Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_kejutan besar.


__ADS_3

sebuah mobil mewah sudah sampai di yayasan milik ustadz Ahmad, seorang pria keluar dan langsung mendapatkan sambutan hangat.


"selamat datang, ya Allah saudara ku sekarang makin ganteng dan terawat ya," puji ustadz Yusuf.


"alhamdulilah setelah istriku kembali, aku makin bahagia, dan kami menjalani hidup dengan sempurna," kata Rusdy tersenyum.


"mas tolong bantu sebentar," panggil Arumi dengan lembut.


"tentu sayang," jawab Rusdy yang buru-buru membantu istrinya itu.


sedang ustadz Yusuf tau jika kedua orang itu memang pantas bahagia, bagaimana tidak setelah semua yang terjadi diantara mereka.


"assalamualaikum ustadz, kapan pulang?" tanya Arumi yang melihat pria itu.


"baru kemarin, bagaimana kabar mbak Arumi, saat aku pulang ternyata mbak sudah tak ada di sini," kata ustadz Yusuf tersenyum.


"karena saya sudah sembuh berkat bantuan Dila, ngomong-ngomong dimana gadis itu? biasanya jam segini masih mengajar ngaji?" tanya Arumi yang mengendong Putranya yang baru lahir itu.


"mbak arumi sedang mengajar di aula bersama mas Ahmad, mari kita masuk, umi pasti senang bisa melihat kalian," ajak ustadz Yusuf.


Rusdy pun mengajak istrinya itu untuk masuk, umi Chasanah langsung memeluk Arumi.


bahkan wanita itu langsung mengendong bayi mungil yang tampan itu.


"ya Allah tak menyangka umi bisa melihat bayi mu Arumi, maaf ya jika selama kamu disini ada perlakuan buruk," kata umi sedih.


"iya umi, tapi ada satu hal yang aku sangat bersyukur, saat aku bertemu dila, gadis muda yang juga punya masa lalu kelam, dan gadis paling gila, karena suka sekali membenturkan kepalanya ke tembok," kata Arumi.


"wah.. apa ini, mbak bisa membicarakan ku di belakang ku?" kata Dila yang baru datang setelah mengajar ngaji.


"assalamualaikum... Ki kira masih besok datangnya," kata ustadz Ahmad yang berdiri berdampingan dengan Dila.


"Masyaallah ustadz, tunggu sebentar," kata Arumi memotret ketiganya, pasalnya Dila sedang mengendong Fatin.


"lihat umi, keluarga yang sempurna, suami yang tampan dan baik, serta istri Sholehah dan juga cantik, serta putri kecil yang persis dengan sang ayah," kata Arumi menunjukkan foto itu

__ADS_1


"boleh tolong kirimkan pada umi, setidaknya umi bisa punya foto indah itu," kode keras sudah di layangkan.


Dila hanya menunduk saja, sedang ustadz Ahmad mengajak Rusdy untuk melihat apa yang sedang mereka bangun.


"itu benar mbak, selalu keluarga mas Ahmad, aku setuju loh jika kalian menikah," kata ustadz Yusuf.


"maaf ustadz... tapi saya tak ingin ustadz Ahmad terluka atau terkena sial karena menikahiku, karena aku gadis buruk," jawab Dila tersenyum.


"baik buruk orang, itu sesuai penilaian Gusti Allah, Hadi tolong jangan katakan hal itu lagi," kata ustadz Yusuf.


Arumi pun mengerti dan akan membantu Dila, dia tau jika Dila juga harus bahagia.


"Dila boleh kita bicara berdua," ajak Arumi


"iya Arumi ada apa?" tanya dila yang mengajak Arumi ke kamarnya.


"wah Fatin sudah besar, lihat ini Fatim, ada adik ganteng," kata Arumi menidurkan Putranya


Dila pun memperkenalkan Fatin yang nampak tak mau lepas dari ibu asuhnya itu.


"kenapa tidak menerima lamaran ustadz Ahmad, beliau orang yang baik, mungkin ini sudah rencana Allah untuk mu dila," kata Arumi.


"kenapa Dila? bukankah orang yang sudah mati tak mungkin bisa kembali lagi, apa kamu menunggu sampai ustadz Ahmad di miliki orang lain baru merasa menyesal," kesal Arumi.


kini Dila diam, dia tak ingin hal itu terjadi hingga tanpa sadar dia menggeleng pelan.


"kalau begitu sholat istikharah, dan mantapkan hati mu dengan minta petunjuk, jika sudah lekas beri kepastian pada ustadz Ahmad, agar dia bisa berhenti berharap dan kamu juga bisa bahagia bersama pria pilihan mu," kata Arumi mengenggam tangan Dila.


"iya mbak, aku mengerti ..."


keduanya pun berpelukan, Arumi pun memangku Fatin yang nampak makin gemuk.


tapi saat Dila ingin mengendong bayi mungil milik Arumi, Fatin menangis cukup keras.


bahkan dia langsung berontak di pangkuan Arumi, "lihat, seorang anak tak mungkin bohong saat dia menyukai seseorang, seperti halnya ini, Fatin yang begitu tak bisa jauh darimu dan posesif," kata Arumi.

__ADS_1


Dila pun mengangguk, dia juga tak bisa jauh dari Fatin, Ayas datang untuk meminta Dila dan Arumi berkumpul di ruang tengah.


ternyata ada ustadz Ilham dan Anisa yang membagikan beberapa bingkisan cemilan.


"wah ada apa ini? Fatin tunggu sayang, nak ...." kata Dila yang menahan putri kecilnya itu.


"semuanya sudah kumpul, kami ingin memberitahukan sesuatu pada semua orang, bahkan Alhamdulillah, kini Anisa sudah di nyatakan hamil delapan Minggu, dan dokter bilang jika semuanya baik," kata ustadz Ilham berkaca-kaca.


"Alhamdulillah ya Allah..." jawab semua orang


Anisa langsung menghampiri Dila dan memeluknya, Fatin seakan protes melihat itu dan ingin mendorong Anisa.


umi Chasanah mengambil Fatin, "ini semua berkat kamu Dila, kamu bilang coba minum jamu kunir yang di campur daun kelor, dan aku melakukannya, dan dua bulan kemudian aku hamil," kata Anisa dengan begitu senang.


"Alhamdulillah mbak, tapi itu juga atas izin Allah, aku hanya berbagi informasi yang aku ketahui," kata Dila lembut.


"terima kasih, selama aku mengenal mu, kamu gadis yang baik dan juga sangat sopan, aku bahagia bisa menganggap mu sebagai adikmu," kata Anisa.


"Bu... Bu..." panggil Fatin kecil.


semua orang menoleh, Dila pun langsung terharu mendengar panggilan putri asuhnya itu.


"Fatin panggil ibu..." suara Dila bergetar sedih.


Fatin pun meminta untuk di peluk oleh Dila, umi Chasanah pun memberikan gadis kecil itu.


"aduh Fatin, nenek begitu cemburu karena kamu begitu menyayangi ibu mu, nenek dan Abi mu seakan tersisih nih," kata umi Chasanah yang di Sahuri oleh gelak tawa oleh semua orang.


Dila pun melihat ustadz Ahmad, "ustadz Ahmad, saya ingin bicara sesuatu, apa anda bisa mendengarnya Sebentar,"


"iya Dila, ada apa kenapa kamu begitu serius," tanya ustadz Ahmad.


"saya begitu menyayangi Fatin, tak bisa kehilangan gadis kecil ini, jika memang ustadz serius, tolong bicara kepada orang tuaku, karena restu mereka adalah yang utama," kata Dila.


"Alhamdulillah ...." kata semua orang yang merasa bahagia.

__ADS_1


sedang ustadz Ahmad nampak tak percaya, tapi sudah ada dua hati yang terluka karena jawaban dari Dila.


ustadz Yusuf memeluk sang kakak yang masih nampak syok itu, "aduh jangan kaget begitu, Alhamdulillah sudah di terima, kita harus segera ke rumah orang tua Dila untuk melamar mas, karena tak baik menunda niatan baik, apa mas bisa besok kita kesana," ajak ustadz Yusuf yang takutkan ada halangan lagi.


__ADS_2