Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_permohonan Mahi dan Fatin.


__ADS_3

Fatin pun berhasil membuat Husna tenang, sekarang dia sedang bingung bagaimana bicara meminta Abi-nya untuk menyetujui lamaran dokter Rizal.


sedang Hasan bercerita semuanya pada Mahi, mendengar itu Mahi pun sangat setuju terlebih dia sangat mengenal dokter Rizal.


"kenapa bingung kita tinggal ngomong pada Abi bukan?" kata Mahi.


"tidak semudah itu mas, mas kan tau bagaimana Abi," kata Hasan.


"ayolah, mana ada orang tua yang mau menolak kebahagiaan untuk anak sendiri," jawab Mahi.


"tapi yang kami takutkan Abi sudah mendapatkan calon suami untuk Husna," kata Hasan


"kalau begitu kita buat Abi memilih siapa pria paling baik di antara keduanya," jawab Mahi yang sudah memikirkan ide.


ustadz Ahmad dan Dila sedang liburan setelah menjalankan ibadah, mereka berenam ada di Madinah saat ini.


mereka berkeliling kota dan singgah di beberapa tempat identik di sana, dan tak lupa membeli oleh-oleh juga.


"besan, bagaimana apa masih mencari jodoh untuk Husna?" tanya Hendra pada ustadz Ahmad yang sedang duduk di sebuah restoran.


"iya, aku belum menemukan orang yang cocok untuk putriku itu, apa mas Hendra memiliki saudara atau pria yang sudah pantas menikah?" tanya ustadz Ahmad.


"jejaka atau duda?" tanya Hendra yang menggoda ustadz Ahmad.


"apapun statusnya tak masalah, asal dua bisa menerima semua kekurangan Husna," jawab ustadz Ahmad.


Hendra mengangguk, "kenapa tak meminta bantuan dari menantu mu, di rumah sakit ada banyak dokter muda yang belum menikah, atau bahkan yang duda, siapa tau salah satu dari mereka ada yang bisa jadi jodoh Husna," kata Hendra memberikan saran.


"entahlah, aku merasa putri ku terlalu buruk jika harus menjadi istri dari seorang dokter," kata ustadz Ahmad.


"jangan bicara seperti itu, aku yakin jika Husna gadis yang baik, hanya salah langkah saja, dan berhenti menyalahkannya karena itu juga belum tentu semua salahnya," kata Hendra.


"ya anda benar, aku sangat tau hal itu, tapi pria mana yang mau menikahi gadis yang tak suci," kata Dila yang menyahut.


Hendra langsung menatap Dila, "coba kembalikan pernyataan itu pada mu ibu ustadzah," kata Hendra.


Dila kaget, pasalnya dulu dia menyembunyikan semuanya saat menikah dengan Hendra.


"aih... sudah-sudah ayo makan dulu, nanti baru kita bahas ini lagi ya," kata Mela melerai suasana yang mulai tak enak di rasakan.

__ADS_1


akhirnya mereka pun menuju ke daerah kebun kurma dan melihat-lihat sekitar cara perawatan pohon kurma.


Husain pun nampak sibuk dengan ponselnya, Rosita yang iseng pun langsung menarik ponsel Husain.


"sita kembalikan, jangan membuatku marah," kata Husain yang mengejar gadis itu.


"tidak mau, dari tadi di cuekin oleh mas Husain, sekarang ponselnya aku sita, menang kenapa sih takut pacarnya marah ya," kata Rosita yang akhirnya tertangkap oleh Husain


"aku tak punya pacar, aku hanya sedang melihat beberapa tugas uang di kirimkan oleh dosen," jawab Husain.


"apa, cowok setampan mas Husain gak punya cewek, aduh kasihan sekali, masak jomblo terus dari lahir," ejek Rosita.


"hek eleh... Anda sendiri juga masih jomblo, mending saya setidaknya karena itu pilihan diri saya," jawab Husain sombong.


"memang iya, bukannya habis di tolak ya," kata Rosita mengejek Husain.


karena kesal Husain mencubit pipi Rosita, mereka pun kembali ke hotel untuk beristirahat


sedang di rumah, Fatin dan Mahi membahas bagaimana cara menyampaikan keinginan mereka menjodohkan Husna dan dokter Rizal.


keduanya tak memiliki ide sama sekali, terlebih masalah seperti ini yang baru mereka alami.


Fatin tak mungkin menghubungi Abi-nya karena mungkin sudah tidur di Madina pasti sudah malam.


tapi berbeda dengan Mahi yang langsung menelpon ayahnya, karena dia dan Hendra seperti teman sebaya.


"halo ayah, sedang main kuda-kudaan atau sedang tidur?" tanya Mahi.


"hei bocah tengik, apa yang kau bicarakan, tak sopan bicara begitu pada ayah mu, ada apa jam segini menelpon ku," kesal Hendra pada putranya itu.


"ha-ha-ha maaf ayah bro, aku sedang butuh bantuan mu, jika tidak kapan aku bisa membuat cucu untuk mu," kata Mahi memohon.


"baiklah-baiklah aku mengerti, kamu selalu membuat masalah saja, mau di bantu apa?" tanya Hendra kalah.


dia pun bangun dan berdiri di jendela agar tak menganggu istrinya yang sedang tidur.


Mahi menceritakan semuanya, Hendra tertawa, pasalnya putranya itu pintar tapi kalau masalah wanita begitu nol besar.


"baiklah aku akan coba membantu, berdoa saja semoga pria itu bisa menerima usul ku," jawab Hendra.

__ADS_1


"terima kasih ya ayah, kamu memang paling bisa di andalkan," kata mahi yang sedang tidak fokus.


terlebih Fatin sudah duduk di pangkuan Mahi sambil mengenakan baju tidur yang begitu tipis.


"ya sudah ya ayah, aku ingin membuatkan mu cucu dulu," pamit Mahi yang langsung mematikan ponselnya


Hendra melihat ponselnya dan mengumpat, "sialan, dasar anak tak berguna, menyebalkan sekali," omel Hendra.


keesokan harinya, mereka sedang makan di restoran hotel, Hendra melihat ustadz Ahmad dan Dila baru datang sedikit telat.


"ada apa? apa kamu sakit besan?" tanya Hendra khawatir pada ustadz Ahmad


"tidak, aku hanya kekurangan istirahat saja, dan cuacanya yang terlalu panas," jawab ustadz Ahmad.


"baiklah, kalau begitu sarapan dulu baru coba ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisimu," kata Hendra.


"baiklah, tapi biarkan kita berangkat berdua, dan Husain jaga para wanita saat jalan-jalan," kata ustadz Ahmad.


"baik ayah," jawab Husain.


"tapi Abi, umi ingin bersama mu," mohon Dila.


"tak usah, kalian pergi jalan-jalan, aku dan mas Hendra ada urusan sedikit, mohon mengerti ya," kata ustadz Ahmad.


"baiklah," jawab Dila pasrah.


akhirnya mereka pun berpisah, Hendra dan ustadz Ahmad menuju ke klinik terdekat untuk melakukan cek kesehatan.


tapi hasilnya keluar dan menyatakan keduanya baik-baik saja, mereka pun memilih berjalan-jalan ke sekitar klinik yang ada deretan toko perhiasan, parfum dan karpet serta toko baju.


"mau membelikan sesuatu untuk istri-istri tercinta kita?" tanya ustadz Ahmad.


"boleh dong, kebetulan aku juga belum pernah membelikan sesuatu untuk menantuku," kata Hendra tersenyum.


ustadz Ahmad tertawa saja, pasalnya mereka adalah dua pria tua yang berbelanja untuk para wanita.


dia bahkan tak yakin akan pilihan mereka sendiri, terlebih ustadz Ahmad yang tak pernah melakukan hal romantis untuk Dila.


ya maklum saja pria itu tak mengerti cara romantis yang di sukai para wanita, tapi melihat Hendra yang selalu mudah melakukan hal romantis, sepertinya dia harus belajar dari pria itu.

__ADS_1


__ADS_2