
Fatin sudah seminggu ini terus mual, tak hanya itu dia juga mulai tak mau makan.
Mahi pun menghela nafas karena Fatin yang mulai kurus, "sayang ingin makan apa sih, kamu sudah seminggu ini loh gak nafsu makan?" tanya Mahi merasa sedih.
"aku ingin makan yang pedes, tapi mas gak dibolehin," kata Fatin sedih.
"baiklah, sekarang kita berangkat ke mana, yang pasti jangan makan ayam geprek," kata Mahi berkacak pinggang.
Fatin pun yang terlanjur sebal pun tak bisa berbuat apa-apa, "baiklah sekarang kita ke bakso tegalan yuk, boleh ya, tapi aku mau bakso Alys dan urat yang besar," kata Fatin tersenyum.
"gak usah deh,kita ke nasi geprek aja, karena istriku ini sudah tak makan nasi dari seminggu ini," kata Mahi yang tak mau istrinya makan bakso.
Fatin pun tersenyum pasalnya dia selalu menang melawan Mahi, mereka pun berangkat mengunakan motor.
tak di sangka malah melihat sosok Husna yang juga sudah keluar terlebih dahulu mengunakan motor juga.
"eh sayang, itu bukannya Husna, mau kemana kok bawa helm segala?" tanya Mahi penasaran.
"udah sih, mas kepo, cepat kita ke tempat makannya, aku tak sabar nih," kata Fatin yang di iyakan oleh Mahi
mereka pun berbelok dan tak bisa melihat Husna lagi, kerja berdua sampai di sebuah restoran yang cukup terkenal.
Mahi memesan semua jenis ayam krispi dan meminta sambal agar di pisah.
mereka tak makam di tempat karena Fatin kurang nyaman, jadi Keduanya pun memutuskan pulang.
tapi di tengah jalan Fatin minta beli jus mangga dan juga es Wawan, jadilah Mahi menurut saja.
"sudah sekarang pulang?" tanya Mahi
"siap mas," jawab Fatin yang langsung naik ke atas motor.
mereka pun pergi menuju ke rumah, Fatin langsung memasak nugget yang memang selalu ada di kulkas juga.
Mahi pun mengambil nasi satu piring, keduanya pun makan berdua, Fatin sangat suka dengan rasa pedas itu.
Mahi yang awalnya ingin menghabiskan semua sambal itu, tapi Fatin malah ikut makan dan terlihat begitu menyukainya.
setelah itu, mereka pun duduk bersama sambil menonton film. sebuah pesan masuk kedalam ponsel Mahi.
ternyata Rosita akan berbelanja dan dia bertanya apa Mahi ingin titip sesuatu.
"sayang, kamu ingin titip sesuatu, rosi dan orang tuaku akan berbelanja," tanya Mahi.
"boleh minta tolong belikan parfum di sana, aroma kayu Cendana, dan juga ah... bunda tau parfum kesukaan ku," kata Fatin yang ingat parfumnya hampir habis.
__ADS_1
"ah... benar, apa mau gamis juga?" tanya Mahi.
"tidak bajuku sudah banyak, lebih baik air zamzam beserta doa agar segera dapat momongan mas," saut Fatin yang tidur berbantal paha Mahi.
"oke," jawabnya yang langsung mengirim hasil rekaman suara Fatin.
Hendra hanya tertawa saja, pasalnya dia yang kemarin Fatin titip untuk di depan Ka'bah juga sama, ingin segera punya momongan.
"bunda, menantu mu minta oleh-oleh parfum," kata Hendra pada istrinya itu.
"oh tenang ayah, bunda sudah borong semua parfum kesukaan Fatin, dan juga beberapa kurma," jawab Mela.
Hendra pun merasa senang, meski awalnya saat ibadah dia sempat merasakan tubuhnya sakit.
tapi dia tetap melaksanakan semua rukun dalam umrah, setelah itu mereka bertemu lagi dengan besan mereka.
ternyata Husain membelikan beberapa jenis parfum untuk kedua saudaranya dan tak lupa kakak iparnya juga.
selama dalam melaksanakan umrah pun, Husain menjaga Rosita, pasalnya dia takut jika gadis itu terluka atau bahkan terjadi hal buruk.
Husna sedang menunggu seseorang di sebuah cafe tempat mereka sepakat.
dia nampak gelisah karena dia batu dapat kabar dari Abi-nya yang sedang menjalankan ibadah.
dia pun menghela nafas beberapa kali, "maaf, bisa pesan lagi," panggil Husna pada pelayan.
"baik mbak di tunggu ya," jawab pelayan itu.
ternyata dari kejauhan, seseorang itu sudah datang sambil tersenyum semringah.
"maaf apa lama menunggu?" tanya dokter Rizal yang duduk berhadapan dengan Husna.
"tidak kok, aku juga baru datang," bohong Husna.
"sudah pesan?"
"sudah mas, sebentar lagi datang, aku ke toilet sebentar ya," kata Husna pamit.
Rizal pun aneh, tapi tak masalah, tak lama pesanan dari Husna datang, dia tersenyum pasalnya Husna tau kesukaannya.
dia pun melihat kotak yang sudah dia siapkan, dia tak sabar lagi ingin menyatakan perasaannya pada Husna.
dia pun berharap jika gadis itu mau menerimanya, terlebih karena putrinya dan Husna juga sudah begitu dekat.
Husna pun kembali duduk, "maaf ya mas, kenapa tidak di makan, apa mas tak menyukainya, kita bisa pesan yang lain," kata Husna tak enak.
__ADS_1
"tidak, aku hanya menunggu mu agar bisa nahan bersama," jawab dokter Rizal.
Husna mengangguk, mereka pun makan berdua, dokter Rizal bercerita tentang beberapa pasiennya.
sedang Husna tersenyum mendengarkan hal itu, hingga dokter Rizal memberanikan diri
"Husna, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," katanya dengan tenang.
"apa itu mas?" tanya Husna yang nampak penasaran.
"entah kapan, dan bagaimana, aku terus terbayang wajah mu dalam setiap doa ku, mungkin aku memang bukan pria lajang, aku hanya seorang ayah yang memiliki seorang putri kecil, dan senyum putriku saat bersama mu meyakinkan ku untuk mengatakan ini, Husna, maukah kamu menjadi istri dan juga ibu untuk Syafa?" tanya dokter Rizal yang menunjukkan kotak beludru berisi cincin.
Husna terdiam, tiba-tiba air matanya menetes, dia sadar jika ini yang dia inginkan, tapi janjinya pada ustadz Ahmad.
"maaf mas, aku tak pantas untuk mu," kata Husna menutup kotak itu sambil menangis.
"tapi kenapa, kamu memiliki kekasih Husna?" tanya dokter Rizal yang makin tak tenang.
"tidak ... aku bukan gadis baik, aku sudah tak suci lagi, dan mas Rizal bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, dan juga ibu yang baik untuk Syafa," jawab Husna.
"tapi kamu pilihan tebaik, jangan bicarakan masa lalu Husna,aku mohon, aku menerima masalalu mu, tolong pikirkan ini baik-baik Husna," mohon dokter Rizal.
"maaf..." kata Husna yang kemudian pergi meninggalkan dokter Rizal.
dia pun berusaha mengejar Husna tapi gadis itu sudah pergi dari sana, dokter Rizal pun nampak begitu frustasi.
baru kali ini dia menyukai gadis tapi sudah kecewa, Husna pun terus menangis di sepanjang jalan.
dia tak peduli dengan pandangan orang Padanya, dia hanya berusaha untuk menghapus air matanya tapi tidak bisa.
Fatin sedang membereskan rumah milik keluarganya bersama Hasan, saat Husna pulang dengan keadaan menangis
melihat itu Fatin langsung menghampiri adiknya itu, "ada apa Husna?" tanyanya.
"neng... aku menolaknya, aku menolak pria yang merebut hatiku dengan putrinya," tangis gadis itu.
Hasan kaget begitupun Fatin, "siapa dek, cerita jangan seperti ini," tegur Fatin pelan.
"dokter Rizal melamar ku, tapi aku ingat pesan Abi untuk menikah dengan pria pilihannya," jawab Husna yang kembali terisak.
Hasan pun tak mengira jika Allah mengirimkan jodoh untuk adiknya secepat ini.
bahkan jodoh kali ini juga lebih baik dari jodoh yang di ambil dari Husna.
"biar neng bicarakan dengan Abi ya dek," kata Fatin menghibur Husna.
__ADS_1
"jangan neng, jika Abi sampai sakit lagi, kasian umi..." jawab Husna.