ke rumah sakit," kata ustadz Ahmad panik.


"tidak bisa, sepertinya kepalanya mau keluar!" teriak Dila yang merasakan kontraksi makin parah


"tolong jemput bidan asih," perintah ustadz Ahmad.


"bawa ke rumah saja ustadz," panik semua orang.


umi Chasanah yang mendapatkan berita langsung menuju ke rumah bersama besannya Bu Wati.

__ADS_1


sesampainya di rumah ternyata ketuban Dila sudah pecah, "kulsum tolong ambilkan air hangat dan handuk bersih, biar umi yang bantu persalinan Dila," kata umi Chasanah.


semua santri pun keluar dari rumah, Bu Wati dan umi Chasanah saling membantu di dalam kamar.


saat ustadz Ahmad ingin keluar Dila memegang tangan suaminya itu erat-erat.


"jangan tinggalkan aku, jika terjadi sesuatu padaku, setidaknya Abi di sisiku," kata Dila memohon sambil menangis.


"kamu bicara apa, kamu dan anak kita akan selamat," kata ustadz Ahmad


Dila pun mulai mengejang, dan ustadz Ahmad tak tega melihat perjuangan istrinya itu.


"sayang tolong atur nafas, kemudian dorong," kata ustadz Ahmad.


"Allahu Akbar!!!" teriak Dila yang kemudian di susul suara tangisan bayi yang berhasil lahir.


bertepatan bidan asih datang, Dila pun bisa bernafas lega, bidan asih langsung mengambil alih.


"sepertinya masih ada yang ingin keluar ..." gumam Dila lirih.


benar saja bayi kedua lahir dengan selamat, bidan asih pun memberikan bayi itu pada Bu Wati untuk di bersihkan.


setelah Ari-ari bayi keluar, bidan asih memberikan imunisasi pertama setelah bayi lahir.


kemudian memberikan bayi pada sang ayah untuk di adzani. Dila pun merasa begitu beruntung meski harus mendapatkan beberapa jahitan.


ustadz Ahmad pun merasa haru, pasalnya dia benar-benar memiliki dua bayi kembar laki-laki.


"Alhamdulillah sayang, umi sudah berjuang dengan sangat hebat, ya Allah ..." tangis ustadz Ahmad tak terbendung.


Dila harus mendapatkan cairan infus karena kondisinya terlalu lemah, ustadz Ahmad langsung membereskan semua yang berserakan.


Bu Wati tak menyangka akan melihat dan mengendong bayi Dila di pelukannya.


begitupun dengan umi Chasanah yang memang ingin cucu laki-laki, dan Dila langsung memberikan dua.


dokter Anton juga datang untuk memperingati haul Khadijah sekalian pengakuan umum yang di Adakan oleh yayasan.


tapi dia tak mengira akan melihat keponakannya yang baru lahir, terlihat Yusuf yang begitu senang mendengar kelahiran dari keluarga baru mereka.


"apa Dila sudah melahirkan?" tanya Anton antusias.


"iya, baru saja dan mas baru selesai mengumandangkan adzan untuk kedua putranya," jawab ustadz Yusuf.


"kembar!! Alhamdulillah ya Allah," kata dokter Anton senang.


Bu Wati dan umi Chasanah keluar sambil mengendong kedua bayi itu, sedang Fatin berlari masuk kedalam kamar.


"umi...umi.. dek," kata bocah itu yang sudah hampir berusia tiga tahun itu.


"iya sayang, itu adik Fatin, Fatin harus sayangi ya ..." bisik Dila yang memeluk putrinya itu.

__ADS_1


meski sudah memiliki anak sendiri, Dila akan memprioritaskan Fatin sebagai anak pertama.


karena dia tak ingin putrinya itu iri dengan kehadiran dari dua bayi baru di sekitarnya.


sedang di rumah Mela, dia sudah bersiap akan pergi ke yayasan tempatnya berobat dulu.


terlebih mereka tak pernah ketinggalan untuk mengikuti pengajian rutin di yayasan itu.


apalagi pengajian kali ini bertepatan dengan haul dari istri ustadz Ahmad uang terkenal sebagai wanita yang sangat baik.


"apa semuanya susah siap Bu?" Tanya Mela yang memakai gamis panjang berwarna peach.


"sudah nduk, itu nak Ridwan juga sudah menunggu, terlebih semua sudah berangkat terlebih dahulu," kata Bu Eka.


"iya Bu, mari kita berangkat, aku sudah tak sabar bertemu dengan mbak Dila, apa dia belum melahirkan ya, padahal prediksi dokter sekitar Minggu ini, dan lagi katanya bayinya juga kembar," kata Mela dengan antusias.


"doakan saja ya nduk, apapun yang terjadi pasti demi kebaikan bersama," jawab Bu Eka.


awalnya dia tak percaya jika Dila hamil, tapi saat terakhir mereka mengikuti pengajian.


dia benar-benar baru tau jika selama ini dila berbohong demi menutupi kekurangan-kekurangan putranya.


bahkan Ridwan mengatakan segalanya tentang kasarnya Hendra pada wanita yang begitu baik. seperti Dila.


Ridwan mengendarai mobil dengan santai, toh ini juga masih pagi dan bisa di padukan nanti pondok dan yayasan akan sangat penuh dengan jamaah.


selama perjalanan Mela terus membaca surat Yusuf untuk mengisi waktu kosong.


sedang Bu Eka juga membaca dzikir, sedang Vivi merasa terus lapar, jadilah wanita terus ngemil tanpa henti.


tapi Ridwan hanya tersenyum meliriknya, pasalnya dia tak ingin membuat istrinya itu tak nyaman, jadi selama Vivi senang apapun akan dilakukan oleh Ridwan.


tapi Vivi tak sengaja melihat statis dari Arumi dan Anisa yang memposting foto Dita yang sedang berbaring dengan bertuliskan caption, 'selamat menjadi ibu lagi dari dua jagoan ustadzah'.


"mas Ridwan sepertinya Dila sudah melahirkan, lihat Anisa dan Arumi sudah memposting status," kata Vivi.


"kalau begitu kita harus membelikan hadiah untuk ibu dan juga putranya, apa setuju ibu dan Mela?" tanya Ridwan melihat ke belakang dari kaca spion tengah.


"boleh dong, ayo kita cari toko bayi, karena aku ingin membelikan dua bayi itu hadiah, aku tak sabar ingin melihat wajahnya, pasti sangat tampan terlebih ibunya sudah cantik dan ayahnya juga tak kalah ganteng juga," kata Mela antusias.


"aduh Mela, inget ada suami ya bisa-bisanya bicara tentang pria ganteng apalagi suami orang," ledek Vivi.


"gak dong mbak, itu kan cuma perumpamaan, aku yakin pasti Putra ku nanti juga sangat tampan," kata Mela yang mengusap perutnya.


mobil mereka berhenti di sebuah toko perlengkapan bayi, Mela memilih hadiah untuk kedua bayi yang baru lahir itu.


sedang Vivi memilih baju yang lebih besar agar bisa di gunakan sedikit lebih lama.


sedang Bu Eka membelikan sebuah perhiasan emas inisial huruf D, untuk Dila terlebih ini adalah hadis perpisahan.


setelah mendapatkan semua yang di butuhkan, sekarang mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke yayasan.

__ADS_1


benar saja saat sampai, terlihat begitu ramai dan banyak orang yang datang.


tapi para santri menjemput mereka berempat untuk datang ke rumah ustadz Ahmad terlebih dahulu.


__ADS_2