
hingga suatu saat mereka melakukan hal buruk, Salwa yang datang ke rumah Haris kehujanan.
Haris meminta Salwa berganti baju dengan bajunya, karena suasana yang mendukung juga.
Haris menyentuh lengan dan wajah Salwa dengan lembut, Haris mencium bibir Salwa.
Haris pun menidurkan Salwa ke ranjang, mereka pun saling menyentuh dan melakukan hubungan suami istri.
Haris bahkan melakukannya berkali-kali, Salwa yang memang mulai menyukai dan mencintai Haris pun rela menyerahkan dirinya.
saat selesai, harus bahkan masih sempat menggoda salwa, "tak perlu sedih, aku pasti bertanggung jawab, kamu begitu cantik Salwa," kata Haris.
"aku mencintai mu pak Haris," kata Salwa
Haris hanya menyeringai, pasalnya dia tak ingin menikah dengan gadis miskin seperti Salwa, dan hanya menikmati waktu dengannya saja.
karena tujuan utamanya adalah salah satu dari putri ustadz Ahmad demi yayasan yang memiliki keuntungan besar setiap tahunnya.
Salwa dan Haris terus berhubungan dengan intens selama pengerjaan skripsi.
akhirnya hati wisuda datang, Salwa harus berani mengatakan jika dia sudah mengandung janin dari perbuatan haram mereka.
Salwa yang biasanya selalu melihat senyum Haris, kali ini dia melihat tatapan yang begitu dingin.
"pak Haris bisa bicara sebentar," kata Salwa yang terus menggenggam alat tes kehamilan di tangannya.
Haris pun mengajak Salwa kesebuah tempat yang cukup sepi, disana Salwa memberikan alat tes itu pada Haris.
"aku hamil pak," kata Salwa gemetar.
"kamu gila atau bodoh, sudah dewasa kenapa tak minum pil kontrasepsi," marah Haris
"apa? bukankah bapak bilang akan menikahiku, sekarang aku sudah hamil pak, lambat lain orang akan tau, dan aku tak ingin membuat keluarga saya malu pak," kata Salwa yang mulai terisak.
"tapi karir saya bisa hancur jika menikah sekarang, kaku tau saya membangunnya dari nol, dan sekarang kamu dengan mudah bilang mau menikah, f*ck..." maki Haris.
Salwa kaget melihat perangai dari Haris yang sebenarnya, dia tak tau harus bagaimana sekarang.
ayahnya bisa saja mati karena malu, saat tau putri kesayangannya hamil di luar nikah.
"baiklah, aku bisa menikahimu secara siri dulu, dan setelah anak mu lahir kita menikah secara resmi, aku tak bisa menikahimu secara resmi sekarang, karena aku memiliki kontrak yang tak bisa aku langgar, mau atau tidak?" tawar Haris.
__ADS_1
"baiklah," jawab Salwa.
gadis itu tak tau jika penderitaannya di mulai saat itu, terlebih Haris yang ternyata begitu kasar dan suka membentak.
tapi Salwa menerima Semuanya, hingga kenyataan jika Haris ingin menikahi Fatin membuatnya terluka.
"sudah Salwa, jangan sedih lagi, tak ada gunanya menangisi pria tak berguna seperti itu, dan biar ayah dan ibu yang membesarkannya," kata ayah Salwa membesarkan hati putri mereka.
di tempat lain Haris merasa hidup dan tujuannya sudah hancur karena kedatangan mertua dari istri bodohnya.
dia pun memilih masuk kedalam kamar dan tidur, dia lelah menghadapi hari ini yang penuh konflik.
belum lagi besok dia harus mulai menghadapi kenyataan yang ada, semoga dia tak mendapatkan kesialan lagi.
Mahi bekerja dengan selamat, semua pegawai rumah sakit mendapatkan traktiran makan.
"wah dalam rangka acara apa ini pak dokter?" tanya Aline selaku suster yang merangkap asisten Mahi di rumah sakit itu.
"hanya merayakan acara kecil saja, sebenarnya saya tadi pagi menikah, dan secara dadakan jadi anggap saja ini hanya makan-makan sederhana," jawab Mahi menunjukkan cincin nikahnya.
"apa? dokter Mahi menikah?" kaget semua orang.
Mahi mengangguk, pasalnya seluruh orang di rumah sakit tau jika Mahi tak pernah menggandeng seorang kekasih.
"aduh seluruh suster di sini patah hati deh, kecuali saya, karena bulan depan saya juga menikah," kata Aline menunjukkan surat permintaan cuti.
"selamat ya, kalau begitu jika bisa libur, silahkan hadir di acara ngunduh mantu di rumah ku, acara di laksanakan Minggu ini, di desaku datang ya," kata Mahi.
"mau dokter, tapi di sediakan transportasi ya, ya kali kami harus nyewa elf sendiri," kata Aline.
"setuju tuh dokter, biar pernah kita main ke rumah dokter," saut suster Dita.
"baiklah, aku sewakan dua elf khusus seluruh perawat atau pegawai rumah sakit yang bisa datang, nanti Aline yang atur ya, sudah silahkan makan, Lina belas menit lagi kura visit," kata dokter Mahi.
"siap dokter," jawab para pegawai di departemen yang di pimpinnya.
meski masih berusia sangat muda, tapi kejeniusan Mahi tak bisa di remehkan, bahkan dia memiliki ketenangan yang luar biasa.
Mahi melihat ponselnya, ternyata ada pesan dari Fatin, Mahi hanya tersenyum membaca pesan yang berisi semangat itu.
Mahi kembali bekerja, dan mungkin akan pulang pukul sebelas malam setelah jam jaganya selesai.
__ADS_1
Mahi tak begitu repot, karena pasien yang perlu di cek tak banyak, dia memutuskan untuk datang ke ruang IGD.
terlihat dokter jaga adalah dokter Ryan, dan beberapa dokter muda yang tengah koas.
"apa yang di perlukan dokter Mahi hingga kesini?" tanya dokter Ryan.
"tidak ada, aku hanya sedang menunggu jam kerja habis terus pulang, mau mampir ke sini, apa semuanya tenang?" tanya dokter Mahi.
"iya dokter, cuma satu orang saja yang datang ke IGD, lagi pula jam segini tak mungkin ramai, jika bukan ada kecelakaan beruntun," sakit salah satu dokter muda itu.
"Fadli jaga bicaramu, kita bisa dalam masalah besar jika sampai itu terjadi," kesal dokter Ryan.
"maaf deh dokter," kata Fadli merasa bersalah.
"ya sudah jam kerja ku sudah habis, aku pulang dulu ya, duluan dokter Ryan," pamit Mahi.
"oke dokter, hati-hati di jalan, dan selamat atas pernikahan mu ya," kata dokter Ryan.
Mahi hanya mengangguk, tapi belum juga keluar dari rumah sakit. telpon IGD berdering dan suara sirine ambulan terdengar saling bersautan.
"dokter ada keadaan darurat, terjadi kecelakaan beruntun, kita akan segera menerima korban kecelakaan, dan semua dalam kondisi buruk," panik perawat IGD.
"sial..." kata dokter Ryan.
Fadli tak mengira ucapannya yang bercanda tadi benar-benar terjadi, "semuanya siapkan ruang operasi, panggil semua dokter yang masih ada di rumah sakit, persiapkan semua ranjang untuk pasien. semua dokter koas Haris membantu tanpa ada terkecuali, kali ini kalian harus menghadapi tantangan yang sesungguhnya, mari semuanya kita tolong para korban," kata dokter Mahi membagi semua tugas dengan jelas.
di bawah kepemimpinan dokter Mahi dan dokter Ryan, rumah sakit benar-benar melakukan penyelamatan besar-besaran.
Mahi bahkan harus melakukan dua operasi untuk menyelamatkan nyawa dari korban.
dia membantu dokter ahli bedah yang ada, Mahi belajar dengan cepat di bawah dokter senior di rumah sakit itu.
di rumah Fatin masih menunggu kepulangan Mahi, pasalnya ponsel Mahi mati dan tak bisa di hubungi.
terlebih setelah dia membaca ada berita tentang kecelakaan beruntun yang disebabkan oleh mobil yang menabrak warung angkringan di pinggir jalan.
"ya Allah lindungilah suamiku," doa Fatin untuk Mahi.
Mahi masih terus berjuang menyelamatkan semua korban, bahkan dia tak mengira akan melihat seseorang yang sudah hampir terlupakan tapi nyatanya kini datang dalam keadaan yang sangat buruk.
"Adila..." gumam Mahi meliht sosok gadis yang penuh darah di depannya itu.
__ADS_1
bahkan polisi sendiri yang mengantarkan wanita itu, "apa dia sipir mobil yang menabrak semua korban?" tanya dokter Ryan.
"bukan, dia hany penumpang mobil SUV yang menabrak para korban, dan untuk supirnya, dia sudah meninggal dunia karena benturan dan melindungi wanita ini," jawab pihak kepolisian.