Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_kehidupan dua wanita


__ADS_3

"perkenalkan saya adalah Laras, istri kedua dari Hendra, dan ini putra kami, saya datang untuk meminta pertanggung jawaban dari pria itu yang meninggalkan kami begitu saja," kata Laras dengan ketus dan terkesan sombong.


"ternyata kamu tak tau malu ya, itu adalah anak dari suamiku, yaitu Tono, kenapa kamu bicara omong kosong, jika perlu lakukan tes DNA, dan jika terbukti itu bukan anak Hendra aku akan membuatmu membusuk di penjara, dan bilang pada kekasih tua mu itu, berhenti mengusik rumah tangga putraku, jika tidak aku tak segan membuat kalian menyesal," terang Bu Eka yang memberikan ancaman.


Laras yang malu langsung pergi dengan dongkol, pasalnya dia tak mengira wanita seperti Bu Eka yang dulu lemah.


sekarang berani mengancam dan membuatnya malu, dan dia juga tak mau busuk di penjara.


Mela pun tak mengira jika mantan istri kedua Hendra begitu tak tau malu, dengan membawa anak orang lain dan mengakui sebagai anak Hendra, itupun demi harta dan uang.


**********


Dila sudah mulai belajar berjalan meski tidak mudah, terlebih dia tak bisa hanya terus berbaring di ranjang sepanjang hari.


perlahan kondisi tubuhnya juga semakin baik, terlebih ada dua orang ibu yang menjaganya.


bahkan Dila sudah harus minum jamu khusus yang di buat oleh ibu Wati untuk kesehatannya.


tak hany itu, setiap hari Dila harus makan daun katuk dan sayuran hijau lainnya untuk membuat ASI-nya lancar dan banyak.


ustadz Ahmad pun selalu menemani istrinya di mana pun, dan tak membiarkan dia sendirian karena dia tak ingin istrinya tertekan dan mengalami baby blues.


seperti hari ini tak terasa sudah seminggu Dila melahirkan, dan di yayasan di adakan acara aqiqah.


ustadz Ahmad mengundang semua orang di desa, terlebih ini aqiqah dari ketiga anaknya.


ya Fatin juga baru melaksanakan aqiqah karena dulu dia terlalu sibuk dan juga masih merasakan kesedihan, jadi sekarang baru ada waktu yang tepat.


acara hari ini berjalan sangat lancar, bahkan semua tamu yang datang juga mendapat hampers khusus dari keluarga ustadz Ahmad.


"aduh neng Fatin sedang apa?" tanya ustadz Ahmad.


"sedang jaga adek Abi, umi pipis," jawab Fatin dengan polos.


"neng Fatin sangat baik ya, mau jaga adiknya, semoga Allah menjadikan mu anak yang sukses dalam hidup dan agama ya nak," doa ustadz Ahmad mengusap kepala putrinya yang sudah berjilbab di usia dini.


"amiin Abi," jawab Fatin.


"Abi baru pulang, bagaimana keadaan yayasan dan pondok, aku dengar tadi ada sedikit masalah?" tanya Dila yang baru keluar dari kamar mandi.


"Alhamdulillah bisa di handle oleh anak-anak," jawab ustadz Ahmad yang mengajak Dila duduk di sampingnya.

__ADS_1


Dila menyusui bayi Hasan, tapi Fatin terus melihat bayi itu yang sedang *****.


"ada apa neng Fatin?" tanya Dila yang sadar akan tatapan gadis kecilnya itu.


"umi, neng mau mimik," kata Fatin menunjuk bayi Hasan.


"aduh neng Fatin yang cantik, kan itu milik adiknya sayang, neng kan sudah besar, jadi minum susu formula saja ya," bujuk ustadz Ahmad merasa bingung.


"tidak apa-apa Abi, panaskan saja asi yang ada di freezer, sama saja kok, kita lihat Fatin mau atau tidak," kata Dila.


"siap umi, neng Fatin tunggu ya, jangan ganggu adek-adeknya ***** ya," pesan ustadz Ahmad yang di angguki oleh gadis kecil itu.


ustadz Ahmad menyiapkan tiga botol, dua yang kecil untuk putranya dan botol besar milik Fatin.


meski sudah tiga tahun, tapi gadis kecilnya itu belum bisa lepas dari botol susu bayi.


meski Dila beberapa kali membuatnya minum dengan gelas khusus yang memiliki sedotan, tapi Fatin masih mencari botol susu miliknya.


setelah siap, kini mereka semua sedang minum sambil tiduran di ranjang, fatin tidur di tengah di apit oleh kedua orang tuanya bersama adiknya.


benar saja tak lama Fatin tertidur karena Dila yang menyenandungkan sholawat untuk membuat ketiga anaknya tidur.


setelah menata ketiganya, Dila juga bersiap tidur tapi ustadz Ahmad memeluknya dari belakang.


"lama umi, ya Allah... " jawab ustadz Ahmad yang menyembunyikan wajahnya di dada istrinya.


"aduh... Abi kok seperti fatin sih, jangan manja gak malu sama anak-anaknya nih," goda Dila pada ustadz Ahmad.


keduanya pun tertawa bersama, dan kemudian tidur sambil berpelukan, meski akhirnya Fatin yang menang karena kalau tidur selalu memakan tempat.


di sebuah rumah, malam ini Mela merasa lapar dan ingin makan sesuatu yang pedas.


dia pun ingat menyimpan tahu ranjau yang kemarin di geli, jadi dia menghangatkan makanan itu dan segelas susu.


setelah makan, dia merasa kenyang, Mela tak menyangka menjalani kehamilan tanpa suami itu sangat sulit.


"seandainya mas Hendra di sini, apa dia akan jadi suami siaga?" gumamnya.


terlebih dia juga masih harus bekerja dan menjalankan usaha, tapi semua ini demi Putranya.


Mela tanpa sadar tertidur di sofa, pukul tiga pagi Bu Eka keluar kamar setelah sholat malam.

__ADS_1


dia kaget melihat Mela yang meringkuk di sofa, bahkan dia tertidur tanpa selimut dan tv menyala.


Bu Eka pun memakaikan selimut dan membiarkan tv itu menyala, sedang dia mulai masak untuk di bawa ke penjara.


terlebih sekarang adalah waktunya mengunjungi Hendra, dia sedang membuat sambel goreng kering kentang dan teri.


tak lupa ada juga serundeng dan beberapa cemilan yang semalam di buatkan oleh Mela yaitu beberapa toples kue kering.


Mela pun terbangun karena mencium aroma masakan sang ibu mertua, "pagi Bu, maaf Mela ketiduran ya, semalem habis laper banget dan tiba-tiba kangen mas Hendra pula," kata Mela yang menghampiri Bu Eka dengan mata bengkak.


"aduh nduk, kompres dengan air dingin ya, nanti malu lah kalau harus ketemu Hendra dengan kondisi begini," goda Bu Eka.


"iya Bu, kalau begitu Mela siap-siap ya, maaf tidak bisa bantu ya Bu," kata Mela yang pamit ke kamar mandi.


setelah itu Mela berdiam cukup lama untuk melihat baju miliknya, kali ini dia memutuskan untuk mengenakan tunik panjang dan celana saja.


saat dia keluar, ternyata sudah siap, Bu Eka juga sudah berganti pakaian, Mela memilih sarapan di mobil karena takut kesiangan nanti saat sampai di lapas.


pagi ini Hendra bercukur untuk menyambut Mela dan ibunya, dia bahkan sudah bersiap dari pagi.


"wah bos rapi banget, apa kakak ipar akan datang ya, bukankah kehamilannya sudah besar?" tanya seorang pria yang selama ini menjadi anak buah Hendra di lapas.


"iya, tapi kemarin dia mengirimkan pesan jika akan datang, dan mungkin bulan depan yang tidak, karena sudah semakin dekat dengan hari kelahiran putra kami," kata Hendra dengan wajah semringah.


mereka berdua pun sampai dan ikut antri bersama keluarga narapidana yang lain juga.


mereka masuk sesuai urutan, Hendra langsung menyapa Keduanya, bahkan yang membuat Mela terkejut adalah pelukan yang di berikan oleh Hendra padanya.


Mela pun hanya diam membeku, "aku sangat merindukan mu, beberapa hari ini aku terus bermimpi bertemu dengan mu," terang Hendra.


"mas ... sudah bisa menerima ku?" tanya Mela tak percaya dengan apa yang baru saja dia alami.


"bukan aku, tapi kamu yang telah membuat pria bajingan ini bertekuk lutut, karena ketulusan mu aku jadi adat untuk menghargai dan menjaga semua milikku, yaitu kamu, ibu dan calon anak kita," kata Hendra mengusap perut Mela.


tanpa di duga bayi di dalam perut itu menentang, Mela dan Hendra pun kaget.


Hendra langsung menangis haru merasakan pergerakan dari putranya yang hadir karena kebiadabannya.


meski itu anaknya atau Andi, tapi baginya bayi itu sekarang miliknya dan Mela adalah istrinya.


"terima kasih ... aku juga semalam begitu merindukan mu, aku setiap malam berdo'a, seandainya bisa aku membebaskan mas agar bisa keluar dari sini, aku butuh mas di sisi ku, aku ingin ada seseorang yang menjaga dan menemaniku," kata Mela yang juga menangis.

__ADS_1


"maafkan aku ya Mela, karena aku harus menembus semua disini,"


__ADS_2