
Seberapa pun reader, like dan favoritnya, author akan tetap selalu update sampai kelar halu/khayalan di kepala author 😸
Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... Biar lebih semangat nulisnya. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi. Sebelum berangkat kerja Gala melihat sosial medianya. Foto Aryan yang diunggah oleh Tara muncul di beranda sosial medianya. Sosial media sedikit membantunya mengobati kerinduannya pada Tara, setidaknya dia masih bisa melihat sedikit kegiatan Tara.
Gala bermonolog.
"Aku benar-benar cemburu dengan caramu yang bahagia tanpaku, Tara. Aku kira kamu akan bersedih karena kepergian ku."
"I’m fighting with my thoughts/memories. I’m fighting with my own self. There’s no sleep in my eyes. Since I have separated from you, it seems to me as if my whole world has collapsed. That there will be a day, when you will return. Then on that day my heart will smile again. Why did our roads get separated? Neither you are wrong, nor am I right."
Terjemahan. "Aku berjuang dengan pikiran / ingatanku. Aku berjuang dengan diriku sendiri. Tidak ada tidur di mataku. Sejak aku berpisah darimu, sepertinya seolah-olah seluruh duniaku telah runtuh. Akan ada hari, ketika kamu akan kembali. Kemudian pada hari itu hatiku akan tersenyum lagi. Mengapa jalan kita terpisah? Ini bukan salahmu, tapi bukan berarti aku benar."
Gala melihat unggahan foto di sosial media milik Karan dan Ahsan, ternyata mereka berdua juga sedang di Pakistan. Awalnya Gala ingin menghubungi mereka dan mengajak mereka meet up, namun dia mengurungkan niatnya karena tidak mau jika ada orang lain tahu bahwa dia sedang di Pakistan.
Gala melampiaskan semua rasa sakit di hatinya dengan bekerja. Tidak ada waktu untuk memikirkan kesedihan dan cinta yang baru. Akan butuh waktu yang lama untuk move on dari cinta sedari kecil.
.........
Pagi yang cerah untuk jiwa yang bahagia. Semalam mereka tidur lebih awal karena sudah lelah. Kini Tara bangun lebih awal meninggalkan Aryan yang masih tidur lelap. Dia segera ke kamar mandi untuk mengecek kehamilannya dengan test pack. Tidak hanya satu, Tara langsung menggunakan kedua test pack agar lebih meyakinkan. Dengan harap-harap cemas Tara menutup matanya karena gugup, perlahan-lahan dia membuka matanya melirik ke arah hasil test pack.
"Garis dua semuanya." Gumam Tara.
"Aaaaaa... Garis dua..." Teriak Tara kegirangan.
Aryan kaget dengan teriakan Tara, ia pun segera bangun dan berlari ke kamar mandi karena takut Tara kenapa-kenapa.
"Sayang, apa kamu tidak apa-apa?" Dengan wajah yang panik.
"Garis dua, mas." Tara menangis terharu dan memeluk Aryan.
"Kita akan jadi papa dan mama muda." Imbuh Tara.
__ADS_1
"Terima kasih Tuhan, begitu cepat Engkau memberi kami kepercayaan untuk menjadi orang tua." Aryan mengucap syukur.
Aryan melepaskan pelukannya dan berjongkok lalu mencium perut Tara.
"Selamat datang Aryan Cakra Wangsa junior. Baik-baik ya di dalam, papa dan mama pasti akan melakukan yang terbaik untukmu. Jangan nakal ya." Aryan berbicara di depan perut Tara.
"Iya, papa." Tara menirukan suara anak kecil.
"Kita pastikan lagi ke dokter ya, mas." Usul Tara.
"Iya, sayang. Sekalian konsultasi untuk kesehatan, gizi dan lain sebagainya tentang kehamilan. Kita harus memberikan yang terbaik untuk calon baby kita." Langsung menyetujui.
"Terima kasih telah bersedia menjadi ibu dari anak-anakku. Aku bahagia sekali." Aryan mencium kening Tara.
"Aku juga bahagia sekali, mas. Rasanya masih nggak nyangka banget bisa hamil secepat ini." Lagi-lagi menangis karena bahagia.
Aryan berdiri dan memeluk Tara lagi. Terkadang memang kita tidak boleh berkata jangan menangis, kita perlu mendengarkannya.
"Sayang, langsung ke dokter hari ini aja ya. Mas akan minta pengunduran jadwal meeting." Semangat dan full senyum.
"Iya, mas. Aku juga ngk sabar ke dokter, biar lebih yakin." Tara langsung setuju.
Pagi itu mereka segera bergegas ke dokter khusus untuk ibu dan anak. Semuanya berjalan lancar seakan kebahagiaan tiada habisnya terus tercurah untuk keluarga kecil Aryan. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tara telah hamil 2 minggu. Sepanjang perjalanan mereka terus tersenyum bahagia dan merencanakan banyak hal untuk calon baby mereka.
"Apapun yang Tuhan kasih, kita harusnya menerimanya dengan rasa syukur. Jika nanti kita dipercaya untuk memiliki anak kembar, kita harus benar-benar bersikap adil dan mencintai mereka dengan sama besar." Aryan terdiam karena teringat dengan kehidupannya dengan Anand.
"Mas Aryan pasti lebih paham dengan suka duka mempunyai saudara kembar. Tapi aku percaya sih, kalau mas Aryan ku yang ganteng ini pasti bisa jadi papa yang baik." Ucap Tara yakin.
"Aku juga percaya kamu bisa jadi mama yang terbaik. Jika nanti anak kita beneran kembar, sebagai mamanya kamu juga harus membagi cinta dan perhatian dengan sama rata. Untuk anak-anak 20 % dan yang 80 % tentunya untuk aku." Senyum-senyum nggak jelas.
"Isshhh... Itu namanya kamu mau memonopoli aku, mas. Kasian anak-anak dong." Tara protes.
"Ha... Ha... Ha... Becanda, sayang. Untuk anak-anak 60% dan aku yang 40% ya, nggak ada nego lagi." Usul Aryan.
"Big baby-ku yang satu ini memang nggak mau kalah ya." Tara mencubit pipi Aryan.
"Apa kita langsung ke tempat mama papa aja? pasti mereka senang sekali karena akan segera menjadi kakek dan nenek?" Usul Tara.
"Jangan sekarang, sayang! Kamu harus istirahat dulu di rumah, takutnya kalau tiba-tiba kram lagi perut kamu. Besok aja kalau Minggu kita ke tempat papa dan mama." Saran Aryan.
__ADS_1
"Okay, papa Aryan ku yang ganteng." Tara menurut.
"Jadi nggak sabar dipanggil papa." Aryan begitu bahagia.
"Nanti papa Aryan nggak boleh sibuk kerja terus ya! Papa harus jadi suami siaga, setiap saat mama butuh harus ada."
"Iya, mamaku yang cantik." Balas Aryan.
"Rasanya bahagia sekali, mas."
"Kok panggil mas lagi?"
"Maaf, papa. Mama tadi lupa."
"Mas ganteng ku berubah jadi papa ganteng ku."
"Aaaaaa... Nanti papa berubah jadi hot dady. Bikin para cewek-cewek tersepona melihatmu, papa ganteng ku." Teriak Tara.
"Papa ganteng cuma milik mama cantik. Papa janji ✌🏻."
"Ah, jangan cuma janji-janji doang, harus dengan bukti tindakan." Ucap Tara manja.
"Percayalah mama sayang, hanya mama yang ada di hati papa seumur hidup papa." Ucap Aryan serius.
"Ah... Nanti papa bakal cemburu berat kalau cinta dan perhatian mama tercurah ke anak-anak semua."
"Papa, jangan cemburu dengan anak sendiri. Mama usahakan tetap akan melayani papa dengan baik. Tapi papa harus lebih sabar aja."
"Ma, entar malam masih boleh nggak?" Aryan tersenyum nakal.
"Papaaa..." Teriak Tara.
"Iya, mama sayang."
"Kata dokter boleh, tapi papa harus pelan-pelan."
"Iya, sayang. Papa janji akan hati-hati." Aryan setuju.
................
__ADS_1
Ikuti terus ceritanya ya 🙏🏼👍🏼
Yuk ditunggu jempolnya👍🏼, komentarnya dan dukungannya❤. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.