Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_akhirnya....


__ADS_3

setelah acara selesai, ustadz Ahmad dan Dila berpamitan pada sang besan, untuk melamar seseorang untuk menjadi keluarga mereka.


Hendra berpelukan dengan ustadz Ahmad,mereka berdua tak menyangka akan jadi besan.


Dila juga tak mengira akan hal itu, Abdul pun mengajak Husna berfoto-foto, meski awalnya gadis itu kesal karena dia harus jadi pagar ayu bersama Husain.


"aduh cantik sudah dong marahnya, masak iya sih kamu terus seperti ini," ledek Abdul.


"habis mas Husain nyebelin, seharusnya tadi itu mas yang jadi domasnya,"


"sudah gak apa-apa,nanti kita prewedding outdoor dengan baju adat sendiri saja, kamu mau?" tanya Abdul.


"tentu mas, bulan depan, lagi pula Minggu depan aku sudah mulai ujian," kata Husna semangat.


"baiklah adik ku yang cantik..." kata Abdul yang tak pernah bisa menolak Husna.


Fatin langsung duduk di ranjang milik suaminya, meski ranjang itu lebar, tapi terlihat penuh karena hadiah dan beberapa baju ganti pengantin.


"mbak ayo ganti baju untuk foto dengan teman-teman pengantin pria sudah menunggu," ajak perias.


"baiklah mbak, boleh gak sih pakai baju yang sedikit sederhana, karena yang tok lebar gini bikin lelah, maaf ya..." mohon Fatin tak enak.


"bisa kok mbak, kebetulan saya tadi baju model terbaru, mbak bisa pakai itu," jawab penata rias pengantin.


sekarang Fatin pun pasrah untuk kembali berganti baju, dan beruntung baju pengantin berwarna pink pastel itu sangat elegan meski tak kalah glamor.


dia pun keluar dan membuat semua terpukau, mereka pun berfoto-foto bersama.


setelah selesai, anak buah Mahi berpamitan pada kedua pengantin, Rosita pun memberikan susu rasa stroberi dingin pada Fatin.


dan dengan segera Fatin meminumnya dengan segera, pasalnya dia sangat haus.


"kamu kehausan dek?"


"menurut mas, ayo dek kita makan, aku sangat lapar," ajak Fatin pada Rosita.


sedang adik iparnya itu malah meledek Mahi, "kasihan deh..."


Mahi hanya melongo melihat istrinya dan adiknya itu pergi, Fatin berganti baju terlebih dahulu.


bahkan wanita itu menghapus make up-nya, dia terlalu lelah, karena tak pernah memakai make up setebal itu.


Fatin langsung menemui adik iparnya itu dan makan dengan mengunakan nugget sesuai dengan keinginannya.


"mbak aku ambilkan ayam atau daging ya," kata Rosita.

__ADS_1


"tidak usah dek, ini saja sudah enak, terlebih sambal mu best," kata Fatin yang terlihat begitu senang.


"ya Allah mbak, orang sambel bawang saja," kata Rosita tertawa.


Mela mencari menantunya untuk memberikan jus delima dingin pada Fatin.


"aduh ternyata kalian disini, ah... bunda mau dong," kata mela yang ikut bergabung.


akhirnya ketiganya pun makan bersama-sama, Mahi datang membawa obat milik Fatin.


"jangan minum dingin sayang, nanti setelah makan minum obat ya, atau kondisi mu nanti drop," omel Mahi.


Fatin yang kesal pun langsung menyuapi suaminya itu, "tau mas ku sayang, lagi pula aku punya dokter pribadi, untuk merawat ku," jawab Fatin.


Rosita dan Mela tertawa, pasalnya baru kali ini mereka melihat Mahi yang tak bisa berbuat apa-apa karena Fatin yang begitu tegas juga.


akhirnya mahi ikut makan di suapi Fatin, setelah selesai mereka pun segera kembali bersiap untuk acara resepsi.


sedang di rumah orang tua Dila, ustadz Yusuf merasa deg-degan. pasalnya dia akan melamar wanita yang dia cintai satu lama.


cincin dan kalung juga sudah di siapkan dari dulu, bahkan selalu dibawa kenapa pun dia pergi.


setelah sholat magrib, keluarga ustadz Ahmad datang melamar Khusna.


keluarga Khusna menerima dengan sangat baik, bahkan mereka meminta pernikahan tidak di tunda terlalu lama.


pernikahan akan melakukan adat terlebih dahulu, karena baru saja terjadi pernikahan Fatin dan Mahi.


setelah melakukan lamaran, mereka pun melakukan semua pengurusan dokumen dengan sangat cepat.


Fatin menyambut semua tamu undangan yang datang dengan senyum.


tak lama acara campursari mulai, Fatin jarang melihat hiburan seperti itu.


bahkan ada beberapa orang yang merequest beberapa lagu yang cukup terkenal tapi di bawakan dengan alunan lagu campursari.


para tamu juga tak ada hentinya, terlebih semua teman dari Mahi, Fatin tak mengira jika suaminya itu begitu terkenal di kalangan temannya.


pukul setengah dua belas malam, hiburan wayang pun di mulai, tapi Fatin sudah sangat lelah, bahkan dia mulai memijat betisnya, hingga dia tak dapat tersenyum lagi.


Mahi yang melihat istrinya pun tau jika Fatin tak terbiasa dengan high heels.


"kaki mu sakit sayang," tanya Mahi.


Fatin pun mengangguk, dengan romantis, Mahi berjongkok di depan istrinya.

__ADS_1


dia pun mengambil kaki Fatin dan melepas sepatu hak tinggi itu, terlihat kaku Fatin lecet.


Mahi pun langsung mengendong istrinya itu, Mahi membawa Fatin untuk beristirahat di dalam kamar.


tapi Mahi menghela nafas karena melihat ranjangnya yang penuh. dia pun ingat rumah samping.


kebetulan itu adalah rumah yang dulu di tinggali eyangnya, meski beliau sudah wafat, rumah itu tetap di jaga kebersihannya.


"kamu ganti baju dulu ya dek, aku mau membereskan sesuatu," pamit nahi keluar kamar.


Mahi menyeret Rosita untuk membantunya bersih-bersih , beruntung meski kosong, tapi rumah itu memang selalu bersih.


Mahi tinggal mengganti sprei dan memperbaiki lampu yang putus, "bukankah lebih enak mas, remang-remang, biar lebih, ah..." kata Rosita.


Mahi langsung menjitak kepala adiknya itu, "dasar bocah, otak mu itu jangan ngeres, sudah isi air dan bawa cemilan ke kamar sini," usir Mahi.


Rosita menurut saja, bisa bahaya jika uang jajannya di potong lagi, setelah selesai Mahi langsung menuju ke kamarnya.


ternyata Fatin sudah mengganti dengan baju gamis yang lebih dingin, Mahi langsung mengendong istrinya ke rumah samping.


Fatin kaget melihat kamar yang begitu bersih, saat Mahi menidurkannya di ranjang.


dia tak melepaskan pelukannya di leher suaminya itu, "dek, tolong lepaskan, posisinya tak menguntungkan aku," bisik Mahi.


Fatin tersenyum dan langsung mencium bibir suaminya itu, Mahi juga langsung membalas ciuman itu.


hingga tanpa sadar Mahi mulai meremas bukit kembar miskin istrinya itu.


Fatin juga tak menghentikan langkahnya, Mahi membuka mata dan melihat ekspresi wajah Fatin.


"dek apa aku boleh melakukannya, maaf adikku sudah tak tahan lagi, maaf ya.." kata Mahi menaruh tangan Fatin ke arah adik kecilnya.


Fatin pun mengangguk lemah, Mahi pun langsung melepaskan jilbab istrinya.


kemudian Keduanya pun saling mencumbu, bahkan Mahi terus mencium leher istrinya itu dan membuatnya mengerang menerima sentuhan dari suaminya itu.


Mahi pun tak bisa menahannya lagi, dia juga menikmati setiap inci tubuh indah yang kini sedang terpampang indah di depannya.


bahkan Mahi terkejut melihat bentuk tubuh istrinya yang begitu menggoda, "ah... aku ingin melakukannya, apa boleh sayang..."


Mahi yang sudah siap, Fatin mengangguk lemah dan keduanya pun mulai melakukan hubungan suami istri.


Mahi berusaha cukup keras karena beberapa kali meleset, akhirnya setelah lima kali usaha akhirnya jebol juga.


"emm...."

__ADS_1


"maaf sayang, kita hentikan jika kamu kesakitan ya sayang," kata Mahi menahan kenikmatan yang dia rasakan.


"tidak masalah mas, pelan... pelan ..."


__ADS_2