
Mahi dan Fatin sampai di rumah sakit, mereka pun langsung menuju ke ruangan milik Mahi.
sekarang ruangan Mahi sudah pindah ke lantai paling atas bersebelahan dendam ruangan direktur rumah sakit.
Fatin pun duduk sambil membaca beberapa buku milik mahi yang sengaja di sediakan di sana.
Fatin pun memilih buku dan duduk di sofa, "mas, ke kamar mandi dong," kata Fatin yang tiba-tiba kebelet.
"masuk ke ruangan samping sayang, itu ruang khusus istirahat kok," jawab mahi.
tak lama ada sosok Husna yang datang dengan wajah sedikit sembab karena menangis.
"mas Mahi," panggilnya saat sudah di dalam ruangan pria itu.
"Husna, ada apa datang kesini?" tanya Mahi yang melihat gadis itu.
"mas aku minta tolong, bisakah mas menikahiku, setelah beberapa bulan kamu bisa menceraikan aku, aku mohon... karena aku tak bisa menikah dengan orang lain," mohon Husna
"apa maksud mu Husna, pernikahan bukan hal yang bisa di jadikan mainan," kata Mahi sedikit membentak.
"tapi aku sudah melakukan hal bodoh mas, aku sudah melakukan dosa bersama mas Abdul sebelum kami kecelakaan, kamu sudah berhubungan suami istri saat itu karena itu kami panik dan terjadi kecelakaan, jadi aku mohon mas... aku yakin mbak Fatin akan mengizinkan," mohon Husna.
"bagaimana kamu pikir istriku akan mengizinkannya, meski pun dua mau, aku tak mau membagi cintaku meski itu hanya pernikahan pura-pura," marah Mahi.
"tapi kenapa, toh mbak Fatin juga bukan wanita yang sempurna, apa mas tak merasa aneh jika selama tiga bulan ini mbak Fatin tidak di perkosa sedikit pun," kata Husna yang frustasi.
Fatin keluar dari kamar mandi dan langsung menampar pipi Husna untuk pertama kalinya.
"aku tak tau sifat buruk siapa yang menurun padamu, bagaimana bisa kamu mengatakan hal buruk padahal aku itu mbak mu, dan bagaimana bisa kamu mau jadi madu kakak mu sendiri, aku bahkan tak ingin membagi cinta suamiku meskipun itu padamu," marah Fatin
"neng jahat, jika aku menikah dengan orang lain,maka keluarga kita yang kena malu," kata Husna.
"seharusnya kamu pikirkan itu sebelum melakukan hubungan itu, apa kamu bodoh, dari kecil kami selalu mengalah dan melindungi mu, tapi ini yang kami dapatkan, kamu menyakiti kami Husna," kata Fatin tak bisa menahan amarahnya lagi.
__ADS_1
"sekarang lebih baik kamu jujur pada umi dan Abi, biar mereka yang Carikan solusinya, jangan memilih jalan sendiri atau kamu akan salah langkah," kata Fatin pada adiknya itu
"kenapa kamu begitu tak ingin membagi suami mu, apa kamu begitu takut kalah saing dariku yang masih muda," kata Husna yang menjadi-jadi.
"cukup Husna, sekarang kamu pulang, jangan membuat malu lagi, cukup perbuatan buruk mu," kata Hasan yang kebetulan datang ingin mengantarkan kue pada kakak iparnya.
tapi dia tak menyangka akan mendengar dan melihat kelakuan dari adiknya itu.
"mas Hasan..." lirihnya saat melihat sosok kakak paling tegas itu.
Fatin yang melihat tatapan Hasan yang murka, dia takut jika Hasan akan menyakiti adik mereka itu.
"Hasan neng mohon tenang Hasan," kata Fatin menahan adik keduanya itu.
"tidak neng, cukup gadis ini terus berulah, dan cukup neng selalu membela nya, sekarang biar aku yang selesaikan," kata Hasan menarik Husna pulang.
Fatin yang panik bingung, Mahi pun mengangguk pada istrinya, Fatin pun bergegas mengejar Keduanya.
tapi semuanya terlambat karena Hasan sudah pergi dengan mobilnya, Fatin pun menghentikan taksi.
Husna yang di dalam mobil ketakutan melihat wajah dari kakaknya itu, pasalnya Hasan memang jarang sekali marah.
tapi saat pria itu marah, maka dia tak segan akan memukul atau memakai meski itu seorang perempuan.
mereka pun sampai di area yayasan, Fatin turun dan mencoba menghentikan Hasan, tapi tak bisa.
pria itu terlanjur marah besar, bahkan Fatin sempat terdorong dan hampir jatuh.
beruntung Husain yang mendengar ribut-ribut buru-buru keluar dan menahan tubuh Fatin.
"ada apa ini neng, mas Hasan, dan kenapa dengan Husna?" tanya Husain.
"Hasan neng mohon jangan seperti ini, kamu bisa membuat Abi syok dek," mohon Fatin.
__ADS_1
"berhenti menghalangiku neng, karena dua sudah keterlaluan kali ini," kata Hasan.
Dila dan ustadz Ahmad yang mendengar ribut-ribut pun keluar, "sudah jangan ribut di luar, masuk kita bicarakan ini di dalam," ajak ustadz Ahmad.
mereka pun masuk dan duduk bersama, Husna masih menangis, pasalnya lengannya terasa sakit karena di tarik oleh Hasan.
"ada apa Hasan? coba jelaskan pada Abi,ada masalah apa nak? sampai kamu berbuat kasar pada kedua saudari perempuannya," kata ustadz Ahmad dengan lembut.
"apa Abi tau putri Abi sudah membuat malu, dia berani berzina sebelum menikah dengan Abdul," kata Hasan langsung.
Dila kaget dan langsung berdiri, ustadz Ahmad hanya menghela nafas, dia juga tak tau harus bereaksi seperti apa.
"apa itu benar Husna? kamu melakukan hal yang di larang agama?" tanya ustadz Ahmad sendu.
"iya Abi, tolong maafkan Husna," mohon gadis itu.
"terus apa yang membuat mu marah, sampai mendorong neng mu hingga hampir jatuh?" tanya ustadz Ahmad.
"karena neng takut Abi sakit saat mendengar ini, dan yang lebih parah Abi, dia berani menghina dan mempertanyakan kesucian neng Fatin, dan berniat ingin jadi istri kedua dari mas Mahi," kata Hasan.
"Hasan! berhenti dek," mohon Fatin.
mendengar itu, Fila marah dan langsung memukuli putrinya itu, "ya Allah, kenapa harus kamu, putriku yang mempermalukan keluarga ini, kamu selalu Hadi kebanggaan dan yang selalu di maafkan, tapi kenapa membuat umi malu Husna," kata Dila frustasi.
"tenang umi, istighfar umi..." tahan ustadz Ahmad.
"dia sangat membuat malu Abi, ya Allah ini semua karena aku yang buruk di masa lalu, hingga putriku yang mencoreng nama besar ayahnya seperti ini," tangis Dila.
"tenang umi, ini sudah terjadi, sebenarnya Abi sudah tau karena di kamar mereka melakukan zina, di pasangi CCTV oleh keluarga Abdul, karena mereka takut akan adanya maling, tapi Abi menyimpannya sendiri, karena takut umi bisa sakit memikirkannya," kata ustadz Ahmad.
"ya Allah Abi... maafkan aku yang tak sempurna jadi istrimu, karena dosa ku putri kita mencoreng dan membuat malu seperti ini...." tangis Dila.
"tidak umi, sudah Abi juga sudah bisa menerima Semuanya, nasi sudah jadi bubur, Husna untuk menebus kesalahan mu, Abi menugaskan mu untuk membantu di yayasan, dan saat Abi menunjuk siapapun calon suamimu, kamu tak boleh menolak? itu syarat dari kami untuk bisa memaafkan mu," kata ustadz Ahmad.
__ADS_1
"terima kasih Abi, aku menerimanya, dan umi ... maafkan aku," mohon Husna.
tapi Dila masih terisak di pelukan suaminya, dia tak ingin melihat Husna untuk saat ini.