
semua keluarga berdoa dengan sangat sedih, karena ini baru pertama kali, ustadz Ahmad yang mengalami serangan jantung.
"maafkan Husna umi..." kata Husna di kaki Dila.
tanpa di duga Dila memilih pergi dan menjauh dari Husna, dia tak bisa melihat Husna, terlebih semua terjadi karena Husna yang ketahuan melakukan kesalahan.
Husna ingin mendekati Dila, tapi Hasan menahan adiknya itu, "sudah dek, biarkan umi sendiri dulu, kita bicara nanti ya,"
"tapi Semuanya karena Husna kak, Husna salah karena terpengaruh oleh teman-teman Husna, seharusnya Husna tak percaya dengan Laili," tangis Husna.
"sudah... umi hanya sedih, aku yakin jika semua akan baik-baik saja," jawab Hasan.
Fatin masih terus memanjatkan doa, dia kemudian menghampiri Dila dan memeluk sang umi.
Husain memanggil Abdul dan Haris, karena sebelum ustadz Ahmad sepenuhnya tak sadar, sempat memanggil nama kedua pemuda itu.
Mahi keluar dan menghampiri keluarga ustadz Ahmad, "maaf keluarga pasien?"
"bagaimana keadaan suami ku nak?" tanya Dila dengan begitu sedih.
"om sudah melewati masa kritisnya Tante, beruntung om tidak terkena serangan stroke setelah serangan jantung tadi, tapi saya mohon apapun yang beliau katakan dan inginkan jangan menolaknya, karena beban pikiran akan memperburuk kondisinya," kata Mahi menepuk bahu Dila.
"terima kasih Mahi," kata Dila yang sedikit bisa bernafas lega.
"oh ya Tante, apa ada yang bernama Haris dan Abdul, tadi om mencari mereka, dan sepertinya ingin mengatakan sesuatu," kata Mahi.
"kami dokter," jawab kedua pria itu.
Mahi pun mengajaknya masuk, tapi sebelum itu dia melihat kearah Fatin, "mbak Fatin jangan sedih, aku akan melakukan apapun karena aku tak ingin mbak dan Tante sedih,"
"terima kasih Mahi..." kata Fatin tersenyum di depan Mahi.
ketiga pria itu pun masuk kedalam ruang ICU, terlihat ustadz Ahmad sedang terbaring di ranjang rumah sakit.
begitu banyak alat yang terpasang di tubuh pria yang biasanya tersenyum lebar dan sangat mudah bergaul itu.
"ustadz..." panggil Keduanya dan menyalami pria itu bergantian.
"Haris ... Abdul... menikah dengan putriku..." lirih ustadz Ahmad.
Mahi kaget bukan kepalang mendengar perkataan pria itu, pasalnya dia tak mengira jika ustadz Ahmad akan mengatakan hal seperti itu.
"sudah om, lebih baik sekarang om istirahat dulu, nanti bisa di lanjutkan saja," kata Mahi yang sedikit merasa kesal.
tapi kesalahannya yang hanya bisa memendamnya dari dulu, perasaan yang tumbuh setelah Fatin sering bertemu dan bermain dengannya.
keduanya keluar dengan wajah yang tak bisa tertebak, Dila pun menghampiri keduanya.
"ada masalah apa?" tanya Dila.
__ADS_1
"ustadz ingin kami menikah dengan putrinya, tapi beliau tak menjelaskan dengan siapa?" jawab Abdul.
"Abdul dengan Fatin dan Haris menikahi Husna," jawab ustadz Yusuf.
"tidak bisa!" kata Husna dengan lantang.
"dek, tolong kendalikan dirimu, ini rumah sakit, Abi juga sedang tak sehat," kata Hasan pada Husna.
"tidak mau, aku mencintai mas Abdul bukan mas Haris, aku tak mau jika harus menikahi pria yang tak aku cintai," kata Husna jujur.
"aku bersedia..." lirih Fatin yang meneteskan air mata.
"neng jahat, setelah tau semuanya!" kata Husna yang makin menjadi.
Hasan tak bisa lagi menahan adiknya itu, akhirnya Husna pun di seret keluar dari sana.
Hasan tak mengerti bagaimana bisa Husna begitu kasar dan tak bisa di omongi dengan baik-baik.
"ya Allah aku pasrahkan Semuanya padamu, aku yakin jika semua takdir yang Engkau tulis adalah yang terbaik ..." batin Fatin yang nampak lemah.
Husain pun menahan tubuh Fatin yang juga nampak limbung, Haris merasa aneh melihat Fatin.
"kenapa bukankah kamu senang bisa berjodoh dengan pria yang kamu cintai, tapi air mata itu dan wajah sedih itu?" batin Haris.
"sudah tolong jangan di bahas dulu, Husain bawa neng Fatin pulang, biar umi yang di sini, besok kamu datang membawa baju ganti untuk umi ya," perintah Dila
Husna dan Fatin tengelam dalam kesedihannya masing-masing, sesampainya di rumah, Keduanya pun langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya.
Fatin hanya bisa mengadu pada yang Maha Pencipta, sedang Husna mengacak-acak kamarnya.
dia tak mengira Fatin yang selalu menjadi panutannya bisa melakukan ini, dia berani merebut pria yang adiknya sukai, meski Husna sudah mengakui di depan semua orang.
"neng Fatin jahat, aku benci neng Fatin!!!" teriak Husna.
Hasan tak habis pikir, bagaimana dia harus menjelaskan semua pada Abi-nya, terlebih kondisi dari ustadz Ahmad yang belum sepenuhnya sehat.
"apa yang kamu pikirkan Hasan?" tanya Husain pada kakaknya itu.
"aku bingung, kenapa Abi harus meminta hal itu, dan om Yusuf memang tau karena Abi selalu meminta saran padanya, tapi semua akan terluka," kata Hasan frustasi.
"tidak hanya keluarga, kamu tak lihat tatapan Mahi terhadap neng Fatin, dia juga sepertinya sangat terluka saat tau," kata Husain menambahkan.
"kenapa Abi harus mengatakan ini," kata Hasan lirih.
keesokan harinya, semua tak ada tak keluar kamar, Hasan sudah memanggil Fatin dan Husna, tapi tak ada Jawaban.
Husain sudah menyiapkan semua yang akan dia bawa, Fatin akhirnya membuka pintu.
"neng sarapan dulu," panggil Hasan.
__ADS_1
"tidak perlu dek, tolong jaga Husna, neng berangkat mengajar dulu," pamit Fatin yang memakai kaca mata.
"jika begitu, tolong bawa ini ya neng, nanti tolong di makan, jangan sampai neng Fatin sakit, pasti Abi akan sedih saat tau," kata Husain memberikan kotak bekal
"terima kasih ya dek, neng pamit dulu," jawab Fatin yang bergegas pergi.
Husna keluar dengan mata sembab, tapi gadis itu tak mengenakan seragam sekolah.
"kamu tak sekolah Husna?" tanya Hasan.
"berangkat siang mas, mana neng Fatin, aku ingin minta maaf, karena aku kemarin sangat keterlaluan, karena aku sadar ini keinginan dari Abi," kata Husna yang mulai melunak.
"baiklah sekarang mas Hasan temani di rumah ya, nanti pulang sekolah kita temui Abi untuk menyetujui Semuanya," kata Hasan.
"iya mas," jawab Husna.
Fatin meminta semua pihak yang kemarin menyaksikan kemarahan dari ustadz Ahmad dan Husna berkumpul.
Laili dan pria yang semalam memfitnah Husna di kumpulkan.
ustadz Ilyas membeberkan bukti tentang semua pesan yang di tujukan untuk Husna dari Laili.
bahkan beberapa orang menjadi saksi untuk Husna jika gadis itu tak bersalah, dan akhirnya ustadz Ilyas mengambil keputusan besar.
ustadz Ilyas tau jika Fatin tak baik-baik saja, terlihat dari raut wajahnya.
"kamu sakit nak?" tanya ustadz Ilyas
"tidak ustadz, hanya kurang tidur, terima kasih sudah membersihkan nama Husna, saya berterima kasih sekali, karena saya tak ingin adik saya kesulitan karena fitnah itu," kata Fatin mencoba tersenyum.
"ya Allah demi adik mu kamu rela sampai sejauh ini, semoga Allah memberikan mu kebahagiaan dan semua keinginan mu di mudahkan," kata ustadz Ilyas.
"terima kasih ustadz, kalau begitu saya pamit karena harus mengajar, permisi ..." pamit Fatin.
Fatin pun segera masuk kedalam kelas, Fatin menjalankan tugasnya dengan sangat baik.
karena Fatin tak ingin masalah pribadinya mempengaruhi proses belajar mengajarnya di madrasah.
setelah sholat dhuhur, Fatin membuka kotak bekal itu dan mencoba memakan yang di siapkan Husain.
tapi baru juga menggigitnya, Fatin merasa mual, dan menutupnya lagi.
dia pun memesan taksi online, dan sesampainya di kampus, dia pun segera menuju ke ruang kelas.
"Gazali, tolong bagikan hasil ulangan kalian kemarin lusa, dan saya sudah mengirimkan tugas yang selanjutnya, tolong di kerjakan, jika ada yang tidak tau bisa di tanyakan," kata Fatin dengan wajah pucat.
"neng Fatin sakit, tolong jaga kesehatan mu," kata seorang mahasiswi.
"terima kasih, saya hanya kurang tidur saja, sudah tolong lanjutkan saja ya," kata Fatin masih berusaha tersenyum.
__ADS_1