Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_tolong jaga kepercayaan


__ADS_3

setelah melakukan tugasnya, Mahi melihat jam ternyata sudah jam tiga pagi, dia pun merasa begitu lelah.


"dokter Mahi, apa perlu di antar, pasti tak akan ada kendaraan umum jam segini?" tanya Aline yang tahu juga ikut lembur.


"tidak masalah, aku bisa menelpon adik iparku, dia pasti bangun jam segini," jawab Mahi tersenyum.


bahkan bajunya sedikit kotor karena terlalu fokus membantu tadi, sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan ruang UGD.


seorang wanita turun dari mobil, dan langsung menghampiri mshi, sedang Mahi malah kaget melihat gadis itu.


"ya Allah mas gak papa?" tanya Fatin yang menjemput Mahi.


"loh, neng kesini dengan siapa?", tanya mahi masih tak percaya.


"mas gak baik menjawab pertanyaan dengan pertanyaan," kata Fatin sedikit kesal.


"ah maaf aku terlalu kaget, aku tak apa-apa maaf seharusnya aku memberitahu mu dulu jika aku lembur di IGD, neng Fatin perkenalkan asisten ku, perawat senior di sini, Aline.. ini istriku," kata Mahi memperkenalkan keduanya


"senang bertemu dengan anda nyonya,", sapa Aline.


"jangan panggil nyonya, panggil Fatin saja, aku juga senang bertemu dengan mbak Aline," jawab Fatin tersenyum teduh.


sekarang Aline mengerti kenapa bisa Mahi menikah, karena melihat sosok Fatin yang begitu agamis, pasti mereka ta'aruf, tebakan Aline.


"mas ayo pulang, kasihan Husain, aku bangunkan tadi demi kesini," ajak Fatin.


"baiklah ayo pulang, kami duluan ya perawat Aline," kata Mahi berpamitan.


"iya dokter dan istri," jawab Aline


Fatin berjalan dan mengandeng tangan Mahi, Aline pun bisa melihat keduanya nampak bahagia.


sedang nahi masih tak percaya dengan apa yang dia rasakan, Fatin sudah bisa mengandeng tangannya tanpa rasa takut.


sebelumnya kondisi Fatin masih sangat parah, hanya berjabat tangan saja sudah gemetar, tapi ini malah terlihat biasa saja.


"baik nyonya dan tuan, mari kita pulang," kata Husain yang kali ini jadi sopir untuk keduanya.


pasalnya Haris malah ikut Fatin duduk di belakang, sesampainya di rumah, Mahi ingin mandi tapi ternyata kamar mandi di luar ada Hasan.


"mas mandi di kamar ku saja, dari pada menunggu Hasan yang pasti lama,", kata Fatin.


"tapi neng-"


"tidak ada penolakan mas, ayo.. dan biar aku ambilkan tas ku di kamar Husain ya," kata Fatin yang mengambilkan handuk bersih.


Mahi melepaskan kemejanya, Fatin masuk dan melihat suaminya itu sudah memakai baju dalaman.


mas aku tinggal ke dapur nanti kalau mas ingin tidur, tidur di sini dan nanti saat sholat subuh aku bangunkan," kata Fatin.


"tapi itu bisa membuat mu tidak nyaman," kata mahi sedikit menolak.

__ADS_1


"tidak apa-apa, tolong biarkan aku berusaha untuk mendekatkan diri, jika mas tidur di tempat Husain, keadaan ku tak akan pernah bisa pulih," mohon Fatin.


"baiklah, apapun yang kamu minta," jawab Mahi.


Fatin pun berpamitan untuk keluar, dan segera mencuci baju Mahi yang kotor.


setelah itu Fatin membantu di dapur pondok, meski sudah ada bagian masing-masing, tapi pasti ada satu dua pengurus yang menjadi pengawas.


tak lama terdengar suara adzan subuh, Fatin pun pamit untuk melihat Mahi, tapi saat di depan kamar.


Keduanya berpapasan, "ada apa neng?"


"ah mas Mahi sudah siap, tadinya takut mas nahi ketiduran jadi aku ingin membangunkan mas," jawab Fatin


"tidak neng, mau tidur pun cuma sedikit waktu, sekarang aku ke masjid dulu ya," pamit Mahi.


Fatin pun masih menunduk, saat Mahi akan pergi, Fatin menahan tangan Mahi, "tunggu... bisakah berhenti memanggil ku neng, aku istrimu, coba panggil seperti pasangan lain, meski aku lebih tua dari mas," lirih Fatin.


"baiklah dek Fatin yang Sholehah, boleh kan mas berangkat ke masjid dulu," kata Mahi dengan senyum mengembang.


Fatin pun merasa malu mendengar ucapan Mahi, pria itu berbalik dan memberikan ciuman di kening Fatin.


"maaf ... butuh obat penambah semangat," kata Mahi.


ustadz Ahmad merasa bahagia, Fatin benar-benar mengikuti sarannya, kemarin malam saat Fatin menunggu Mahi.


ustadz Ahmad datang menghampiri putrinya, "masih belum pulang neng, suamimu?"


"doakan neng, suamimu sedang berusaha menyelamatkan nyawa orang banyak, dan jemput saja minta tolong Husain atau Hasan untuk mengantar mu nanti, dan Abi harap kamu bisa mulai membuka diri, terlebih sepertinya Mahi begitu mencintai mu," kata ustadz Ahmad sambil mengusap kepala Fatin yang tertutup hijab.


"tapi bagaimana caranya Abi, saat aku melihat dan menyentuhnya, aku selalu teringat pria-pria yang dulu menyekap ku, dan ingatan masa lalu itu datang lagi," kata Fatin yang masih belum bisa sepenuhnya lupa.


"kalau begitu tolong bayangkan ada diri Abi di dalam suamimu, atau jika anggap dia seperti halnya Hasan dan Husain, ciptakan rasa nyaman itu, kemudian bayangkan suamimu datang dan memberikan mu uluran tangan dan memeluk mu," kata ustadz Ahmad.


Fatin pun mencobanya, dia menutup mata dan membayangkan bagaimana dia dan ketiga bocah pri itu bermain.


Fatin memang selalu menjaga ketiganya beserta Husna, tapi Mahi selalu paling perhatian padanya.


kemudian Fatin membayangkan semu ingatan buruk itu, ustadz Ahmad mengenggam tangan putrinya itu.


kemudian pria sepuh itu membisikkan sesuatu, "lihatlah siapa yang datang, dan mengulurkan tangannya padamu pertama kali," bisik ustadz Ahmad.


Fatin kecil menampar pipi seseorang Krena ketakutan, tapi bocah pria itu tetap memeluk tubuh Fatin yang gemetaran.


"neng Fatin, ini Mahi... jika neng seperti ini... nanti umi dan Abi sedih..." tangis bocah itu.


Fatin pun membuka matanya, dan terus meneteskan air mata, ustadz Ahmad memeluk Fatin.


"Abi... kenapa ada mas Mahi kecil, aku sudah memukulnya dan mendorongnya, tapi dia..."


"itu adalah ingatan mu yang terlupakan neng, hanya dia satu-satunya yang berani mendekati mu saat kamu histeris, bahkan saat kami semua tak bisa, hanya dia yang merelakan tubuhnya terluka karena kamu yang sedang marah."

__ADS_1


"apa sejauh dan sedalam itu Abi, Kenapa aku sekarang meras tak pantas untuknya," gumam Fatin lirih.


"hayo Abi kok malah ngalmun disini, sudah Yo ke masjid," tegur Dila.


"aduh umi ini, Abi lagi melihat adegan uwow barusan," kata ustadz Ahmad dengn senang.


"aduh aki-aki satu ini memang banyak sekali tingkahnya, ya sudah aku duluan kalau begitu," kesal Dila mendengar ustadz Ahmad bicara.


"meski aki-aki begini umi tetap cintaku kan?" tanya ustadz Ahmad dengn suara cukup keras.


sedang Fatin tersenyum melihat tingkah kedua orang tuanya yang memang begitu harmonis dan sering saling menggoda.


bahkan Dil sering di buat malu sendiri karena ustadz Ahmad yang memang pembawaannya seperti itu.


Fatin sedang libur tak sholat, dia memutuskan untuk membereskan barang-barang Mahi.


Fatin bahkan mengusap baju kemeja dan jas putih milik Mahi, "maafkan aku yang pernah melukai mu... terima kasih sudah mencintai diriku yang tak berguna ini," gumam Fatin.


saat akan memasangkan charger pada ponsel Mahi, tak sengaja Fatin melihat beranda kunci layar ponsel itu adalah fotonya.


Fatin pun mencari foto suaminya di sosial media tapi tak bisa menemukannya, terpaksa dia melihat di sosial media milik Husain.


beruntung adiknya itu menyukai fotografi jadi mudah menemukan berbagai foto kegiatan yang terjadi di yayasan.


bahkan foto pernikahan Fatin dan mahi juga sudah di upload. dia pun mengambil beberapa foto.


Mahi bergegas kembali ke kamar setelah sholat selesai, dia melihat fayin yang sibuk dengan ponselnya.


Mahi duduk bersila di depan Fatin dan menaruh kepalanya di paha istrinya itu.


"mas capek?" tanya Fatin lembut sambil memijat kepala Mahi.


"tidak ada, jangan memaksakan diri dek, maaf aku lancang menaruh kepala ku," kata nahi tak enak


"bukan lancang, ini kewajiban ku, mas istirahat saja, apa aku perlu mengambilkan makanan dulu, sebelum mas tidur," tawar Fatin yang ingin pergi.


tapi Mahi menahan tangan Fatin, "duduklah disini dan temani aku, ada sesuatu yang ingin aku katakan," mohon Mahi.


"baiklah mas, aku dengarkan," jawab Fatin yang duduk di sebelah Mahi.


"mantan ku saat SMA yang terlibat kecelakaan, kondusifnya sangat parah dan di rawat di rumah sakit tempat ku mengabdi, aku tak bisa berbohong pada mu, dulu aku berpacaran dengannya karena dia menginggat kan aku pada sosok mu dek, tapi ternyata dia kebalikan dari neng Fatin gadis yang aku cintai, kami putus dengan cara tak baik," kata Mahi jujur.


Fatin hanya diam tanpa bicara, "apa kamu marah, kamu bisa memukulku, atau melakukan apapun jika perlu maki aku dek, tapi jangan diam saja," mohon Mahi.


"apa mas masih mencintainya, apa dia masih ada di hati mas?"


"tidak!! di sini hanya milik mu dan semuanya sudah tertulis namamu, bagaimana bisa ada gadis lain," jawab Mahi.


"kalau begitu tak perlu sedih, aku percaya pada mas bisa menjaga diri dan kepercayaan ku, terlebih ikatan suci pernikahan ini," jawab Fatin.


Mahi pun tersenyum senang, dia pun mencium tangan Fatin, "terima kasih..."

__ADS_1


__ADS_2