
Fatin pun mengakhiri kelas, tubuhnya sudah sangat lemah, tapi dia tak berminat untuk makan.
dia pun sampai di ruangan dosen tempatnya, dan segera meminum sesuatu meski hanya air.
"kuat Fatin, demi Abi mu, tolong jangan lemah oke," kata Fatin menyemangati dirinya sendiri.
"tapi bagaimana bisa aku menghabiskan sepanjang hidupku dengan orang yang tak aku cintai .... tolong tunjukkan kebesaran mu ya Allah," gumam Fatin yang terduduk dilantai.
tanpa sengaja Haris lewat di depan ruangan itu, dia tak mengira jika mendengar perkataan dari Fatin dengan sangat frustasi.
Haris pun merasa iba, dua mengetuk pintu ruangan itu, "assalamualaikum... Fatin apa jamu di dalam?" tanya Haris.
"waalaikum salam... tunggu sebentar pak dosen," jawab Fatin berusaha berdiri dan membuka pintu.
harus kaget melihat Fatin yang begitu lesu, dengan wajah pucat. "kamu belum makan, jika terus seperti ini kamu bisa sakit, padahal ustadz Ahmad juga masih belum sembuh," kata Haris menaruh nasi Padang di meja.
"apa ini pak Haris, maaf..." kata Fatin melihat pria itu duduk di kursinya.
"duduklah, sekarang temani aku makan, dan setelah kita selesai mengajar, kita berangkat ke rumah sakit bersama," kata Haris.
"tapi-"
"tak ada penolakan, duduklah," perintah Haris dengan dingin.
Fatin pun duduk di kursi dan segera membuka bungkusan itu, awalnya dia ingin muntah.
tapi saat Haris menatapnya tajam, Fatin pun menelannya dengan susah payah.
setelah dapat setengahnya, Haris melihat jika Fatin sudah kekenyangan.
"boleh untukku itu ayamnya, maaf aku sangat lapar," bohong Haris.
"tentu pak Haris," jawab Fatin.
__ADS_1
akhirnya Fatin memiliki tenaga dan mulai melanjutkan kegiatannya, begitupun Haris yang masih terlihat dingin di depan semua.
sedang di rumah sakit, Husain sudah bernafas lega melihat ustadz Ahmad sudah mulai sehat.
dia akan mencoba membuka pembicaraan tentang pernikahan kedua saudarinya.
"Abi, bolehkah aku bertanya, kenapa Abi meminta mas Haris dan mas Abdul menikahi Husna dan mbak Fatin?"
"karena Abi ingin yang terbaik untuk putri Abi, dan kalian jangan sedih karena Abi tentu akan mencarikan yang terbaik pula untuk kalian berdua nantinya," kata ustadz Ahmad yang tersenyum.
"bukan itu maksudnya Abi, kalau aku akan setuju saja karena aku memang tak ada orang yang aku cintai, tapi Husna berbeda Abi,apa tak apa-apa menikahkan wanita yang sudah memilih pria dan memberikan cintanya kepada pria itu?" tanya Husain.
"ah... dadaku..." kata ustadz Ahmad.
mendengar itu Husin panik dan memanggil dokter, Dila pun menangkupkan tangannya pada putranya itu.
"tolong jangan menyebut dan membantah kata Abi mu, karena kondisinya, kamu tau itu Husain, tapi kenapa kamu membahasnya tadi," marah Dila.
"umi kemarin dengar sendiri, Husna mencintai pria lain, akan jadi apa pernikahan yang uni sendiri pernah menjalaninya, sengsara dan menderita bukan," kata Husain.
"tapi umi yang membuat ku harus mengatakan ini," kata Husain yang menaikan nada suaranya.
"Husain ingat batasan mu sebagai anak," kata Fatin yang datang dengan Haris.
di belakangnya ada Husna dan Hasan yang juga baru datang, "neng selalu saja, sudah maafkan aku umi karena aku hilang kendali," kata Husain.
Dila pun masuk kedalam ruangan rawat itu di ikuti Fatin, tapi saat melihat ustadz Ahmad teertidur.
dila sangat sedih, "lebih baik kamu juga keluar dan temani mereka semua,"
"tidak umi, aku ingin jujur pada umi dan Abi," kata Fatin yang bersimpuh di lantai.
"bangun Fatin, apa yang kamu lakukan?" tanya Dila melihat aksi putrinya.
__ADS_1
fatin mulai terisak, "umi... aku mencintai pria lain, meski pria itu dingin padaku, aku hanya ingin umi tau perasaan ku, aku memang menerima permintaan Abi, tapi aku tak bisa menghapus cintaku padanya, aku sudah berusaha setiap aku melihatnya, setiap aku mendengar suaranya, apa yang harus aku lakukan umi, akan jadi sebuah kecurangan saat aku menikah nantinya, dan dosa besar saat aku masih mencintai pria lain saat aku memiliki suami ...." tangis Fatin dengan pilu.
Dila langsung memeluk putrinya itu, "tolong jangan seperti ini, umi tau jika kalian sedih, tapi ini permintaan Abi, umi yakin jika keputusan ini akan membawa kebahagiaan untuk kalian," kata Dila.
"bagaimana bisa kamu ngomong seperti itu, saat kamu sendiri adalah korban perjodohan, dan posisimu sama dengan Fatin sekarang," kata ustadz Ahmad.
"Abi!!" kaget keduanya.
"maafkan Abi ya nak, sekarang tolong ceritakan perasaan mu, dan pria mana yang telah mencuri hati gadis ku ini?" tanya ustadz Ahmad.
di luar ruangan, Husna nampak lebih baik, Haris pun merasa senang melihat senyuman Husna kendali.
"apa hati mu begitu baik, dari tadi kamu terus tersenyum," tanya Haris penasaran.
"iya mas Haris, tadi di sekolah neng Fatin membuktikan jika aku tak bersalah, jadi aku tak di hukum,dan sekolah menghukum orang yang tepat, ternyata neng Fatin begitu menyayangiku," kata Husna.
"tapi soal perjodohan?" tanya Haris lagi.
"aku akan ikhlas menerima jika Abi bersikeras menikahkan neng Fatin dengan mas Abdul, tapi maaf aku tak bisa menerima perjodohan ini karena aku hanya menganggap mas itu kakakku, dan aku tak pernah memiliki perasaan lebih untuk saat ini atau nantinya," jawab Husna tegas
"berarti aku sudah di tolak, aku juga tak mau memiliki istri yang mencintai pria lain, itu akan sangat menyakitkan kedua belah pihak jika tetap di teruskan," terang Haris yang terbiasa melepaskan semua demi kebahagiaan orang lain.
"aku yakin sekarang neng Fatin sedang melakukan hal yang seharusnya, yang pasti dia tak ingin melihat Husna terpisah dengan pria yang di cintainya," kata Hasan.
Fatin duduk di ranjang milik ustadz Ahmad, "Abi... yang mencintai mas Abdul itu Husna, bagaimana aku harus merusak kebahagiaan adikku,"
"terus pria itu siapa neng Fatin?" tanya ustadz Ahmad.
"dia adalah mas Haris, dosen killer yang merebut hatiku, entah sejak kapan aku mulai menyukainya, tapi aku ingat dia adalah orang yang sangat menjaga sikap dan perilakunya, terlebih saat berhadapan dengan wanita, itu yang semakin membuatku menyukainya Abi," terang Fatin malu.
"ya Allah... aku hampir merusak persaudaraan dari kedua putriku dengan menikahkan pada pria yang tertukar," kata ustadz Ahmad.
"jadi Abi jika ingin kami menikah, tolong dengan pria yang kami cintai, dan untukku Abi bisa bertanya pada mas Haris, jika dia ingin maka aku juga ingin, tapi jika dia menolaknya tolong jangan paksa dia Abi," mohon Fatin.
__ADS_1
"iya neng, Abi mengerti, sekarang tunggu Abi pulih, dan kamu juga jaga kesehatan, jangan menyiksa diri lagi ya," kata ustadz Ahmad menghawatirkan putrinya itu.
"inggeh Abi," jawab Fatin patuh.