Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_ngidam aneh 2


__ADS_3

Dila menjemput Fatin dan mengajaknya pulang, setelah menidurkan putrinya itu.


dia pun memutuskan untuk mandi karena tubuhnya sangat gerah dan penuh keringat.


"assalamualaikum mbak!" panggil Emy.


"waalaikum salam masuk dek," jawab Dila yang baru selesai mandi dan hanya mengenakan daster besar dengan jilbab kaos.


"ada apa dek?" tanya Dila melihat sosok Emy yang datang membawa rantang.


"ini mau bagi bubur kacang hijau,sama lauk yang tadi sempet buat, jadi bantu di makan ya mbak," kata Emy.


"Alhamdulillah Terima kasih ya dek, kamu jadi repot," kata Dila tersenyum dengan lembut.


"gak kok mbak, ya sudah saya pamit ya, soalnya sebentar lagi suami ku pulang, mari mbak," pamit Emy.


Dila pun mengangguk menyimpan semuanya di kulkas, tapi saat melihat sesuatu Dila malah ingin muntah.


"aku lapar tapi malah ingin makan mie ayam di kebonrojo, terus bagaimana caranya" gumam Dila yang menutup kulkas.


Dila pun tak mungkin merepotkan suaminya terlebih ustadz Ahmad sudah sangat sibuk.


Dila pun membeli makanan yang dia inginkan melalui aplikasi online, dan ingin rasanya memakannya di pinggir kolam.


beruntung di belakang rumahnya sekarang ada taman kecil dan ada kolam ikan.


ustadz Ahmad kembali pukul tiga sore dan melihat ada dua bekas mangkuk di wastafel dapur.


dia pun bergegas mencari istrinya ternyata wanita itu ada di taman belakang bersama sang putri.


keduanya sedang bermain di kolam ikan, Fatin nampak begitu bahagia meski hanya kegiatan kecil seperti ini.


"assalamualaikum ... wah sedang apa ini kalian berdua?" tanya ustadz Ahmad.


"gak ada mas, ini hanya menemani Fatin main, karena tak ada kegiatan lagi," jawab Dila tersenyum.


"umi bosan?" tanya ustadz Ahmad.


Dila mengangguk, ustadz Ahmad membantunya berdiri dan mengajaknya masuk kedalam rumah.


setelah berganti pakaian keduanya pun menaiki motor untuk jalan-jalan sore.


dan saat melewati rumah seseorang, Dila melihat begitu banyak kedondong yang berbuah.


"Abi Abi Abi berhenti," kata Dila menepuk bahu ustadz Ahmad.


" ya ini ada apa? kenapa minta berhenti?" tanya ustadz Ahmad bingung.

__ADS_1


"lihat ada kedondong, aku mau itu tapi yang kuning, tapi harus Abi yang ambil," kata Dila menunjuk buah kedondong itu.


"hah.... apa umi? ya kita coba minta pada yang punya ya," kata ustadz Ahmad pasrah.


dia tak bisa menolak keinginan istrinya yang sedang ngidam, Dila mengendong Fatin agar ustadz Ahmad bisa mengambilnya.


"maaf permisi, siapa pemilik pohon kedondong ini?" tanya ustadz Ahmad pada beberapa pria uang sedang nongkrong.


"saya ustadz, ada apa ya?" tanya seorang bapak-bapak berambut putih yang sedang merokok.


"saya mau minta buah kedondong yang matang pak, karena istri saja ngidam mau buah itu, tapi harus saya yang petik," kata ustadz Ahmad.


"Monggo ustadz silahkan, tapi yang matang biasanya bagian atas karena galahnya tak sampai," jawab pemilik pohon itu.


Dila sudah menunggu sambil berdiri dengan penuh harap, tak lama ustadz Ahmad susah mendapatkan dua buah kedondong matang yang berukuran cukup besar.


tak butuh waktu lama, Dila langsung mencicipinya di tempat, pemilik pohon itu juga memberikan satu kresek hitam kedondong pada ustadz Ahmad.


"pak ini banyak, saya cuma minta dua buah," kata ustadz Ahmad menolak dengan lembut.


"tidak apa-apa ustadz, ini dari saya anggap saja ucapan terima kasih karena sudah memberikan segalanya pada desa ini, mulai dari pendidikan bahkan lapangan pekerjaan," kata bapak itu.


"itu sudah jago tanggung jawab saya psk, tapi terima kasih atas kebaikannya memberikan kedondong ini," kata ustadz Ahmad.


Keduanya pun ingin pamit, tapu tak terduga para bapak yang nongkrong tadi datang sambil membawa sesuatu.


"iya ustadz, tolong diberikan ya, karena mau membantu mengajar anak-anak saya juga, sekarang mereka begitu pintar dalam agama, terima kasih ustadz, setidaknya mereka tak buta huruf seperti bapaknya ini," tambah yang lain.


"terima kasih bapak-bapak, ya Allah padahal saya ikhlas mengajar dan dengan senang hati mengajar semua anak di desa ini," kata ustadz Ahmad


Dila pun tak menyangka akan melihat begitu banyak orang yang tulus seperti ini.


akhirnya motor mereka penuh dengan barang pemberian bapak-bapak tadi, mulai dari ikan, ayam, sayur hingga buah.


Dila menyuapi Fatin kedondong dan bocah itu bergidik geleng-geleng karena asam.


tapi bagi Dila ini begitu nikmat, sesampai di yayasan, ustadz Yusuf kaget melihat motor yang di bawa Ahmad.


"mborong mas?" tanya ustadz Yusuf.


"mborong apanya, ini tadi di kasih warga desa hanya karena mas minta kedondong dua buat mbak mu yang ngidam," jawab ustadz Ahmad.


"ya Allah, ternyata warga desa begitu menghormati mas, aku pernah lewat tak pernah tuh di kasih barang banyak begini," kata ustadz Yusuf.


"sudah jangan banyak bicara, bantuin bawa masuk dulu, biar mbak mu istirahat kasihan seharian kegiatan terus," kata ustadz Ahmad.


akhirnya para santri yang membantu dan langsung di bawa ke dapur pondok, alhasil semua pemberian warga akan di masak di jadikan menu makan malam.

__ADS_1


...*********************...


"halo semua pembaca ku, salam hangat dari ku ya, bagaimana puasanya masih kuat? harus dong!


sambil nunggu author up, kalian bisa mampir di novel temen author nih di jamin mantul banget.



Karya : erma _roviko


Si Cupu Untuk Tuan Samuel


Bab 11 Karena aku majikanmu


Samuel menatap tajam gadis berkacamata tebal, mengepang rambut dan gigi yang di pagar membuatnya terasa geli. "Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Eve sinis.


"Karena penampilanmu yang terlihat sangat jelek," ejek Samuel sembari menyeringai.


"Kau boleh mengejekku sekarang, tunggu saja tanggal mainnya!" seloroh Eve yang sangat kesal, ingin rasanya mencakar-cakar wajah tampan dari majikan dadakannya.


"Wah, sepertinya kau tersinggung. Tapi, itu bagus! Aku ingin lihat, bagaimana Boneka santet memperjuangkan dan membuktikan."


"Lihat saja nanti dan berhentilah memanggilku dengan boneka santet! Nama ku Eve, E-V-E." Ucapnya seraya mengeja nama.


"Aku lebih nyaman memanggilmu boneka santet," ujar Samuel acuh tak acuh.


"Sangat menyebalkan!"


"Karena kemarin kau kabur dan juga menendang tongkat sakti ku, maka kau akan dihukum," ucap Samuel dengan tajam.


"Ck, siapa kau yang berani mengaturku?"


Samuel berjalan menghampiri gadis kecil itu, menyentil kening Eve membuat empunya meringis. "Auh…kau kasar sekali," cetus Eve yang mengusap keningnya yang terasa panas.


"Itu hukuman karena kau membuat aku kesal!" sahut Samuel dengan santai.


"Apa setiap kali kau kesal akan menyentil keningku?" cetus Eve yang tak terima dengan perlakuan pria itu.


"Ya, bisa saja dikatakan begitu. Karena kemarin kau pergi terburu-buru, hari ini kau harus bekerja lembur." Ucap Samuel yang membuat Eve sangat kesal.


"Mana bisa begitu!" protesnya disertai tatapan tajam.


"Bisa, karena aku adalah majikanmu. Apa kau mengerti?" tekan Samuel yang memarahi gadis itu.


Eve menghela nafas dengan berat, dengan terpaksa dia mengangguk setuju membuat sang majikan tersenyum puas. "Baiklah."


Samuel berlalu pergi menuju kantor, sedangkan Eve mulai mengerjakan tugasnya sebagai pelayan. "Pria itu benar-benar membuat kesabaranku habis, pertama kak Niko, kedua Liam, dan sekarang Samuel. Lengkap sudah penderitaanku, ingin rasanya aku membuat ketiga pria menyebalkan itu menghilang dari muka bumi ini." Monolognya seraya bersih-bersih.

__ADS_1


__ADS_2