
Dila pun turun bersama ustadz Ahmad dan segera menuju ke rumah, Fatin di taruh di kursi khusus miliknya.
sedang ustadz Ahmad duduk bersebelahan dengan Fatin, Dila melepaskan cadarnya untuk membuatkan minuman untuk ustadz Ahmad.
"ini mas di minum dulu kopinya," kata Dila lembut.
"terima kasih dek, kamu kemarilah duduk di sampingku," ajak ustadz Ahmad menepuk kursi di sebelahnya.
Dila pun duduk di sebelahnya, "kamu marah ya, atau tak enak hati tolong jangan cemberut seperti ini," kata ustadz Ahmad pada istrinya itu.
"maafkan aku mas, karena menghadiri acara pernikahan sahabatku, mas di hina seperti tadi, itu juga melukai ku mas," kata Dila.
"eh di hina, maksudnya?" bingung ustadz Ahmad.
"dulu mas Hendra dan teman-temannya jika sedang saling ejek mereka melempar k*nd*m karena itu adalah benda satu kali pakai dan alat kepuasan saat mereka bekerja," terang Dila.
"benarkah, aku kira dia hanya tak ingin fatin punya adik terlalu cepat, makanya dia melemparkan benda ini, kita bisa coba," goda ustadz Ahmad.
"jangan biar aku bakar, aku tak pernah percaya dengan apa yang dia berikan, lagi pula jodoh, anak, rezeki dan maut sudah di atur Sang Maha Pencipta," kata Dila yang membuang benda itu ke tong sampah.
ustadz Ahmad hanya tertawa, mereka masuk ke dalam kamar dan bermain di sana.
Dila melepas jilbabnya karena ini ruang pribadi, tak lama terdengar suara ketukan pintu.
"tunggu disini, biar mas yang buka sepertinya itu Ryan," kata ustadz Ahmad.
benar saja Ryan mengantarkan barang-barang yang tertinggal di mobil.
pria muda itu juga memberikan beberapa oleh-oleh yang tadi sengaja di beli.
ustadz Ahmad menaruhnya di meja, dan tak lama dia pun masuk kedalam kamarnya.
ternyata Dila sudah berganti baju dan Fatin sudah tidur karena lelah. Dila pun ikut tidur dan gamisnya tersingkap.
ustadz Ahmad memperbaiki gamis istrinya, tapi Dila malam membuka mata dan menegang tangan ustadz Ahmad.
"tidurlah kamu mungkin lelah," bisik ustadz Ahmad yang tak ingin membuat putrinya terbangun.
Dila menaruh bantal di samping Fatin sebagai penjaga agar putrinya itu tak jatuh, Dila menarik ustadz Ahmad agar duduk di lantai kamar.
dia benar-benar kehilangan dirinya, "sentuh aku mas ..." lirih Dila dengan wajah merah.
"masih sore dek," bisik ustadz Ahmad yang sebenarnya tak bisa menahannya lagi.
__ADS_1
Dila pun menurunkan resleting gamisnya, dan suaminya tak menyia-nyiakan hal itu.
Dila dan ustadz Ahmad melakukannya dengan sangat rapi, Dila memimpin kali ini agar bisa mengawasi Fatin.
ustadz Ahmad pun tak mengira jika istrinya bisa sehebat ini, dan baru kali ini dia melakukannya di sore bolong begini.
tapi ada rasa yang lebih, keduanya pun berpelukan saat sudah mencapai kepuasan.
"mas ...."
setelah itu keduanya pun mandi, karena sebentar lagi waktu sholat habis.
setelah sholat, ustadz Ahmad pun gemas dengan istrinya itu, "dasar nakal, bisa-bisanya mengajak ku main di sore hari, untung Fatin tidak terbangun," kata ustadz Ahmad mencubit pipi Dila.
"tapi mas menikmatinya dan rasa takut itu menjadi sebuah tantangan bukan," kata Dila tersenyum.
"pantas mantan suamimu gak mau lepas, orang kamu begitu emm..." kata ustadz Ahmad yang di tahan oleh Dila.
"jangan menyebut nama pria itu, jika tidak aku akan membuat ustadz Ahmad yang berwibawa,menjadi tak berdaya loh," bisik Dila menyeringai.
ustadz Ahmad menurunkan tangan Dila, "aku akan menunggunya, karena aku ingin lihat sehebat apa dirimu," tantang ustadz Ahmad.
"sudah, ayo keluar, ini gadis kita juga belum mandi," bisik Dila yang berhasil membuat ustadz Ahmad tertawa.
"ada apa kalian berdua?" tanya ustadz Ahmad kaget.
"ustadz, habis apa kok baru keluar, ya Allah di tungguin dari tadi, lupa kalau ada rapat jam empat sore," kata ustadz Yusuf.
"kamu kan bisa mengantikan aku se le, lagi pula aku tadi kecapekan jadi ketiduran," bohong ustadz Ahmad malu.
"tumben tidur sore-sore, biasanya gak pernah tuh," kata ustadz Yusuf heran.
"namanya juga kelelahan, sudah bagaimana hasil rapatnya?" tanya ustadz Ahmad.
"beres untuk perizinan di bantu oleh pak pungki, sedang untuk tabah di sekitar yayasan warga pun mengizinkan kita membelinya dengan harga sedikit lebih murah, tapi dengan catatan anak mereka bisa mondok di sini," kata ustadz Yusuf yang berjalan masuk kedalam rumah.
"Alhamdulillah bagus dong kalau begitu, ngomong-ngomong kamu tak ada acara malam ini?" tanya ustadz Ahmad.
"tidak ada, memang kenapa?" tanya ustadz Yusuf heran dengan pertanyaan itu.
"bisakah mengantikan aku untuk mengajar, setidaknya malam ini saja karena aku ingin mengajak istriku jalan-jalan berdua saja, anggap saja kencan pertama kami," kata ustadz Ahmad.
"walah mas Iki piye to, sudah sah mau kencan juga," ledek ustadz Yusuf.
__ADS_1
"kaku ini gimana, meski sudah sah, tapi kami butuh waktu berdua, terlebih pasti dulu dia sangat di manja oleh mantan suaminya, jadi aku tak mau jika dia merasa terkekang saat bersamaku," kata ustadz Ahmad.
"baiklah kamu menang, tapi tolong lain kali gantikan aku juga ya, janji," kata ustadz Yusuf.
"baiklah janji," jawab ustadz Ahmad.
setelah Fatin sudah cantik, ustadz Yusuf mengajak Fatin untuk ikut dengannya.
"sekarang ayo kita pergi," ajak ustadz Ahmad.
"mau kemana mas?" tanya Dila
"kita jalan-jalan saja yuk, menikmati suasana kota ini, aku yakin kamu pasti belum pernah berkeliling ke sini bukan," tebak ustadz Ahmad.
"tebtu mau mas, aku memang belum pernah sempat berkeliling di kota ini, apa ini kita kencan mas?" tanya Dila tak percaya.
"bisa di bilang begitu, ayo kita berangkat," ajak ustadz Ahmad.
meski mengenakan celana panjang, ustadz Ahmad tetap mengenakan baju muslim lengan panjang dan kopyah.
sedang Dila mengenakan setelan berwarna biru lengkap dengan cadar, Keduanya masuk kedalam mobil dan bergegas pergi ke tujuan.
sesampainya di alun-alun, mereka pun segera mencari beberapa jajanan sambil bergandengan tangan.
dan memilih tempat yang sedikit sepi untuk makan, keduanya sangat menikmati waktu berdua.
bahkan Dila tak segan menyuapi suaminya itu, dan makan-makanan yang telah di gigit ustadz Ahmad.
"mau kemana lagi?" tanya Dila pada suaminya.
"kita jalan-jalan saja," ajak ustadz Ahmad.
ternyata tak jauh dari alun-alun terdapat bazar buku, mereka pun berhenti dan melihat beberapa buku tentang agama.
Dila memutuskan untuk membeli beberapa buku untuk anak-anak yang dia ajar, dan untuk menambah koleksi di perpustakaan Yayasan.
Tak sengaja saat ingin pulang, seseorang menepuk bahu ustadz Ahmad, "assalamualaikum ustadz, apa lupa dengan ku?" tanya pria itu.
"ya Allah ustadz Rasyid, kemana saja, kenapa belum ke yayasan," tanya ustadz Ahmad.
"belum ustadz saya masih ada kepentingan, jadi belum bisa ke yayasan mungkin lusa," jawab ustadz Rasyid.
"oh begitu, kalau begitu ayo cari cafe kita ngobrol bareng, sayang tak apa-apa kan?" tanya ustadz Ahmad.
__ADS_1
"tentu mas," jawab Dila.