Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_ menjadi istri seutuhnya


__ADS_3

Dila pun bergegas melihat Fatin, saat terdengar suara sekecil apapun. terlebih Dila tak ingin putrinya itu bangun dan malah tak tidur dan ikut begadang.


Dia segera memberikan susu pada putrinya agar tetap tidur dengan nyenyak.


ustadz Ahmad pun mengantar tamu ke kamar mereka untuk beristirahat, yang di gunakan untuk menginap malam ini.


Hendra pun merasa sangat bahagia karena masakan tadi sedikit mengobati rindunya terhadap Dila.


di dalam kamar Hendra pun segera melihat foto yang ada di dompetnya, "Dila sekarang kami dimana? aku tak tau sekarang rinduku sedikit terobati dengan masakan yang aku makan, karena masakan itu sangat mirip dengan buatan mu, aku berharap kita bisa bersama lagi seperti dulu," gumam Hendra.


sedang Bu Salwa merasa sangat nyaman kali ini, karena masakan dari Dila tadi sepenuhnya sangat enak dan menginggatkan dirinya pada masakan orang tuanya.


sedang ustadz Ahmad kembali ke rumah dan melihat meja sudah beres dan bersih.


dia pun segera berlari ke dapur dan melihat Dila sedang mencuci piring bekas semua orang makan.


"aku bantu ya dek," kata ustadz Ahmad.


"tidak perlu mas, tolong jaga putri kita saja ya," jawab Dila.


"baiklah dek, tapi kenapa kamu begitu tak ingin di bantu?" tanya ustadz Ahmad.


"bukan tak ingin di bantu mas, selama ini aku selalu melakukan semuanya sendiri, jadi aku tak Terbiasa," jawab Dila


ustadz Ahmad pun segera ke kamar, dan melihat putrinya, sedang Dila pun merasa bersalah karena mungkin suaminya itu marah.


"maafkan aku ya mas, bukannya aku tidak menghargai ku tapi karena suamiku sebelum-sebelumnya memang tak pernah membantu masalah seperti ini," terang Dila


ustadz Ahmad pun tersenyum dan mengusap wajah Dila lembut, "itu mereka, jika aku akan membantu mu dan jika membutuhkan sesuatu tolong bilang padaku ya dek, tolong andalkan suamimu ini," kata ustadz Ahmad.


"iya mas, aku mengerti, sebentar aku mau ganti baju dulu ya," pamit Dila.


ustadz Ahmad pun juga sudah siap untuk tidur, dia sedang membaca buku, sedang Dila berganti baju dengan daster tanpa lengan.


tak lupa menggerai rambutnya yang kini juga mulai panjang Lagi. dan sempat merapikan sebelum tidur di samping ustadz Ahmad.


pria itu tersenyum melihat Dila yang tidur di sampingnya itu, ustadz Ahmad mencium kening Dila.


"dek apa aku boleh?" tanya ustadz Ahmad.


"iya mas, aku siap tapi kita sholat dulu," kata Dila.


ustadz Ahmad pun mengangguk, keduanya pun mengambil air wudhu untuk melakukan sholat Sunnah terlebih dahulu.


setelah sholat Dila mencium tangan ustadz Ahmad, keduanya pun segera melipat sajadah dan membereskannya.


ustadz Ahmad membaringkan tubuhnya di ranjang dan Dila di sampingnya.


"kenapa menatapku seperti itu mas, jangan membuatku malu, terlebih ini bukan yang pertama untuk kita, kamu sudah membuatku malu ..."


ustadz Ahmad tertawa mendengar ucapan Dila, "memang kenapa dek, kita memang bukan yang pertama untuk masing-masing," jawab ustadz Ahmad.


Ahmad pun mulai mencium bibir istrinya dengan sangat mesra, Dila pun merasakan kelembutan dalam setiap sentuhan suaminya.


Ahmad terus mencumbu dengan lembut, membuat istrinya itu mengeluarkan *******-******* lembut.

__ADS_1


Dila mengusap kepala suaminya saat pria itu tengelam di dadanya, setelah melakukan olahraga awal yang cukup.


Keduanya melakukan olahraga yang sesungguhnya, Ahmad pun menahan nafas saat merasakan kenikmatan dunia.


"mmhh...." desah Dila sambil mencengkram lengan suaminya.


"och.... kenapa begitu sempit," bisik Ahmad.


malam ini kedua anak manusia itu memadu kasih, ******* dan juga suara indah itu menemani malam mereka.


bahkan mereka mengulanginya beberapa kali, dan Ahmad memuntahkan bibitnya di dalam dan berharap akan menjadi putra yang akan menjadi kebanggaan keluarga.


keduanya berpelukan dengan erat karena kelelahan juga, ustadz Ahmad tak mengira akan mendapatkan kebahagiaan dan istri yang begitu bisa merawat tubuh.


pukul setengah tiga dini hari, alarm berbunyi, Dila pun bangun dan segera mandi untuk menjalankan ibadah sholat malam.


"mau kemana dek?" tanya ustadz Ahmad yang juga ikut bangun.


"aku mau mandi dulu mas, setelah sholat sebelum subuh," jawab Dila yang masih malu-malu.


ustadz Ahmad pun ingin sekali memeluk istrinya itu, dan Dila kaget saat ustadz Ahmad menariknya hingga jatuh ke pangkuan pria itu.


"tunggu Sebentar sayang, aku ingin bertanya leher dan tubuhmu ada bekas merah, siapa yang melakukannya, siapa yang berani," goda ustadz Ahmad.


"tunggu mas ih, bikin malu saja, bukannya bibir mas yang nakal ini," jawab Dila mendorong ustadz Ahmad kemudian lari ke kamar mandi segera.


sedang ustadz Ahmad menjatuhkan dirinya ke ranjang, dia tak mengira jika begitu bahagia memiliki istri lagi.


terlebih Dila yang sering malu-malu saat di goda, meski jarak usia mereka cukup jauh tapi Dila tak pernah mempermasalahkan itu.


setelah Dila selesai sholat kini giliran ustadz Ahmad untuk mandi juga, dan Dila memilih mengeringkan rambut terlebih dahulu.


setelah sholat, Dila mengantikan sprei agar tidak kotor dan segera mencucinya.


dia pun memeriksa putrinya Fatin apa bangun dari tidurnya, ternyata balita itu masih tidur dengan nyenyak.


ustadz Ahmad sedang membaca Alqur'an sambil menunggu subuh, sedang Dila menyiapkan untuk sarapan pagi ini.


tak lupa dia juga memeriksa dapur yayasan yang sedang menyiapkan masakan untuk sarapan.


Dila masuk dan di sambut oleh semua orang, "wah mbak Dila datang," kata Bu ning.


"iya Bu, sekarang jadwalnya masak apa Bu?"


"itu mbak, sambal goreng tempe kering dan juga beli telur, tapi mau buat bumbu nunggu Bu sadah, karena bumbu beliau enak mbak," kata Bu Ning.


"sini biar saya bantu untuk membayarnya Bu, setidaknya saya juga bisa meski hanya sederhana," kata Dila segera mulai membuat bumbu.


dia juga meminta beberapa wanita yang ada di sana juga menggoreng telur dan juga tahu tempe.


karena itu akan di jadikan tambahan sebagai lauk, dan untuk sayur kaki ini ada tumis daun dan bunga pepaya.


setelah bumbu Bali selesai terdengar suara adzan subuh, Dila pun bergegas pulang untuk mengambil mukena.


"dari dapur yayasan dek?" tanya ustadz Ahmad.

__ADS_1


"iya mas, bantu-bantu disana, oh ya aku sholat di rumah saja ya, takut Fatin bangun dan tak ada orang yang akan menjaganya," izin Dila.


"baiklah dek, nanto sebelum mas pulang bisakah biarkan mas kopi, karena mas tiba-tiba ingin ngopi," kata ustadz Ahmad.


"tentu mas, nanti sekalian aku masak untuk kita," jawab Dila.


ustadz Ahmad pun pamit ke masjid, sedang dila sholat di kamar Fatin sambil menang putri kecilnya itu.


...********...


halo semua para pembaca setia author, kali ini author ingin memperkenalkan karya yang bagus banget, sambil nunggu author up kalian bisa baca cerita mereka dulu ya...



cuplikan eps...


Bab 9


"Apa?! sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan?!" Bella langsung membelalakan matanya.


Devan mengangguk.


"Ini tidak masuk akal!" tukas Bella yang langsung melemparkan map kembali ke atas meja.


"Tidak masuk akal atau kau memang tidak memiliki uang untuk membayarnya?" tanya Devan dengan menaikkan alisnya sebelah.


Bella meremas lututnya menahan rasa kesal. Namun, apa yang dikatakan oleh pria yang ada di hadapannya itu benar adanya.


"Setidaknya aku akan mencicilnya. Bukankah ini merupakan suatu kehormatan, aku datang dengan niat untuk bertanggung jawab. Kalau orang lain, sudah pasti dia akan kabur," tukas Bella dengan nada yang sinis.


"Siapapun yang berurusan denganku tidak akan bisa kulepaskan begitu saja. Sama halnya denganmu. Namun, aku berbesar hati padamu untuk memberikan tawaran yang menggiurkan." Devan mengambil map yang ada di atas meja dan kemudian membuka sebuah dokumen yang berisi perjanjian.


Bella pun mengambil kembali berkas tersebut. Sesaat kemudian keningnya mengernyit. "Bukankah ini lebih gila," batin gadis itu.


"Menikahlah denganku," ucap Devan seraya menyilangkan kedua tangannya di depan.


"Apa kau gila? Bukankah aku menabrak mobilmu? Apakah otakmu juga ikut rusak?!" tandas Bella dengan sarkasme.


"Nona, saya harap anda menjaga sikap!" tegas Joko, sang asisten.


"Bukankah ini tawaran yang langka? Banyak gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Lagi pula ... Kau jangan sok jual mahal! Tampangmu sama seperti botol susu yang kau jual itu!" tukas Devan yang tak kalah kasar dari Bella.


Gadis itu menghela napasnya berat sembari mengigit bibir bawahnya. "Apa hakmu menghinaku?"


"Bukankah kau yang melakukannya terlebih dahulu?" timpal Devan santai.


"Baiklah. Aku akan membayar hutangku, tapi dengan cara mencicil," ujar Bella.


"Aku tidak menerima jenis cicilan atau pun kredit."


"Tapi aku tidak memiliki uang sebanyak itu," tukas Bella geram.


"Kalau begitu menikah saja denganku!"


"Aku tidak mau!" tolak Bella.

__ADS_1


"Joko, telepon polisi dan jebloskan dia ke penjara!" titah Devan.


😊😊😊jangan lupa untuk like komen dan vote ya.... terima kasih πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2