
Mahi pun memilih pulang untuk menenangkan diri, Rosita dan nela baru saja pulang dan tak menemukan Hendra.
"ayah kemana ya bunda?"
"mungkin ada urusan, sudah cepat bersihkan wajah mu ya, setelah itu istirahat," kata Mela yang di angguki putrinya.
sedang Mahi mengunci pintu kamarnya karena tak ingin di ganggu oleh siapapun.
Mela pun memilih menguntungkan niatnya untuk membangunkan Mahi, dia pun memilih ke area belakang untuk menyiapkan sesuatu.
Hendra menemui beberapa orang kenalannya, dia meminta tolong untuk mengungkapkan siapa Haris.
"bagaimana apa bisa?" tanya Hendra.
"bisa saja Hendra, tapi kenapa tiba-tiba kamu ingin membongkar aib pria itu, setahuku dia tak bermusuhan dengan keluarga mu," tanya Farhan merasa aneh.
"meski dia bukan musuh keluarga ku, tapi aku tak rela jika putri sambung Dila menikah dengan pria bermuka dua itu," terang Hendra dengan geram.
Farhan dan farah tertawa, "apa kamu masih menyimpan perasaan pada mantan istrimu itu, ayolah kalian sudah bahagia,"
"tentu saja, tapi perasaan ku sekarang hanya sebatas kakak dan adik, terlebih Fatin sudah ku anggap sebagai putriku," jawab Hendra.
"baiklah aku bantu, tapi ini bukan hanya karena dirimu, tapi aku memang tak suka pria macam ini," jawab Fathan.
Hendra dan Farhan pun berjabat tangan kemudian berpisah, sedang di rumah milik Haris.
pria itu sedang tiduran di kamarnya, pasalnya dia sangat lelah, dia hanya tak mengira jika gadis yang dia cari ternyata Fatin bukan Husna.
"aku akan menjadi suamimu, jadi kita akan bahagia bersama karena kita saling menyukai dari kecil ...."
seorang wanita mengetuk pintu kamar dari Haris untuk menunjukkan semua yang tadi sudah di beli.
"sekarang tolong hias dengan cantik, karena aku harus istriku itu bahagia," kata Haris pada wanita itu.
"baik mas," jawab wanita itu.
sedang di rumah, sudah nampak sibuk dengan semua persiapan, karena ustadz Ahmad tak ingin menunda lebih lama lagi.
karena kesehatan beliau sangat terpengaruh, terlebih setelah serangan jantung kemarin ustadz Ahmad tak bisa yakin jika usianya bisa panjang.
Fatin pun merasa senang, terlebih impiannya akan menikah dengan orang yang di cintai.
"aduh neng Fatin, senyumnya bikin adem deh, uhuy... yang mau nikah," goda Husna memeluk Fatin dengan gemas.
__ADS_1
"kamu kok godain mbak Mulu, memangnya kamu gak ada hal lain ya, susah sana belajar soalnya mau ujian negara gitu, setelah itu giliran kamu," kata Fatin.
"aku mah bisa kapan saja mbak, orang mas Abdul gak memaksa juga," jawab Husna tertawa.
"huh kamu ini meledek mbak ya, untuk mbak sayang," kata Fatin mencubit pipi Husna.
Hasan dan Husain menarik tangan Fatin, keduanya sudah menyiapkan hadiah untuk sang kakak.
"ada apa ini?" tanya Fatin terkejut.
"lihat kamu punya hadiah untuk mbak, coba di lihat," kata Husain.
Fatin pun membuka hadiah itu, ternyata jam tangan couple, dan berwarna putih.
"sepertinya kalian salah warna ya, setahu mbak mas Haris suka warna hitam," kata Fatin.
"tidak kok, kami beli sesuai kesukaan mbak kok, warna putih dan abu-abu, lagi pula setelah menikah pria itu biasanya akan cenderung menyukai apa yang di sukai istrinya," jawab Hasan.
"mbak beber loh mas, mas Haris tak suka warna putih, yang suka warna putih itu mas Mahi, lihat saja aku sering melihatnya memakai jam tangan putih atau silver gitu," kata Husna.
"ya berarti itu untuk mas Mahi saja, sejujurnya aku malah lebih suka mas Mahi," jawab Husain.
Hasan memukul adiknya itu, sedang Fatin hanya tersenyum saja tanpa bicara.
Persiapan semua sudah matang, besok acara akan di lakukan, di rumah Haris ada tamu tak di undang datang.
tamu itu bisa membuat acara itu gagal dan memburuk semuanya, terlebih dua orang itu adalah orang tua dari wanita yang pernah Haris kenal.
Haris pun kaget melihat keduanya, pasalnya mereka tak pernah berkunjung selama ini.
"bapak, ibu!" kaget Haris.
"halo menantu..." sapa pria sepuh itu.
keesokan harinya, keluarga Fatin sudah berharap-harap cemas, pasalnya ini adalah pernikahan dari putri pertama mereka.
keluarga Hendra dan Mela juga sudah datang dari semalam. mereka menginap di rumah dinas milik Mahi.
Mahi terpaksa memakai kaca mata karena matanya sedikit bengkak, dan merah, sehingga dia berbohong jika sedang mengalami iritasi.
para tamu sudah berdatangan, Mela sempat menyapa Dila dan Husna, sedang Hendra menemani Mahi yang masih nampak begitu lesu.
"tenang anakku, ayah akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, meski jaminan nyawa ayah sebagai gantinya," batin Hendra
__ADS_1
jam menunjukkan sudah pukul sembilan, seharusnya Haris sudah datang, tapi ustadz Ilham dan Anisa juga merasa aneh.
karena tadi pagi Haris meminta rombongan berangkat dulu, dan Haris menyusul belakangan.
"tolong jemput pengantin pria," kata ustadz Ilham pas salah satu muridnya.
"Abi aku takut terjadi sesuatu pada Haris, kamu ingat bukan bagaimana tadi pagi Haris nampak begitu lesu," kata Anisa khawatir.
"semoga tak terjadi apa-apa ya umi," jawab ustadz Ilham.
penghulu dan ustadz Ahmad sudah siap di kursinya, tapi Haris masih belum datang juga.
ustadz Ahmad memberikan isyarat pada ustadz Ilham untuk mendekat kearahnya.
"mana Haris, apa dia belum datang?" tanya ustadz Ahmad.
"saya juga tak tau ustadz, tadi dia meminta kami selaku rombongan berangkat dulu, ponselnya di hubungi tak aktif, dan saya sedang menyuruh seorang santri untuk menjemputnya," bisik ustadz Ilham.
"apa terjadi masalah pak, karena saya tak bisa menunggu terlalu lama, karena harus menikahkan di tempat lain lagi," kata pak penghulu.
"maaf pak penghulu, sepertinya pengantin pria sedikit telat, tolong di tunggu ya pak, sebentar lagi pasti datang." kata ustadz Ilham memohon.
Fatin yang menunggu di tempat khusus nampak sangat cemas, terlebih ini hari penting mereka, kenapa harus tak datang.
santri yang pulang dari rumah Haris pun membisikkan sesuatu yang berhasil membuat ustadz Ilham marah.
Haris datang bersama beberapa orang, pria itu tertunduk malu sekarang, terlihat seorang pria dengan tampang garang berdiri di depan Haris.
"pernikahan ini di batalkan, karena aku tak mengizinkan menantuku menikahi gadis lain, apalagi saat putriku sedang hamil anaknya," kata pria itu.
Hendra tau siapa mereka, tapi dia bersikap biasa-biasa saja, pasalnya ini kenyataannya.
"apa maksud anda, ada apa ini?" tanya ustadz Ahmad yang bangkit dari kursinya.
"apa pria ini tak mengatakan yang sebenarnya pada anda pak ustadz, dia sudah menikah siri dengan putriku, meski begitu dia belum menceraikan istrinya dan ingin menikahi wanita lain, wah ... pria yang sangat baik ya," kata pria itu.
"apa ini Haris? apa yang di katakan bapak ini?" marah ustadz Ahmad.
"kenapa diam menantu, kamu malu menikahi putriku yang cacat ini, kalau begitu kenapa kalian melakukan hubungan di luar nikah, dan seharusnya calon istrimu juga mengenal putriku bukan, asisten dosen Fatin, apa kamu ingat dengan murid mu yang bernama Salwa!" kata pria itu sedikit berteriak.
mendengar itu tubuh Fatin lemas, pasalnya Salwa adalah anak murid yang menjadi mahasiswi yang mendapatkan dosen pembimbing dosen Haris untuk tugas akhir skripsinya.
"apa maksud anda, jadi Haris apa ucapan bapak ini benar?" kata ustadz Yusuf yang makin marah.
__ADS_1
ustadz Ahmad terduduk, Mahi langsung menenangkan pria itu agar tak terjadi sesuatu yang menghawatirkan lagi.