Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_melihat gadis itu


__ADS_3

pagi Mahi sudah lari berkeliling kawasan yayasan bersama Hasan dan Husain, keduanya tentu harus menjaga stamina mereka.


sedang Fatin masih sibuk memasak, dia membuat beberapa jenis cemilan karena teman-teman Mahi akan datang.


saat dia sudah menyelesaikan masakannya, dia pun langsung mandi dan bersiap untuk menyambut tamu.


"sayang kamu dimana?" panggil Mahi yang baru selesai olahraga.


karena dia tak menemukan sosok istrinya di dapur yang terlihat kosong dan sudah rapi


"lagi siap-siap di atas mas," jawab Fatin.


Mahi berlari ke lantai dua rumahnya, dan membuka kamarnya, ternyata Fatin baru selesai berganti pakaian.


"aku merindukan mu,aku bisa gila tak melihat mu sedetik saja," kata Mahi.


"no... anda sekarang pintar menggombal, jangan berulah lagi, hari ini sudah semakin siang, sekarang pergi mandi cepat, aku mau kebawah untuk menemui Husna," jawab Fatin yang mengambil jilbabnya.


"sayang..." rengek Mahi


Fatin mengeleng dan langsung turun, sedang Mahi terpaksa mandi dan memakai baju yang sudah di siapkan oleh Fatin.


tak lama Husna datang untuk membantu Fatin, terlebih dia juga tak memiliki kegiatan hari ini.


"kok banyak banget neng jajanannya, memang mau ada tamu banyak ya neng?" tanya Husna.


"cuma temen-temen mas Mahi, bagaimana di yayasan tak ada yang menyulitkan mu kan?" tanya Fatin.


bagaimana pun adiknya itu, Fatin tak bisa membenci Husna karena kasih sayangnya yang melebihi rasa bencinya.


keduanya pun sibuk membuat jus, tak lama terdengar suara bel pintu, "mungkin mereka datang, neng lihat dulu ya,"


"iya neng," jawab Husna.


Mahi turun dan melihat istrinya berjalan ke depan, dia pun mengikuti Fatin dan memeluk istrinya itu.


"heh.... malu ah, lepas itu temen-temen mas udah datang tuh," kata Fatin mencubit perut suaminya.


"halo... silahkan masuk, loh... si cantik ikut ternyata," kata Mahi yang melihat gadis kecil di gendongan dokter Rizal.


"ya mau gimana lagi, mumpung libur, maaf ya pasti aku nanti sangat ngerepotin," kata dokter Rizal.


"tak masalah, ayo masuk," ajak Mahi.


Fatin menyapa ketiga orang itu, saat melihat putri Rizal Fatin pun gemas karena bayi itu begitu mungil dan cantik.

__ADS_1


"boleh aku mengendongnya?" tanya Fatin pada dokter Rizal


"boleh dong," jawab dokter Rizal.


pria itu pun memberikan putrinya pada Fatin, dan terlihat bayi itu terus tersenyum melihat mata Fatin.


"boleh aku memilikinya," tanya Fatin.


"jika nyonya ingin memilikinya, tolong adopsi bersama ayahnya juga,karena mereka satu paket," kata dokter Ryan.


"aku tak Sudi, lebih baik aku membuatnya sendiri," kesal Mahi.


"memang dokter bisa?" goda dokter Randi.


"bisa dong, meski aku dokter spesialis jantung, aku juga pernah mempelajarinya," jawab Mahi yang kemudian tertawa bersama sahabat-sahabatnya.


mereka pun masih tertawa, Fatin memberikan bayi itu pada Mahi untuk di jaga sebentar.


dia ingin mengambil sesuatu, dia keluar bersama Husna untuk menyajikan minuman dan beberapa cemilan yang sudah di siapkan.


"wah kami main ke rumah dokter Mahi, malah merepotkan sepertinya," kata dokter Ryan tersenyum.


"tidak kok, hanya air, dek titip nampan, biar neng bawa bayi ini, kita main di tuang tengah ya, dan para lelaki silahkan mengobrol," kata Fatin pamit membawa putri dokter Rizal.


melihat bayi itu, Husna tersenyum dan langsung menggoda bayi itu. tak hanya itu Keduanya pun langsung lengket.


"apa kamu seperti mengenalnya, gadis muda yang bersama dengan istriku?" tanya Mahi pada dokter Rizal


"tidak kok," jawabnya.


"kalau iya gak papa lagi, buat jadi ibu sambungnya baby Syafa," jawab dokter Ryan.


"dia itu adik terkecil istriku, dia yang kalian tolong saat mengalami kecelakaan bersama calon suaminya, apa sudah ingat," kata Mahi.


"ah... gadis itu, keajaiban dia bisa sembuh," jawab dokter Ryan.


Mahi mengangguk, mereka pun membahas beberapa masalah rumah sakit dendam bebas.


tak lama Hasan datang ke rumah Mahi, "wah ada tamu, mas, neng di rumah kan?" tanya Hasan setelah menyalami ketiga tamu itu.


"di ruang tengah bersama Husna, memang ada apa?" tanya Mahi penasaran.


"ya Husain sedikit berulah, dan yang bisa mengontrol pria itu cuma neng," jawab Hasan


"baiklah," jawab Mahi.

__ADS_1


ketiga dokter itu melihat Mahi, "jangan melihat ku begitu, kalian bisa melihatnya sendiri jika penasaran," Jawab Mahi.


Fatin keluar dengan mata tajam, sedang baby Syafa sudah di gendongan husna.


ketiganya langsung pergi keluar, Fatin langsung bergegas menghampiri rumah utama.


ternyata Husain terdengar marah dan mengamuk di kamarnya, Husna tak berani masuk terlebih dia membawa seorang bayi.


Husain melempar semua barang di kamarnya, "Husain keluar, Husain keluar, atau neng akan meminta anak-anak mendobrak pintu," ancam Fatin.


sedang Dila tak bisa melakukan apa-apa, "Abi kemana umi?" tanya Fatin.


"Abi mu sedang menghadiri pengajian di kota tetangga, ini juga tak tau kenapa dia mengamuk," jawab Dila.


"Husain menghitung sampai tiga jika tidak membuka pintu, neng akan sepenuhnya menyuruh anak-anak mendobraknya," ancam Fatin lagi.


Husain membuka pintu kamarnya, pria itu nampak sedang meluapkan emosinya, Fatin pun mendekati adiknya itu.


"ada apa sih dek ..." tanya Fatin lembut.


"neng..." tangisnya langsung pecah.


Husain memeluk Fatin erat, entahlah dia sekarang butuh seseorang untuk menjadi sandarannya.


sedang Dila tak mengerti dengan putranya yang satu itu, pasalnya Husain memang lebih tertutup di banding Hasan.


"ada apa dek, kamu bisa cerita pada neng, atau umi, kenapa menyimpannya sendiri?" tanya fatin.


"mbak... Feby sudah menikah dengan pemilik tempat karaoke itu mbak, dan dia sudah berangkat ke Singapura untuk menetap disana," kata Husain.


"subhanallah... tak kira kerasukan jin mana, ternyata masalah gadis lagi, kamu itu bikin semua orang panik Husain," kesal Hasan yang tak habis pikir pada saudaranya itu.


"sudah-sudah Allah pasti akan mengantikan dengan yang berkali-kali lipat baiknya, berdo'a saja ya nak, sudah jangan nangis lagi malu ah, itu kamar juga sudah hancur gitu," kata Dila mengusap kepala putranya itu.


"maafkan Husain ya umi..." kata pria itu yang sekarang memeluk Dila.


Hasan masih menertawakan adiknya itu, sedang Fatin melototi Hasan, Husna terlihat begitu akrab dengan bayi Syafa.


bahkan bayi itu pun tertidur saat Husna menimangnya, "dia tidur Husna?" tanya fatin.


" iya neng, gadis kecil ini kelelahan karena berjalan kesana kemari meski belum sepenuhnya lancar," jawab Husna.


"ajak ke rumah yuk, tidurkan di kamar tamu, sepertinya. neng juga harus mulai memasak untuk makan siang," kata Fatin merangkul adiknya itu


"baiklah neng, tapi permasalahan mas Husain bagaimana?" tahta Husna penasaran

__ADS_1


"tenang saja semuanya sudah selesai," jawab Fatin


__ADS_2