Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_ayah Aliya


__ADS_3

seorang wanita datang, dia mengenakan pakaian blazer, Fatin yang melihat pun tau jika itu ibu dari Aliya.


"wah ada tamu, ini temen Aliya itu?" tanyanya dengan lembut.


"iya mama, mbak Fatin perkenalkan ini mama ku, mama Nasya," kata Aliya yang terlihat begitu bahagia.


"salam kenal mbak, maaf ya kalau saya menganggu waktu istirahat Aliya karna kunjungan saya," kata Fatin.


"iya gak papa mbak, kebetulan Aliya jadi ada temennya, soalnya saya juga terlalu sibuk," jawab Nasya.


Fatin melihat sosok Nasya yang mungkin seusia dirinya atau di bawahnya.


"mama, aku ingin ketemu papa, dia sudah lama tak datang kesini ma," mohon gadis kecil itu.


"sabar ya Aliya, papa lagi sibuk, tapi nanti kalau papa cek kesehatan pasti akan mampir menjengguk mu," jawab Nasya


Fatin hanya melihat saja, toh dia tak pantas jika harus ikut campur dalam urusan seperti ini.


"maaf kalau ini pertanyaan pribadi, sepertinya usia anda masih sangat muda, tapi Aliya," tanya Fatin penasaran.


"ah iya, saya hamil Aliya saat masih sekolah di kelas satu SMA, itupun karena aku di jebak seseorang," jawab Nasya dengan sedih


"terus ayah Nasya," tanya Fatin makin penasaran.


"pria yang meniduri diriku, meski begitu dia tetap bertanggung jawab, meski aku tak menjadi istrinya," jawab Nasya tersenyum.


di ruangan Mahi, seorang pria sedang duduk dengan angkuhnya, pasalnya dia memilih rumah sakit ini demi bisa sekalian menjenguk putrinya.


Hutomo Wihandoko, seorang pria berusia setengah abad, memiliki paras tampan dan tubuh yang tetap terjaga.


pria itu ingin melakukan cek up rutin, dan mengetahui seperti apa paras suami dari gadis yang di sukai putra sulungnya itu.


Mahi melakukan pengecekan secara menyeluruh, bahkan hasil cek jantung juga sangat baik.


"dokter, apa kesuburan saya bisa menurun saat usia saya semakin tua," tahta pria itu pada Mahi.


"setahu saya kesuburan itu di pengaruhi gaya hidup, mungkin jika tuan rajin berolah raga, saya yakin jika anda bisa memiliki anak lagi,meski usia anda sudah tujuh puluh tahun." jawab Mahi ramah


pria itu menyeringai, "sayangnya aku ingin memiliki anak dengan istrimu yang cantik itu, ah... tapi sepertinya akan sangat mustahil," batin pria itu.


asisten pria itu membisikkan sesuatu, "baiklah dokter, saya ingin menjengguk seseorang kalau begitu, dan terima kasih atas waktunya," jawab pak Wihandoko ramah.


"iya sama-sama," jawab Mahi.


kedua orang itu menuju ke tempat rawat Aliya, ternyata Fatin masih ada di sana.

__ADS_1


sedang Nasya nampak mundur saat pria itu datang, Fatin menoleh dan kaget melihat sosok pria angkuh yang mendebatnya tadi saat di kampus.


"papa ..." panggil Aliya senang.


"bagaimana kondisinya," tanya pak Wihandoko dingin.


"dokter bilang kondisi Aliya memburuk, terlebih belum ada pendonor tulang sum-sum yan cocok, kecuali jika kita punya bayi lagi untuk menolongnya, itu adalah cara termudah saat ini," jawab Nasya.


"tapi sayangnya, aku tak ingin melakukan hal itu,kamu bisa mencari pria manapun tapi tidak dengan ku," jawab pak Wihandoko.


Nasya pun merasa sedih, saat putrinya seperti ini, dengan kejam sosok pria yang di pikirnya baik, malah sebaliknya.


akhirnya Aliya pun merasa puas bermain dengan pak Wihandoko, sedang Nasya dan Fatin duduk di teras.


"ada apa?" tanya Nasya pada teman barunya itu.


"tidak ada, dia memiliki seorang putra yang kebetulan dia itu mahasiswa di satu kampus dengan ku,"


"iya, aku memang tau itu semua, bahkan putranya itu juga sering berkunjung ke tempat ku untuk bernegosiasi bersama Aliya saat gadis kecil ini belum sakit," kata Nasya.


"benarkah, padahal dia seperti orang sayang sangat tak sopan."


Nasya tersenyum, meski Gazali berpenampilan preman, tapi pria itu sangat baik.


Fatin pun akhirnya di jemput oleh Mahi, Nasya awalnya mengira jika Mahi sayang menemuinya.


"Iya nyonya," jawab msji sekilas.


Fatin pun langsung menghampiri mahi, "sudah selesai jam kerja?" tanya Fatin dengan lembut.


"tentu, sekarang ambil barang-barang mu ayo kita pulang," ajak Mahi.


Fatin pun mengangguk, "iya mas ku,"


Fatin berpamitan dengan Nasya dan Aliya, sedang pak Wihandoko juga ikut pergi.


Nasya melihat kepergian keduanya, dia tak mengira jika saat dokter Mahi cuti.


dokter itu menikah, Nasya yang menaruh hati pada dokter Mahi pun kecewa.


pasalnya dokter itu seperti tidak pernah peduli dengan wanita yang ada di sekitarnya.


"kenapa kamu sedih, kamu sudah pernah menjadi perusak rumah tangga orang lain, jangan kau ulangi hal menjijikkan itu, terlebih dia itu sangat baik pada putrimu," kata Wihandoko saat melewati Nasya.


"memang apa mas peduli dengan apa yang aku lakukan, kenapa anda bilang begitu," jawab Nasya.

__ADS_1


"aku memang tak peduli padamu, tapi jangan buat putriku sedih, ingat itu dan jangan lupa kamu bisa seperti ini juga karena bantuan ku, ingat itu, dasar wanita busuk," marah pak Wihandoko.


Nasya terduduk setelah terdorong oleh pria yang pernah jadi cinta satu malamnya itu.


dua tak mengira akan terikat oleh pria itu, terlebih putrinya yang jadi sebab dia seperti ini.


Nasya ingin kabur menjauh tapi selalu tertangkap, dan dia tak mau meninggalkan putrinya itu.


terlebih pak Wihandoko bilang, jika Nasya boleh pergi kemana pun dia suka, tapi tidak dengan Aliya.


di sebuah rumah mewah, Gazali mengamuk sejadi-jadinya, pasalnya pria itu kesal karena di kurung.


Wihandoko meski terlihat cuek, tapi pria itu sangat menjaga reputasinya hingga bisa melakukan apapun.


"pria tua, keluarkan aku dari sini, pria brengsek, cepat keluarkan," teriak Gazali yang frustasi.


dia mengambil kursi belajar miliknya dan langsung menghantamkan kearah pintu.


tapi pintu itu tak bergeming, dua juga tak bisa keluar lewat jendela karena sudah di paku mati terlebih jendela itu juga ada teralis besi.


"dasar pria tua brengsek, kenapa kamu mengurungku, apa pernah peduli padaku dan mama, kenapa sekarang kamu bersikap seperti suami yang perhatian," marah Gazali.


seorang wanita baik ke lantai atas dan melihat kondisi putranya yang terkurung, tapi baru juga di lahrai dua, dia sudah di hadang oleh semua pengawal.


"minggir, aku nyonya di rumah ini, dan aku ingin melihat putra ku," kata Titin.


"sudahlah nyonya, anda silahkan turun, jika tak ingin kamu mempermainkan anda di sini, terlebih tuan juga tak akan marah jika tau gak itu bukan, karena nyonya sudah di buang," kata salah satu pengawal dengan berani.


"dasar mesin, aku ingin melihat Gazali, minggir!!!" kata Titin.


tapi dengan mudah, pengawal itu mengendong Titin seperti jaring beras, meski terus berontak dia tak bergeming.


Wihandoko sampai di rumah dan menatap hal itu secara datar, "selamat datang tuan," sapa pengawal itu.


titon pun di turunkan, dan langsung menghampiri Wihandoko, tapi tak di duga sebuah tamparan dia dapatkan dengan keras.


"sudah ku bilang, jangan pernah menanyakan putra mu itu, sekarang lihatlah dia semakin tak berguna saja," marah Wihandoko.


"iya maafkan saya, tapi kenapa dia harus di kurung seperti itu, tolong lepaskan," mohon Titin.


"tidak semudah itu,sekarang pergi dari sini, dan ingat jangan pernah berani lagi untuk menemui Gazali, atau kamu ingin hukuman terakhir untuk di ulangi," kata Wihandoko.


"jangan saya mohon, dan bagaimana bisa anda rela melihat istri anda di tiduri oleh orang lain," kata Titin sedih.


"buat apa menjaga wanita yang tak bisa menjaga kehormatannya sendiri, kamu itu men-ji-jik-kan kau tak itu," kata Wihandoko pergi begitu saja.

__ADS_1


"kenapa masih disini, kembali ke tempat jaga mu," usir pria itu dengan ketus.


__ADS_2