
hari berganti bulan, tanpa terasa kini Mela sudah terbiasa menjadi seorang menantu dan istri.
dua secara rutin di antar oleh tetangga yang sering menjadi supir untuknya dan ibu mertuanya.
hari ini setelah dari dokter dia akan mengunjungi Hendra, bahkan dia membuat makanan kesukaan pria itu.
Mela benar-benar hebat dengan bisa menerima Hendra dengan tangan terbuka.
"kalian kesini lagi, kamu baik-baik saja, apa trauma mu tak sering kambuh," tanya hendra yang melihat wajah Mela.
"mas lihat saja sendiri, aku baik bahkan bobot ku sudah baik lima kilogram lagi, huh.. bisa-bisa aku makin gemuk setelah melahirkan nanti," kata Mela yang membuka bawaannya.
"tidak apa-apa nak, kamu tetap cantik, yang terpenting kamu dan bayi mu sehat, Hendra kamu di penjara juga tolong jaga sikap agar bisa segera keluar," kata Bu Eka.
"iya Bu, tinggal dua tahun lagi," jawab Hendra.
"mas tolong jaga kesehatan mu, kami di luar selalu menunggumu, ya sudah kami pamit ya, karena aku dan ibu harus ke pabrik tahu," kata Mela.
"iya Mela, dan sepertinya kamu sukses menjalankan semua usaha yang ku tinggalkan ya," terang Hendra.
"itu semua berkat bimbingan mu mas, terima kasih sudah mau aku repot kan dengan semua telpon itu," kata Mela.
"seharusnya aku yang berhutang maaf dan terima kasih sudah menjaga ibu untukku," kata Hendra dengan suara lirih.
"he-he-he itu kewajiban ku, dan kenapa preman yang biasanya garang terhadap teman penjaranya bisa seimut ini," ledek Mela pada Hendra.
keduanya pun tertawa bersama, meski awalnya canggung tapi perlahan Mela sudah terbiasa dengan Hendra.
begitupun sebaliknya, Hendra juga perlahan bisa menerima kehadiran Mela di sisinya terutama gadis itu menjaga ibunya dengan sangat baik.
mereka pun pamit pulang dan langsung menuju ke pabrik tahu, sesampainya di pabrik semua sedang melakukan produksi karena ada pesanan tahu susu dalam ukuran besar.
saat sedang mengawasi produksi, Mela dan Bu Eka melihat seorang penjual rujak buah yang lewat.
"Bu sebentar ya, aku ingin membeli rujak buah itu," kata Mela pamit.
"hati-hati nak," pesan Bu Eka yang masih mengawasi produksi.
__ADS_1
"bang rujak buahnya ya, tanpa nanas dan beli sepuluh bungkus," pesan nela.
dia juga mengambil buah nanas potong karena tau jika ada pegawai pabrik yang menyukainya.
"wah lihat ini, ibu hamil janda muda yang cantik sedang beli rujak buah, mandiri sekali," kata seorang ibu dengan dandanan menor dan perhiasan satu badan.
"ibu salah panggil sepertinya, saya bukan janda loh Bu, saya itu istri orang, memang kenapa jika wanita hamil tak boleh mandiri, saya kan punya dua kaki, dua tangan dan Bagan sehat, bukan lumpuh juga," jawab Mela yang asik makan buah melon.
"eh kamu itu tak tau malu ya, dasar gadis murahan," kata itu itu lagi.
"berapa bang?"tanya Dila saat rujaknya jadi.
"rujaknya sepuluh jadi lima pulih ribu, dan buahnya sepuluh juga jadi tujuh puluh ribu mbak," jawab penjual itu.
"heh kamu itu tuli ya, kasihan sudah hamil dari pemerkosaan dan sekarang jadi istri seorang narapidana, dan budeg juga," ejek wanita itu.
Mela memberikan uang seratus ribu dan menolak uang kembalian itu, "memang kenapa saya hamil di luar nikah, suami saya memang di penjara, dan yang penting suami saya lebih kaya dari suami anda itu yang penting," kata Mela yang kemudian pergi.
wanita itu terdiam, dan dia tak bisa menyangkalnya karena semua itu benar.
Dila pun membagikan rujak buah pada semua orang dan mengajak mereka bergantian untuk istirahat.
setelah merasa semua kuota pesanan terpenuhi,Mela pamit pulang untuk beristirahat.
saat sampai di rumah, terlihat ada keramaian di sekitar rumah tetangga, ternyata ada tetangga yang meninggal dunia.
Mela menyuruh orang kepercayaannya untuk membeli semua kebutuhan untuk tahlilan.
sedang Ridwan membantu dengan mengatur semua orang, pria itu bahkan sudah di anggap sebagai orang berpengaruh di desa.
bahkan dalam pemilihan kepala desa empat bulan lagi, pria itu di dirikan oleh masyarakat karena melihat kebaikan dan semua usahanya membantu kemakmuran desa.
terlebih Mela juga membantu dengan menyewakan sawah tahunan pada Ridwan, hingga membuat lowongan kerja untuk para warga.
dia dan Vivi juga sedang mengandung meski kandungan milik nela lebih tua di banding Vivi.
"jadi apa jenis kelamin bayi mu Mela?" tanya Vivi.
__ADS_1
"Alhamdulillah cowok mbak, mas Hendra yang tau juga sangat bahagia, bahkan tadi hasil USG di minta untuk di simpan," jawab Mela.
"Alhamdulillah jika kalian sudah sangat dekat, aku yakin kamu pasti bisa mengubah pria kejam itu menjadi SSTI," kata Vivi tertawa.
"SSTI?"
"suami suami takut istri," kata Vivi tertawa.
"ya gak lah mbak, aku akan menjadi istri yang baik saja, tapi jika dia menginginkan ku, karena mbak tau sendiri dia seperti apa?" jawab Mela yang nampak sedih.
Mela tanpa sadar perlahan sudah memberikan hatinya pada hendra sepenuhnya.
"jangan ngomong seperti itu, aku yakin jamu pasti bisa bahagia, dan tetap semangat ya," kata Vivi memberikan semangat.
Ridwan benar-benar sibuk membantu, sedang kedua wanita itu tak ada yang berani keluar dari rumah karena takut sawanen.
akhirnya saat jenazah sudah berangkat, kedua wanita itu baru berani keluar.
keduanya memiliki wibawa sendiri, Vivi sebagai calon istri dari ibu kepala desa, sedang Mela menjelma menjadi juragan yang di segani di desa karena kebaikannya.
keduanya pun memberikan santunan untuk keluarga yang di tinggalkan agar bisa meringankan meski hanya sedikit.
sore hari, setelah mandi Mela duduk melihat televisi, dan Bu Eka datang sambil membawa minyak urut untuk memijat kaki menantunya.
"ibu jangan, itu tak sopan,ibu kan lebih tua, Mela baik-baik saja Bu," larang Mela yang tak ingin mertuanya menyentuh kakinya.
"kamu ini ngomong apa sih, orang ibu yang mau, sudahlah nak kamu pasti lelah karena terus sibuk seharian," kata Bu Eka.
"terima kasih Bu, ya Allah ibu baik sekali ...." kata Mela bersyukur memiliki mertua seperti Bu Eka.
keduanya pun berbincang dan membahas untuk usaha kedepannya, karena Mela ingin mencoba membuat usaha waralaba seperti milik Dila.
tapi bergerak di tahu, karena dia tak ingin melenceng jauh dari usaha utama miliknya.
Bu Eka setuju dan mendukung sepenuhnya keinginan dari menantunya itu.
karena Bu Eka merasa jika menantunya itu pasti bisa sukses dengan semua usahanya.
__ADS_1