
"Bu ..." kata Fatin kecil menepuk pipi Dila.
"ibu sedang tidur ya, Bu Ning tolong bawa Fatin ke luar, saya ingin menemani istri saya sebentar," kata ustadz Ahmad.
"baik den," jawab Bu Ning.
meski Fatin menangis, tapi ustadz Ahmad harus tega karena dia ingin mendengar semua penjelasan dari istrinya itu.
Dila pun perlahan sadar dan melihat sosok ustadz Ahmad di sampingnya, "maafkan aku..." tangis Dila.
"untuk apa minta maaf, setiap orang memiliki masa lalu, tapi aku hanya ingin bertanya apa mantan suamimu adalah supir keluarga Alexa?" tanya ustadz Ahmad.
"iya mas, maafkan aku tak pernah memberitahukan pada mas, aku tak tau akan jadi seperti ini, jika boleh aku ingin menenangkan diri ke rumah orang tuaku," mohon Dila
"kenapa dek? kamu ingin meninggalkan aku di sini, apa kamu tega," kata ustad Ahmad sedih
"aku telah membuat mas malu, aku tak ingin makin mencoreng nama baik mas sebagai pemilik yayasan dan juga ustadz yang terkenal baik," kata Dila sedih.
"tapi aku hanya manusia biasa, jadi tak perlu sampai menjauh, aku yakin kita akan bersama, tapi tolong jangan tinggalkan aku,"
"baiklah mas, maafkan aku," jawab Dila.
ustadz Ahmad pun menekuk istrinya itu, umi Chasanah yang menyangka akan tejadi masalah sebesar ini.
terlebih Alexa yang keterlaluan menghina Dila si depan semua penghuni yayasan.
"ini tak bisa di diamkan, dia keterlaluan, selama ini aku diam menghormati orang tuanya, tapi ini balasannya, aku akan meminta Salwa membawa putrinya itu pulang," kata umi Chasanah marah.
Bu Salwa yang mendapatkan telpon pun sebenarnya kaget, pasalnya kemarin baru pulang dari yayasan, dan juga memberikan uang yang cukup banyak.
"dasar orang berkedok agama, pasti ingin meminta uang, dasar jangan-jangan mereka menilep uang yayasan," gumam Bu Salwa tersenyum dan menjawab ponselnya itu.
"assalamualaikum umi, ada apa?" tanya Bu Salwa dengan sopan.
"segera jemput putrimu dan bawa dia pergi, karena dia membuat masalah, dan jangan membuatku kehilangan kesabaran ku," maki umi Chasanah yang langsung mematikan telponnya.
Bu Salwa kaget, dia tak mengira akan mendengar ucapan dari wanita yang selalu lembut tapi tadi suara cukup tinggi dan begitu terdengar marah.
"apa lagi yang di lakukan oleh gadis itu, kenapa dia terus mencari masalah, apa aku harus memasuki dia ke rumah sakit jiwa!" marah Bu Salwa yang juga sudah mulai muak dengan sikap Alexa.
pasalnya putrinya itu sangat tidak bisa di prediksi, dia sering membuat pekerja di rumah ketakutan karena sering berbuat nekat.
tapi Alexa sedikit tenang saat Hendra dan Bu Eka datang dan bekerja di rumah mereka.
"Hendra! tolong ikut aku ke yayasan tempat Alexa," panggil Bu Salwa.
"ada apa nyonya, bukankah kemarin kita baru dari sana?" tanya Hendra yang keluar dari dapur.
"dia membuat masalah, dan Bu Eka tolong minta beberapa pelayan membantu menyiapkan tempat Alexa, karena mungkin kali ini aku akan membawanya ke rumah sakit jiwa, karena semua metode tak ada yang berhasil," kata Bu Salwa.
"baik nyonya," jawab Bu Eka tak percaya dengan apa yang dia dengarkan.
pasalnya Alexa adalah anak tunggal tapi kehilangan papa yang begitu dia cintai karena kecelakaan membuat mental dan kejiwaan gadis itu menjadi tak stabil.
Keduanya pun menuju ke yayasan, dan ternyata Fafa sudah di antar ke rumah keluarganya di luar kota oleh para pengurus yayasan.
sedang saat sampai, Ryan langsung memasuki Alexa ke mobil, "maaf kami harus mengikatnya karena dia terus berontak dan menyerang semua orang,"
"tak masalah, Hendra tunggu disini aku ingin menemui umi Chasanah sebentar dan bertanya sebenarnya ada masalah apa?" kata Bu Salwa.
__ADS_1
"tak perlu, aku tak ingin bertemu dengan mu, terlebih setelah semua yang di lakukan putri mu terhadap Ahmad dan istrinya, dan aku kembalikan uang mu, cukup kamu tak bisa menghadapi putri mu lagi," kata umi Chasanah.
Bu Salwa pun tak bisa membantahnya lagi, sepertinya kaki ini Alexa sangat keterlaluan.
bahkan wanita yang biasanya begitu lembut kini sudah marah dan menunjukkan sisi lainnya.
"baiklah umi, kami pamit, maafkan putriku jika membuat kesalahan, dan maaf aku sedang sibuk dan tak bisa menemui ustadz Ahmad dan istrinya," pamit wanita itu sebelum pergi.
umi Chasanah pun masuk kedalam yayasan, hari ini semua kegiatan di yayasan diliburkan.
karena ustadz Ahmad harus menemani Dila, begitupun dengan umi Chasanah yang tak bisa jika harus mengajar di saat kondisi sedang Keos seperti ini.
siang hari, Dila keluar dari rumah dan menuju ke dapur untuk membantu para pengurus bekerja, "loh neng Dila disini, istirahat saja neng, takutnya neng masih lelah," kata bik Jum.
"tidak apa-apa bik,saya merasa bosan, terlebih ustadz dan Fatin sedang tidur siang juga," jawab Dila tersenyum.
"yang sabar ya neng, ya Allah ternyata cobaan hidup neng begitu banyak dan berat," kata bik Seh merangkul Dila.
"terima kasih bik," jawab Dila merasa sedikit terhibur.
mereka pun memasak bersama, Anisa pin kaget saat melihat Dila ada di dapur.
"loh ibu ustazah di sini, ayo ke aula saja, toh di sini sudah hampir selesai, ada yang ingin kami tunjukkan," ajak Anisa.
"ada apa mbak?" tanya Dila yang langsung di tarik oleh Anisa menuju ke area aula.
ternyata semua santri yang tinggal di yayasan sedang berkumpul dan Dila kaget melihatnya, "wah ada apa ini mbak?"
"sekarang kita akan main bareng ibu ustazah, anggap saja sekarang kita lomba dan akan dapat hadiah malam nanti," jawab Anisa.
"dan aku juga ikut dong," kata Arumi yang datang.
"mbak arumi!!!" teriak Dila dan langsung memeluk sahabatnya itu.
"aduh aduh... jangan sedih gitu dong mbak ku yang cantik, oh ya mana jagoan ku,kok gak ikut?" tanya Dila.
"sedang bersama ayahnya di kantor bersama ustadz Ahmad dan ustadz Ilyas," kata Arumi.
"terus Fatin ku bagaimana," kaget Dila.
"ada di sini ibu, bareng nenek," jawab umi Chasanah yang mendorong sepeda roda tiga bersama Fatin.
"baiklah, sekarang ayo kita mulai, toh sudah ada jurinya juga, oke semuanya harus semangat untuk menjadi pemenang ya," kata Anisa.
"baik ustadzah," jawab semua santri.
mereka pun melakukan lomba memindahkan tepung sambil saling duduk berjajar ke belakang.
Dila melawan Rumi dan Anisa, mereka pun terus membuat tawa di dalam yayasan pasalnya beberapa lomba membuat mereka tertawa.
hingga ada lomba menebak gambar yang berhasil membuat semua orang tertawa.
pasalnya hanya bisa mencontohkan bagaimana gerakan khas dari gambar tersebut.
karena mendengar suara yang cukup meriah, banyak yang penasaran begitupun dengan ustadz Yusuf.
tapi saat dia melihat ke area Santri wanita, dia kaget karena sosok Khusnul sedang memeragakan dirinya.
Dila pun berpikir saat melihat gaya Khusnul yang menatap sambil mengangkat alis dan melipat tangannya di dada.
__ADS_1
"ustadz Yusuf," kata Dila.
"yey... benar!" teriak Khusnul senang.
tanpa sadar ustadz Yusuf tersenyum dan pergi, bagaimana bisa gadis itu mencontohkan dengan sempurna.
kini giliran Dila yang harus mencontohkan dan semua orang harus menebaknya.
ia kaget saat nama suaminya yang muncul, "bagaimana aku mencontohkannya," binggung Dila.
"lakukan saja yang sering di lakukan, seperti berjalan dan tersenyum jika mungkin," kata Arumi.
"baiklah," jawab Dila.
dia mengambil sebuah topi dan menyibakkan rambutnya ke belakang baru memakai topinya.
kemudian tersenyum saat menyapa seseorang sambil meletakkan tangganya di bagian dada.
"ustadz Ahmad!!" jawab semua santri.
"wah ternyata beliau idaman semua orang ya," kata Dila yang kaget.
tanpa di duga para santri pun memeluk Dila bersama-sama, "kami sayang ibu ...."
"aku juga sayang kalian semua, jadi terus belajar dengan benar ya," kata Dila.
umi Chasanah pun merasa senang melihat semua yang terjadi, "Bu ... Bu ..."
"iya Fatin ibu sedang di peluk sama semua Mbak-mbak ya, Fatin cemburu ya?" kata Arumi.
"Bu ... dong..." celoteh Fatin.
"Fatin bisa ngomong nak, Fatin gadis kecil ibu," kata Dila yang langsung mengendong Fatin.
kini mereka pun menuju ke area kantin untuk makan siang, suasana masih begitu ramai dan penuh canda tawa.
sedang di kantor yayasan, ustadz Yusuf memberikan ide agar ustadz Ahmad mendaftarkan yayasan sebagai pondok pesantren.
karena sekarang pembelajaran mereka sudah memenuhi kriteria, dan beberapakali di tawari akan hal itu.
"bagaimana mas, mas mau kan?" tanya ustadz Yusuf.
"tapi aku merasa masih belum pantas Yusuf, terlebih ilmu ku belum sepenuhnya seperti para kyai yang hebat-hebat di luaran sana," kata ustadz Ahmad.
"ya Allah mas, ilmu mu juga sudah sangat banyak, dulu kamu sering berguru di manapun, sekarang aku yakin jika kamu mampu, terlebih kami semua siap membantu juga," kata ustad Yusuf.
"benar ustadz Ahmad, kami siap membantu," jawab ustadz Ilyas
"baiklah, jika itu keinginan kalian, kamu sebagai pimpinan pondok Yusuf dan ustadz Ilyas akan menjadi penasehat, saya akan bekerja sebagai ketua yayasan yang menaungi pondok ini, begitupun dengan ustadz Ilham, bagaimana?" tawar Ahmad yang masih belum merasa pantas.
"baiklah mas, jika itu keputusan mu, dan bolehkah aku memanggil teman ku yang kemarin belajar bersamaku untuk membantu di pondok," izin ustadz Yusuf.
"tentu saja, cari dan pilih semua ustadz dan para tenaga pengajar yang kompeten untuk semua santri," jawab ustadz Ahmad.
"terima kasih ustadz," jawab ustadz Yusuf dan ustadz Ilyas.
sore hari mereka pun mencatat semua yang di butuhkan, dan beruntung kas yayasan juga masih memadai.
terlebih setelah Dila membuat beberapa usaha di bawah kepemilikan yayasan.
__ADS_1
bahkan pak Rusdy juga akan tinggal di area sana untuk membantu yayasan jika di butuhkan, lagi pula dia tak ingin membuat istrinya itu sendirian di rumah.
jadilah mereka bersama, Arumi, Dila dan Anisa akan menjadi penopang paling besar dalam yayasan yang akan menaungi pondok pesantren baru yang di dirikan oleh keluarga Sulaiman.