Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 76_Baby Aryan Kembar


__ADS_3

Like dan komentar kalian membuat author semangat nulis, apalagi kalau ditambah favorit, vote dan hadiah.


Jadi, please 🙏🏼 jangan lupa like dan komentarnya, kalau berkenan tambahkan favorit juga, terus kasih vote dan hadiah.


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia. Terima kasih 🙏🏼


.........


Dunia serasa milik mereka berdua, siang yang panas semakin panas. Bukan lagi first night, tapi first afternoon.


Mereka berdua masih berpe-lukan di atas ran-jang, istirahat sejenak mengobati rasa lelah namun menyenangkan. Rasanya ingin sekali waktu tidak bergerak dan mereka selalu bahagia seperti saat ini.


"Aku sungguh tidak menyangka bisa bersanding denganmu. Ini seperti mimpi." Ucap Gala.


"Ini bukan lagi mimpi, sajna. Bukankah hidup harus terus berlanjut?" Sahut Tara.


"Aku bersyukur, apapun yang terjadi pastilah kehendak Tuhan. Tapi hari ini aku benar-benar khilaf, padahal aku belum resmi menikahimu." Gala risau.


"Apa kamu kecewa?" Tiba-tiba mood Tara berubah dan beringsut menjauhi Gala.


"Hey... Jangan salah paham, sajna! Aku bahagia sekali dan tidak pernah menyesal. Hanya saja, harusnya aku melakukannya saat sudah resmi menikahimu. Kalau ketahuan papa dan mama', aku bisa disemprot."


"Terus mereka mengira aku tidak kasian padamu dan baby Aryan. Terus aku harus mendengarkan wejangan yang panjang. Meski ku tahu maksud mereka baik, tapi kadang aku juga ingin nakal dikit."


Gala menjelaskan tanpa henti, karena takut Tara salah paham dan badmood lagi. Ibu hamil memang benar-benar moodnya naik turun.


"Apa kamu tidak apa-apa Tara? Bagaimana dengan perutmu, apakah sakit?" Gala menyentuh perut Tara seakan dia dokter yang ingin memeriksa.


"Gala, kalau kamu tidak ingin perutku sakit. Berhentilah! Cukup satu sesi saja, aku sudah lelah. Nanti kan masih harus ke dokter." Tara takut Gala ketagihan dan akan menyerangnya lagi.


"Iya maaf... Tadi reflek sih. Tapi kamu beneran nggak apa-apa kan?" Gala hanya ingin memastikan.


"Iya, tidak apa-apa. Pakai bajumu! Aku mau mandi dulu. Biar nanti tidak buru-buru ke dokternya."


Tara hendak bangun namun sudah merasa sedikit sulit karena perutnya yang sudah cukup besar. Gala dengan sigap membantu.


"Tunggu disini, aku ambilkan bathrobe dulu!" Tutur Gala.


Gala pun bergegas mengambil bathrobe dan memberikannya pada Tara. Anehnya Gala juga memakai bathrobe punya Tara, dia pikir setidaknya dia harus pakai penutup dulu karena dia tadi lupa memakai bajunya dulu. Tara menahan tawa dan memakai bathrobe-nya dulu.


"Ha... Ha... Ha... Gala kamu kenapa pakai bathrobe ku? Itu ukuran yang pendek dan makin pendek kalau yang pakai kamu." Tara tertawa.



(Anggap itu bang Gala ya guys.)


"Hanya ini yang aku temukan. Kamu berhentilah menertawakan aku!"


Gala malah berpose seperti model. Dia membuka sedikit bathrobe-nya memperlihatkan da-danya. Gala pun bersandar di tembok dan berpose sedikit seksie.


"Aku seksie kan, sajna?" Mengedipkan mata menggoda.


"Iya kamu seksie, kamu bodyguard ku yang paling ganteng, tapi hanya aku yang boleh lihat."


"Bodyguard?" Gala kurang suka.


"Apa kamu mau pensiun jadi bodyguard ku?"


Gala terdiam, ada rasa sedikit kecewa.


"Apa kamu berniat tidak tanggung jawab? Kamu sudah mengambil keper-jakaanku!" Gala tersenyum genit.


"Ya ampun, Gala. Apa ini beneran Gala yang terkenal gahar di luar sana." Tara geleng-geleng kepala dan full senyum.

__ADS_1


"Hey... Aku kan kucing imutmu." Gala mengangkat kedua tangannya ke depan menirukan gerakan kucing.


"Ha... Ha... Ha... Gala berhenti membuatku tertawa, nanti perutku sakit."


"Bilang dulu, kamu mau tanggung jawab apa nggak?" Gala mendekati Tara.


"Aku..." Tara senang sekali menggoda Gala.


Gala berniat menggoda Tara, namun Tara segera menghentikannya.


"Gala, ingat ada baby Aryan. Jangan menggoda lagi!"


"Kamu yang harus tanggung jawab, menjagaku mencintaiku seumur hidup. Kamu tidak boleh pensiun, kamu harus menjaga hati dan cintaku." Tara tersenyum malu.


"Tentu, aku akan menjagamu, menjaga keluarga kecil kita. Baby Aryan juga butuh adik nantinya, biar tidak kesepian." Gala mulai cengengesan/ketawa-ketiwi karena bahagia alias nyengir.


"Kamu itu! Belum lahir udah mikirin adik."


"Apa kamu tidak mau?"


Author pov: Ini yang ibu hamil sebenarnya siapa? kenapa Gala jadi sensitif juga? Cinta dan cemburu memang membuat orang seperti kekanak-kanakan. Mereka romantisan, author yang halu 😂.


"Kenapa kamu jadi sensi gitu? Sini duduk dulu, biar aku jelaskan."


Tara menepuk-nepuk ran-jang disebelahnya. Gala pun menurut begitu saja. Tara memeluk Gala dan bersembunyi di da-danya.


"Papa Gala, imut banget sih kalau sensi gitu. Terus apa gunanya tato ini, kalau kamu seimut ini?"


"Kita wajib berdoa dan berusaha, semoga saja Tuhan memberikan keturunan yang baik. Penerus Aryan Cakra Wangsa sudah ada, jadi masih kurang penerus Maheswari dan penerus Bagaskara. Kita punya 2 papa dan 1 ayah, jangan sampai mereka berebut cucu. Tapi aku harap mereka semua bisa berlaku adil agar tidak ada lagi yang seperti mas Anand." Tara menjelaskan panjang lebar.


"Jadi kamu mau bikin adik buat Aryan junior?" Tanya Gala semangat.


"Mau, tapi tunggu baby Aryan lahir dulu dong! Minimal kalau baby Aryan sudah umur 2 tahun, baru kita program hamil lagi. Nggak baik kalau jarak mereka terlalu dekat. Kita harus fokus dengan perkembangan baby Aryan dulu, jangan sampai dia kurang kasih sayang."


"Berarti aku harus nunggu 2 tahun lagi? Tapi kamu membuatku kecanduan." Gala mulai menci-umi rambut Tara lagi


"Oh, iya. Baru inget."


"Habis baby lahir, kita nikah dulu. Biar nggak takut ketahuan kalau pengen bermesraan kaya gini." Saran Tara.


"Kenapa nggak secepatnya nikah aja?" Gala antusias.


"Ck... Itu moment penting Gala, aku maunya nikah tidak sedang dalam keadaan hamil besar. Biar foto pernikahan kita bagus dan tidak digunjing orang juga." Tara protes.


"Okay... Tapi, apa aku masih boleh khilaf 2 atau 4 kali lagi?" Goda Gala.


"Itu namanya bukan khilaf lagi! Tapi dasar kamunya aja yang mau, iya kan?" Tara mendongakkan kepalanya dan menatap Gala.


"Aku tidak memaksa, sajna. Aku akan lakukan jika kamu bersedia, yang paling penting adalah kenyamanan mu." Mengelus rambut Tara.


"Kita lihat hasil periksa ke dokter nanti, kalau semuanya bagus, sehat dan kuat. Aku juga tidak akan menolak." Tara tersenyum.


"Aku benar-benar bahagia karena memiliki kamu dan mas Aryan. Pria yang selalu mengutamakan kebahagiaanku, aku pun juga akan memberikan kebahagiaan untukmu."


"Tapi, aku memperingatkan kamu wahai Tuan Gala!" Tara berakting galak tapi terlihat lucu.


"Kamu tidak boleh tiba-tiba pergi lagi! Atau aku tidak akan pernah menerimamu lagi!" Ancam Tara.


"Ha... Ha... Ha... Kamu memang imut kalau lagi galak gini, sajna."


"Aku serius, Galaaa...!" Teriak Tara.


"Aku kemarin salah karena meninggalkan kalian berdua. Kalau saja aku ada di samping kalian, mungkin saja Aryan masih hidup." Gala menyesal.


"Takdir dari Tuhan, masa depan seseorang, kita tidak bisa menjangkau itu semua, kita tidak bisa memprediksi itu semua. Kita hanya bisa berusaha saja." Mengingatkan Gala.

__ADS_1


"Don't blame yourself!"


Gala menci-um kening Tara.


"Tapi, aku masih takut." Tara mengungkapkan kekhawatirannya.


"Takut apa? Bukankah ada aku di samping mu!"


"Kemana Rani? Aku takut dia akan melakukan hal gila seperti Indi mantannya mas Anand. Aku tidak sanggup jika suatu saat kehilangan kamu juga." Teringat temannya yang terobsesi pada Gala.


"Tenanglah! Aku kan punya penyedia jasa bodyguard, aku juga akan selalu hati-hati dan lebih hati-hati. Aku juga sudah menempatkan beberapa pengintai untuk mengawasi orang-orang yang kemungkinan mengancam keselamatan kita."


"Rani juga tidak akan berani bertindak macam-macam, dia tidak mau merusak masa depannya juga." Papar Gala.


"Kenapa kamu tahu banget tentang dia?" Tara kesal dan cemburu.


"Hey... Untuk apa kamu cemburu, sajna." Gala memci-umi wajah Tara.


"Kamu kan tahu, aku hanya mencintaimu saja. Aku mengawasi Rani agar dia tidak berbuat macam-macam padamu lagi." Jelas Gala.


"Gala, berhenti menci-umi aku! Kita harus bersiap ke dokter. Kamu cepat bersiap juga, jangan sampai ada yang kesini dan salah paham."


"Paling kita disuruh segera menikah." Ucap Gala santai.


"Sajna, please. Udah ya mesra-mesraannya!" Pinta Tara.


"Perutku sudah besar, jadi tidak boleh terlalu capek."


"Iya, sajna." Menci-um kening Tara sekali lagi.


Mereka akhirnya bersiap dan pergi ke dokter kandungan. Kali ini bu dokter cantik tidak berani menggoda Gala. Dia hanya bicara seperlunya, itupun berbicara dengan Tara.


"Selamat ibu Tara, ternyata kembar ibu hamil kembar. Apa keluarga ibu Tara ada keturunan kembar?" Sang dokter keceplosan dan seakan lupa bahwa almarhum suami Tara juga kembar.


"Dari keluarga mama ada yang kembar. Almarhum suami saya juga kembar." Tara menjawab dengan santai, meski dia jadi sedih.


Gala menggenggam tangan Tara seakan ingin mentransfer kekuatan.


"Oh, maaf. Tapi biasanya keturunan kembar dari pihak wanita, kalaupun dari pihak pria kembar, kecil kemungkinan punya anak kembar kalau dari pihak wanita tidak ada keturunan kembar." Dokter menjelaskan.


"Tidak mengapa dokter. Apakah baby sehat?"


"Berdasarkan hasilnya pemeriksaan baik ibu dan bayinya, semuanya sehat. Tapi tetap harus hati-hati ya, bu Tara." Dokter mengingatkan.


Gala terlihat bahagia sekali mengetahui anak Aryan kembar. Dia sudah membayangkan akan menghabiskan waktu bersama mereka.


"Gala, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Tara heran.


"Mereka pasti mengemaskan sekali. Aku lagi membayangkan nanti kalau aku bermain dengan mereka, pasti aku jadi enggan berangkat kerja." Gala masih saja tersenyum-senyum, dokter pun heran melihatnya.


"Bahagia sekali bu Tara dicintai bodyguard tampan dan mengemaskan seperti ini." Batin bu dokter cantik.


"Apa aku tidak mengemaskan lagi kalau mereka sudah lahir?" Ucap Tara galak.


"Hey... Kamu tetap yang paling mengemaskan bagiku." Gala hendak memeluk Tara.


"Em... Em.. " Bu dokter berdehem dan menghentikan kemesraan mereka berdua.


"Oh, maaf dokter."


Mereka pun pulang dengan malu-malu. Tapi rona bahagia memang tidak bisa ditutupi. Orang yang melihat pasti mengira Tara dan Gala adalah pasangan suami istri. Mereka segera video call secara group, memberi kabar bahagia pada papa Yoga, mama Lita, papa Indra dan tentunya juga ayah Raji tidak ketinggalan. Semoga saja kebahagiaan yang Tara dapatkan tidak direnggut lagi.


.................


Apakah mereka akan sampai ke pernikahan?

__ADS_1


Ikuti terus ceritanya ya 🙏🏼👍🏼


Yuk ditunggu jempolnya👍🏼, komentarnya dan dukungannya❤. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.


__ADS_2