
Mendung bukan berarti hujan
Ramalan cuaca belum tentu akurat
Reader berikanlah author dukungan
Agar menghalu dan menulisnya lebih semangat
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Pagi ini saatnya Tara dan Aryan kembali dari resort. Masih menjadi pertanyaan kemanakah Aryan akan membawa pulang Tara. Satu hal yang terlupa oleh Tara yaitu membahas tempat tinggal setelah menikah. Dia tidak akan mungkin merasa nyaman tinggal di kediaman Cakra Wangsa bersama mama mertuanya dan juga Anand.
Sepanjang perjalanan Aryan mengobrol kesana-kemari agar Tara tidak fokus kemana mobil itu membawanya pulang. Hingga tibalah mobil mereka di depan sebuah bangunan besar yang tak kalah mewah dengan kediaman Maheswari dan Cakra Wangsa.
"Mas, ini kita dimana?" Tara bingung.
"Welcome to our home, my queen." Jawab Aryan penuh semangat.
"Ini beneran, mas?" Tara masih tidak yakin.
"Jadi kita akan tinggal di sini? Kita tidak tinggal di kediaman Cakra Wangsa?" Tara heboh dibuatnya.
Aryan mengangguk dan Tara menghambur ke pelukannya.
"Ini serius 'kan?" Tanya Tara sanksi.
"Aku tahu semewah apapun rumah mertua, tetap lebih nyaman rumah sendiri. Apalagi ada Anand di sana, aku tidak mau dia sering melirik kamu." Papar Aryan.
"Terima kasih, mas gantengku." Tara menghujani wajah Aryan dengan ciuman.
"Sayang, cukup satu tapi yang lama." Aryan menunjuk bibirnya.
"Ish..." Tara mencubit perut Aryan.
"Aw... " Aryan hanya tertawa bahagia.
Mobil telah masuk ke halaman rumah, para penjaga pun sudah bersiap. Rumah elite seluas 1.700 m² lengkap dengan kolam renang pribadi. Penjaga pun tidak hanya satu, pintu depan dan samping/belakang masing-masing 2 penjaga.
Mereka pun turun dari mobil dan langsung di sambut oleh Tuan dan Nyonya Cakra Wangsa beserta Tuan dan Nyonya Maheswari. Kebahagiaan, hanya itu yang terasa saat ini, seakan-akan ini ketenangan sebelum badai menerjang.
"Ini rumah kita, emmm... Lebih tepatnya ini rumah kamu, Tara."
"Loh, kok gitu mas?"
"Ini rumah aku berikan kepadamu sebagai hadiah pernikahan dan sertifikatnya juga atas nama kamu."
__ADS_1
"Wow... Selamat Tara." Ucap Nyonya Gita, walaupun sebenarnya dia sedikit kecewa karena rumah hasil jirih payah Aryan justru diatasnamakan Tara.
"Kamu memang menantu idaman, Tara tidak salah pilih." Tuan Yoga ayah Tara menepuk pundak Aryan.
Aryan tersenyum mendengar pujian dari papa mertuanya. "Tentunya saya tidak boleh kalah dari papa 'kan?"
"Betul, papa merasa tenang mempercayakan Tara padamu. Semoga Tuhan selalu memberikan kalian kekuatan, kesehatan dan rejeki yang cukup. Ingatlah untuk tidak menjadi sombong! Masih banyak orang di luar sana yang membutuhkan uluran tangan kita." Tuan Yoga menasehati.
"Iya, pa. Biar semuanya nanti Tara yang mengatur. Direktur keuanganku yang baru." Aryan menyenggol lengan Tara.
"Aku ratunya, kenapa aku yang ngatur keuangan?" Tara cemberut.
"Ratu juga harus bisa mengatur keuangan juga untuk kesejahteraan kerajaan dan rakyatnya dong." Jelas Aryan.
"Iya, mas gantengku... Oops." Tara menutup mulutnya.
Para orang tua tertawa melihat tingkah Aryan dan Tara.
"Tahu gitu, mama dan papa tadi nggak usah kesini aja. Kayaknya ada yang belum puas dengan bulan madunya nih!" Ledek Nyonya Lita.
"Duh jeng... Mereka bikin gemes ya, udah punya panggilan sayang masing-masing. Bentar lagi kita bakal gendong cucu nih." Nyonya Gita menimpali.
"Iya, jeng... Lihat aja tuh! Dari tadi gandengan mulu, kaya takut ditinggal pergi." Imbuh Nyonya Lita.
"Mamaaa..." Tara menghambur ke pelukan mamanya.
Mereka semua masuk dan melihat-lihat rumah baru Tara dan Aryan. Sejuk dan nyaman, mewah dan klasik, siapapun yang tinggal pasti akan betah berlama-lama di rumah itu. Semua didesain sesuai kesukaan Tara, Aryan memang menyukai apa yang Tara sukai. Di ruang keluarga terpasang lukisan dari foto pernikahan Tara dan Aryan yang sangat besar.
"Mas, kita menikah 'kan baru 5 hari yang lalu, tapi kamu sudah bisa memasang lukisannya?" Tara heran.
"Apa di kamar kita juga ada? Kamar kita dimana mas?" Tara semangat.
"Aryan, sana pergilah ke kamar kalian berdua, kami para orang tua biar menunggu di ruang keluarga." Titah Tuan Indra.
"Baik, pa." Aryan mengandeng Tara ke kamarnya.
Tara dibuat takjub dengan desain kamarnya yang begitu mewah, tidak kalah mewah dengan yang ada di kediaman Maheswari. Tara berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Aryan. Benar-benar kehidupan rumah tangga idaman.
"Apa kamu suka?"
"Suka sekali, mas." Tara menjelajahi kamarnya.
Tara membuka pintu dan menjelajahi balkon. Seperti kesukaan Tara, Aryan membuat balkon di kamarnya, semoga saja nanti Gala tidak tiba-tiba datang memanjat.
Deg...
Tara tiba-tiba teringat dengan Gala. Sejak pernikahan dia sama sekali tidak komunikasi dengan Gala. Jika dia menghubungi Gala sekarang, pasti Aryan akan curiga.
Aryan datang dan memeluk Tara dari belakang. "Nanti tiap pagi kita akan bangun dan menyambut pagi disini, berpelukan sambil minum kopi."
__ADS_1
"Ku kira berpelukan sambil..." Tara tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Sambil apa, sayang?" Jemari Aryan sudah mulai begerilya.
"Ha... ha... ha... Hentikan mas! Di bawah masih ada orang tua kita." Tara mengingatkan.
"Baiklah, nanti malam ya?" Pinta Aryan.
"Ha...ha...ha... Nggak janji ya, mas. Sungguh tidak aku sangka kamu memberiku rumah semewah ini, mas." Ujar Tara.
"Apa kamu kira aku tidak mampu?"
"Bukan! Aku kira mama dan papa kamu yang menentukan semuanya."
"Aku 'kan sudah pernah bilang kalau aku sudah mempersiapkan masa depan kita. Jadi, apa yang aku miliki bukan milik keluarga tapi milikku pribadi." Jelas Aryan.
"Kamu rumahku, mas. Bagiku dimana ada mas Aryan disitulah rumahku. Terima kasih telah memberiku banyak cinta." Tutur Tara.
"Baiklah, terima kasihnya nanti malam aja ya... Sekalian nyobain ranjang baru."
"Maaas..." Teriak Tara.
"Udah, ayo balik ke bawah! Kasian mama dan papa nungguin kita bermesraan."
Pernikahan idaman dan menantu idaman, serasa sudah lengkap kebahagiaan dua keluarga ini. Namun di sisi lain ada anggota keluarga yang hatinya terluka.
Anand menghabiskan waktunya di kamar. Sejak pertemuannya dengan Indi kemarin, dia malas melakukan apapun. Kamarnya juga sudah dibersihkan dan dirapikan oleh pelayannya.
Anand mencari papa mamanya, namun dia tidak menemukan siapapun, yang ada hanya para penjaga dan pelayan. Saat dia melintasi dapur tak sengaja dia mendengar para pelayanan membanding-bandingkan dia dan Aryan. Bahkan mereka membicarakan Aryan dan rumah barunya. Anand kembali ke kamarnya dan meluapkan emosinya. Kamar yang semula bersih berubah menjadi porak poranda lagi.
"Aaaaahhhhh..."
"Aryan dan Aryan lagi. Kenapa aku selalu kalah dari Aryan?"
"Bagaimanapun juga, Tara harus jadi milikku."
"Ya, Tara harus jadi milikku."
"Kalau dia tidak mau, maka aku akan memaksanya."
"Tunggu saja Tara, kamu pasti menyesal karena telah menolak Anand Cakra Wangsa."
"Kelak semua kekayaan Cakra Wangsa akan menjadi milikku."
"Papa sungguh tidak adil! Aryan sudah punya bisnis sendiri, harusnya 60% saham Cakra Wangsa itu jadi milikku bukan Aryan."
"Aaaahhhhh..."
...………....
Apa yang akan dilakukan Anand untuk mendapatkan Tara?
__ADS_1
Ikuti terus ceritanya ya...
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.