Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_kita lakukan


__ADS_3

tak terasa sudah lima hati, dan saat ini Fatin sedang berada di rumah sakit untuk melihat hasil dari kecocokan DNA.


dokter senior itu menghampiri Fatin dan menunjukkan hasil dari laboratorium dan mengatakan jika hasil tes itu tak memiliki kecocokan.


sebenarnya Fatin merasa sedih, pasalnya kondisi Aliya makin buruk, tapi dia tak bisa melakukan apapun.


dia langsung duduk di ruangan milik suaminya, pasalnya tadi Mahi berpesan untuk tak pulang dulu setelah selesai.


perawat Dita memberikan air dingin pada Fatin, "loh... kemana perawat Aline, bukankah dia asisten utama suamiku?"


"ah itu mbak, perawat Aline di pindahkan ke ruang UGD karena di sana membutuhkan perawat tambahan," jawab perawat Dita.


"baiklah terima kasih ya mbak," jawab Fatin yang memilih membaca buku.


Fatin memang sudah tak mengajar di kampus, tapi dia masih mengajar di yayasan.


sudah pukul sebelas siang, tapi Fatin masih menunggu, dia sudah tak tahan lagi, pasalnya dia harus mulai mengajar pukul satu siang di pondok.


dia pun bersiap untuk pergi, dia menitipkan sebuah surat pada perawat Dita.


dia pun bergegas pergi, tapi saat akan sampai di lorong rumah sakit, dia melihat sosok suaminya itu sedang memeluk ibu dari Aliya.


"kenapa aku harus melihat ini," gumam Fatin.


Nasya nampak begitu menikmati pelukan itu, bahkan tak melepaskan suaminya itu.


Fatin pun memilih untuk lewat lorong yang lain, Mahi ingin mengejar istrinya tapi Nasya tak melepaskan dirinya


"ibu Aliya, saya mohon jangan seperti ini, anda harus berdoa untuk kesembuhan dari Aliya, jangan frustasi seperti ini," kata Mahi mendorong pelan tubuh wanita itu.


Nasya pun .sedih tak bisa mengontrol dirinya, sedang Fatin memutuskan pulang.


terlebih dia tak ingin melihat adegan yang lebih menyakiti hatinya, dia memilih baik taksi.

__ADS_1


sesampainya di kawasan yayasan, Fatin langsung menuju ke sekolah madrasah Aliyah.


pasalnya dia harus segera mengajar, lagi-lagi Fatin melupakan kesehatan dirinya lagi.


Mahi pun segera ke ruangannya, tapi perawat Dita menghadangnya, "maaf dokter, tadi nyonya sudah pulang dan menitipkan ini, nyonya sepertinya kesepian, terlebih nyonya terlalu lama menunggu anda."


"ya aku tau itu," jawab Mahi.


tapi perawat Dila malah melihat ada bekas lipstik di kemeja Mahi, "maaf dokter, kemeja anda kotor, jika perlu saya bisa mengambilkan baju ganti," kata perawat Dita.


Mahi pun melihat kemejanya, dia pun terlihat marah, ternyata tadi yang dia lihat ternyata istrinya.


"sialan, aku bawa baju ganti," jawab Mahi yang terlihat marah


dia langsung Menganti bajunya, ternyata ibu dari Aliya itu sengaja melakukan ini.


dia tak bisa marah terlebih wanita itu nampak lemah, "kau bodoh Mahi!" teriaknya ke dirinya sendiri.


Fatin pun melewati hati ini dengan biasa, tanpa di duga ada beberapa teman sekolahnya yang datang


"waalaikum salam ibu lurah dan ibu sekdes," jawab Fatin yang langsung memeluk keduanya.


"aduh ibu guru begitu sibuk, hingga pesan dari kami saja tidak di baca, padahal kamu ingin mengadakan acara reuni loh," kata Vivin yang sekarang menjadi seorang istri dari seorang lurah.


"boleh, mau dimana dan kapan,kalau bisa saat libur saja pasti semua bisa datang," jawab Fatin.


"awalnya ingin menyewa tuang aula yayasan, tapi kata ustadz Ilyas tidak bisa karena kebetulan ada acara," jawab Alena sedih.


"bagaimana kalau di rumahku, tapi ya tidak besar juga sih, atau kita cari hotel saja," usul Fatin.


"kalau di rumah mu parkirannya nantinyang susah, soalnya kita akan menghabiskan jalan yayasan, dan kamu tau sendiri ustadz Yusuf saat marah," kata Vivin mengingatkan.


"tenang saja, nanti parkir di lapangan, lagi pula rumah ku juga masih di area pondok kok," jawab Fatin.

__ADS_1


"boleh tuh, jadi merepotkan, oh ya nanti kita undang ustadz Ahmad dan umi mu ya, mereka adalah guru-guru idaman semua murid, belum lagi ustadz Ilham dan ustadz Ilyas juga," jawab Alena.


"boleh saja, biar nanti aku yang bicara pada orang tuaku, sekarang makan dulu yuk," ajak Fatin.


mereka bertiga pun makan bersama sekaligus mengingat masa sekolah dulu, tak lupa Fatin juga memesan beberapa makanan kesukaan mereka.


Mahi sampai di rumah dan tak mendapati istrinya, dia pun memutuskan untuk kerumah mertuanya.


dia ingin bertanya apa istrinya di sana, tapi dia malah meligar Hasan yang sedang bermain dengan beberapa santri.


"main apa Gus?" tanya mahi.


"ayo ikut mas, main voli lumayan lah untuk cari keringat, dari pada bengong gak jelas, ayo mas," panggil Hasan.


"boleh juga," jawab Mahi.


akhirnya Keduanya pun mulai bermain bersama, dan Mahi sedikit melupakan pikirannya yang sedang kalut.


Mahi pun terlihat begitu bersemangat, begitupun dengan Hasan dari jauh Fatin dan dua temannya berjalan berkeliling.


mereka sempat melihat para pemuda yang bermain voli dan sepak bola, tak butuh waktu lama ketika para wanita itu sampai di rumah ustadz Ahmad.


sesampainya di rumah, ketiganya langsung melapor pada Dila, Fatin tanpa sadar menangis di pelukan sang umi.


"aduh kenapa ini?" bingung Dila.


"aku rindu umi ..." tangis Fatin.


sedang kedua sahabatnya itu bingung, kenapa gadis itu kambuh lagi.


"aduh malu atuh neng, itu sama temen-temennya, sudah nanti kalau mau curhat, sekarang buat minum ya," kata Dila tertawa.


"baik umi, mereka mau bilang sesuatu tuh," jawab Fatin.

__ADS_1


Dila mengangguk, Vivin dan Alena langsung mencium tangan Dila, dan menjelaskan tentang keperluan mereka datang ke rumah ustadz Ahmad.


Dila menyambut keinginan mereka dengan sangat terbuka, dan dia juga setuju untuk datang, kebetulan jadwalnya dan ustadz Ahmad juga sedang kosong.


__ADS_2