
Gazali memilih pulang ke rumah setelah merasa lelah, dia pun langsung masuk tanpa menyapa siapa pun di rumah.
Fatin pun menyiapkan semua makanan di ruang tengah, dia dan Mahi pun makan berdua.
Fatin selalu tersenyum, pasalnya Mahi terus menggodanya. setelah selesai mereka pun memutuskan untuk beristirahat.
keesokan harinya. Mahi ada jam praktek pagi, jadi Fatin sudah sibuk dari pagi.
"pagi sayang, kami juga sudah siap ke kampus?" tanya Mahi yang mencium pipi Fatin.
"pagi mas, iya hari ini sepertinya pak dekan ingin bertemu, semoga pengunduran diri ku jadi di terima ya," jawab Fatin yang merapikan dasi Mahi.
"memang kenapa sih jamu begitu ingin berhenti, aku tak masalah jika kamu punya karir sendiri, terlebih aku juga sangat sibuk loh," bisik Mahi.
"karena aku ingin fokus pada suamiku ini dan membantu di yayasan bersama Husain," jawab Fatin.
"baiklah, hari ini doakan semoga rapat para pimpinan sukses ya, terlebih akan pemilihan dokter kepala mengantikan dokter yang lama,"
"pasti mas," jawab Fatin.
keduanya pun pergi hampir bersamaan, Fatin membawa mobil sedan miliknya.
sedang Mahi sudah membawa mobil Alphard, ya mobil itu sudah selesai di perbaiki.
Fatin berhenti di sebuah mini market untuk membeli coklat dan juga beberapa jus kemasan.
setelah itu dia pun lanjut ke kampus, karena pak dekan memintanya untuk segera datang.
sesampainya di kampus, Fatin langsung menuju ke ruangan dekan, Fatin mengetuk pintu dengan
perlahan.
Fatin masuk kedalam ruangan itu, ternyata sedang ada tamu, "maaf jika aku menganggu, aku akan kembali nanti saja ya pak," kata Fatin yang ingin pergi
"tunggu Fatin, kami memang ingin bicara dengan mu, mari silahkan masuk," ajak dekan.
Fatin duduk di depan pria berjas yang nampak begitu sombong dan angkuh, pria itu mengeluarkan cek dan menaruhnya di depan Fatin.
"maaf ada apa ini?" tanyanya dengan bingung.
"itu uang untuk mu, tapi kamu harus menjauhi putraku, Gazali karena aku tak ingin dia terus berhubungan dengan mu," jawab pria itu.
"apa anda sudah tak sehat, aku hanya berhubungan dengan putra anda karena mengantikan dosen yang sedang cuti, lagi pula saya sudah memilih keluarga sendiri, jadi jangan menganggap saya seperti wanita yang bisa di sogok dengan uang," kata Fatin yang marah.
Wihandoko pun hanya tersenyum sekilas, pasalnya siapa yang menolak yang tang begitu banyak di depannya.
__ADS_1
"kamu bisa membantu yayasan orang tua mu dengan itu, tak perlu malu lagi pula suamimu hanya seorang dokter di sebuah rumah sakit kecil bukan," hinanya lagi.
"iya, suami saya memang dokter di rumah sakit kecil,tapi tak ada hak anda menghinanya, dan pak dekan tolong setujui permintaan saya, terlebih saya ingin fokus kuliah," kata Fatin lagi.
"baiklah, aku akan setuju, dan setelah lulus kamu bisa melamar menjadi dosen di sini," kata dekan yang memang tau bagaimana selama ini Fatin mengajar.
"maaf, saya akan fokus pada sekolah dan yayasan keluarga saja, dan untuk anda, jangan menilai semua dari segi materi semata," kata Fatin yang langsung pergi.
dia akan membereskan semua barangnya, dan menemui dosen yang menjadi pembimbingnya dalam melakukan tugas akhirnya.
sedang di rumah sakit Mahi juga baru sampai, dan semua menyapanya dengan sopan.
pasalnya sudah seminggu ini pria itu libur karena cuti, Mahi bergegas menuju ke ruangan miliknya.
beberapa pasien sudah mengantri untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka.
Mahi sangat sibuk, bahkan dia tak sempat untuk menghubungi Fatin barang sebentar saja.
perawat Aline memberikan sebuah berkas yang harus di periksa oleh Mahi.
"kapan beliau akan datang?" tanya Mahi yang melihat catatan kesehatan itu .
"sepertinya nanti sore dokter, karena beliau membuat janji pukul lima sore," jawab perawat Aline.
"baiklah, sekarang aku harus rapat terlebih dahulu, tolong atur jadwal dengan baik lagi, karena tadi ada beberapa kesalahan, mengerti?"
Mahi langsung menuju ke ruang rapat, ternyata semua dokter sudah berdatangan.
Mahi langsung duduk di dekat dokter Ryan yang memang jarang bisa ikut rapat, terlebih dia adalah dokter di UGD.
"kira-kira siapa kepala rumah sakit yang baru, semoga jangan dokter Handoko, bisa hancur ini rumah sakit," lirih tuan pada Mahi.
"entahlah mas, aku juga tak ada pandangan siapapun, terlebih mereka semua memikirkan untung saja bukan nyawa manusia," jawab Mahi.
Ryan mengangguk, karena selama ini hanya sosok Mahi yang mau membantu di tuang UGD jika terjadi kekacauan, seperti saat ada kecelakaan beruntung atau bencana alam yang mengakibatkan korban.
akhirnya rapat umum itu di mulai, dan langsung di pimpin oleh ketua direksi rumah sakit.
Mahi mengirimkan pesan pada istrinya dan tak seberapa mendengarkan ucapan dari para petinggi itu.
akhirnya mereka tau siapa yang di calonkan menjadi kepala rumah sakit. ada Mahi sebagai dokter jenius di rumah sakit.
melawan dokter senior Mahardika, keduanya memiliki kemampuan di bidang masing-masing.
dokter Mahardika terkenal di bagian penyakit dalam dan sangat aktif dalam memajukan rumah sakit ini.
__ADS_1
"mari kedua calon kepala rumah sakit, tolong kemari dan berikan kata sambutan," panggil dewan direksi.
Mahi yang madih belum percaya nampak masih syok, pasalnya dia baru menjadi dokter di rumah sakit ini, dan belum memberikan kontribusi baik.
dokter Mahardika menjabat tangan Mahi, dia tertawa melihat Mahi yang madih nampak syok.
"sepertinya rumah sakit ini perlu jiwa muda untuk membuatnya makin berkembang," kata dokter Mahardika.
"dokter salah, seharusnya dengan pengalaman yang anda miliki, saya yakin jika rumah sakit ini berada di tangan yang tepat," jawab Mahi.
akhirnya Mahi pun memberikan sambutannya, begitupun dokter Mahardika.
dan dengan hal itu para dewan direksi memutuskan memilih dokter Mahardika untuk menjadi kepala rumah sakit, sedang mahi menjadi wakilnya.
tugasnya juga semakin banyak, terlebih dia sekarang juga menjabat jabatan tinggi.
keduanya mendapatkan ucapan selamat, dan ini adalah kemajuan yang sangat pesat bagi karir Mahi.
Fatin membawa semua barangnya masuk kedalam mobil, dan saat akan pergi, seseorang menutup pintu mobilnya dengan keras.
"kenapa anda berhenti, aku tau perbuatan ku yang semalam tak pantas, tapi kenapa harus pergi begitu saja," kata Gazali.
"ini pilihan ku dan tak ada hubungannya dengan ku," ketus Fatin mendorong pria muda itu.
"tapi kenapa seperti anda menghindari ku," kata Gazali menarik Fatin menjauh dari mobilnya.
"Gazali, kau sudah kurang ajar, apa hak mu menanyakan apa keputusan ku," marah Fatin.
keributan itu memancing para mahasiswa untuk melihat, tak terkecuali dari tuan Wihandoko.
"karena aku menyukai neng Fatin sebagai seorang wanita dewasa," jawab Gazali mengejutkan semua orang.
plak... sebuah tamparan mendarat di wajah pria urakan itu, "kamu tak tau malu, kamu tau jika aku sudah menikah, dan masih berani mengatakan hal menjijikkan itu,"
"kenapa, tidak salah mencintai gadis yang menurut ku baik dan sempurna'? perasaan itu tak salah, memang kenapa?" marah Gazali.
"karena aku sudah menikah, dan aku bahagia," jawab Fatin.
"pernikahan palsu itu, cih... dia hanya mengantikan sosok dosen Haris untuk mrnikahimu, kamu bahkan tak akan pernah bahagia bersama suami yang seorang anak garam dan anak orang narapidana," kata Gazali berteriak.
lagi-lagi Fatin memberikan sebuah tamparan dengan keras pada pemuda itu.
"memang kenapa? setidaknya dia berhasil dengan usahanya, bukan pemuda yang suka menghambur-hamburkan uang yang tidak dia hasilkan sendiri," jawab Fatin yang membuat Gazali terdiam.
semua orang kaget, pasalnya Fatin yang selalu pendiam dan jarang menunjukkan ekspresi seperti itu.
__ADS_1
bisa marah pada sosok Gazali yang terkenal sebagai preman kampus yang sangat di takuti.