
pak Yono masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya, seorang ustadz yang terkenal baik dalam agama.
mau melamar Dila, meski tau masa lalu Dila yang cukup kelam, bahkan pria itu begitu tulus.
"apa nak ustadz yakin, Dila itu janda dua kali, dan tak bisa di bandingkan dengan nak ustadz," kata pak Yono
"pak, saya mohon, saya juga pernah menikah pak, saya tau segalanya, tapi bagi saya Dila itu gadis yang sangat baik, dan jarang bisa menemukan gadis yang baik seperti dirinya," jawab ustadz Ahmad.
"tapi nak, kamu pasti pernah dengar jika Dila di sebut pembawa sial, aku tak ingin kamu juga mengalami hal itu, dan menyalahkan putri bapak, karna cukup Dila terluka dengan yang terakhir kali," kata pak Yono.
"jika bapak takut saya melukai Dila, bapak bisa langsung membunuh saya jika membuat putri bapak menangis," kata ustadz Ahmad menjaminkan nyamannya.
pak Yono pun melihat ketulusan ustadz itu, Arif pun mengangguk toh dia juga sudah tau dengan permintaan ustadz Ahmad dari Dila.
"tapi jika nak ustadz serius, nikahi Dila saat ini juga, karena bapak tak butuh janji," kata pak Yono.
"baik pak, saya akan menikahi Dila, tapi harus di saksikan oleh umi dan juga keluarga saya," jawab ustadz Ahmad.
"baiklah, kalau begitu, biar nanti kita lakukan pernikahan dengan di lakukan zoom, agar umi dan beberapa pengurus pondok tau jika ustadz sudah menikah secara agama, baru kita ajukan surat-surat agar di akui secara sah secara negara," kata ustadz Yusuf
"baiklah, bapak yang akan jadi wali untuk Dila," jawab pak Yono.
Arif terkejut, pasalnya selama ini perwalian Dila selalu di berikan pada saudara-saudara laki-laki Dila, dan kali ini pak Yono langsung yang menikahkan.
akhirnya Lela menyiapkan semua untuk acara pernikahan mendadak itu, sedang para pria melayat tetangga yang baru meninggal dunia.
umi Chasanah dan Dila awalnya kaget, tapi Dila setuju terlebih pak Yono yang akan menjadi walinya.
"ada apa Dila? kenapa kamu begitu sedih," tanya umi Chasanah.
"Dila bukan sedih umi, Dila terharu karena dua pernikahan Dila, bapak tak pernah mau menjadi wali Dila, tapi kali ini beliau sendiri yang ingin jadi wali untuk pernikahan ini," jawab Dila terisak.
umi Chasanah tak mengira hal seperti itu, berarti ustadz Ahmad berhasil meluluhkan hati seorang ayah demi putrinya.
setelah acara pemakaman selesai, ustadz Ahmad sempat menjadi imam di Mushola terdekat.
bahkan semua warga heran karena tak pernah melihat atau betemu pria dengan bacaan sholat yang begitu indah ini.
setelah sholat Magrib, beberapa tetangga di undang untuk kenduri di rumah pak Yono.
bahkan makanan saja tadi beli mendadak untuk acara kirim doa sebelum pernikahan.
semua pengurus dan beberapa perwakilan dari penghuni dan santri di yayasan berkumpul di aula.
mereka akan menyaksikan acara pernikahan secara online, karena keterbatasan waktu dan jarak.
Dila di apit oleh umi Chasanah dan Anisa. sedang ustadz Ilham menjadi operator.
terlihat di rumah Dila masih di lakukan pembacaan Al-Qur'an oleh ustadz Yusuf.
setelah itu, ustadz Ahmad dan bapak Yono berjabat tangan, dan di bawah kiai di daerah itu.
akhirnya ustadz Ahmad mengucapkan ijab qobul dengan mantap.
hingga terdengar kata sah mengema, dan semua orang mengucapkan syukur.
__ADS_1
tapi tidak dengan dua wanita yang kini benar-benar sudah tak memiliki kesempatan untuk menjadi nyonya dari ustadz tampan itu.
Dila pun terharu karena pak Yono sendiri yang menikahkan Dila bukan di wakilkan pada kedua kakaknya.
umi Chasanah memakaikan cincin pada Dila, sedang ustadz Ahmad bersalaman bahkan sempat berpelukan dengan sang mertua.
"titip Dila ya nak ustadz, bapak tak tau usia bapak, jadi tolong bimbing dia, jika salah tegur dia tapi jangan pernah mengangkat tangan mu padanya," kata pak Yono sambil berlinang air mata.
"inggeh pak, Ahmad janji akan menuruti semua pesan bapak, dan ada berdo'a semoga bapak panjang umur sampai bisa melihat kebahagiaan Dila," jawab ustadz Ahmad.
pernikahan Dila di saksikan oleh banyak orang bahkan perangkat desa.
dan besok pak lurah berjanji akan segera mengurus data untuk bisa mengesahkan pernikahan itu.
malam ini ketiga orang itu menginap di rumah Dila, karena akan beresiko jika kembali malam.
malam ini Dila menyandang status baru, seorang istri sekaligus ibu dari seorang putri yang begitu dia sayangi.
ia pun terlelap sambil memeluk putri kecilnya Fatin, dan kini dia tersenyum melihat Andri yang pergi dengan damai.
dan dia sudah memiliki pengganti yang baru, dan Dila mengendong putri kecilnya saat melihat Andri.
tak lama sebuah tangan mengulur di depan dirinya, ternyata ustadz Ahmad yang mengajaknya berjalan bersama.
"terima kasih Dila," kata pria itu.
bahkan wanita yang pernah di temui dalam mimpi oleh Dila juga berterima kasih dan pergi.
Dila pun terbangun dari tidurnya, ia pun memilih untuk sholat malam, tanpa di duga ustadz Ahmad melakukan hal sama meski berpisah jauh.
"ya Allah semoga ini h
karena tak bisa tidur, ustadz Ahmad pun memutuskan untuk keluar kamar untuk ke kamar mandi.
tak sengaja dia melihat pak Yono sedang duduk di dapur paling belakang, ustadz Ahmad menghampiri pria itu.
"bapak," panggil ustadz Ahmad.
pak Yono terjatuh dari duduknya yang sedang bersandar, ustadz Ahmad pun kaget dan langsung berteriak memanggil semua orang, "mas Arif, Yusuf, pak Rusdy, tolong saya!!!"
semua pun kaget dan langsung keluar, mereka pun syok melihat pak Yono yang sudah pingsan.
"segera siapkan mobil, kita bawa ke rumah sakit," panik ustadz Ahmad.
kondisi pak Yono begitu lemah, pria itu pun segera dapat perawatan di UGD.
Rusdy menghubungi Arumi, dan meminta wanita itu segera pulang karena takut jika pak Yono kenapa-kenapa.
dokter keluar dari ruang UGD dan menemui semua orang, "bagaimana keadaan mertua saya dokter?"
"maaf pak, kondisi mertua Anda sangat kritis, dia terkena serangan jantung, apa ada yang bernama Dila, karena pasien terus memanggilnya," kata dokter.
"sedang dalam perjalanan dokter, insyaallah dua jam lagi sampai," jawab Rusdy.
Dila menyetir mobil dengan kecepatan penuh terlebih jalanan kosong.
__ADS_1
Arumi di kursi penumpang menjaga dua balita, bagaimana pun Dila tak bisa meninggalkan Fatin karena sekarang balita itu tanggung jawabnya.
tanpa di duga hanya dalam satu setengah jam, mobil Dila sampai di rumah sakit.
Dila keluar mengendong Fatin yang masih tertidur dan mengunakan jaket karena dingin.
"assalamualaikum... bagaimana keadaan bapak mas?" tanya Dila yang baru datang.
ustadz Ahmad mengambil putrinya dari gendongan Dila, dan tak terduga Dila mengambil tangan ustadz Ahmad dan menciumnya.
"sekarang kamu masuk dengan ustadz Ahmad, dan biarkan gadis kecil ini ikut pakdenya Dulu," kata Arif mengendong Fatin yang masih tidur.
Dila dan ustadz Ahmad perlahan masuk kedalam UGD, pak Yono nampak begitu lemah.
Dila mengambil tangan ayahnya dan menciumnya, "bapak, putra estri panjenengan sampun rawuh, bapak wungu nggih.( anak perempuan bapak sudah datang, bapak bangun ya.)" kata ustadz Ahmad berbisik di telinga pak Yono.
pria itu pun membuka matanya dan tersenyum melihat Dila, "nduk, awak mu teko, bapak arep pamit ya nduk, bapak njaluk sepuro lek onok salah, titip ibuk mu Nang Arif ya, le... nak Ahmad, titip Dila ya le... (nak, kamu datang, bapak mau pamit ya nak, bapak minta maaf jika ada salah, titip ibumu ke mas Arif ya. le.. nak Ahmad, titip Dila ya nak..)" suara lemah pak Yono yang menyatukan tangan Keduanya.
tiba-tiba pak Yono mengalami sakaratul maut, Dila langsung memencet tombol agar dokter jaga datang.
sedang ustadz Ahmad langsung membimbing pak Yono untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
perawat dan dokter datang, Arif kaget melihat paniknya para tim medis, tanpa sadar air matanya menetes.
"bapak, Arif janji akan menjaga ibu, jadi bapak pergi dengan tenang ya, Dila juga sudah memiliki suami yang menjaganya," kata Arif sesenggukan sambil mengendong Fatin.
benar saja ustadz Ahmad merangkul Dila yang nampak syok, dokter keluar mengiringi Keduanya.
"bagaimana dengan keadaan bapak kami dokter?" tanya Arumi.
"maaf mbak, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain, bapak anda menghembuskan nafas terakhirnya pukul lima lebih lima belas menit," jawab dokter.
Dila pun pingsan, dan ustadz Ahmad langsung menangkap dan menggendongnya.
"Yusuf tolong urus jebazah mertua mas ya, mas mau mengantar mbak ipar mu untuk mendapatkan pemeriksaan," kata ustadz Ahmad.
"baik mas, mari mas Arif, dan mas Rusdy tolong ajak mbak Arumi pulang ya," kata ustadz Yusuf.
"baiklah, kemarikan Fatin, biar aku mengajaknya pulang," kata Rusdy.
mereka pun tak mengizinkan pihak rumah sakit melakukan semua hal yang di perlukan.
Arif memilih untuk mengurus jenazah sang bapak di rumah saja, akhirnya Rusdy sampai di rumah keluarga Dila.
nampak ramai karena Zainal datang bersama keluarganya setelah dapat telpon dari Lela.
"mas Rusdy, bagaimana kabar suami saya?" tanya Bu Wati
"maaf Bu, bapak sudah berpulang saat Dila tadi datang bersama istri saya, mungkin Sebentar lagi akan di antar dengan mobil jenazah," kata Rusdy.
"ya Allah bapak!!! kenapa meninggalkan ibu!!! kamu bilang akan menikahkan Dila sebelum meninggal dunia, tapi tak secepat ini!!!" tangis Bu Wati sambil berteriak-teriak.
Fatin terbangun, dan Lela mengajak Arumi dan Fatin ke rumah paklek mereka untuk tinggal agar tak sawanen.
Rusdy dan Zainal mengurus semuanya, tak lama siaran kematian di umumkan dan para warga berbondong-bondong datang melayat.
__ADS_1
mobil jenazah datang dan nampak ustadz Ahmad dan Dila di dalam mobil menemani pak Yono untuk terakhir kalinya.
Zainal semalam di hubungi tentang pernikahan Dila, tapi tak mengira jika suami Dila adalah seorang ustadz yang cukup di kenal.