
pukul enam pagi, semua orang sudah berkumpul di ruang makan, bahkan ustadz Ahmad juga ikut datang.
Dila pun bergegas menghampiri ustadz Ahmad, dan segera mengambil Fatin dari gendongan sang Abi.
"sekarang giliran ibu, dan Fatin juga harus mulai makan juga," kata Dila mengulurkan tangan pada Fatin.
dengan senang Fatin pun segera meraih tangan ibu asuhnya itu, "baiklah ibu tau yang terbaik untuk Fatin,"
Dila pun tersenyum di balik cadarnya dan kini Dila juga menyiapkan sarapan untuk ustadz Ahmad.
sedang Dila menyuapi Fatin dengan pisang kepok tapi itupun sedikit, ustadz Ahmad merasa hatinya hangat melihat hal itu.
terlebih dia ikut bahagia saat melihat sosok putri kecilnya yang begitu ekspresif.
"Dila tolong bantu do yayasan ya nanti, karena ustadz Ahmad dan ustadz Ilham akan sangat sibuk, mau kan membantuku?" tawar Anisa.
"tentu mbak," jawab dila tersenyum hingga menutup matanya.
"aduh lagi-lagi kamu membuatku semakin malu, Anisa kali ini masakan mu enak loh," puji ustadz Ahmad.
"sayangnya bukan aku dan ibu-ibu dapur yang masak, tapi ibu dari Fatin yang sibuk dari jam tiga pagi loh, hanya untuk membuatkan perkedel kentang," kata Anisa tersenyum.
pria itu pun tak mengira, jika Dila begitu pintar memasak dan merawat anak.
"bagaimana ustadz Sulaiman Ahmad, sudah bisa menentukan keinginan mu, jika iya aku akan melamar Dila untuk mu, karena umi lihat Fatin juga sangat menyukainya," kata umi Chasanah yang sekarang ikut duduk di samping menantunya itu.
"tidak umi, saya tak ingin memaksakan kehendak saya pada siapapun, biarkan Dila menjalani hidupnya dulu, mungkin dia tak akan mudah menerima pria lain, setelah semua yang telah dia alami," jawab ustadz Ahmad yang sudah selesai makan.
pria itu pun langsung pergi meninggalkan semua orang, Dila datang bersama Fatin yang di gendongan kangguru.
"assalamualaikum ustadz, maaf ini untuk anda, semoga bisa membantu di jalan nantinya, dan saya mohon jangan telat makan lagi, jika ustadz sakit pasti Fatin akan sedih," kata Dila yang memberikan tas bekal untuk ustadz Ahmad.
"terima kasih Dila," jawab ustadz Ahmad.
tak terduga, Farid datang dan masuk dengan paksa kedalam yayasan milik ustadz Ahmad.
"minggir, kalian sudah babak belur masih berani menghalangiku, minggiro!!!" teriak Farid yang menggila.
ustadz Ahmad dan ustadz Ilham yang akan pergi kaget melihat keributan, "ada apa itu, kita lihat dulu Ilham," ajak ustadz Ahmad.
"iya ustadz, baru kali ini ada orang gila yang bisa berteriak seperti ini," jawab ustadz Ilham yang terlihat marah.
"keluar Dila!! aku ingin membawamu!!!" teriak Farid.
"mas Farid tolong jaga sikap mu, ini yayasan, bukan pasar," tegur ustadz Ilham.
"ha-ha-ha-ha, kamu siapa kamu itu hanya jongos di sini, tak pantas kamu memintaku untuk diam," marah pria itu.
"tutup mulutmu, jangan berani menghina ustadz Ilham, lagi pula Dila sudah memaafkan semua dan tak ingin memperpanjang masalah untuk kecelakaan itu, karena dia dan seluruh keluarganya juga sudah ikhlas," terang ustadz Ahmad.
"tutup mulutmu ustadz busuk, kamu itu tak mengerti apapun, dan mana Dila, minta dia keluar atau aku akan mengacak-acak yayasan ini," kata Farid.
Dila yang mendengar pertikaian itu memilih menitipkan Fatin pada umi Chasanah.
terlebih dia mendengar namanya di sebut beberapa kali, dia pun keluar dan melihat ustadz Ahmad dan ustadz Ilham tengah bertengkar dengan Farid.
__ADS_1
Farid melihat semua wanita bercadar dan tak bisa mengenali siapapun, dia juga tak bisa menemukan dimana Dila.
Farid mendorong tubuh ustadz Ilham yang jatuh mengenai ustadz Ahmad karena dorongan itu begitu kuat.
Farid menarik beberapa cadar yang di pakai oleh para wanita, semua pun berteriak takut.
tapi hanya Dila yang diam dan menghentikan Farid, "jangan keterlaluan mas Farid, kamu sudah mempermalukan semua orang dengan tingkah mu,"
"kau sudah banyak bicara, sekarang ikut aku dan kita harus lapor polisi untuk memenjarakan Bayu," kata Farid menarik tangan Dila dengan sangat erat.
"lepaskan aku tak akan melakukan itu, aku dan keluarga besar ku sudah ikhlas, toh aku sudah menyerahkan semua pada Allah, lagi pula saat mas batu di penjara itu tak berguna apapun karena suamiku tak mungkin kembali padaku!!!" teriak Dila menarik tangannya.
tanpa di duga, Farid malah menampar Dila di depan semua orang, ustadz Ahmad geram.
dia ingin memukul Farid, tapi Dila memberikan kode untuk tenang, "kenapa mas Farid begitu ingin melaporkan mas Bayu, apa ada sesuatu yang anda sembunyikan dari ku," kata Dila yang masih belum menyerah.
"Dila mundur Dila, jangan membahayakan dirimu," kata ustadz Ahmad memohon.
Dila melihat ustadz Ahmad, dia mengangguk, Farid masih terdiam dan kini menatap marah ke Dila.
"Semuanya bubar, dan pergi untuk kegiatan kalian, ini bukan tontonan," kata ustadz Ahmad pada semua murid yang belum berangkat karena keributan itu.
"kau tidak tau,Bayu itu setan, dia itu iblis karena dia seorang wanita harus menderita dan dia sedang hamil!!!" teriak Farid.
"bukankah itu ide kalian saat ingin menjebak mas Bayu, tapi kenapa sekarang, kenapa mengatakan penyesalan itu, karena wanita yang mas sukai adalah istri mas Bayu, kamu bahkan menyimpan rahasia itu saat ingin menggunakan aku menggoda pria itu agar kamu bisa membawanya ke penjara dan pergi dengan istrinya, maaf tapi aku kecewa," jawab Dila.
"apa kamu tau bagaimana rasanya hal itu, jadi sekarang kamu harus ikut aku, cepat!!!" tarik Farid yang begitu kasar.
"lepaskan aku mas Farid, kamu menyakitiku," kata Dila yang kesakitan.
"kau keterlaluan, dari tadi aku sudah berusaha sabar, tapi kamu terus berulah," kata ustadz Ahmad.
"jangan ikut campur, minggir atau aku akan memukulmu, dan ku pastikan kau akan mati di tangan ku," marah Farid.
"tidak takut, karena hidup mati di tangan Allah," jawab ustadz Ahmad melindungi Dila.
Farid mengeluarkan sebuah pisau lipat, Dila yang melihat mendorong ustadz Ahmad ke samping saat Farid menerjang kearah pria itu.
Dila yang menerima tusukan pisau itu, bahkan tak hanya sekali, tapi dengan cepat Farid menarik dan menusuk Dila lagi.
"Dila!!!" kaget semua orang.
bahkan Fatin langsung menangis, ustadz Ilham menarik Farid dan menghajarnya.
pria itu seperti kesetanan, sedang ustadz Ahmad menahan tubuh Dila yang tumbang di depannya.
"Dila bertahan, Anisa panggil ambulans cepat!!" panik ustadz Ahmad.
"maaf ustadz ... aku membuat keributan dan menarik mu dalam masalah ku," tangis Dila yang kemudian pingsan.
ustadz Ilham pun di tahun oleh beberapa pemuda pengurus yayasan, Faris susah pingsan.
tak terduga polisi datang bersamaan dengan ambulans, Dila langsung di larikan ke rumah sakit.
sedang Farid di bawa ke kantor polisi, Anisa dan umi menetap di yayasan, karena tak mungkin membuat yayasan tanpa pengawas.
__ADS_1
ustadz Ilham memberikan rekaman CCTV di yayasan, dan Farid pun akan terancam di hukum dengan berat.
di tempat lain, ustadz Ahmad sangat khawatir melihat kondisi Dila, bahkan gamis itu basah dengan darah.
pria yang jarang menunjukkan ekspresi sedihnya di depan orang, kecuali saat kematian dari istri dan orang tuanya.
"aku mohon Dila... tolong jangan tinggalkan t dan Fatin, bagaimana bisa aku merawat Fatin yang sudah sangat bergantung padamu," tangis ustadz Ahmad.
"tunggu pak, anda tunggu disini, Anda tak di perbolehkan masuk," kata seorang perawat.
ustadz Ahmad pun duduk di kursi untuk menunggu Dila yang sedang menjalani operasi.
"ya Allah, aku meminta untuk kali ini, untuk menyelamatkan wanita baik ini, demi putriku jika perlu aku bisa menggantikannya, dan jika sampai dia tak bisa terselamatkan mungkin aku akan kehilangan kepercayaan ku, aku tak bisa melihat kesedihan putriku lagi, jangan jadikan dia kehilangan ibunya lagi, cukup Khadijah ya Allah... cukup Khadijah ..." doa ustadz Ahmad.
pria itu benar-benar rapuh, bahkan dia terus berusaha sebisa mungkin menghapus air matanya yang tak bisa berhenti.
di ruang operasi, Dila sedang menjalani operasi, bahkan empat kantong darah di siapkan.
wanita itu nampak begitu pucat, bahkan tekanan darahnya terus menurun dan membahayakan keselamatannya.
Dila berada di suatu tempat yang penuh. dengan bunga yang begitu indah.
ada seorang wanita cantik yang tersenyum kearahnya, "assalamualaikum dila..."
"waalaikum salam... maaf bagaimana anda tau namaku? anda siapa kalau boleh tau?" tanya Dila sopan.
"aku hanya orang yang terus melihat mu dari jauh, duduk disini Dila," kata wanita itu menepuk bangku di sampingnya.
Dila pun menurut, keduanya pun duduk berdampingan, wanita itu terus tersenyum sambil memandangi wajah Dila.
"maaf, apa ada yang salah dengan wajahku?"
"tebtu tidak, aku hanya baru menyadari jika kamu begitu cantik, terimakasih sudah mau menjaga Fatin, dia bayi yang kasihan harus menjadi piatu di usianya yang masih kecil," kata Khadijah tersenyum sedih.
"tidak kok, aku Yang beruntung bisa dekat dengannya karena berkat dia aku sembuh dari rasa trauma dan seluruh luka ku," jawab Dila.
"kalau begitu jadilah istri dan ibu seutuhnya untuknya, karena sekarang ada seorang pria yang menangis untuk mu," kata Khadijah.
"tidak mungkin, pria yang begitu mencintai ku sudah meninggal dunia, dan aku tak bisa menggantikan posisinya pada orang lain," terang Dila jelas.
"tidak perlu mengantikan dirinya, cukup berikan sedikit tempat saja, aku yakin dia akan membahagiakan mu," kata Khadijah.
Dila hanya diam, tiba-tiba wanita itu pergi sambil tersenyum kearahnya, "tolong pikirkan lagi, dan aku titip putriku Fatin ya Dila, jadilah ibu untuknya... aku mohon ..."
bayangan itu menghilang bersama cahaya yang datang, perlahan Dila membuka matanya.
dan mendengar seseorang mengaji sambil terisak lirih, terlihat ada ustadz Ahmad di sampingnya sedang mengaji.
"haus...." lirih Dila.
ustadz Ahmad pun langsung melihat dila yang baru sadar, dan segera memberikan minum.
dia juga memanggil dokter agar memeriksa kondisi dari Dila, setelah itu dokter pun mengatakan sesuatu kemudian pamit.
"Fatin..."
__ADS_1