
setelah sampai rumah, beberapa santri membantu membawa belanjaan masuk kedalam ruang khusus untuk persediaan.
sedang Hasan membantu Fatin membawa belanja ke rumah wanita itu.
ternyata Mahi mengabarkan jika tak bisa pulang karena ada operasi dadakan.
Fatin pun tak terkejut dan hanya bisa tersenyum karena itu tugas suaminya menyelamatkan pasien.
"udah neng, ada yang mau di bantu lagi?" tanya Hasan.
"tidak usah dek, sekarang kamu istirahat saja, toh habis Magrib ada ngaji dengan ustadz Ilham bukan," kata Fatin.
"iya mbak, ya sudah kalau begitu aku pamit ya," kata Hasan.
Fatin mengangguk, dia akan membuat kue dan menyembunyikannya.
pasalnya suaminya itu sangat sulit di kasih kejutan, tapi Fatin akan menyimpannya dengan baik kali ini.
dia sudah sibuk membuat kue, dia memilih membuat kue brownies saja agar tidak ketahuan.
dan dia juga membuat puding jeruk kesukaan suaminya, sudah pukul delapan malam, Fatin sedang menunggu Mahi pulang.
tapi tidak ada tanda-tanda pria itu akan pulang, tapi meski begitu Fatin tetap setia menunggunya di ruang tamu.
sedang di rumah sakit, Mahi baru selesai melakukan operasi pemasangan ring.
dia tak mengira akan selama ini meski dia di bantu dokter lain, dia pun bergegas pulang karena sudah sangat terlambat.
"dokter besok kami jadi ke tempat ku ya," kata dokter Ryan.
"baiklah aku dan istri akan menunggu," kata Mahi yang terus melihat jam di tangannya.
sudah pukul sembilan malam dan dia belum juga pulang, Mahi pun mencoba menghubungi Fatin tapi tak di jawab.
"ah... apa istriku yang cantik sudah tidur, uh... aku merasa bersalah sekali karena tak bisa pulang tepat waktu," gumam Mahi.
mobilnya sampai di area yayasan, mobil masuk harus di periksa terlebih dahulu meski itu mobil dari keluarga inti.
setelah selesai, nahi langsung menuju ke rumahnya, tapi saat sampai rumah masih terlihat terang.
dia pun mengetuk pintu dan Fatin membuka pintu dan terlihat masih memakai baju biasa.
"ku kira sudah tidur sayang?" kata Mahi yang mencium kening istrinya.
__ADS_1
"belum mas, aku lagi di kamar mandi tadi jadi tidak tau jika mas telpon," jawab Fatin tersenyum.
"baiklah, bagaimana tadi? apa Husna bertingkah, dan bagaimana kondisi Abi, aku sangat khawatir, apa perlu mas kesana dan memeriksanya," tanya Mahi yang takut mertuanya terkena serangan jantung lagi.
"tidak perlu sayang,Abi baru dari sini itu mengantarkan buah asam yang ada di belakang rumah, mas kan tau aku suka sekali buah asam itu, oh ya Abi dan umi serta Husain akan umrah bersama dengan bunda dan ayah," kata Fatin yang membantu Mahi melepaskan pakaiannya.
"kalau begitu aku akan request pada kedua orang tua kita untuk berdoa agar istriku yang cantik ini segera hamil, jika perlu langsung kembar tiga, dan hamil empat kali cukup kali ya," kata Mahi tersenyum.
"hah... kamu mau buat tim sepak bola atau tim futsal beserta cadangannya," kesal Fatin pada suaminya.
"habis seperti mu banyak saudara itu enak sayang, kalau cuma berdua seperti aku dan Rosita gak ada lawan lagi kalau mau berantem," jawab Mahi.
"mas menyebalkan, masak mau anak banyak biar anaknya berantem doang," kata Fatin tak habis pikir.
Mahi pun tertawa, dia pun bergegas mandi, tapi tak lupa dia juga membawa istrinya itu untuk sekalian mandi bersama.
Mahi benar-benar menuruni sifat mesum dari ayahnya, setelah keluar dari kamar mandi.
Mahi memakai jubah mandi sedang Fatin sudah kedinginan karena ulah suaminya itu.
"ih ... mas jahat, aku sampai kedinginan," lirihnya.
"maaf ya sayang, habis kamu bikin gemes deh," jawab Mahi yang tersenyum mesum.
"sudahlah dokter mesum, sekarang ayo cepat ganti baju dan kita turun untuk makan," ajak Fatin yang melihat jam sudah hampir sepuluh malam.
"aku tadi beli bakmi dan beberapa bakso,biar aku hangatkan," jawab Fatin yang hanya mengenakan baju seadanya.
"sayang tunggu aku," jawab Mahi yang mengikuti istrinya itu.
Fatin benar-benar tak habis pikir, Mahi mengunci pintu dan mematikan beberapa lampu dan menyisakan lampu dapur.
"mas, tolong gordennya di tutup ya, biar gak kelihatan dari luar," kata Fatin
"baiklah sayang," jawab Mahi yang menurunkan gorden jendela depan rumahnya.
terlihat beberapa security dan keamanan dari pondok sedang berkeliling, Mahi pun ingat tadi beli buah.
dia pun keluar hanya mengenakan celana pendek dan kaos singlet, "pak, tolong kemari ini ada sedikit untuk di pos," panggil Mahi.
para keamanan itu pun menghampiri Mahi dengan senang menerima bingkisan itu,tenyata ada kelengkeng dan salak, serta ada kacang asin kulit juga.
"terima kasih mas," jawab keduanya.
__ADS_1
Mahi mengangguk dan kemudian kembali masuk kedalam rumah, istrinya itu sudah tersenyum dan memeluknya.
Mahi pun mengecup bibir Fatin, "sudah makan dulu, nanti bisa di lanjutkan," jawab Fatin yang menghentikan suaminya itu.
Mahi mengangguk, dia pun menikmati makanan yang di beli oleh Fatin dan Hasan.
setelah itu dia pun mengajak Fatin untuk beristirahat karena merasa begitu lelah, beruntung besok dia libur.
Mahi pun tertidur dengan lelap, Fatin memilih turun dan menyiapkan kue yang ada di kulkas dan mulai menghiasnya.
tak hanya kue saja, tapi juga ada mie panjang umur untuk suaminya itu, karena Fatin berharap bisa bersama Mahi untuk selamanya.
pukul dua belas malam pas, Dila membawa kue itu ke kamar, dan ingin membangunkan suaminya.
tapi ponsel Mahi yang menyala mencuri perhatian dari Fatin,dia pun melihat nama yang tertera di sana.
ternyata ada nama Adila di layar, "kenapa mantan mas Mahi menelpon jam segini," gumam Fatin yang merasa sedih.
tapi dia pun harus melakukan suprise ini, Fatin menyalakan lilin di kue itu, dan kemudian mengoyangkan tubuh Mahi.
"mas selamat ulang tahun, bangun yuk," panggil Fatin.
Mahi pun terbangun dan melihat istrinya yang sudah menegang kue, "aish... sayang ini tengah malam, dan kamu repot menyiapkan semua ini?" tanya Mahi yang masih belum sepenuhnya bangun.
"sudah tiup dulu itu lilinnya," kata Fatin yang malah merasakan tangan suaminya sudah memeluk tubuhnya.
Mahi pun meniupnya, setelah itu menarik kue itu dan menaruhnya di meja rias.
dan langsung menindih istrinya, "sudah mas tadi kan capek," kata Fatin memegang pipi Mahi.
"tidak, kamu sudah membangunkan ku, jadi kamu harus tangung jawab," kata Mahi.
keduanya pun kembali berciuman, tapi ponsel Mahi menganggu, fayin mendorong dada Mahi pelan.
"angkat mas, itu dari tadi ponsel mu terus menyala," kata Fatin yang terlihat sedih.
Mahi pun kesal "damn it,"
melihat nama yang ada di layar, Mahi langsung memblokirnya, kemudian mematikan ponselnya.
Fatin terlihat tak suka dengan hal yang menganggu mereka, "sayang kamu marah karena dia bukan, dia itu hanya pasien di rumah sakit," jawab Mahi
"tidak marah kok, aku hanya tak mengira dia masih ingat ulang tahun mu, pasti dulu dia sangat perhatian ya," kata Fatin.
__ADS_1
"mana ada, dia hanya gadis mata duitan dari dulu, dan gadis yang selalu mengucapkan tepat jam dua belas malam cuma kamu, bahkan setiap tahun aku menunggu kamu mengucapkan, selamat ulang tahun Mahi kecilku, doa terbaik selalu untuk mu.. kata itu seakan menjadi semangat untuk ku, dan aku membuktikan jika aku tak kecil lagi kan," kata Mahi menggoda istrinya itu.
"Ita, sekarang Mahi sudah sangat besar, bahkan aku saja sangat kecil untuknya," jawab Fatin tertawa.