Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 18_Tuhan Tolong


__ADS_3

Pohon beringin di pertigaan jalan


Memberi keteduhan namun dianggap keramat


Reader berikanlah author dukungan


Agar menghalu dan menulisnya lebih semangat


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


...


Sepulang dari makan siang bersama Aryan, Tara masih terus memikirkan Aryan dan Gala. Resah dan gelisah terus menghantuinya, bagaimana dia akan bersikap pada Gala saat Aryan resmi menjadi suaminya nanti. Gala tentu akan terluka, Aryan pun juga akan terluka jika tahu kedekatan Tara dan Gala.


Langit telah berubah menjadi gelap dan jam menunjukkan pukul 19.15, harusnya Tara sudah bersiap pergi jalan-jalan dan makan malam dengan Gala. Namun, Tara enggan beranjak dari tempat tidurnya. Hatinya terus gelisah dan bimbang, antara ingin menahan atau melepas Gala dari sisinya.


"Ku rasa getaran cinta di setiap tatapan matanya. Andai ku coba tuk berpaling akankah sanggup ku hadapi kenyataan ini."


"Oh Tuhan tolonglah aku. Janganlah Kau biarkan diriku jatuh cinta kepadanya."


"Sebab andai itu terjadi akan ada hati yang terluka. Tuhan tolong diriku."


"Walaupun terasa indah andaikan ku dapat juga dirinya. Namun ku harus tetap bertahan menjaga cinta yang telah lebih dulu ku jalani."


"Gala, mood-ku sedang jelek. Malam ini kita tidak jadi keluar." Tara mengirim pesan pada Gala.


"Apa kamu sakit? Kenapa mood-mu tiba-tiba memburuk?" Balas Gala dengan cepat.


"Aku tidak bisa menjelaskannya."


"Apa kamu sedang berusaha menghindari aku? Setelah bertemu dengan mas Aryan tadi siang."


"Tidak… Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Biasanya kamu paling bersemangat jika makan bersamaku dan kamu tak pernah membatalkan janji."


"Aku sedang malas dan tidak ingin keluar, itu saja."


Tiga puluh menit berlalu, namun Gala tak membalas pesan Tara hingga membuat Tara gelisah. Tara berpikir jika Gala marah padanya.


"Apa kamu marah padaku?" Tara mengirim pesan lagi kepada Gala, namun tidak kunjung dibalas.


Tok-tok-tok...


Terdengar suara orang mengetok pintu.


"Siapa ya?" Tara mencari tahu siapa yang telah mengetok pintu kamarnya, namun tak ada yang menjawab.


Tok-tok-tok...


Terdengar suara orang mengetok pintu lagi.


"Siapa sih?" Tara membuka pintu, tapi tak ada orang di sana.


"Kenapa jadi horor begini, ada suara mengetok pintu tapi nggak ada orangnya," Tara pun mengunci pintu kamarnya.


Tok-tok-tok...

__ADS_1


"Tara, Tara... Bukain pintu balkonnya!" Gala mengetok pintu balkon kamar Tara.


"Gala, ngapain kamu masuk lewat sini?" Tara membukakan pintu balkon.


"Bagaimana jika ada yang melihat kamu naik sampai sini?"


"Tenang aja nggak akan ada yang lihat. Mama papa juga sedang nggak ada di rumah." Jawab Gala santai.


"Aku sempat mengira hantu yang datang mengetok pintu kamarku." Tara protes dan memukul lengan Gala.


"Mana ada hantu ganteng? Ini aku bawakan sate ayam kesukaanmu lengkap dengan es teh manis." Gala menyerahkan bungkusan yang dia bawa.


"Aku tahu kamu jam segini pasti lapar. Jangan bengong cepat dimakan!" Perintah Gala.


"Kamu tidak makan?"


"Kalau mood kamu aja jelek, mana bisa aku makan sendiri."


"Terus kenapa cuma beli satu, pelit banget sih?"


"Itu dua porsi aku jadikan satu biar kita bisa makan berdua." Gala nyengir.


"Ya ampun... Ini ceritanya sebungkus berdua biar romantis. Semenjak perjodohan waktu SMA dulu, kamu tidak pernah sembunyi-sembunyi datang ke balkon kamarku lagi."


"Daripada ada orang kelaparan dan tidak bisa tidur, terpaksa deh kaya maling diam-diam naik ke balkon."


"Jadi nggak ikhlas nih? Aku kira kamu marah padaku, pesanku aja tidak kamu jawab."


"Lebih baik kita makan dulu, keburu makin dingin satenya, entar jadi kurang enak."


"Okay mari kita makan." Ucap Tara semangat.


Gala melihat ada saus kacang bumbu sate yang menempel di bibir Tara. Gala pun reflek membersihkan bibir Tara dengan jari jempolnya dan itu membuat Tara terpaku sejenak.


Selama ini Gala selalu membayangkan membersihkan sisa makanan di bibir Tara dengan jarinya, akhirnya kini menjadi kenyataan bukan sekedar halusinasinya.


"Kamu selalu aja kaya anak kecil kalau makan sate gini, pelan-pelan aja biar nggak belepotan."


"Kan ada kamu," Tara nyengir.


"Kalau begitu kenapa nggak sekalian minta disuapin aja?"


"Aaaa...." Tara minta disuapin.


Gala pun menyuapi Tara. "Baby gedhe, makan yang banyak biar cepat tumbuh besar ya!" Gala mencubit pipi Tara.


"Kalau aku gemuk, kamu harus tanggung jawab!" Tara manyun.


"Kalau kamu gemuk pasti enak dipeluk." Goda Gala.


"Nanti aku nggak seksi lagi. Kalau nggak ada pria yang suka padaku lagi gimana?"


"Masih ada aku 'kan?" Gala mengedipkan matanya pada Tara.


"Ha... ha... ha... Jangan sibuk memandangiku atau satenya akan aku habiskan sendiri." Ucap Tara.


"Aku sudah kenyang melihatmu makan."


"Mana mungkin. Aku tahu porsi makan mu juga lumayan besar."

__ADS_1


"Iya, tapi kalau makan sate porsi ku tak sebesar seseorang." Gala meledek.


"Okay, kalau gitu ini buat aku semua. Kamu nggak boleh makan lagi!"


"Tadi ada yang bilang takut gendut loh?"


"Biarin aja aku gendut," Tara manyun.


"Kamu memang senang sekali manyun begitu, apa kangen aku cium?" Pancing Gala.


"Ha… ha… ha… Kamu mulai berani terang-terangan menggodaku."


"Kemarin ada yang bilang padaku. Cium aja kalau berani, aku tunggu."


"Kamu ini sudah mengambil first kiss-ku. Mas Aryan aja belum pernah cium aku."


Gala terdiam mendengar perkataan Tara.


Tara menghentikan makannya. "Apa kamu marah? Apa kamu cemburu?"


"Itu yang ku pikirkan sejak tadi. Aku tidak tahu harus bagaimana bersikap padamu."


"Kamu akan semakin terluka saat mas Aryan resmi jadi suamiku dan kita tidak bisa sering bersama lagi. Kamu tahu 'kan, tidak mungkin untuk membatalkan perjodohan ini." Tara frustasi.


"Aku takut kamu akan semakin terluka karena Aku."


"Kamu mencoba menolak ku dan mengusir ku lagi, Tara?"


"Mengertilah Gala... Aku takut ini semua semakin menyakiti kamu."


"Mas Aryan tentu juga akan kecewa dan terluka jika tahu kita mengkhianati kepercayaannya. Papa dan mama tentu juga akan kecewa."


"Luka ini biar aku yang tanggung, tapi jangan usir aku dari sisimu." Ucap Gala tegas.


"Sebulan lagi mas Aryan akan melamar ku secara resmi di depan keluarga Maheswari dan Cakra Wangsa. Aku tidak sanggup melihatmu terluka."


"Aku akan lebih terluka jika jauh darimu. Aku tidak bisa membohongi perasaanku dan mencari cinta pada wanita lain." Ujar Gala.


"Lalu aku harus bagaimana Gala?" Tara semakin bingung dibuatnya.


"Mau dibawa kemana hubungan kita ini?"


"Aku nggak mungkin memiliki suami sekaligus memiliki kekasih yang lain juga. Jika seperti itu, maka aku sama seperti Alma."


"Aku tidak jauh beda dengan Alma yang memiliki banyak pria."


"Seorang pria bisa punya lebih dari satu istri Tara. Kamu juga bisa punya suami lebih dari satu." Usul Gala.


"Apa kamu masih waras? Semua itu akan ditentang oleh dunia ini dan yang pasti mas Aryan juga tidak akan terima."


"Dunia tidak harus tahu, bukankah aku pernah bilang bahwa aku rela menjadi yang kedua dan tak terlihat."


"Tapi aku nggak bisa, itu sama saja kita selingkuh."


"Aku akan merelakan kamu menikah dengan mas Aryan. Aku tidak menuntut kamu membalas cintaku. Aku akan selalu ada untuk kamu, kapanpun."


Gala pergi meninggalkan Tara termenung sendirian.


...............

__ADS_1


Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.


__ADS_2