
Beli beras ketan di perempatan
Diangkut pakai gerobak biar tidak berat
Wahai reader berikanlah author dukungan
Agar menghalu dan menulisnya lebih semangat
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Netizen banyak yang berkomentar. Mengait-ngaitkan unggahan Tara dan Aryan, apalagi Aryan dan Tara mengunggah foto dengan warna baju yang senada. Menurut netizen caption Tara seperti menjawab unggahan foto Aryan dan juga menjawab komentar Aryan yang terakhir.
Sepanjang perjalanan pulang hanya ada rona bahagia di wajah Aryan dan Tara. Aryan terus mencari kesempatan untuk menggenggam tangan Tara dan sesekali mengecupnya. Aryan menghentikan mobilnya di depan kediaman Maheswari. Aryan hendak turun membukakan pintu untuk Tara, namun Tara menahannya.
Tiba-tiba Tara bertanya pada Aryan. "Apa mas Aryan tidak takut jika aku selingkuh dengan Gala."
"Aku tahu dia pesaing terberatku, tapi bukan berarti aku mengalah dan menyerah. Aku tahu Gala akan selalu melindungimu, tidak mungkin dia akan menyakitimu atau berbuat sesuatu yang akan merusak reputasimu."
"Sepertinya dia sangat memujamu, mungkin saja dia akan menunggu kesempatan untuk memilikimu. Tapi kesempatan itu hanya akan ada jika aku tiada."
Jemari Tara menutup bibir Aryan. Siapakah yang tidak takut jika membayangkan orang terkasih tiada. "Jangan coba pergi saat kamu baru saja ingin tinggal."
Aryan memindah jemari Tara dari bibirnya. "Kita tidak pernah tahu umur manusia. Jika aku tidak setia dan meninggalkanmu lebih dulu, aku ikhlas jika kamu bersama Gala."
Tara sangat terkejut dengan ucapan Aryan. "Aku tidak mengijinkanmu pergi dariku. Jika aku yang lebih dulu meninggalkanmu, apa kamu juga akan mencari pengganti?"
"Tidak akan pernah. Aku lebih memilih sendiri jika bukan denganmu." Entah mengapa Aryan tiba-tiba menjadi melankolis.
"Lalu kenapa kamu merelakan aku bersama pria lain, mas?"
"Semandiri apapun kamu, kamu tetap memerlukan pelindung dan aku percaya Gala orang yang bisa melindungi kamu."
"Memang ada rasa cinta untuk Gala, tapi aku menyadari cintaku pada mas Aryan lebih besar. Jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku!"
Tara mencium bibir Aryan dengan lembut, menautkan tangannya di leher Aryan. Tara menyadari cintanya pada Aryan lebih besar daripada rasa cintanya pada Gala. Aryan pun lega, kini dia tahu bahwa Tara lebih mencintainya. Aryan membalas ciuman Tara, semakin lama semakin intens. Aryan memeluk Tara dengan serakah, mereka berdua telah dimabuk asmara. Ciuman Aryan berpindah ke leher Tara, disusurinya leher jenjang dan bersih itu. Aryan hampir saja khilaf, bibirnya berhasil mendarat dan menyusuri dua bukit indah yang sedikit terbuka. Baju yang Tara kenakan memang sedikit mengundang kekhilafan. Keintiman mereka tidak berlangsung lama.
"Maaf... Aku khilaf, Tara." Tanpa sadar Aryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu membetulkan posisi duduknya.
Tara hanya tersenyum tersipu malu, jantungnya berdetak kencang dan lebih kencang daripada saat bersama Gala. "Jadi seperti ini rasanya kalau orang pacaran."
"Aku tidak pernah pacaran, makanya aku juga tidak tahu ternyata secandu ini. Untung saja om atau tante tidak ada yang ke luar, kalau saja mereka melihat ke luar dan melihat kelakuanku, pasti mereka akan memarahiku." Ucap Aryan.
__ADS_1
"Paling kita bakal dinikahin, mas. Aku sih berharap ketahuan aja, ha.. ha... ha..." Tara tertawa menghilang rasa grogi dan mengendalikan jantungnya yang terus berdebar-debar.
"Yang ada aku bakal dihajar dulu sama papamu, Tara sayang." Aryan mengenggam tangan Tara lagi.
"Kalau kamu belum mau pulang, kita ngobrol di dalam aja, mas. Jam segini papa mama masih sibuk kerja dan nggak ada di rumah. Masuk yuk..." Tara mengajak Aryan masuk ke rumah.
"Nanti yang ada aku semakin khilaf, Tara. Aku pulang aja. Rasanya dadaku akan meledak karena bahagia." Tutur Aryan.
Tara pun iseng menggoda Aryan. "Bilang aja mau pamer dada bidangmu itu, yang bikin semua mata wanita langsung menatap meneteskan air liur."
"Kamu ini... Aku cemburuan, kamu pun juga cemburuan 'kan? Tenang saja... Meskipun orang lain dapat melihatnya, tapi aku hanya milikmu." Aryan mencubit pipi Tara karena gemas.
"Mas Aaaryaaan, sakit tauuu...!" Tara manyun.
"Jangan manyun dong! Aku cium nih!" Canda Aryan.
Justru Tara yang inisiatif memulai ciuman. Tara semakin agresif di depan Aryan, hingga nafasnya tersengal karena terlalu semangat saling melu-mat.
"Aku ingin mas Aryan menikahiku sebulan lagi." Ucap Tara.
Aryan kaget dan hanya bengong.
"Jangan bengong, mas! Bisa nggak siapin pernikahan dalam waktu 1 bulan?" Tantang Tara.
"Mas Aryan ini... Aku nggak mau kalau nikah cuma di KAU."
"Ha... ha... ha... Iya, aku akan siapkan yang terbaik buat momen indah kita. I love you, Tara..."
"Love you too, mas Aryanku yang ganteng dan seksi." Tara masih sempat menggoda Aryan.
"Kamu lebih seksi, sayang. Kamu harus membayar penantianku setelah menikah nanti. Kamu selalu saja menggoda imanku." Bisik Aryan.
"Ha... ha... ha... Pasti aku bayar lunas berikut bunganya, mas. Jangan pulang dong mas! Nggak pengen pisah... " Ucap Tara manja.
"Jadi sekarang Tara yang super mandiri dan cuek sama banyak pria, jadi manja dan nggak mau ditinggal pulang." Ledek Aryan.
Tara melepaskan pelukannya. "Yaudah cepat pulang sana."
"Tuh 'kan ngambek... Padahal kamu yang sering ngledekin."
"Ha... ha... ha..." Tara tertawa.
"Aku jadi teringat Anand sama pacarnya itu." Ucap Aryan.
"Hah...! Kenapa bikin badmood sih, mas?" Tara protes.
__ADS_1
"Keputusan kamu benar, meminta pengunduran perjodohan kita sampai kamu lulus kuliah. Kalau saja kamu tidak minta mundur, mungkin aku sudah berbuat khilaf seperti yang Anand lakukan dengan pacarnya." Papar Aryan.
"Nafsu dan cinta itu beda tipis, mas. Kalau cinta harusnya bisa menahan nafsu sampai saatnya tiba. Tapi kalau cuma nafsu, pasti tidak akan bisa menahan diri. Jelas terbukti, baru saja mas Aryan menahan diri untuk tidak berbuat lebih jauh." Jelas Tara.
"Ah... Aku jadi tidak ingin pulang." Gumam Aryan.
"Ha... ha... ha... Sekarang malah kamu kan yang nggak mau pulang, mas. Cepat sana pulang! Tadi katanya mau pulang." Ledek Tara.
"Terus aja ngeledekin! Kalau kita nikah nanti, kamu mau bulan madu kemana?" Tanya Aryan.
"Kemana aja asalkan sama mas Aryan." Tara mengerlingkan mata.
"Aduh... Aku nggak kuat, Tara. Ke KUA sekarang yukkk?"
"Ha... ha... ha... " Mereka tertawa bersama.
"Mas, kamu harus segera mengatur semuanya. Satu minggu lagi lamaran, satu bulan lagi nikahan. Aku masuk ya... Kalau terus disini, pasti enggan berpisah." Tara pamit.
Tara mencium pipi Aryan, lalu bergegas keluar dari mobil Aryan. "Bye... Mas Aryanku."
Aryan spontan menjawab. "Bye... Sayangku."
Aryan pergi setelah Tara menghilang di balik pintu. Bahagia begitu membuncah di hati kedua insan yang sedang saling jatuh cinta. Aryan menyanyikan lagu di sepanjang perjalanan pulang dari kediaman Maheswari. Pasti Tuan Indra akan bahagia melihat Aryan dan Tara saling mencintai dan ingin segera menikah.
"Suraj hua maddham, chaand jalne laga. Aasmaan yeh haai, kyoon pighalne laga? Main thehra raha, zameen chalne lagi. Dhadka yeh dil, saans thamne lagi. Oh, kya yeh mera pehla pehla pyaar pai? Sajna kya yeh mera pehla pehla pyaar hai?"
"Hai khoobsurat yeh pal, sab kuch raha hai badal. Sapne haqeeqat mein jo dhal rahe hai. Kya sadiyon se puraana hai rishtaa yeh hamaara? Ke jis tarha tumse hum mil rahe hai?"
Terjemahan. "Matahari berganti senja, rembulan mulai membara. Kenapa langit ini tampak mencair? Aku berdiri diam, tapi bumi mulai bergerak. Hatiku berdebar-debar, nafasku jadi sesak.
Oh, apakah ini cinta pertamaku? Sayangku, apakah ini cinta pertamaku?"
"Betapa indahnya momen ini, semuanya nampak berubah. Mimpi telah menjadi kenyataan. Apakah ikatan antara kita ini sudah terjalin begitu lama? Hingga aku bertemu denganmu seperti ini?"
Tara pun memasuki kamarnya dan bernyanyi bahagia.
"Suraj hua maddham, chaand jalne laga. Aasmaan yeh haai, kyoon pighalne laga? Main thehri rahi, zameen chalni lagi. Dhadka yeh dil, saans thamne lagi. Haan… Kya yeh mera pehla pehla pyaar hai? Sajna kya yeh mera pehla pehla pyaar hai? Yunhi rahe har dam pyaar ka mausam. Yunhi milo humse tum janam janam."
Terjemahan. 'Matahari berganti senja, rembulan mulai membara. Kenapa langit ini tampak mencair? Aku berdiri diam, tapi bumi mulai bergerak. Hatiku berdebar-debar, nafasku jadi sesak. Ya… Apakah ini cinta pertamaku? Sayangku, apakah ini cinta pertamaku? Biarkan musim cinta ini tetap abadi. Biarkan kita bertemu di setiap kehidupan."
.................
Genre romantis, wajib ada adegan romantis. Ini adegan romantis versi author, semoga tidak mengecewakan para reader. Inspirasi dari film-film Shahrukh Khan, FYI author pengemar berat Shahrukh Khan.
Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.
__ADS_1