
Seberapa pun reader, like dan favoritnya, author akan tetap selalu update sampai kelar halu/khayalan di kepala author 😸
Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... Biar lebih semangat nulisnya. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Satu bulan berlalu setelah Tara berkata akan membuka hatinya kembali untuk. Gala begitu bahagia karena Tara sedikit demi sedikit kembali menjadi Tara yang dulu. Tara yang ceria dan penuh semangat.
Gala pov: Akhirnya aku bisa berada di sisimu lagi, menjagamu, menyayangimu dan mencintaimu seperti dulu. Aku yakin aku bisa mencintai kamu dan anakmu. Aku tidak sabar menunggu Aryan junior lahir di dunia ini. Aku akan jadi ayah, meskipun bukan ayah kandung tapi aku akan mencintainya karena dia adalah anak dari wanita yang ku cintai. Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik, aku harus berguru pada papa Yoga. Tapi aku masih khawatir soal ayah, akankah beliau akan merestui kita jika kamu sudah benar-benar menerima ku kembali. Aku harus segera menemui ayah dan memohon padanya agar memberitahu restunya. Aku tidak mau menjadi anak durhaka, aku harus lebih sabar menghadapi ayah. Aku tahu selama ini ayah pilih menduda karena aku. Ayah takut istri barunya seperti mantan pacarnya yang tidak menerima kehadiranku. Aku beruntung punya mama papa Maheswari, kini aku akan membuat mereka bahagia dan juga merasa beruntung karena memiliki aku.
Gala keluar dari kamar mandi setelah hampir 30 menit dia menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Bukannya segera bergegas tapi pikirannya malah terus menerawang jauh memikirkan masa depannya bersama Tara.
"Hmmm... Andai saja sudah menikah dengan Tara, pasti saat keluar kamar mandi seperti ini aku bisa menggoda Tara. Rasanya kangen sekali pada Tara, padahal satu rumah tapi aku belum bisa memeluknya seperti dulu. Kalau aku memeluknya sekarang pasti terganjal Aryan junior. Jadi nggak sabar dan gemes nunggu Aryan junior lahir. Pasti menyenangkan punya anak pertama, gemes dan pengen cium-cium si baby terus." Gala terus saja bergumam tanpa menyadari Tara sudah ada di depan pintu kamarnya.
"Kamu ingin menggoda ku?" Suara Tara mengagetkan Gala.
"Gala, cepat berpakaian! Aku tunggu kamu di luar." Tara grogi melihat pemandangan indah yang Gala suguhkan.
(Waduh, bikin jantung dag-dig-dug ini abang Gala ganteng maksimal.)
"Sudah lama aku tidak melihat pemandangan indah seperti ini. Ck... Kenapa juga aku langsung membuka pintu kamarnya? Harusnya aku ketuk dulu, aku juga nggak menyangka dia habis mandi dan cuma pakai handuk begitu." Tara terus saja bergumam.
"Kenapa sekarang rasanya jadi malu, melihat Gala seperti itu. Padahal dulu sering lihat dia tidak pakai atasan. Mungkin saja karena dia cuma pakai handuk. Aaahhh... Mas Aryan." Tara teringat akan suaminya.
"Mas Aryan jangan marah ya di atas sana. Ku harap mas Aryan bisa merestui aku bersama Gala, meskipun tidak saat ini. Aku ingin fokus dengan kehamilan ini, aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk anak kita." Tara mengelus perutnya sambil terus bergumam seolah dia sedang bicara dengan Aryan.
"Nanti di usia kehamilan 6 bulan, aku akan cek apakah baby kita kembar atau nggak." Tara sudah bisa tersenyum sekarang.
"Kembar pasti lebih seru, tapi kita harus siap untuk berbagi dengan adil." Gala yang baru keluar kamar menanggapi kalimat terakhir Tara.
"Iya, aku tahu. Mas Aryan pernah berpesan seperti itu padaku. Aku akan ingat pesan mas Aryan untuk membagi cinta dan perhatian dengan adil. Kita harus kerjasama dengan baik jika nanti benar-benar lahir kembar."
"Tentu, aku akan berusaha jadi papa yang baik buat anak kita, apa aku boleh mengelusnya? Apa dia sudah bisa menendang-nendang perutmu?" Gala antusias.
"Bo-boleh... " Tara gugup.
Gala mengelus perut Tara yang membuncit dengan perlahan.
"Hey baby... Kenalin ini papa Gala. Jangan nakal ya... Jadilah anak yang baik." Tanpa sadar Gala mencium perut Tara.
"Iya, papa." Jawab Tara menirukan suara anak kecil.
Gala kegirangan lalu memeluk Tara dan mencium puncak kepalanya. Gala memeluk Tara begitu lama, terhanyut dengan perasaan bahagia yang begitu membuncah. Gala melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Tara.
__ADS_1
"I love you endlessly." Ucap Gala seraya menatap lembut pada mata Tara.
Gala menci-um bibir Tara, bibir manis yang dia rindukan. Tara pun tidak menolak, tidak dipungkiri dia juga merindukan kasih sayang. Masa kehamilan pertama harusnya jadi masa romantis dan indah bagi pasangan suami istri. Namun selama hamil Tara terus saja menahan kesedihan karena ditinggal oleh Aryan.
"Mas Aryan, ijinkan aku bahagia meski tanpamu." Ucap Tara dalam hati, air mata memaksa tumpah dan membasahi pelupuk matanya.
Gala sadar Tara bersedih, diapun mengusap air mata Tara dan menci-um kedua mata Tara.
"Semoga mas Aryan juga merestui kita dari atas sana. Aku akan menjaga dan mencintai kalian dengan segenap jiwa dan ragaku." Gala berjanji.
Tara memeluk Gala, bersandar di da-da bidangnya. Kini Tara kembali pada pelukan yang selama ini selalu menenangkannya. Kembali pada rangkulan tangan Gala yang selalu menjaga dan mencintainya tanpa syarat dan tidak pernah menuntut.
"Aku bahagia karena kamu kembali padaku sepenuhnya. Sekarang akulah satu-satunya pria yang akan berada di sisimu, menjagamu dan memberimu banyak cinta." Batin Gala.
"Apa kamu sudah menemui ayah?" Tanya Tara yang masih berada dalam dekapan Gala.
"Belum, jujur saja aku agak takut. Aku di sini sedang ingin membuktikan bahwa aku bisa mencintai kalian berdua." Gala memang tidak pernah ingin menutupi apa yang dia rasa.
"Bukankah kamu pernah berkata meskipun harus memohon-mohon, kamu akan minta restu pada ayah? Apa sekarang kamu berubah pikiran dan ingin meninggalkan aku lagi?" Tara mulai bimbang lagi.
"Mama sayang, aku akan segera minta restu pada ayah. Aku sudah mendapatkan cintamu kembali, kini giliranku untuk meyakinkan ayah." Mengeratkan pelukannya pada Tara.
"Papa Gala, kasian baby Aryan, jangan kenceng-kenceng peluknya!" Tara protes.
"Maaf, baby Aryan, papa Gala tidak maksud menyakiti kamu. Maaf ya, papa nggak sengaja." Gala melepas pelukannya, dia menci-um dan mengusap perut Tara.
Tara mengelus rambut Gala. "Tapi aku takut menyakiti mu, Gala. Aku masih mencintai mas Aryan."
Tara memeluk Gala lagi, sepertinya dia tidak ingin kehilangan da-da bidang milik Gala tempatnya bersandar selama ini.
"Terima kasih karena kamu selalu mencintaiku." Tara bersembunyi dalam pelukan Gala.
.........
Sore ini Gala datang ke rumah Pak Rajiman Bagaskara. Setelah hatinya yakin Tara benar-benar kembali ke dalam pelukannya, kini dia memberanikan diri meminta restu pada ayahnya.
"Gala... "
"Akhirnya kamu datang menemui ayah, aku kira kamu telah melupakan ayahmu ini."
Gala memeluk ayahnya. "Ayah, terima kasih telah memberiku keluarga yang sangat menyayangi aku. Papa Yoga dan mama Lita terlalu baik, tapi bukan berarti aku melupakan ayahku sendiri."
"Maaf karena aku, papa jadi hidup sendirian selama ini. Sudah 17 tahun mama pergi, tapi papa tidak pernah mencari pengganti. Padahal aku tidak keberatan kalau ayah menikah lagi." Gala menangis memeluk ayahnya.
"Kenapa kamu malu-maluin banget? Kalau anak buahmu tahu kamu menangis dipelukan ayah, mereka pasti menertawakan kamu." Pak Raji bercanda karena menahan tangis.
"Apa ayah tidak mencintai aku lagi hingga tidak mau aku peluk?" Protes Gala.
"Ayah selalu mencintai, Gala." Pak Raji menepuk-nepuk pundak Gala.
__ADS_1
"Ayah, kamu berhak bahagia, aku sudah mandiri, aku sudah besar. Aku bukan anak kecil yang takut dengan ibu tiri. Ayah carilah cinta sejati lagi agar ayah ada yang menemani setiap hari." Mereka berdua duduk dan bicara serius.
"Meskipun kamu akan punya saudara tiri?" Tanya Pak Raji.
"Iya, ayah. Asalkan wanita itu mencintaimu dengan tulus, aku akan menerimanya." Gala meyakinkan ayahnya.
"Apa kamu mulai memikirkan kebahagiaan ayah karena kamu ingin ayah merestui mu dengan Tara?" Tebak Pak Raji.
"Tidak hanya itu. Aku tahu ayah kesepian, ayah juga butuh pendamping, ayah terlalu lama sendiri."
"Nanti ayah tidak akan sendiri kalau ayah sudah punya cucu." Pak Raji menatap Gala.
"Jangan bilang ayah mau memintaku menikah dengan wanita lain selain Tara!" Gala kaget.
"Tidak! Maafkan ayah yang tidak bisa mengerti kamu, Gala. Ayah akan merestui kalian, anak Tara tetap akan menjadi cucuku juga."
"Meskipun kamu belum mau bertemu ayah, tapi Tuan Indra sudah datang menemui ayah dan meminta ku mengijinkan dia untuk menjadikan kamu seperti anaknya."
"Aku percaya kamu bisa menjadi ayah yang baik untuk anak Tara dan Aryan. Tapi, kelak kamu juga tetap harus memberikanku cucu penerus Bagaskara."
"Terima kasih, ayah." Gala memeluk ayahnya lagi.
"Semoga Tuhan akan memberikanku rejeki berupa keturunan yang baik. Aamiin."
"Aamiin."
"Aku tidak menyangka ayah akan langsung memberikanku restu. Aku sempat takut menemui ayah." Ucap Gala jujur.
"Bodyguard keren gini takut juga sama ayahnya." Pak Raji meledek Gala.
"Ayah, mana mungkin aku berani pada ayah yang membawaku ke dunia ini. Aku juga tidak mau jadi anak durhaka."
"Kamu menginap'lah di sini, kita lama tidak kumpul." Pinta Pak Raji.
"Ayah, aku harus menjaga Tara dan baby. Aku harus jadi suami siaga." Gala tidak mau menginap.
"Ck... Dasar bucin! Belum sah menikah, kamu jangan macam-macam!" Pak Raji mengingatkan.
"Siap, bosku." Gala memberi hormat pada ayahnya.
"Kalau ayah sudah nemu calon ibu buatku, ayah harus segera memberitahuku. Aku juga harus menyelidiki calon ibu ku, aku tidak mau kalau dia tidak mencintai ayah dengan tulus dan malah membuat ayah menderita."
"Ha... Ha... Ha... Iya, nanti kalau ada."
"Pasti ada kan, Yah? Aku tahu wanita itu setia menunggumu, jadi ayah juga harus membuka hati."
Tentu saja Gala tahu wanita mana yang ada di dekat ayahnya. Gala hanya bisa berdoa agar ayahnya bisa membuka hati lagi.
.................
__ADS_1
Ikuti terus ceritanya ya 🙏🏼👍🏼
Yuk ditunggu jempolnya👍🏼, komentarnya dan dukungannya❤. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.