
Makan di warteg pakai sambal dan ikan asin
Tidak lupa dengan es teh manisnya
Mohon berikan dukungan pada novel Pria Idaman Lain
Tambahkan favorit, vote, jempol dan hadiahnya
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Seorang pria yang menangisi wanitanya, bukanlah pria yang lemah dan menyedihkan. Gala menangis karena cintanya yang besar pada Tara. Jika Gala tidak tulus mencintai Tara, tidak mungkin dia masih akan berjuang untuk kebahagiaan Tara.
Semalaman Gala tidak bisa memejamkan matanya, hatinya hancur karena cintanya yang lepas dari genggaman. Rasanya sakit untuk melepaskan, tetapi kadang-kadang lebih menyakitkan untuk bertahan. Gala terus berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku tahu caranya bagaimana harus berlari sejauh mungkin, tapi yang tersulit adalah berpikir untuk meninggalkanmu, Tara."
"Diriku adalah sepatu kaca yang tengah berjalan di atas paku, merasa amat perih ketika harus relakan kamu dengan pria lain. Harapanku untuk sedikit memilikimu juga telah pupus."
"Maafkan aku, Tara. Aku akan mengingkari janjiku untuk selalu ada sebagai cinta keduamu."
Gala tidak bernafsu untuk sarapan pagi, bahkan kini dia enggan berangkat kerja. Hari ini dia menyerahkan pekerjaannya pada bawahannya. Masih jam 6.30 pagi, Gala mengirim pesan pada Aryan.
"Mas Aryan, temui aku jam 09.00 di resto Morning Coffee. Ada hal penting yang harus kita bicarakan berdua saja, ini menyangkut Tara." Gala harus berbicara empat mata dengan Aryan.
Aryan telah membaca pesan dari Gala. Rasa khawatir menghantui Aryan, takut jika Gala akan merebut Tara darinya.
"Baiklah, aku pasti akan ke sana karena ini menyangkut Tara." Balas Aryan.
Gala duduk di sudut kafe meja nomor 13. Gala tiba terlebih dahulu lalu tidak lupa segera mengabari Aryan. Sembari menunggu Gala memesan 2 cangkir cappucino, 1 sandwich atau burrito daging dengan sayur dan tidak lupa ditambah french fries. Aryan datang tepat saat 2 cangkir cappucino sedang dihidangkan.
"Apa kamu sudah lama menunggu?" Sapa Aryan.
"Belum lama. Aku sudah memesankan cappucino, mungkin kamu mau tambah pesan sarapan?" Gala menawarkan.
"Okay, aku pesan sandwich tuna saja kalau gitu." Aryan pun juga memesan sarapan.
"Tumben sekali kamu ingin bertemu denganku, bahkan hanya berdua." Aryan penasaran.
"Mau tidak mau aku harus bicara berdua denganmu, karena ini penting dan menyangkut Tara." Terang Gala.
__ADS_1
"Ya, apapun yang menyangkut Tara pasti adalah hal penting bagiku maupun bagimu. Bukan begitu, Gala?" Aryan melontarkan pertanyaan retoris pada Gala.
"Benar, Tara segalanya bagiku." Tegas Gala.
Deg...
Aryan merasa Gala akan membicarakan hal yang kurang bagus baginya.
"Bagaimana jika Tara bukanlah gadis suci lagi? Apa kamu akan tetap menikahinya?"
Deg... deg... deg...
Raut wajah Aryan berubah menunjukkan kekecewaan.
"Bagaimana jika akulah yang mengambil kegadisan Tara?"
Aryan hanya terdiam, mencerna semua kalimat dan kenyataan pahit yang menghampirinya. Dia masih mengingat ucapan Tara sebelum pertunangan.
"Nafsu dan cinta itu beda tipis, mas. Kalau cinta harusnya bisa menahan nafsu sampai saatnya tiba. Tapi kalau cuma nafsu, pasti tidak akan bisa menahan diri."
Aryan yakin kalau Gala tulus mencintai Tara, bukan karena sekedar nafsu. Rasanya dia tidak bisa mempercayai apa yang Gala katakan.
Pelayanan pun datang menghidangkan sarapan yang tadi mereka pesan.
Aryan menyesap kopinya dan mulai sedikit menyantap sandwichnya. Pagi tadi dia memang belum sempat sarapan, saat ini dia juga butuh tenaga untuk menghadapi kenyataan pahit ini.
"Tara telah memilihku dan aku sudah melamarnya, aku tetap pada pendirianku. Aku akan tetap menikahi Tara." Ucap Aryan, tiada kemarahan dan tiada pukulan membabi buta.
Gala heran dengan sikap Aryan yang begitu tenang menghadapi ini semua. Namun saat ini Gala masih menyimpan rasa heran dan kagumnya pada Aryan.
"Secepat itu kamu mengambil keputusan! Apa kamu tidak kecewa pada aku dan Tara?" Tanya Gala.
"Aku kecewa dan marah, tapi aku lebih mencintainya. Kekecewaan dan amarah tidak akan membuat dia bertahan di sisiku." Jawab Aryan tenang.
"Apa kamu benar-benar tidak mempunyai wanita lain. Bukankah banyak teman kuliah dan teman kerja wanita yang mendekatimu?"
"Aku hanya mencintai Tara sejak kami bertemu saat Tara masih SMP. Tidak ada yang bisa membuat hatiku tergerak selain Tara. Sebagai bodyguardnya, harusnya kamu sudah tahu itu." Papar Aryan.
"Cintamu buta. Bagaimana jika Tara masih ingin bersamaku meskipun kalian sudah menikah?"
"Aku pastikan tidak ada waktu bagi Tara untuk memikirkan pria lain selain suaminya. Kalau kamu tidak mendekatinya lagi setelah kami menikah, pasti Tara akan tetap selalu bersamaku. Aku yakin kamu tidak akan merusak Tara." Jelas Aryan.
Sejenak keheningan menyergap. Gala dan Aryan sibuk dengan pikiran dan sarapannya masing-masing.
__ADS_1
Gala pov: Tidak salah jika aku mengikhlaskan dan mempercayakan Tara pada mas Aryan. Dia memang yang terbaik bagi Tara, bahkan dia rela menunggu bertahun-tahun tanpa sedikitpun berusaha memacari Tara atau mengambil keuntungan dari Tara.
"Aku ikhlaskan Tara bersamamu. Aku percaya kamu akan melakukan yang terbaik untuk Tara dan akan menjaganya dengan baik, bahkan lebih daripada aku." Tiba-tiba Gala bicara memecah keheningan.
"Maaf karena aku sudah menyelidiki kehidupan pribadimu. Aku tahu kamu tidak pernah sedikit pun berusaha mengkhianati Tara, meskipun kesempatan sering kali datang." Imbuh Gala.
"Aku pun tahu Tara dekat denganmu. Tapi aku tidak menyangka jika kamu sendiri yang telah mengambil kegadisan Tara. Padahal selama ini aku sangat percaya pada kalian berdua." Jelas Aryan.
"Mas Aryan percaya pada kami berdua, tapi perasaan cinta membuatku khilaf dan ingin memilikinya juga."
"Apa kalian masih melakukan hubungan terlarang seperti yang dilakukan Anand dan pacarnya?" Sahut Aryan.
"Jika iya, apa kamu sanggup menerimanya?"
"Bukankah sudah ku katakan tadi! Aku akan pastikan tidak ada waktu bagi Tara untuk memikirkan pria lain selain suaminya. Kalau kamu tidak mendekatinya lagi setelah kami menikah, pasti Tara akan tetap selalu bersamaku." Tegas Aryan.
"Kamu menerima bekasku." Ledek Gala.
"Tara bukan barang bekas, apa kamu hanya menganggap Tara sebagai barang atau boneka?"
"Tentu tidak! Tara adalah cintaku dan hidupku. Dia telah memilihmu sebagai calon suaminya, maka aku akan mengikhlaskan dia bersamamu. Tolong jaga dia baik-baik, kalau tidak! Aku akan merebutnya kembali." Tegas Gala.
"Dan sebaiknya mulai saat ini juga, kamu harus lebih intens mendampinginya. Perlahan aku akan sedikit menjauh dari Tara." Gala mengingatkan.
"Baiklah, mas Aryan harus membayar billnya, anggap saja ini tanda terima kasih mas Aryan karena aku melepaskan Tara untukmu." Gala pergi meninggalkan Aryan.
Aryan pov: Aku yang ceroboh dan tidak menjaga Tara dengan baik. Aku terlalu mempercayai bodyguard yang dianggapnya sebagai saudara. Aku pastikan kesalahan itu tak akan terulang kembali.
Gala pov: Aku sungguh tak menyangka sebesar itu mas Aryan mencintai Tara. Aku ikhlas dan tenang jika Tara bersamanya.
Lagu sedih terlantun mengiringi kepergian Gala.
"Aku titipkan dia. Lanjutkan perjuanganku 'tuknya. Bahagiakan dia, kau sayangi dia seperti ku menyayanginya. 'Kan ku ikhlaskan dia. Tak pantas ku bersanding dengannya. 'Kan ku terima dengan lapang dada. Aku bukan jodohnya."
.................
Apakah benar kegadisan Tara telah diambil oleh Gala?
Bagaimanakah Aryan akan bersikap pada Tara?
Tunggu episode selanjutnya 👍
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.
__ADS_1