
Hati-hati dengan besi yang berkarat
Jika tergores bisa menimbulkan luka
Reader, tolong berikan author semangat
Tambahkan favorit, vote, jempol, hadiah dan komentarnya
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
"Apa yang mama katakan pada Tara? Kenapa tiba-tiba Tara memintaku membatalkan acara lamaran yang sudah kami rencanakan. Bahkan saat ini Tara tidak mau menjawab telepon dariku."
Deg...
Tuan dan Nyonya Cakra Wangsa terdiam membeku, mata berkaca-kaca merasakan sakit yang Aryan rasakan. Bagaimana tidak sakit jika diminta membatalkan acara lamaran, mungkin saja Tara juga ingin membatalkan perjodohan itu.
"Maafkan mama, Aryan." Nyonya Gita memohon pada anaknya sendiri.
"Apa yang mama katakan pada Tara?" Tanya Aryan.
"Katakan, ma! Apa yang mama katakan hingga Tara ingin membatalkan lamaran Aryan?" Tuan Indra marah.
"Tara yang memancing emosi mama, pa. Ini bukan sepenuhnya salah mama." Nyonya Gita membela diri.
"Sudah salah tapi tidak mau mengakui. Kamu harusnya bertindak seperti orang tua Tara juga."
"Cepat katakan! Apa yang mama katakan pada Tara?" Tuan Indra tambah marah.
"Mama hanya meminta Tara menjauhi Gala dan tidak menjadi model. Mama tidak suka jika Tara dekat-dekat dengan pria lain selain calon suaminya. Apa itu salah?" Nyonya Gita masih tidak mengakui kesalahannya.
"Menjauhi Gala? Mama tahu 'kan kalau Gala sudah seperti saudara bagi Tara. Kenapa kamu ikut campur dengan pekerjaan Tara? Sebagai keluarganya, harusnya kita mendukung karir Tara, bukan mengikuti rumor dan gossip."
"Papa yakin, mama belum menceritakan semuanya. Iya 'kan?"
"Kalau mama tidak menceritakan semuanya dan membuat hubunganku dan Yoga memburuk, bisnis kita juga bisa memburuk, ma!"
"Tara yang memancing emosi mama. Dia bertanya pada mama, bagaimana jika dia punya pacar dan berkencan di hotel. Mama emosi dan ingin membatalkan perjodohan." Mau tidak mau Nyonya Gita menceritakan semuanya.
"Apa kamu tidak bisa lebih bijaksana dan mencari tahu kebenarannya dulu? Kamu sama saja seperti Anand yang tidak bisa menahan emosi dan berpikir dangkal." Habis sudah kesabaran Tuan Indra.
"Tara tidak sopan pada mama, pa!" Nyonya Gita masih mencoba membela diri.
"Kalau bukan karena mama yang keterlaluan, Tara tidak akan bertindak tidak sopan. Aku sudah mengenal Tara dan aku tahu dia sopan dan selalu profesional."
__ADS_1
"Jadi bukan Tara yang ingin membatalkan perjodohan, tapi mama?" Aryan ikut bicara.
"Mengapa mama begitu gegabah dan tidak memikirkan akibat dari ucapan mama?"
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk anak mama. Mama tidak suka Tara dekat-dekat dengan pria lain." Nyonya Gita tidak mau salah di depan anaknya.
"Apa mama tahu betapa sulitnya aku berusaha menjadi sesuai dengan keinginan Tara?"
"Apa mama tahu bagaimana sulitnya aku berusaha agar Tara mau berada disisiku?"
"Tara bukan wanita yang akan berdiam diri di dalam sangkar emas. Dia wanita independen yang bisa mendapatkan harta dan kebahagiaannya sendiri."
"Pasti mama telah menyinggung harga diri Tara, hingga Tara marah dan menjadi berani melawan mama."
Nyonya Gita hanya terdiam mengingat apa yang dia katakan pada Tara.
"Iya 'kan, ma?" Aryan menuntut jawaban dari mamanya.
"Maafkan mama, Aryan. Mama benar-benar telah berbuat salah. Mama meminta Tara mencari model wanita agar dia tidak menjadi model. Bahkan mama menyuruhnya mencari model wanita, biar kamu atau Anand yang membantu membayar. Mama pikir Tara bisa saja menggunakan harta orang tuanya atau calon suaminya."
"Mama, keterlaluan! Itu sama saja mama menghina Tara. Mama menghina mimpi dan pekerjaan Tara, bahkan mama melukai harga diri Tara."
Aryan terduduk lemas dan menutup wajahnya. Pikirannya kalut dihantui ketakutan, takut jika karena mama dan Anand membuat Tara tidak bisa melanjutkan perjodohan mereka.
"Kamu benar-benar keterlaluan, ma. Kita harus segera ke kediaman Maheswari untuk minta maaf. Kamu harus minta maaf dan mengakui kesalahanmu. Jika kita terlambat memperbaiki ini semua, pasti Yoga akan membatalkan perjodohan ini."
"Kamu masih tidak mau mengakui kesalahanmu? Benar kamu hanya ingin yang terbaik untuk anakmu, tapi yang kamu lakukan salah. Gossip dan rumor itu sudah resiko bagi seorang model dan sekaligus pengusaha. Harusnya kamu mempercayai calon mantumu itu dan memberikannya dukungan. Bukan malah menghinanya!"
Anand datang dan mendengar kata-kata Tuan Indra. Anand berjalan mendekati mamanya.
"Papa, kenapa papa marah-marah pada mama? Bukankah mama sedang sakit!" Anand tidak tahu bahwa rahasianya sudah terbongkar.
Tuan Indra mendekati Anand dan memukulnya.
"Dasar anak kurang ajar!"
"Papa tidak pernah mengajarimu berbuat zina dan arogan."
"Kamu mau mempermalukan papamu dan menghancurkan bisnis papamu, hah...!"
Nyonya Gita hanya bisa menangis, tidak berani membela Anand karena memang Anand bersalah. Aryan yang sedang kalut memikirkan nasib cintanya dengan Tara, hanya bisa diam seribu bahasa.
"Hentikan, pa! Apa maksud papa? Apa salahku?" Anand bingung kenapa papanya tiba-tiba marah, padahal dia disuruh pulang karena mamanya sakit.
"Sudah puas kamu bermalam dengan pacarmu itu? Apa papa pernah mengajarimu berzina?" Tuan Indra memukul Anand lagi, yang dipukul hanya pasrah dan tidak berani melawan papanya.
Tuan Indra mengambil ponsel istrinya dan memperlihatkan foto dan video kelakuan Anand.
__ADS_1
"Apa kamu masih mengelak dengan bukti-bukti ini?" Suara Tuan Indra mengema di seluruh penjuru, namun tak ada satupun pekerja yang berani mendekat.
"Atas dasar apa kamu dulu menghina dan memfitnah Tara di depan umum? Sedangkan kelakuanmu lebih buruk dari kata-katamu itu."
"Maksudnya apa, pa? Siapa yang menghina dan memfitnah Tara?" Anand seakan lupa dengan kejadian itu.
"Masih bisa mengelak? Apa perlu papa bawa Davin kesini sebagai bukti kesombonganmu waktu dulu menghina Tara di depan kampusmu hah...?" Teriak Tuan Indra.
"Kamu mau membereskan sendiri pacar gelapmu itu atau papa yang akan membereskannya?" Tuan Indra memberi pilihan.
"Tapi Anand menyukainya, pa?" Bantah Anand.
"Anand kamu jangan sembarangan! Mama tidak mau mendapat menantu seperti dia. Apa kata orang nanti?" Nyonya Lita tidak menyetujui hubungan Anand dan Indi.
"Apa karena dia wanita dari kalangan biasa? Itu yang membuat mama tidak setuju?"
"Apa kamu telah dibutakan? Kamu tidak tahu berapa pria yang sudah bermalam dengannya." Jelas Nyonya Gita.
"Mama jangan mencari-cari alasan untuk tidak menyetujui hubungan kami." Anand masih terus membantah.
"Mama tahu, kamu pasti sudah tahu kelakuan Indi, tapi kamu hanya diam. Kamu sudah dibutakan cinta atau mungkin kamu senang bermain dengannya." Sinis Nyonya Gita.
"Sudah cukup kamu membuat kekacauan Anand! Kalau kamu tidak bisa memberesi pacarmu itu, biar mama yang membereskannya." Tegas Nyonya Gita.
"Ingat, ma! Kita harus segera bertemu dengan keluarga Maheswari dan kamu harus minta maaf pada Tara. Aku tidak mau Aryan patah hati karena ulah mama dan Anand."
Tuan Indra meninggalkan ruang keluarga dan Nyonya Gita mengikutinya. Aryan yang kecewa ikut pergi dari sana dan tidak sudi berbicara dengan Anand.
Anand pov: Kalau saja aku tidak terjebak olehnya, mungkin saat ini tidak akan muncul kekacauan seperti ini. Ini semua salahku karena bermain api dengan Indi. Aku harus berani mengakhiri ini semua.
.........
Malam dingin berselimutkan awan hitam mengundang kesedihan. Tara masih memikirkan apakah dia bisa membatalkan perjodohannya atau tidak. Bergelung selimut di atas kasur tidak membuat Tara segera terlelap. Dia merutuki keegoisannya, dia tidak bisa melepaskan Aryan ataupun Gala.
Ting...
Aryan mengirim pesan pada Tara.
"When the night has come and the land is dark. And the moon is the only light. Darling, abb kuch bhi toh kam nahin. Tere naam saa ab koi bhi lafz nahi. Dildaara… Ye rati bhar ka jag sara. Dildaara… Tere nazaro kadam pe sab vara. Tu manzil hai aur tu hi uss manzil ke aagee ka rasta. Ye rati bhar ka jag sara. Darling stand by me. Won’t you stand Stand By me?"
Terjemahan. "Saat malam tiba dan bumi menjadi gelap. Rembulan menjadi satu-satunya cahaya. Sayang, meski apapun yang terjadi. Aku tidak akan menyebut nama lain selain dirimu. Kekasihku… Seluruh dunia ini tidak ada artinya. Kekasihku… Akan ku serahkan jiwaku padamu. Hanya kau tujuanku dan jalan menuju tujuanku. Seluruh dunia ini tidak ada artinya. Sayang dampingilah aku. Maukah kau dampingi aku?"
Meskipun Tara sudah sempat memutuskan untuk tidak melepas keduanya, tetap saja keadaan ini membuatnya galau lagi. Tara bimbang akankah dia sanggup menjalani dua cinta sekaligus.
................
Ikuti terus ceritanya ya 👍
__ADS_1
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.