Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_pria idaman


__ADS_3

Haris pamit karena hati sudah sangat malam, sedang Fatin melihatnya dari kejauhan.


Hasan yang memang paling peka terhadap semua orang pun menyadari sesuatu, "neng menyukai mas Haris?"


"tidak kok, memang kenapa?" tanya Fatin tersenyum mencubit adiknya itu.


"karena tatapan mata seseorang tak pernah bisa bohong, ayolah neng aku bisa membaca situasi dari tatapan mata, terlebih setelah banyak bertemu orang," kata Hasan.


"kamu memang selalu paling peka, tapi biarkan hanya Allah yang tau setiap nama orang yang ku sebut dalam doa ku, aku yakin jika kami berjodoh pasti tidak akan ada yang bisa memisahkan," kata Dila tersenyum manis.


Hasan mengerti, itu berarti Fatin tak ingin membahasnya, dan Hasan tau pria itu adalah cinta dalam doa Fatin.


"semoga Abi tak melakukan kesalahan ya neng, karena aku pernah tak sengaja dengar Abi ingin neng bersama dengan mas Abdul, jika itu sampai terjadi maka akan ada tiga hati yang terluka," batin Hasan melihat Fatin pergi.


ustadz Ahmad tersenyum saat masuk kedalam kamar, dia langsung memeluk Dila dengan manja.


"ada apa Abi? malu tuh sama keempat anak mu jika masih manja seperti bocah begini," kata Dila tertawa.


"kenapa, aku manja sama istriku sendiri ini, oh ya sayang ku bisakah aku menjodohkan putri kita," kata ustadz Ahmad.


"tolong jangan lakukan itu Abi, tolong... jangan siksa putri kita, karena aku sudah pernah merasakan hal semacam itu," jawab Dila.


ustadz Ahmad lupa jika pernikahan Dila yang pertama itu gagal karena perjodohan yang salah, tapi itu tak mungkin terjadi.


"tapi sayang, ini Abdul dan Fatin, keduanya sudah kenal dari kecil, mereka berteman juga, nanti aku memastikan pada keduanya dulu," kata ustadz Ahmad.


"baiklah jika keputusan Abi, tapi ingat jangan memaksa mereka, terlebih mereka harus bisa memilih sesuatu sesuai hatinya," jawab Dila.


"siap umi ku sayang, terima kasih atas dukungannya," kata ustadz Ahmad begitu bahagia.


keesokan harinya, Fatin sudah harus berangkat mengajar di sekolah madrasah Tsanawiyah di area pondok.


setelah selesai, pukul dua belas siang setelah sholat dhuhur, Fatin bergegas ke kampus untuk menjalankan tugasnya karena jam kuliah hati ini cukup padat.


dia segera masuk ke ruangan milik dosen, dan mengambil semua tugas dan membantu dosen yang sedang cuti melahirkan itu.


saat berpapasan dengan Haris, Fatin menunduk dan menyapanya, "assalamualaikum dosen Haris," kata Fatin minggir.


"waalaikum salam..." jawab Haris cuek.


Fatin pun hanya tersenyum saja mendengar jawaban dari Haris, dia pun lebih semangat dalam menjalani sisa hari ini.


semua mahasiswa pun kaget melihat Fatin yang datang dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.

__ADS_1


"selamat siang Semuanya," sapa Fatin dengan antusias


"pagi neng," jawab semuanya yang memang tau siapa Fatin.


seorang pria dengan rambut panjang, dan wajah sanggar batu datang ke dalam kelas.


"maaf telat," katanya dengan cuek.


"Gazali, coba lain kali potong rambut ya, pasti kamu tampan," kata Fatin yang memberikan saran.


"gak ah... nanti kakak naksir lagi, sudah mulai kelas saja, aku pasti mengerjakan tugas mu kok," ketus Gazali.


Fatin pun hanya geleng-geleng saja, setelah menjelaskan tentang mata kuliah, Fatin memberikan tugas titipan dari dosen.


setelah selesai, Fatin bergegas lanjut ke kelas yang lain, terlebih masih ada dua kelas lagi.


dia mengambil istirahat sejenak setelah di kelas kedua karena dia harus sholat Ashar.


kebetulan bertepatan dengan Haris yang ingin sholat, "maaf dosen Haris, bisakah kita berjamaah, itu akan lebih baik,"


"tentu tapi jangan berpikiran macam-macam," kata Haris ketus.


"terima kasih," jawab Fatin.


saat sholat selesai, Fatin masih berdoa sambil meneteskan air mata bahagia.


setelah itu dia bergegas untuk masuk ke kelas ketiga yang ternyata lebih padat dari kelas sebelumnya.


lagi-lagi dia bertemu Gazali, tapi Fatin tak menggubris pria itu yang sangat mencolok di banding yang lain.


Husain menjemput Fatin karena kakaknya itu tadi berangkat bersama Hasan.


Husain menarik semua perhatian dari mahasiswi yang ada jelas malam. terlebih penampilan Husain yang nampak begitu alim dan tampan.


"lagi nunggu Fatin?" tanya Haris yang baru sampai parkiran kampus.


"iya mas, mas juga baru selesai mengajar, kok baru pulang?" tanya Husain sopan.


"iya dek, meski sebenarnya sore sudah selesai, tapi aku adakan kuis dadakan yang membuatku harus sedikit tinggal lebih lama," terang Haris.


"iya mas, permisi sebentar," pamit Husain berlari.


ternyata Fatin sedang membawa beberapa buku dan hasil tugas dari mahasiswa dan sangat kesulitan.

__ADS_1


"makasih ya Husain adik neng yang sangat baik," kata Fatin tersenyum lembut sambil mengusap kepala Husain.


"pasti neng, ayo pulang, umi sangat khawatir," kata Husain.


sesaat jantung Haris berhenti melihat senyuman tulus dari Fatin, tapi dia menampik semua perasaan itu karena dia menyukai Husna bukan Fatin.


Haris pun pergi meninggalkan keduanya, "mari neng Fatin yang tercantik dan Sholehah, mari kita pulang," ajak Husain.


"baiklah adik ku yang tampan, tapi kita beli martabak kesukaan Abi dulu ya," kata Fatin.


"baiklah neng, aku akan menurutimu," kata Husain.


mereka pun menuju ke suatu tempat, sedang di yayasan terjadi masalah dan itu menyeret Husna.


Hasan yang baru pulang dari tempat kerjanya kaget melihat keramaian di yayasan.


"maaf ada apa ini?" tanya Hasan.


"mas Hasan, ini mas neng Husna ketahuan memasukkan cowok ke dalam yayasan dan ustadz Ahmad yang memergokinya sendiri bersama ustadz Yusuf," jawab santri itu.


mendengar itu Hasan pun bergegas menerobos kerumunan itu, terlihat tatapan kecewa dari ustadz Ahmad dan seluruh keluarga.


"sebenarnya apa yang kamu inginkan Husna, kenapa bisa kamu memasukkan pria ke area santriwati, itupun tanpa izin," marah ustadz Ahmad.


"bukan seperti itu Abi, itu hanya teman kami yang ingin meminjam buku,aku tadi salah meminjam buku pada Laili, hingga dia tak sabar dan masuk kedalam area pondok Abi, maaf," kata Husna memohon.


"kamu tau jika peraturan di langgar apa konsekuensi yang kami dapat, meski kamu putri Abi, tapi kamu harus mendapatkan hukuman yang sama, bagaimana pengakuan pria itu ustadz Ilyas?" tanya ustadz Ahmad.


"pria itu mengaku jika Laili menyuruhnya masuk ke area santriwati dengan bantuan Husna, dan Husna yang menjaminnya tidak akan tertangkap,"


"dan pengakuan Laili juga sama ustadz, bahkan ini semua adalah ide dari Husna," jawab ustadz Ilyas dan ustadz Ilham bersautan.


"Husna!" bentak ustadz Ahmad ingin memukul Husna. tapi Fatin melindungi adiknya itu.


Husna pun hanya menangis, ketakutan melihat kemarahan dari sang ayah.


"Abi tolong tenanglah, kamu sudah melukai Fatin, Abi," kata Dila memohon.


Fatin pun kaget melihat tiba-tiba ustadz Ahmad mengalami serangan jantung.


"Abi!!" teriak Fatin.


semua pun panik, "cepat siapkan mobil kita bawa ke rumah sakit," panik ustadz Yusuf.

__ADS_1


"Abi ..." tangis Dila


__ADS_2