Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 69_Tara Melawan


__ADS_3

Seberapa pun reader, like dan favoritnya, author akan tetap selalu update sampai kelar halu/khayalan di kepala author 😸


Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... Biar lebih semangat nulisnya. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


.........


"Senja perlahan datang lalu tiba-tiba hilang tergantikan keremangan malam dan menyisakan kehampaan. Senja tak pernah salah. Hanya kenangan-lah yang kadang membuatnya pipi ini basah. Malam membuat ku ingin menulis rindu, bukan untuk kau baca. Karena rindu yang sesungguhnya telah kau tinggal di tepian senja."


"Aku merindukan mu, mas." Tanpa terasa air mata mulai membasahi pipi Tara.


"Apa yang harus aku lakukan, mas Aryan?"


"Apakah aku benar-benar harus menikah dengan Anand?"


"Kenapa kamu tega meninggalkan aku bersama orang-orang yang memojokkan keadaan ku dan tidak peduli dengan perasaanku?"


"Mas, bantu aku." Bulir air mata terus membasahi pipi.


"Beri aku petunjuk, apakah aku harus menikah dengan Anand?"


Tara memberanikan diri mengaktifkan ponsel Aryan. Banyak pesan, panggilan dan email yang masuk. Tanpa sengaja Tara membuka email Aryan, dia pun mengecek email masuk yang rata-rata isinya tentang pekerjaan. Tara iseng membuka pesan terkirim di email Aryan, dia pun kaget melihat email Aryan yang ditujukan pada Gala.


"Hai, rival ku yang paling aku hormati... Aku bingung mau menghubungimu dengan cara apa, kamu pergi dan tidak mau komunikasi dengan kami lagi. Aku hanya ingin memberi kabar bahagia, tapi aku tidak bermaksud ingin menghina atau meledek dirimu. Aku juga tidak bermaksud untuk sombong atau pamer. Tara sekarang sedang mengandung anakku, buah cinta kami. Bukan maksud egois ataupun tidak memikirkan perasaanmu, namun entah mengapa aku merasa perlu meminta bantuan dari kamu untuk menjaga Tara dan anak kami. Aku sangat percaya mereka aman jika kamu yang menjaganya. Aku mengirimkan pesan ini dengan harap-harap cemas, mungkin saja kamu tidak mau membaca email dariku. Semoga perkiraan ku ini salah. Aku sangat berharap kita bisa menjadi keluarga, aku ingin seperti keluarga Maheswari yang menjadikanmu sebagai anggota keluarga mereka. Terima kasih. Best regard... Your rival ☺" Tara membaca email itu dengan keras, seakan tidak percaya.


"Ini tanggal saat aku dinyatakan benar-benar hamil oleh dokter. Mas Aryan meminta Gala yang melindungi aku dan anakku. Apa mungkin ini firasat mas Aryan sebelum pergi?"


"Tapi Gala tidak membalas pesannya, mungkin saja dia tidak ingin kembali." Tara makin bersedih.


"Tara, mama dan papa akan ke rumah mu besok lusa untuk membahas pernikahan kamu dan Anand. Mama sudah mengabari papamu, tuan Yoga. Mama harap kamu memikirkan baik-baik keputusan apa yang akan kamu ambil, ini semua sudah kami pikirkan demi kebaikan kamu, anakmu dan juga bisnis yang Aryan besarkan." Pesan dari Nyonya Gita.

__ADS_1


"Ck... Kenapa aku mendapatkan mama mertua seperti mama Gita, rasanya aku tidak sanggup menahan ini semua."


"Mana mungkin aku menikah dengan orang yang jelas-jelas menjadi penyebab kematian suamiku."


Tara membuka ponsel Aryan lagi. Dia mengecek pesan-pesan yang ada di ponsel Aryan. Dia melihat pesan yang ditujukan pada Anand. Isinya tidak ada yang penting, tapi tiba-tiba Tara membaca pesan yang mungkin bisa membantunya keluar dari masalah.


"Maaf karena tadi pagi aku telah menghajar mu sampai seperti itu. Aku tidak ingin membenci mu, kembaran ku sendiri. Aku hanya ingin memperingatkan dirimu saja. Ingatlah aku bisa menjadi saudara yang baik yang selalu menutupi salah mu, yang berbagi denganmu dan aku tidak pernah mempermasalahkan harta. Aku sudah bilang ke papa untuk menyerahkan semuanya pada mu, aku tidak tertarik untuk jadi CEO Cakra Wangsa Group. Aku sudah puas dengan jirih payahku sendiri. Satu hal yang tidak bisa ku bagi denganmu yaitu Tara. Dia adalah istriku, cintaku, wanitaku satu-satunya. Sampai mati pun aku tidak pernah ikhlas dan tidak akan membiarkan kamu memiliki Tara atau menyentuhnya walau sedikit saja. Kamu tidak pantas!" Pesan Aryan pada Anand waktu itu, dimana Aryan menghajar Anand habis-habisan karena telah berani menyentuh Tara.


"Kenapa orang baik begitu cepat sekali pergi." Rasa sesak di dada semakin menghimpit, tangisan Tara pecah menyadari betapa Aryan mencintainya.


.........


Dua hari kemudian.


Suasana sangat menegangkan, Tuan dan Nyonya Cakra Wangsa ngotot perihal pernikahan Tara dan Anand. Hari minggu yang biasanya dibuat santai dan menyenangkan berubah menjadi hari yang sangat tidak menyenangkan bagi Tara.


"Yoga, tolong kamu nasehati anakmu ini. Dia harus menikah dengan Anand demi anaknya juga. Kenapa dia tidak mau mengerti dan kekeh tidak mau menikah dengan Anand? Padahal Anand juga mencintainya." Tutur Nyonya Gita.


"Sebelum mengambil keputusan, apakah tante Gita pernah bertanya atau memikirkan perasaan Tara sedikit saja? Apakah perasaan Tara tidak penting?" Tandas Tara.


"Kamu harusnya bisa mencintai Anand juga. Sudah sewajarnya seorang ibu sedikit berkorban dan tidak egois demi anaknya?" Kilah Nyonya Gita.


"Sungguh malang sekali diriku ini mendapatkan mama mertua seperti tante Gita. Malang sekali mas Aryan mendapatkan mama seperti tante Gita." Sinis Tara.


"Kamu jangan bicara lancang, Tara!" Teriak Nyonya Gita.


"Kalian lihat dan dengar sendiri! Tara yang kalian puji-puji, tidak sebaik seperti yang kalian ucapkan." Sindir Nyonya Gita.


"Apakah tante Gita pantas untuk dihormati?" Ledek Tara.


"Tara, kamu jangan keterlaluan, nak!" Tegur Tuan Yoga, papanya Tara.


"Tolong dengarkan aku dulu, pa!" Pinta Tara.

__ADS_1


"Tante Gita bahkan tidak bersedih dengan kepergian mas Aryan. Dengan cepat menyuruhku menikah turun ranjang dengan saudara kembar dari mendiang mas Aryan. Apa mama Lita, papa Yoga dan papa Indra lupa siapa yang menyebabkan mas Aryan meninggal?"


"Aku rasa tante Gita tidak sedih sedikitpun atas kepergian mas Aryan. Bahkan sepertinya tante Gita sangat senang sekali dan buru-buru memojokkan aku agar segera menikah dengan mas Anand. Ibu semacam itu, apakah masih pantas disebut ibu dan dihormati?" Emosi Tara memuncak.


"Jangan hanya karena alasan demi anak yang ku kandung atau demi bisnis yang mas Aryan wariskan hingga membuat kalian semua lupa siapa yang menyebabkan mas Aryan ku meninggal!" Ucap Tara penuh penekanan.


Nyonya Gita diam seribu bahasa karena Tara mengungkit masalah yang menyebabkan Aryan meninggal.


"Tapi, bagaimanapun juga kamu perlu seorang pendamping untuk mengurus itu semua, Tara." Tegur Tuan Indra.


"Siapa lagi yang bisa mencintai anak Aryan dengan tulus kalau bukan Anand saudara kembarnya? Pikirkan lah itu!" Imbuh Tuan Indra.


"Jika kamu menikah lagi dengan selain Anand, kemungkinan besar pria itu tidak akan menerima anak Aryan. Aku tidak mau cucuku menderita." Ucap Nyonya Gita.


"Ha... Ha... Ha... Padahal dulu kamu membuat mas Aryan ku menderita. Bukankah tante hanya mencintai mas Anand saja?"


"Ha... ha... ha... Jangan membuat ku tertawa tante!" Tara tertawa meledek.


"Tara, kamu jangan kurang ajar! Kamu tidak tahu apa-apa tentang caraku mendidik anak-anakku!" Nyonya Gita tidak terima.


"Papa Indra, harusnya papa tahu bagaimana kelakuan tante 'kan?" Sindir Tara.


"Aku sungguh tidak bisa mempercayakan sisa hidupku pada mas Anand. Sudah jelas bagaimana karakter hasil didikan tante." Tara melawan dengan berani.


Suasana semakin panas dan tidak terkendali. Nyonya Gita masih kekeh kalau Tara harus menikah dengan Anand. Diskusi semakin alot.


.................


Akankah Tara menerima Gala kembali?


Apakah Gala akan tiba tepat waktu membantu Tara, sebelum Tara memutuskan menikah dengan Anand?


Ikuti terus ceritanya ya 🙏🏼👍🏼

__ADS_1


Yuk ditunggu jempolnya👍🏼, komentarnya dan dukungannya❤. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.


__ADS_2