
Beli makanan di warung pinggir jalan
Meski sederhana tapi tetap nikmat
Wahai reader berikanlah author dukungan
Agar menghalu dan menulisnya lebih semangat
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Malam ini Gala termenung di depan jendela kamarnya. Dia menyadari rasa sakit yang akan dia rasakan saat melihat Tara bahagia dengan Aryan. Tidak ada air mata, yang ada hanya rasa cinta untuk Tara. Gala bersyukur setidaknya dia tahu ada sedikit cinta di hati Tara untuknya dan yang paling penting Tara tidak pergi menjauh darinya. Gala pun bertekad akan selalu membahagiakan Tara dan melindunginya, meski bukan dia yang bersanding dengan Tara.
Dalam hati Gala berkata. "Main aaj bhi usse utni hi mohabbat karta hoon… Aur isliye nahi ki koi aur nahi mili… Par isliye ki usse mohabbat karne se fursat hi nahi milti."
Terjemahan. "Aku masih mencintainya dengan cara yang sama… Dan bukan karena aku belum menemukan orang lain… Tapi karena aku tidak punya cukup waktu untuk mencintainya."
Gala tahu hari ini Tara bertemu dengan Aryan. Terbaca jelas dari unggahan foto mereka berdua. Terasa sakit dan sesak dadanya, namun itulah resiko menjadi yang ke-dua. Gala mengirimkan pesan pada Tara.
"Mujhe nahi darr toh bahut si cheezon se lagta hai. Par sabse zyada darr tumhe kho dene ke khayal se lagta hai."
Terjemahan. "Aku tidak takut akan banyak hal… Tapi yang paling ditakuti adalah pikiran kehilanganmu."
Tara tersadar akan keberadaan Gala. Tara juga mampu merasakan ketakutan yang Gala rasakan. Tara pun menelepon Gala.
"Halo, sayang." Gala menjawab telepon Tara.
"Untuk apa kamu takut? Bukankah kamu telah menjadi selir kesayanganku? Tapi kamu harus bersabar karena hanya mendapatkan sebagian kecil waktu dan cintaku. Apa kamu sanggup, sayang?" Tara to the point.
"Itu lebih baik daripada harus kehilanganmu atau jauh darimu. Apa mas Aryan tahu tentang kita?" Tanya Gala.
"Aku sudah bicara jujur pada mas Aryan bahwa aku dan kamu saling mencintai. Namun harus ku akui, aku lebih mencintai mas Aryan. Maafkan aku Gala."
__ADS_1
"Kamu tidak perlu minta maaf. Apakah mas Aryan marah padamu?"
"Tidak. Tapi mas Aryan berkata hal yang membuatku terkejut sekaligus takut."
"Apa dia ingin membatalkan perjodohan kalian? Tenang Tara, aku akan membantumu bicara dengannya kalau dia berani membatalkan perjodohan kalian."
"Bukan itu, Gala. Justru mas Aryan akan mengikhlaskan aku bersamamu jika suatu saat dia lebih dulu pergi dari dunia ini. Aku takut jika suatu saat dia benar-benar pergi."
"Tenanglah… Masih ada aku yang akan setia menjaga kalian. Bukankah aku masih bodyguardmu?"
"Apa kamu juga akan menjaga mas Aryan? Maaf ini sepertinya tidak adil bagimu."
"Jangan khawatir… Ini sudah menjadi pilihanku, aku pasti menjaga kalian berdua."
"I love you, Gala. Terima kasih, aku beruntung mendapatkan cintamu."
"I love you too, Tara. Pyaar toh bahut log karte hai… Lekin mere jaisa pyar koi nahi."
Terjemahan. "Banyak orang yang mencintai… Tapi tidak ada yang mencintai seperti aku."
"Iya, bodyguardku, eh… Selirku tersayang, good nite."
"Good nite, sajna (dibaca sajjena artinya sayangku)."
"Kamu memanggilku apa?"
"Sajna... Biar berbeda dengan mas Aryan."
"Okay, sajna. I love you..."
"Love you too..." Gala menutup teleponnya.
.........
Satu minggu kemudian.
__ADS_1
Malam ini adalah acara lamaran resmi, disaksikan oleh kedua keluarga besar. Tak satupun wartawan yang diijinkan meliput acara, tidak ada endorse atau sponsor. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah Tuan Yoga dan Tuan Indra. Dua keluarga pebisnis akan segera menjadi satu.
Terdengar suara Aryan memberikan kejutan untuk Tara. Aryan masuk dari pintu utama dengan membawa buket bunga dan cincin, lalu dia menyanyikan sebuah lagu romantis untuk menyatakan keinginannya mempersunting Tara.
"Dengarkanlah! Wanita pujaanku. Malam ini akan kusampaikan, hasrat suci kepadamu, dewiku. Dengarkanlah kesungguhan ini! Aku ingin mempersuntingmu 'tuk yang pertama dan terakhir."
"Jangan kau tolak dan buatku hancur. Ku tak akan mengulang 'tuk meminta. Satu keyakinan hatiku ini, akulah yang terbaik untukmu."
"Dengarkanlah! Wanita impianku. Malam ini akan kusampaikan, janji suci satu untuk selamanya. Dengarkanlah kesungguhan ini. Aku ingin mempersuntingmu 'tuk yang pertama dan terakhir."
"Jangan kau tolak dan buatku hancur. Ku tak akan mengulang 'tuk meminta. Satu keyakinan hatiku ini, akulah yang terbaik untukmu."
Lagu berakhir dan Aryan berlutut di hadapan Tara, memberikan bunga dan dan sebuah cincin. Semua yang hadir berteriak menyoraki agar Tara segera menerima lamaran Aryan. Namun Aryan masih menambahkan kata-kata manis untuk melamar Tara.
"Jiwaku resah saat tidak mendapati kamu di sampingku. Namun galau ku semakin menjadi ketika tidak mampu membahagiakanmu."
"Kamu sadarkan aku bahwa segala bentuk duniawi yang dicari tidak ada artinya jika tidak ada kamu di sisiku. Aku mencintaimu bukan karena perjodohan. Aku mencintaimu sejak pertama bertemu, ketika itu kamu adalah bidadari kecil yang selalu aku mimpikan akan menjadi permaisuri hatiku selamanya."
"Kamu oksigenku, kamu dokterku. Devi Tara Maheswari, maukah selamanya kamu menjadi oksigen dan dokter bagiku? Hidupku sesak tanpa kamu. Apakah kamu bersedia menikah denganku?" Ucapan Aryan penuh keyakinan, tiada keraguan karena memang Tara adalah tujuan hidupnya.
"Aku tidak..." Tara menjeda kalimatnya hingga membuat Aryan dan semua yang hadir terlihat panik.
"Aku tidak mungkin menolak mu, mas." Tara tersenyum namun matanya berkaca-kaca karena menahan tangis bahagia.
Aryan memasangkan cincin pada jari manis Tara. Tidak lupa Aryan juga meminta Tara memasangkan cincin padanya. Hari ini menjadi hari lamaran dan pertunangan. Semua yang hadir bersorak sorai mendengar jawaban Tara. Nyonya Lita bahagia sekaligus sedih karena melihat Gala yang selalu bahagia untuk kebahagiaan Tara, namun dalam hatinya terluka.
Aryan dan Tara berfoto bersama dengan menunjukkan jemari mereka yang telah dihiasi cincin pertunangan. Gala hanya mampu menyaksikan kebahagiaan mereka berdua. Ikhlas itu hanya mudah terucap namun sulit dilakukan, rasa sakitnya masih begitu menusuk hingga ke jantung.
Gala pov: Tidak ada yang mencintai Tara seperti aku mencintainya. Aku tahu ini bullshit, namun aku benar-benar tidak bisa mencintai wanita lain. Aku akan selalu membuatmu bahagia meskipun hatiku yang terluka. Setidaknya aku masih bisa memiliki cintamu walau sedikit saja.
Anand menyaksikan acara itu dari kejauhan, tiada keberanian untuk lebih mendekat. Anand menyadari kesalahannya, namun semua sudah terlambat. Dia tidak pernah menyangka perbuatannya akan ketahuan. Begitu cepat Aryan dan Tara memutuskan untuk segera menikah hingga pintu kesempatan untuk Anand sudah tertutup rapat.
Senyum kemenangan terpancar dari salah satu hadirin, siapa lagi kalau bukan Rani. Dia bahagia karena Tara telah memilih Aryan, itu berarti ada kesempatan baginya untuk mendekati Gala. Rani tidak pernah menyadari bahwa dia tidak akan bisa memiki cinta Gala walau sedikit saja. Rani masih berpikir kelakuannya menebar fitnah tentang Tara di sosial media belum terungkap. Tentu Gala sudah mempersiapkan semuanya untuk membalas perbuatan Rani. Gala menemukan senjata ampuh untuk mengusir Rani dari hidupnya.
.................
__ADS_1
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.