
tak terasa sudah dua bulan berlalu, kondisi Mela juga sudah makin membaik.
meski kandungannya sangat besar dan sudah masuk perkiraan melahirkan.
tapi Mela masih sibuk di pabrik tahu miliknya, bahkan sekarang outlet miliknya yang berjualan tahu mercon.
jadilah sekarang dia makin sibuk, hingga tak terduga ada seseorang yang berdiri melihatnya dari jauh.
Ridwan berhasil menarik tuntutan, dan dengan pengajuan banding, akhirnya Hendra bisa bebas karena korban sudah memaafkan.
Hendra pun berjalan menghampiri wanita yang sudah mengisi hari-harinya.
"permisi Bu, apa saya boleh melamar pekerjaan," kata Hendra saat sudah mendekat kearah Mela.
"boleh silahkan besok datang lagi-" kaget Mela saat melihat sosok pria yang sudah di cintainya selama enam bulan ini.
Hendra membuka tangannya pada Mela, tapi tak terduga Mela malah mengalami pecah ketuban.
"sayang ketuban mu pecah!" kaget Hendra.
"hah- sakit mas ...." kata Mela yang baru sadar dan sudah berada di pelukan suaminya.
"Hendra kita bawa ke bidan desa, cepat!" panik Ridwan.
Hendra pun langsung mengendong istrinya itu, Bu Eka yang mendengar pun sempat berlari keluar dan kaget melihat Hendra.
"nak Mela kenapa?" tanya Bu Eka.
"sepertinya dia mau melahirkan Bu, kita akan ke bidan, cepat Bu," kata Hendra.
Bu Eka langsung masuk mengambil tas yang sudah di siapkan, dan beruntung rumah bidan desa tak jauh dari sana.
sesampainya di rumah bidan, Hendra menemani Mela yang berjuang melahirkan bayi mereka.
"ayo sayang semangat, demi bayi tampan kita ya, aku sudah disini, kamu harus kuat ya," kata Hendra yang sebenarnya ketakutan.
Mela pun mengejan, melihat Mela hampir mengigit lidahnya, Hendra memberikan tangannya untuk di gigit oleh Mela.
akhirnya bayi kecil itu lahir dengan selamat, Bu Eka dan Ridwan pun bersyukur, tak lama orang tua dari Mela juga datang.
mereka pun langsung menangis saat mendengar suara tangisan dari bayi mungil itu.
"ya Allah cucu kita Bu, tapi jika ibu disini, siapa yang menrmsni Mela melahirkan?" tanya ibu Mela.
"Alhamdulillah besan, itu suaminya yang baru datang," jawab Bu Eka tersenyum.
"apa, Hendra sudah pulang, berarti yang kemarin itu berhasil Ridwan,"kata bapak Mela.
__ADS_1
"iya pakde," jawab Ridwan.
Mela menangis saat mendengar Hendra mengumandangkan adzan untuk putra mereka.
impiannya terwujud, dia melahirkannya di temani suaminya, bahkan Hendra nampak menangis haru saat mengendong bayi kecil itu.
"terima kasih dek, hadiah ini begitu bahagia, maaf Bu bidan tolong berikan pada orang tua kami," kata Hendra memberikan bayinya dan langsung memeluk dan menciumi wajah Mela yang sudah berjuang melahirkan bayi kecil itu.
"iya mas, dan sebutkan siapa namanya, karena tentu ayahnya yang harus memberinya nama," kata Mela tersenyum senang.
"Mahi, Abdullah Mahendra Gaharu," jawab hendra
"Alhamdulillah Mahi, nama yang indah, sekarang tugas mas Hendra harus memberikan cinta sepenuhnya pada putra kita," kata Mela.
"tidak hanya putra kita, tapi kamu juga Mela, aku berjanji akan menjadikan mu istri terakhir ku, dan semua cintaku untuk mu," tambah Hendra yang mengecup kening Mela.
orang tua mereka pun merasa senang, meski Hendra melakukan kesalahan, pria itu bisa berubah.
bahkan sekarang keluarga Mela dan Hendra juga memiliki derajatnya sendiri di masyarakat.
meski sebelumnya terjadi yang begitu mengerikan, tapi Allah menunjukkan jika kasihnya begitu luas.
memang awalnya Mela trauma, tapi beruntung karena pengobatan tepat dan kemauannya untuk menjadi kuat demi bayinya.
sekarang dia memiliki Keluarga yang sempurna bersama Hendra dan bayi Mahi.
"inggeh Bu," jawab Hendra yang di sana bersama sang mertua.
tak lama ada pak Agus yang mengantarkan mobil, pria itu bahkan langsung memeluk Hendra, karena menginggat kebaikan pria itu.
akhirnya pukul lima sore, Dila sudah di izinkan pulang, Mela duduk di kursi belakang sambil mengendong putranya.
sedang Hendra menyetir mobilnya menuju ke rumah, sesampainya di rumah ternyata semua orang sudah berdatangan untuk mengikuti kenduri brokohan.
Hendra turun dan bergegas membantu istrinya, semua orang kaget melihat Hendra yang sudah pulang dari lapas.
"Alhamdulillah juragan Hendra sudah pulang!" teriak semua pegawai pabrik tahu.
Hendra pun langsung menemui semua pegawai saat sudah membantu dan mencari posisi yang enak untuk istrinya.
acara berjalan lancar, dan semua merasa jika putra Mela sangat tampan, terlebih hidung yang begitu mancing dan kulit putih seperti Hendra.
**********
bayi Hasan dan Husain sudah berumur tiga bulan, hari ini akan di ajak main ke rumah Arif, dan kali ini umi Chasanah juga ikut karena tak mau jauh dari cucunya.
"sepertinya hadiah Allah ini begitu adik ya, umi dapat Fatin, umi dan ibu memiliki Hasan dan Husain, dan sepertinya kurang satu umi, kan Abi-nya belum," kata ustadz Ahmad yang menyetir.
__ADS_1
"maksud Abi, ya Allah baru juga besar bi mereka berdua, masak ya aku harus hamil lagi," kata Dila tak habis pikir.
mereka sampai di rumah, Bu Wati dan umi Chasanah memutuskan untuk istirahat di rumah Arif.
sedang Dila dan ustadz Ahmad akan mengunjungi rumah Mela, karena mereka ingin mengunjungi bayi Mahi.
sesampainya di rumah itu, nampak Hendra yang sedang duduk di luar sambil mengendong bayi kecil itu sambil berbincang dengan Mela.
mobil ustadz Ahmad masuk kedalam pekarangan, dan Dila turun terlebih dahulu bersama Fatin.
"assalamualaikum Tante Mela," kata gadis kecil itu yang langsung berlari kearah Mela dan memeluk kaki Mela.
"aduh gadis cantik Tante, assalamualaikum umi dan Abi," goda Mela.
"waalaikum salam adik ku tersayang," kata Dila cipika-cipiki bersama Mela.
Hendra juga bersalaman dan berpelukan dengan ustadz Ahmad. meski mereka pernah memiliki hubungan dulu.
sekarang mereka memilih berbaikan dan berteman, seperti kali ini Dila yang begitu akrab dengan Mela.
begitupun dengan Hendra dan ustadz Ahmad, dan yang paling mengharukan bu Eka yang begitu menyayangi Fatin.
bahkan sudah seperti cucunya sendiri, mungkin ini adalah perjalanan yang harus mereka lalui sebelum sepenuhnya memiliki cinta sejati.
"aduh mbak, aku kangen Hasan dan Husain, kok gak di ajak sih?" tanya Mela sedih.
"maaf ya, mereka sudah hak milik dari nenek-neneknya, kami saja kalah loh," jawab Dila tertawa.
"benarkah, wah ustadz harus nambah sepertinya ya," goda hendra.
"setuju om, mau adik pelempuan ya," kata Fatin.
"umi sudah dapat lampu hijau, gimana mau ya?" kata ustadz Ahmad.
"ya Allah, baru juga tiga bulan Abi," jawab Dila tak percaya.
Mela pun memeluk Dila gemas, pasalnya wanita itu tak pernah bisa menolak suaminya.
bahkan menurut Mela, wanita itu terlalu baik, hingga kadang sering di salah gunakan oleh orang lain.
Hendra juga akan menjadi donatur tetap di yayasan pengobatan ustadz Ahmad, pasalnya berkat pengobatan mental di sana.
Hendra bersyukur bisa melihat dua wanita yang dia cintai bisa sembuh, Dila sembuh dan mendapatkan kebahagiaannya.
Mela juga sama, sembuh setelah berobat di sana, dan sekarang bahagia bersama dirinya.
Vivi dan Ridwan datang untuk bergabung, meski kedatangan Dila terlambat sebulan.
__ADS_1
tapi mereka memang baru bisa karena jadwal yang terlalu padat karena mendekati bukan ramadhan pula.