
Pohon beringin pohon keramat
Itu hanyalah mitos belaka
Reader, tolong berikan author semangat
Tambahkan favorit, vote, jempol, hadiah dan komentarnya
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
"Mama ingin membicarakan perihal model untuk brand fashion kamu."
Deg...
Raut wajah Tara berubah, dia takut jika Nyonya Gita keberatan dengan pekerjaannya. Apalagi mengingat foto-fotonya yang cukup seksi, bisa saja Nyonya Gita akan mempersulitnya.
"Oh iya... Bagaimana, ma?"
"Apa kamu tidak ada rencana menyewa model wanita?"
"Untuk saat ini masih belum, ma."
"Apa kamu tidak bisa menyewa model wanita saja? Mama kurang suka jika kamu jadi model."
"Maaf, bukan maksud saya lancang. Saya ingin tahu kenapa mama tidak suka jika saya menjadi model?" Tara meminta penjelasan lebih.
"Mama tidak suka kamu berfoto mesra dengan banyak model laki-laki." Nyonya Gita belum ingin menjelaskan secara detail.
"Mas Aryan dan mas Anand tidak keberatan saya jadi model." Tara mencari pembelaan.
"Betulkah mereka tidak keberatan atau mereka terpaksa menuruti keinginan kamu?" Nyonya Gita mulai serius.
"Padahal kamu tidak kekurangan uang untuk membayar model." Tegas Nyonya Gita.
"Itu harta papa dan mama. Saya tidak mau mencampur adukkan bisnis saya dengan harta papa dan mama."
"Kalau begitu biar Anand atau Aryan yang akan bayar model wanita untukmu." Nyonya Gita berkata tegas.
"Apa tante minta dipanggil mama karena ingin ikut campur dengan pekerjaan saya?"
"Apa tante kira saya akan dengan senang hati langsung menerima uang dari mas Aryan atau mas Anand?" Tara mulai berani menjawab tegas.
"Bukan begitu maksud mama! Mama hanya tidak suka kamu dekat-dekat dengan pria lain, terutama dengan Gala."
"Memangnya ada apa dengan Gala?"
"Dia menyukaimu Tara, apa kamu tidak tahu? Kamu harus jaga jarak dengannya!" Nyonya Gita mulai membeberkan maksudnya yang sebenarnya.
"Tadi membahas model pria, sekarang ganti membahas Gala, padahal Gala bukan model, tante."
"Apa kamu tidak memikirkan nama baik keluarga Maheswari dan Cakra Wangsa?"
"Kamu tidak bisa seenak kamu sendiri, Tara!" Nyonya Gita tidak bisa berkata lembut lagi.
"Oh, jadi ini karena rumor yang muncul gara-gara foto kemarin. Gala adalah bodyguard, teman dan sekaligus saudara saya. Banyak hal yang telah dilakukan Gala untuk saya. Tidak mungkin bagi saya untuk menjaga jarak ataupun menjauhinya." Bantah Tara.
"Tapi sebentar lagi kamu menikah, tidak baik dekat dengan pria lain selain calon suamimu. Orang-orang pasti akan berkata buruk." Nyonya Gita mulai menasehati Tara.
"Apakah Gala bisa disebut pria lain, tante?"
"Dia bukan saudara kandung kamu, Tara! Apa kamu tidak bisa merasakan kalau Gala mencintai kamu?"
"Lalu apa salahnya jika Gala mencintai saya sebagai saudaranya?" Tara tersenyum dalam hati.
"Beda! Tara." Nyonya Gita kekeh dengan pendapatnya.
__ADS_1
"Apa hanya saya yang harus menjaga nama baik Maheswari dan Cakra Wangsa? Sedangkan anak tante tidak harus!" Sinis.
"Jelas-jelas kamu yang tidak bisa menjaga nama baik dan malah berpenampilan seksi dan dikelilingi banyak pria." Nyonya Gita tidak mau kalah.
"Hanya dikelilingi, tante! Tapi saya tidak menjalin hubungan yang lebih. Jika tante tidak suka pekerjaan saya, tante boleh mencari calon menantu yang lain."
"Mas Anand pasti sudah menemukan calon mantu buat tante." Tara menyindir dan memancing kemarahan Nyonya Gita.
"Jelas-jelas cuma kamu calon mantu kami satu-satunya saat ini."
"Bagaimana jika saya punya pacar dan berkencan di hotel?" Pancing Tara.
"Tara! Apa maksud kamu?" Marah.
"Jawab saja, tante!"
"Itu hal yang menjijikkan! Jika benar kamu seperti itu, lebih baik perjodohan dibatalkan." Emosi Nyonya Gita memuncak.
Suara keras Nyonya Gita mengundang perhatian dari para pengunjung lain. Menyadari hal itu, Nyonya Gita pun memelankan suaranya.
"Secepatnya akan kami bicarakan dengan papamu." Nyonya Gita mengambil keputusan dengan tergesa-gesa.
Tara tepuk tangan dengan pelan dan tersenyum.
"Apa maksudmu, Tara? Kamu begitu tidak sopan!" Nyonya Gita marah.
"Akhirnya saya tahu darimana sifat arogan mas Anand diturunkan. Ternyata dari tante."
"Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!" Nyonya Gita tidak sabar.
"Apa tante ingat ketika pertama kali datang ke kediaman Maheswari?" Tanya Tara.
"Katakan saja apa maksudmu!"
"Waktu itu tangan dan kaki saya terluka."
"Bukankah itu karena kesalahanmu sendiri?" Sahut Nyonya Gita.
"Apa? Bukan 'kah kalian baru saja bertemu waktu itu, kenapa berkelahi?"
"Kalau itu silakan tante tanyakan sendiri pada mas Anand. Saya malas jika mengingatnya, terlalu sakit rasanya." Jawab Tara getir.
"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?"
"Sabar, tante. Masih ada hal lain lagi yang belum tante dan om ketahui."
"Apa lagi yang kamu sembunyikan?" Sinis.
"Bukan saya yang menyembunyikan kebenaran, tante. Tapi anak tante yang tersayang, mas Anand."
"Jika tante bisa membatalkan perjodohan karena Tara punya pacar dan berkencan di hotel. Begitu pula saya juga bisa membatalkan perjodohan karena anak tante berkencan di hotel dengan pacarnya." Tara sedikit mengungkap kisah cinta Anand dan Indi.
"Apa maksudmu? Kamu jangan memfitnah!"
"Ha... ha... ha... Dengan tergesa-gesa tante ingin memutuskan perjodohan saat mendengar saya berkencan di hotel. Tapi begitu mendengar anak sendiri yang berkencan di hotel, tante berteriak itu fitnah. Lucu sekali... " Tara tersenyum sinis.
"Kamu begitu kurang ajar. Tunggu tante laporkan pada papamu." Nyonya Gita hendak menelepon.
"Jika tante lapor ke papa, saya tidak akan menjelaskan semuanya tentang mas Anand." Tara mengintimidasi.
"Apa mau kamu? Katakan sekarang!"
"Tante, sebaiknya tante lebih bersabar. Jika tidak mengusik, pasti saya juga tidak mungkin bertindak tidak sopan pada tante."
"Tunggu sebentar, tante. Tara akan kirim buktinya ke tante." Tara membuka galeri foto di ponselnya.
Ting...
Suara ponsel Nyonya Gita berbunyi.
__ADS_1
"Cepat buka tante! Bukankah tadi tante tidak sabar."
"Saya permisi tante, silakan selesaikan sendiri masalah tante dengan mas Anand. Jika ada yang mau dibicarakan, lain kali silakan bicara di depan papa saya." Tara beranjak pergi.
"Satu lagi, mas Aryan juga tahu semua kebenaran tentang mas Anand."
"Tunggu... " Nyonya Lita ingin menghentikan Tara.
"Tenang tante, Tara sudah menyuruh seseorang membayar semua tagihannya. Silakan anda nikmati makan siangnya."
"Bukan itu maksudku! Jangan pergi dulu!" Nyonya Gita masih ingin menahan, namun malu dilihat oleh pengunjung lain.
Tara tidak peduli lagi dengan Nyonya Gita yang sedang marah dan kesal.
Nyonya Gita membuka pesan yang Tara kirim. "Tante, coba tanya ke mas Anand, apa yang dia lakukan setahun yang lalu dengan seorang wanita yang bernama Indi. Ooppss... Tante, pasti kenal Indi 'kan? Atau cuma tante yang pura-pura tidak tahu masalah mas Anand yang diam-diam berpacaran."
Tidak lupa Tara juga mengirim foto ketika Anand di depan pintu kamar hotel dengan seorang wanita.
Nyonya Gita tidak percaya begitu saja dan memutuskan untuk menyelidikinya terlebih dahulu.
Gala mengikuti Tara keluar dari kafe. Untunglah tadi Gala gerak cepat dan sudah membayar tagihan mejanya dan meja Tara. Gala bisa saja meminta tolong Karan untuk mengurusnya karena Karan's Coffee memang milik Karan, teman model mereka. Tapi Gala malas jika gara-gara itu Karan punya kesempatan mendekati Tara.
.........
Tara menunggu Gala di luar kafe.
"Hai, apa saya boleh kenalan dengan nona?" Seorang pria rambut panjang yang bertopi dan berkaca mata hitam menyapa Tara.
"Gala jangan bercanda." Tara memainkan kakinya di lantai karena malas menunggu.
"Ck... Kamu tidak bisa membuatku merasa senang dengan pura-pura tidak mengenaliku." Gala kesal karena Tara tahu penyamarannya.
"Apa kamu ingin aku tidak mengenalimu lagi?" Melirik ke arah Gala.
"Bukan! Bukan begitu maksudku. Aku kira penyamaranku tidak berhasil. Buktinya, kamu selalu mengenaliku."
"Aku sudah hafal wangi parfummu, postur tubuhmu, suaramu dan semuanya. Jadi aku tidak akan salah mengenalimu."
Gala hendak memeluk Tara, namun Tara mengelak dan melangkah mundur.
"Ingat, kamu sekarang orang lain dan ini di tempat umum. Jangan bertindak sembarangan! Bisa aja ada orang yang diam-diam mengambil foto kita." Tara mengingatkan.
"Maaf... Ayo ke mobil dan cari tempat makan lain. Ngomong-ngomong soal tadi, kamu keren sekali, Tara. Kamu tidak takut dengan calon mertua galak."
"Keren! Capek hati yang ada."
"Pantas saja Anand seperti itu, ternyata nurun dari mamanya." Gala bergumam.
"Kamu tadi menguping?" Sahut Tara.
"He... he... Maaf."
Gala dan Tara makan siang di tempat lain. Gala tidak membahas lagi perihal pertemuan tadi. Gala sibuk bercanda dan menghibur Tara.
Tara mengirim pesan pada Aryan. "Selamat siang, mas. Tolong acara lamarannya dibatalkan atau ditunda dulu. Ada masalah yang harus aku selesaikan terlebih dahulu, tapi aku belum bisa cerita sekarang. Tolong ijinkan aku menenangkan diri dan jangan menghubungi aku dulu. Terima kasih atas pengertiannya."
...............
Bagaimana reaksi Aryan selanjutnya?
Apakah Tara akan membatalkan perjodohan?
Jangan lupa ikuti terus ceritanya.
FYI, karakter Tara jadi wanita yang badass atau kuat karena author tidak suka yang menye-menye atau manja.
__ADS_1
Badass adalah kata-kata slang yang berasal dari bahasa Inggris dan memiliki arti sangat keren/keren banget.
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.